Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
64. Pergi


__ADS_3

Max menunduk, menatap tabung kaca yang di dalamnya terdapat gumpalan darah. Gumpalan darah itu darah dagingnya.



Tanpa bisa dicegah air mata laki-laki itu merembas keluar, membasahi pipi mulusnya. Isak tangis mulai ia keluarkan, rasa kecewa, marah, patah hati menyatu di dadanya.


“Maafkan papa.” Max menempelkan dahinya tepat di atas penutup tabung itu.


Hatinya teriris, bahkan bentuk ankanya masih belum terlihat jelas. Hanya terlihat gumpalan darah yang terlihat menyedihkan.


“Apa kau merasa kesakitan?” Max mengelus lembut tabung kaca itu. Air matanya semakin merebak keluar, membuatnya terlihat sangat menyedihkan.


Sesak, itulah yang dirasakan. Buah hatinya di paksa keluar, di buang hanya gara-gara keegoisan sang ibu.


“Jika kamu tidak mau merawat anak ini, biarkan saja anak ini nanti bersamaku,” Max berucap dengan putus asa.


“Papa akan memberikan tempat indah untukmu sayang. Tunggu Papa, akan Papa balas semua orang yang menyebabkan kepergianmu, terutama Mama jahatmu.” Max mendesis tajam. Tangan kekarnya dengan kasar mengusap wajahnya.


Max bangkit, meletakkan tabung itu di sisi ruang. Tanganya dengan cepat meraih gawai dan bergerak lincah di atas benda pipih itu.


“Siapkan tempat yang indah.”


“.....”


“Untuk pemakaman anakku.”


“....”


“Hmm.”


Tut!


Max menggenggam erat gawai itu. Matanya memerah lantaran tangisan dan kuatnya amarah.


“Farel, kau lah penyebab Salsha melakukan semua itu. Maka tak akan ku biarkan kau hidup bahagia. Dan Salsha, wanita gila sepertimu seharusnya tempatnya di rumah sakit jiwa. Akan ku buat kau merasakan kehilangan yang luar biasa.”


*****


Salsha merintih pelan, meskipun matanya tertutup rapat tapi rasa sakit yang ia rasakan tak kunjung pudar. Tangisan bayi, dan tatapan kecewa seorang anak kecil membuat jantungnya terasa sakit.


“Argh.”


Rose, yang tak lain dokter yang menangani Salsha mendekat. Menatap khawatir Salsha yang meraung dalam tidurnya.



Tangan tuanya dengan pelan mengelus lembut kening putih itu yang berkeringat dan memiliki kernyitan dalam.


“Nona?” Panggi Rose pelan.


Salsha yang mendengar panggilan itu berusaha sekuat tenaga membuka matanya. Namun, semua terasa berat, terlibih tatapan kecewa anak kecil itu.


“Nona?” Rose mengelus lembut pundak ringkih itu.

__ADS_1


Kekhawatiran Rose semakin dalam melihat tangan Salsha yang mengepal kuat. Ia yakin jika Salsah berusaha sekuat tenaga meghalau rasa sakit. Melakukan aborsi tanpa prosedur yang aman, dan tanpa pengawasan memiliki efek buruk bagi wanita.


“Nona? Jika anda mendengar saya, saya harap anda berusaha untuk membuka mata.” Rose membujuk dengan lembut.


Salsha yang mendengar ucapan lembut itu tergugah untuk membuka matanya. Tatapan kecewa anak kecil itu hilang tak berbekas, membuatnya bisa bernafas lega.


“syukurlah.” Rose menghela nafas lega.


Salsha membuka matanya pelan. Rasa sakit di sekujur tubuhnya, terlebih area perut kebawah membuat ia gemetar. Cahaya yang masuk di dalam retinanya membuat ia mengernyitkan alis. Matanya perih.



Rose yang melihat keadaan Salsah segera mengambil air. Ia tahu, pasien saat pertama kali membuka matanya yang diperlukan adalah air.


“Minumlah terlebih dahulu.” Rose menyodorkan segelas air.


Salsah menatap dokter wanita itu dengan bingung. Ia merasa asing. Bagaiaman bisa ia berada di tempat ini, sedangkan ia ingat betul bagaiaman keadaannya terakhir kali.



Rose yang melihat keterdiaman Salsha segera membantu Salsha untuk meminum air. Sedangkan Salsha yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa diam. Biar bagaiman pun ia membutuhkan air saat ini.


“Terimakasih,” ucap Salsha lemah.


Rose hanya tersenyum sebagai jawabannya. Tugasnya sebagai seorang dokter tidak hanya mengobati, tapi juga memantau seleuruh kesehatan pasien, terlebih pasien itu sendiri tanpa sanak saudara. Umurnya yang sudah tua, membuat rasa simpati di hatinya semakin besar.


“Bagaimana keadaanmu?” Rose bertanya dengan tersenyum.


Salsha terdam mendengar pertanyaan itu. Keadaan? Dia tidak tahu pasti bagaiamana kedaanya sekrang. Fisiknya sakit, tapi dia merasa ada sesuatu yang lebih sakit dari itu.


“Ya, kau baik-baik saja setelah membunuh darah dagingmu sendiri.”


Deg!


Salsha mengalihkan pandanganya, menatap sosok laki-laki yang sangat ia kenal sedang berdiri dengan raut datar tanpa emosi. Rose tang melihat keadaan mereka yang membutuhkan privasi segera pamit undur diri.


“Nona, Tuan, saya keluar terlebih dahulu.”


Max hanya menatap datar Rose yang perlahan keluar dari ruangan dan menutup pintu. Tatapannya kini beralih, menatap foks sosok wanita yang menjadi sumber kesakitannya saat ini.


“Apa kau sudah bahagia?” Max bertanya dengan dingin.


Salsha terdam mendengar pertanyaan dingin itu. sudut hatinya merasa sesak mendengar nada itu namun, ia berusaha terlihat biasa-biasa saja.


“Apa maksudmu?” Salsha bertanya seolah-olah ia tidak tahu apa pun.


“Kau yang paling tahu maksudku Salsha.” Max mendudukan dirinya tepat di kursi samping brankar.


Salsha gugup, rasa takut mulai menjalar di hatinya. Max yang seperti ini tidak pernah ia temui. Ia hanya tahu Max yang posesif, obsesif, lembut. Tapi Max tanpa emosi sama sekali sungguh menakutkan di depanya.


“Aku_ aku_”


“Aku apa? Aku bahagia? Iya, benar seperti itu?” Max menatap datar Salsha. Tatapnya tetap sama kosong, tanpa emosi. Entah ia memang tidak memiliki emosi, atau ia yang terlalu pintar memanipulasi.

__ADS_1


“Tidak, maksudku bukan seperti itu.”


“ Terus apa maskudmu, tolong jelaskan biar aku tahu semuanya.”


“Tidak, aku hanya...” lidah Salsha terasa kelu. Menghela nafas panjang ia melanjutkan ucapanya. “Maafkan aku.” Salsha menunduk.


Max terkekeh melihat Salsha, bagaiaman bisa wanita itu dengan mudahnya meminta maaf.


“Kenapa kau meminta maaf? Apa salahmu?”


Salsha mengepalkan tanganya erat. Matanya terpejam, sungguh ia merasa sedang dipermainkan emosinya oleh Max. Ia yakin Max paham betul apa yang terjadi, tapi mengapa laki-laki itu bersikap seperti itu.


“Max, kau tahu dengan pasti semuanya. Jadi jangan memperburuk keadaan. Kita lupakan kejadian ini, lalu kita bisa memulai hubungan kita lagi seperti dulu.”


Max menatap Salsha tajam. Kemabli seperti dulu? melupakan apa yang terjadi?


“Apa semudah itu? Apa semudah itu kau menghilangkan dan melupakan anak kita?” Max berteriak. Segera ia bangkit dan menedang kursi dengan kasar.


Salsh terlonjak kaget. Matanya mengerjap, mendongak menatap Max yang sudah berdiri itu.


“Max_”


“Diam, kau wanita paling menjijikan. Kita yang melakukan dosa, tapi mengapa kau dengan kejinya melenyapkan anak kita yang tak berdosa? Di mana hati nuranimu?”


“Max...” Salsha menatap Max dengan mata berkaca-kaca.


“Kau, jika kau tidak mau merawat bayi itu, biarkan aku yang merawatnya. Jika kau tidak ingin terikat dengan ku karena anak itu, cukup kau bilang pada ku, maka dengan senang hati aku akan meninggalkanmu. Kau seharusnya tidak melenyapkanya.” Max terjatuh berlutut. Matanya terihat memerah, begitupula dengan wajahnya.


Emosi Max meledak. Kepura-puraan Salsah, dan tanggapan wanita itu mengenai anak mereka membuatnya tanpa sadar meluapkan seluruh emosinya.


“Mana Salsha ku yang dulu? Keman perginya? Katakan padaku?” Max meraung menatap Salsha tanpa bangkit dari posisinya yang berlutut itu. Mata hitamnya mengeluarkan liquid bening, membasahi wajah tampanya yang memerah.


Salsha hanya bisa terpaku melihat kehancuran Max.


“Aku tetap Salshamu yang dulu Max.” Salsha menundukkan pandanganya, terlalu takut menatap wajah merah Max.


Max yang mendengar ucapan Salsha segera bangkit, mendekat, dan meraih kedua bahu wanita itu. Tatapan kecewa bercampur dengan amarah terlihat jelas di sana.


“Kau bukan Salshaku. Salsha ku tidak mungkin melakukan hal sekeji itu. kau itu wanita iblis! Hanya iblislah yang sanggup melenyapkan anak kandungnya sendiri.” Max berteriak dengan tangan yang mengguncang tubuh Salsha.


Salsha menangis. Wanita iblis? Apa ia sudah berubah menjadi wanita iblis sekarang?



Max dengan kasar melepaskan kedua tanganya dari bahu Salsha. Tangan kekarnya dengan kasar mengahpus air mata yang membasahi wajah tampanya. Perlahan ia memakai kembali masker, dan beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. Namun, sebelum ia keluar ia mendesis dan berkata dengan tajam.


“Aku anggap perginya anakku itu sebagai hukuman atas dosa besar yang ku lakukan bersamamu. Dan kau, kau akan mendapatkan hukuman yang lebih kejam dari pada kehilangan nanti. Ingat itu!” Max membanting pintu dengan kasar.


“Aku salah, maafkan aku.” Salsha berucap dengan lirih.


_________,,


😭😭😭😭😭

__ADS_1


Author sedih baca part ini,,,


Gimana pendapat kalian?


__ADS_2