Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
68. Kecewa


__ADS_3

Raisya menatap Farel dengan alis mengernyit. Wajah laki-laki itu seperti tertekan. Terlebih terlihat di sana tatapan mata hitam itu seperti penuh tanda tanya dan kekhawatiran.


“Apa yang terjadi?”


Farel yang masih menatap gawainya tersadar. Segera ia tersenyum dan menatap Raisya lembut.


“Tidak, bukan apa-apa. Ayo kita makan.” Farel mengalihkan pembicaraan dengan memotong stiek domba yang ada di depannya.


Raisya masih tidak bergeming. Tatapan matanya penuh selidik menatap sosok laki-laki di depannya yang terlihat menyembunyikan sesuatu.



Farel yang merasakan tatapan Raisya merasa sedikit tidak nyaman. Tatapan penuh selidik itu membuatnya gugup.


“Kau, kenapa menatapku terus?” Farel bertanya dengan raut frustasi.


“Kenapa? Bukanya tadi kau juga mentapku terus. Apa sekarang kau merasa tidak nyaman?” Raisya membalikkan pertanyaannya dengan tenang.


Farel gelapan, pertanyaan itu membuatnya mati kuti. “Bukan seperti itu, aku hanya__”


“Sudahlah, jangan jawab. Aku tahu ada sesautu yang kau sembunyikan. Lanjutkan saja makanmu.” Raisya mengalihkan pandangannya, menatap stiek yang sudah habis sebagian itu.


Farel merasa gelisah. Ucapan Raisy yang terlihat kesal membuatnya tidak nyaman. Bukan apa-apa, ia hanya bingung bagaiaman menjelaskan keadaanya saat ini.



Suasana yang harusnya terlihat romantis itu berubah menjadi canggung. Hawa yang seharusnya hangat berubah dalam sekejap menjadi dingin. Farel merasa sangat tidak nyaman, terlebih melihat wajah Raisya yang datar.



Raisya bergulat dengan pikirannya sendiri. Entah mengapa ia mersa akan ada sesauatu yang terjadi, tapi apa itu? ah, pikiran itu membuatnya tidak bisa menikmati makan malamnya.


“Sebaknya kita pulang.” Raisya menatap datar Farel.


Farel tercengang. “Pulang? Tapi ini baru jam segini, dan aku masih ingin menghabiskan malam ini bersamamu.” Farel menatap Raisya sendu.


Raisay hanya terdiam, meskipun wajah sendu itu membuatnya tersentuh, tapi moodnya sudah terlanjur buruk, dn ia hanya ingin satu, yaitu pulang.


“Di rumah kita juga bisa bersama.”


Farel mendesah frustasi. Bagaiamana pun, ia tidak akan bisa menang melawan keputusan wanitanya itu.


“Baiklah.”


Raisya yang mendengar persetujuan Farel segera bangkit, bahkan ia keluar tanpa menunggu Frael. Para pelayan yang melihat tamu VVIP nya pulang dengan cepat mengernyitkan alis.



Pasangan yang terlihat sangat romantis itu tiba-tiba berubah seperti pasangan yang tidak salig kenal. Berbagai praduga mereka simpulkan, membuat mereka menyayangkan uang ratusan juta yang telah dikeluarkan secara cuma-cuma.


****


Suasana mobil itu terasa dingin. Farel sekali-kali mencuri pandang ke arah Raisya yang menatap lurus depan, bahkan sorot wanita itu terlihat dingin dan datar.


“Raisya_”

__ADS_1


“Tidak usah bicara, tetap fokus lihat depan.” Raisya berucap dengan wajah tetap memandang depan.


Farel menggigit bibir dalamnya kuat. Sikap Raisya yang seperti itu membuatnya takut. Ia takut Raisya akan membuat batasan seperti dulu lagi.


Drt... Drt... Drt...


Bunyi getaran gawai itu menggema, membuat Raisya yang awalnya menatap lurus beralih menatap sumber suara.



Farel yang merasakan getaran di sakunya merasa panik. Tanganya dengan cepat mengambil gawai itu, terlihat jelas nama yang sama tertera di sana.



Laki-laki itu melirik sebentar Raisya dengan wajah bersalah. Terlibah Raisya yang sudah menatapnya dengan alis terangkat sebelah dan datar.


“Angkat saja, siapa tahu penting.”


Farel menelan ludah, rasa gugup menggelayuti hatinya. Dengan pelan, ia tepikan mobilnya untuk mengangkat panggilan itu.


“Hallo.”


“Cepat datang ke rumah sakit.”


Wajah Farel berubah tegang.


“Tidak bisa, aku tidak bisa datang sekarang.”


“Bagaiaman bisa kau tidak bisa datang. Istrimu keguguran.”


“Tidak usah banyak tapi-tapi-an”


“Baiklah, nanti aku akan kesana. Aku masih ada urusan.” Frel mengusa wajahnya frustasi.


“Sekarang juga kau harus ke sini. Jika dalam waktu setengah jam kau belum datang, aku tidak akan pernah menganggapmu lagi”


“Baiklah, aku akan ke sana sekarang.” Farel menutup wajahnya frustasi.


Raisa yang merasa suasana hati Farel yang terlihat tidak biasa mengernyit. Berbagaia pertanyaan muncul di benaknya. Dari siapa yang menelfon, sampai apa alasan yang membuat Farel sangat frustasi.


“Maafkan aku, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu pulang.” Farel mengepalkan tanganya kuat, Terlihat jelas otot-ototnya menyembul keluar.


Raisya tercengang mendengar ucapan Farel. Tidak bisa mengantarnya pulang, dalam artian dia akan ditinggalkan di tempat sepi ini sendiri.


“Kau serius?”


“Aku tidak ada pilihan lain, jadi maafkan aku, dan aku harus segera pergi.”


Raisya terdiam, sorot matanya terlihat sangat tajam dan dingin. Ternyata firasat buruknya benar-benar terjadi. Dengan cepat ia mengambil tas kecilnya dan menggenggamnya erat. Tangan rampingnya membuka pintu dan kelur dari sana.



Farel hanya memandang Raisya yang turun dari mobil dalam diam. Ia ingin sekali mengantar Raisya pulang, tapi kondisi sangat tidak mendukungnya saat ini.


__ADS_1


Tanpa membuang waktu Farel segera menjalankan mobilnya, meninggalkan seorang wanita dengan balutan gaun mewah di pinggir jalan yang cukup sepi.



Raisya megetatkan rahangnya. Baru saja Farel mengatakan cinta dan janji-janji manis laninya, dan sekarang ia sudah melanggarnya.



Laki-laki itu mengatakan jika ia hanya akan mengenalkan rasa bahagia dalam mencintai, tapi apa ini? bahkan sebelum ia mengakui cintanya dan menerima cinta itu, ia sudah merasakan kecewa.



Bagaiman bisa ia mengatakan cinta, tapi dengan teganya menelantarkan dirinya di tempat yang sepi. Setidaknya jika laki-laki itu buru-buru atau memiliki hal yang sangat penting, ia harus mencari seseorang untuk menjaganya.



Bagaiman jika ditengah-tengah perjalanan ia mendapatkan perlakuan buruk dari seseorang yang tidak kenal? Kini ia benar-benar mempertanyakan cinta Farel.


“Sepertinya aku harus membuat benteng baru. Aku tidak akan pernah mencintaimu dengan mudah. Biarkan bibit-bibit cinta di hatiku layu, bahkan sebelum bibit itu tumbuh.” Raisya mengusap pojok matanya. Tanpa sadar air matanya megalir sendiri.


“Tidak apa-apa. Ini air mata pertama dan terakhir untuk laki-laki seperti itu.”


Tangan Raisya bergerak linacah di atas benda pipih. Beberapa detik kemudain ia tempelkan benda itu tepat di telinga kirinya.


“tolong jemput aku,” Raisya berujar dengan lirih.


****


Salsha menatap gugup sosok wanita yang terlihat kesal itu. Wanita yang telah menlfon Farel, dan wanita yang telah mengancam Farel untuk segea datang menemuinya.


“Bagaiaman bisa dia terlihat tidak tahu jika kau sedang hamil?” Wanita itu bertanya dengan nada tajam.


Salsha meras sangat gugup. Bagaimana ia harus menjawab.


“Aku ingin memberikan suprais untuk Farel, tapi Tuhan berkata lain.” Salsha menautkan kedua tanganya erat.


“Ya ampun, malang sekali nasibmu Nak. Biarkan Nenek Hajar nanti Farel.” Wanita itu yang tak lain Maria merengkuh tubuh Salsha erat.


Maria yang mendapat kabar jika cucu menantunya terbaring di rumah sakit karena keguguran segera datang ke Indonesia. Awalnya ia tidak percaya informasi itu, karena info itu ia dapat dari nomer asing.



Namun, beberapa video yang memeprlihatkan wajah Salsah yang terbaring tak berdaya di atas brangkar membuat ia tanpa pikir panjang memesan tiket untuk datang ke Indonesia.



Salsha merasa sangat tertekan. Bagaiamana bisa Maria tahu keadaanya yang sedang terbaring di rumah sakit, lebih parahnya wanita paruh baya itu juga tahu jika ia keguguran.



Rencana yang ia susun semuanya gagal. Ia sudah berencan untuk merahasiakan kegugurannya itu, ia akan berusaha terlihat baik-baik saja, dan memberi kabar Farel jika ia memiliki pekerjaan di luar negri. Tapi semuanya menjadi sangat rumit, kini ia hanya berharap Farel bisa mempercayainya lagi, dan ia harus membuat karangan cerita baru.


_________


Wahhh, emosi gk baca part ini?

__ADS_1


Ada yg mau disampaikan ke Raisya, Farel, atau Salsha gk?


__ADS_2