Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
113. Cemas


__ADS_3

Farel menatap beberapa kali jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Menatap jenuh beberapa orang yang terlihat sangat serius, laki-laki itu mendengus.



Ricard yang melihat gerak-gerik Tuannya itu hanya bisa diam, pura-pura tidak paham. Biar bagaiaman pun, ia tidak bisa membantu atau pun menggantikan pertemuan yang amat penting ini.


“Bagaiamana Tuan?” Pria dengan wajah yang terlihat masih tampan tapi sudah berumur itu menatap Farel dengan serius.


“Sesuai dengan kesepakatan awal, saya tetap akan menarik semua infestasi untuk keluarga Dawal, meskipun kalian berusaha keras menolak, saya tetap tidak mendengarkan,” Farel berbicara dengan nada dingin.


Emosi laki-laki bermata coklat itu benar-benar tidak bisa di tahan. Pertemuan yang membuat waktu bulan madunya berkurang, dan yang paling parah, mereka melakukan pertemun mendadak ini hanya untuk membahas masalah pencabutan infestasi.


“Maafkan kami Tuan, bukankah anda sudah sejak lama berinfestasi di sana?”


“Apakah kalian sudah membaca berapa triliun yang perusahaan Dawal korupsi? Apakah saya harus tetap membiarkan uang saya terbuang percuma hanya karena sudah lama berinfestasi?”


Hening, mereka semua diam, dalam hati membenarkan. Meskipun seperti itu, penarikan infestasi tiba-tiba yang menyebabkan perusahaan Dawal gulung tikar membuat mereka merasa aneh. Mereka semua tahu, Atasannya itu menikah dengan putri tunggal keluarga Dawal.


“Maaf Tuan, bukankah anda adalah menantu dari keluarga Dawal? Tapi mengapa anda malah menarik semuanya?” Salah satu dari mereka memberanikan mengutarakan isi otaknya, sedangkan yang lainya terlihat sangat setuju atas pertanyaan itu dan menunggu jawaban dari sang atasan.


Farel diam, tapi terlihat jelas rahang laki-laki itu mengeras. Sungguh ia merasa pertemuan malam ini tidaklah bermutu. Menempuh beberapa jam hanya untuk membahas hal yang sangat sepele, bahkan bisa disebut pembahasan sampah.



Ricard yang menyadari kemarahan atasannya dengan cepat mengambil alih. “Maaf, Tuan-Tuan. Sepertinya kita sudahi rapat kali ini. Sesuai kesepakatan, kita tetap menarik infestasi dan beralih menginfestasikan ke perusahaan Atmaja Group.”



Mereka diam, banyak yang tidak setuju, mengingat perusahaan Atmaja sudah lama mati, tapi mengapa atasannya itu seperti ingin membangun kembali perusahaan itu. Sedangkan Dawal group yang terlihat masih bisa memberi keuntungan meskipun banyak melakukan kecurangan dengan tanpa perasaan menarik habis seluruh infestasi.


“Saya sudah lama resmi bercerai dengan putri keluarga Dawal. Apa jawaban saya sudah membuat kalian semua puas?” Farel menatap wajah mereka yang terlihat terkejut satu persatu.


Ricard yang mendengar pengakuan atasannya itu mengerjapkan mata, merasa tidak percaya mengenai pengakuan tanpa perencanaan itu. Bukankah seharusnya statusnya akan di buka di depan Pers nanti.


“Jika sudah tidak ada yang di bahas, saya pergi, Istri saya sedang menunggu.” Farel pergi meningalkan mereka yang semakin terkejut dengan fakta baru itu.

__ADS_1


Ricarad hanya tersenyum formal. Banyak di antara mereka memasang wajah terkejut, ingin tahu, dan banyak wajah lagi. Sedangkan salah satu di antara mereka yang memang perwakilan dari keluarga Dawal dengan cepat memberikan informasi pennting itu.


****


Farel dengan cepat mengendarai kendraanya. Tanpa Istirahat, bahkan sekedar merebahkan punggung yang pegal, laki-laki itu memilih melakukan perjalanan pulang. Rasa rindu bercampur khawatir meninggalkan Istri tercintanya di tempat yang jauh membuat laki-laki itu menghiraukan kesehatan tubuhnya sendiri.



Matahari terlihat mulai terlihat. Beberapa manusia terlihat berlari pagi, dan memulai aktifitas mereka. Sedangkan Farel sudah bisa menyunggingkan senyum saat matanya menatap bangunan megah yang menjadi tempat tinggalnya saat ini.



Dengan cepat laki-laki itu memasukan mobilnya, melaju dengan kecepatan sedang. Tepat di depan, tangan kekarnya segera membuka pintu mobl dan berjalan dengan cepat.



Langkah kakinya terhenti saat melihat pintu putih yang menjadi kamar pribadi mereka. Langkah kakinya terlihat lebih pelan dan hati-hati. Mengingat kesehatan sang Istri yang akhir-akhir ini terlihat tidak baik membuat laki-laki itu memilih meninggalkan Raisya.


Ceklek!


Farel melangkah measuki kamarnya. Aroma sang wanita bercampur dengan aromanya tercium jelas di penciuamannya. Netra coklatnya mengedar, mencari sosok wanita yang biasanya masih bergelung manja di bawah selimut.


Di atas ranjang itu terlihat hanya ada tumpukan selimut dan guling. Mata coklatnya terlihat sangat ketakutan.


“Sayang, kau di amana?” Farel berteriak seperti orang kesetanan.


Laki-laki itu berlari, mencari kesetiap sudut kamarnya. Namun, semua kosong. Rasa cemas semakin membuat tubuhnya dan pikirannya tidak terkendali. Persaan takut akan ditinggalkan sosok Raisya membuat laki-laki itu sangat kacau.


Tok... Tok...


Mendengar ketukan pintu itu membuat Farel dengan cepat berlari. Tangan kekarnya dengan kasar membuka pintu, sehingga membuat sosok laki-laki muda yang tidak asing lagi untunya terperanjat.


“Kenapa kau ke sini?” Farel bertanya dengan dingin. Berbagai pemikiran buruk merasuk di otaknya saat melihat asisten sang Nenek yang berdiri di depan kamarnya.


“Maafkan saya Tuan Muda. Saya di sini hanya ingin memberitahukan keadaan Nyonya Raisya.” Asisten itu berucap dengan nada sopan. Meskipun rasa gugup dan takut tidak bisa dipungkiri namun, statusnya sebagaia asisten Maria Wiratman membuatnya dengan terlatih mengontrol segalanya.

__ADS_1


Farel yang mendengar nama Raisya segera menarik kerah laki-laki itu. Emosi terlihat jelas di wajah tampannya.


“Apa yang kalian lakukan dengan Istriku? Di mana dia sekarang?”


Asisten itu yang merasa tercekik dengan cepat berusaha melepaskan tangan kekar yang menarik kerahnya itu. “Maaf Tuan, bisa anda lepaskan dulu.”



Farel dengan kesal menyentak tangannya, menadang tajam asisten muda itu. “Cepat katakan?”


“Nyonya saat ini sedang bersama Nyonya Besar.”


Farel melotot. Raisya bersama dengan Maria? Ingatan tentang bagaiamana Maria menghina Raisya membuat laki-laki itu takut setengah mati.


“Apa yang dilakukan Nenek?”


“Saat ini Nyonya Raisya sedang berada di rumah sakit.”


Mendengar kabar Istrinya berada di rumah sakit membuat tangan kekarnya dengan cepat melayang, memberikan hantaman kuat di wajah laki-laki muda di depannya itu.


Bugh!


“Apa yang di lakukan Nenek dengan istriku? Katakan?” Farel menarik kuat kerah leher Asisten Maria. Sedangkan asisten itu yang belum menjelaskan semuanya dengan benar harus merasakan ngilu luar biasa di rahangnya. Bahkan laki-laki muda itu yakin jika rahangnya ada sedikit pergeseran.


“Maaf Tuan, sebaiknya anda langsung ke rumah sakit.” Asisten itu tetap tersenyum. Meskipun dalam hati ia ingin sekali membalas satu pukulan, tapi statusnya tidak membolehkan.


Farel yang tersadar dengan kebodohannya dengan cepat mendorong kuat asisten itu. mencari alamat rumah sakit tempat Raisya, dan dengan cepat berlari memasuki mobil menuju rumah sakit.



Sedangkan asisten itu hanya bisa meringis, bangun dengan tertatih-tatih. Mata yang selalu terlihat patuh itu terlihat berubah menjadi tatapan malas.


“Semoga tidak terjadi perang dunia.”


__________

__ADS_1


Sorry banget up dikit dan seeing telat,,, Author usahakan mulai besok bakal double up,, biar cepat Tamat 😁😁


Terimakasih untuk kalian semua yang setia menemani Author sampai sejauh ini


__ADS_2