
Farel menatap Raisya yang fokus menghabiskan makanannya. Beberapa kali laki-laki itu berusaha menenangkan degup jantungnya yang berdebar.
“Raisy,” Farel memanggil lirih.
Raisya mengangkat alis, menatap Farel dengan pandangan bertanya.
“Kenapa? Kau masih lapar?” Raisa bertanya dengan menatap Farel bingung.
“Tidak.” Farel tertunduk malu.
Rasya merasa bingung dengan sikap laki-laki di depanya itu. Tanpa mau berpikir terlalu dalam, Risya melanjutkan makananya, mengabaiakan sikap aneh Farel.
Farel memilih untuk diam, menunggu Raisya menghabiskan makananya. Ingatanya kembali pada saat Raisya menyuapinya tadi. Dadanya menghangat, ia ingin selalu seperti itu.
“Aku selesai,” Raisya berujar dengan senyum manis. Tangan lentiknya mengusap lembut perut datar itu, menandakan ia sangat puas dengan makanan kali ini. Bahkan wajah cantik itu terlihat menunduk, mengamati gerakan tanganya.
Farel yang melihat tingkah Raisya terkekeh, sungguh wanitanya sangat menggemaskan.
“Raisya, aku ingin bicara.” Farel menatap lembut Raisya.
Raisya mengangkat kepalanya, menatap Farel dengan wajah lucu.
“Oh, bicara saja di sini.”
Farel menggaruk tengkuk canggung, matanya menatap sekeliling ruang makan yang terlihat lenggang, karena para pelayan ia perintahkan untuk meninggalkan ruang makan setelah menyajikan hidangan.
“Ekhm, bagaiaman jika kita ke kamar terlebih dahulu, aku ingin mengatakan sesuatu di Balkon.”
‘mengapa harus ke kamar. Bukankah sama saja?’ batin Raisya bertanya.
“Ok, baiklah.” Raisya segera bangkit meninggalkan Farel yang masih terdiam di tempatnya.
Farel merasa gugup, bahkan ia hanya memandang tubuh wanitanya yang sudah bangkit dan perlahan berjalan mendekat ke arah tangga.
Raisya tetap berjalan, mengabaiakan sosok laki-laki yang masih tertinggal di belakang. Toh, nanti laki-laki itu akan tetap mengikutinya.
Farel meghembuskan nafas beberapa kali, mencoba meyakinkan hatinya. Merasa sudah cukup, laki-laki itu segera bangkit, mengikuti jejak wanitanya yang sudah tidak terlihat lagi bayanganya.
*****
Angin berhembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut coklat dan hitam itu. Farel menunduk pelan, mencoba mencarai cara untuk memulai pembahasan malam ini.
Sedangkan Raisya memfokuskan tatapanya ke atas. Menatap langit malam yang indah bertabur bintang, jangan lupakan bulan penuh yang terlihat menawan itu.
Beberapa kali Raisya mengusap lembut lenganya, menghalau angin yang dengan jahil membelai halus setiap kulitnya. Merasuk kedalam pori-pori dan mengangkat bulu lembut di seluruh tubuhnya, Raisya kedinginan.
__ADS_1
Farel mengangkat kepalanya, mencoba mengambil nafas banyak untuk memulai pembicaraan malam itu. Namun, pemandangan Raisya yang mengusap lembut lengan putihnya membuat ia tersadar. Dengan cepat ia berlari memasuki kamar, entah apa yang sedang laki-laki itu cari.
Raisya menatap aneh Farel yang tiba-tiba berlari memasuki kamar itu. Cara lari dan raut wajah Farel terlihat lucu di matanya. Raisya mengembalikan fokusnya ke atas, menikmatai pemandangan indah dari angkasa itu.
“Apa sudah hangat.”
Pertanyaan tiba-tiba dengan selimut lembut yang menempel erat di sekeliling tubuhnya membuat Raisya terkejut. Segera ia membalikkan tubuhnya. Terlihat jelas di sana, Farel berdiri di belakangnya dengan senyum menawan. Laki-laki itu terlihat sangat luar biasa malam ini.
“Apa masih kurang?” Farel bertanya dengan raut wajah serius. Melihat Raisya yang hanya terdiam menatapnya membuat ia ketakutan.
Raisya mengerjap lucu, ia berdahem canggung untuk menormalkan pikiranya yang sempat liar itu.
“Tidak-tidak, ini sudah cukup.” Raisya dengan cepat menjawab. Tangan rampingnya mengeratkan selimut yang melingkar indah di tubuhnya. Dengan lembut ia sunggingkan senyum sebagai tanda terimaksih.
Farel menghela nafas lega, dengan pelan ia mendekat ke arah Raisya, membuat Raisya menatapnya canggung.
“Apa yang kau lakukan?”
“Bukan apa-apa. Aku hanya berusaha menghangatkanmu.” Fael merengkuh tubuh Raisya dari belakang. Mengangkat tubuh ramping itu, kemudian mendudukanya di atas pahanya.
“Tidak perlu seperti ini. Selimut yang kau berikan cukup hangat untuk tubuhku.” Raisya berusah bangkit. Namun, lilitan erat di perutnya membuat ia kesusahan.
“Biarkan seperti ini. Aku kedinginan.”
“Kalau kau kedinginan, ambil selimut lagi di dalam, jangan seperti ini.”
Raisya tercengan mendengar ucapan Farel. Apakah laki-lak itu beru saja menggombal.
“Kau sedang merayuku?”
“Tidak-tidak. Aku tidak bisa merayu, aku hanya mengatakan kejujuran.” Farel menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Raisya. Mengubur dalam-dalam wajahnya yang memerah karena malu.
Raisya menahan tawa melihat respon Farel. Dengan pelan ia sandarkan kepalanya di dada bidang itu. Meskipun ia merasa canggung, tapi ia mencoba terbiasa. Bukanya ia sudah mengambil keputusan untuk membantu Farel dan meninggalkan Jhonatan, jadi ia harus terbiasa dengan semua ini.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” Raisya bertanya di tengah keheningan itu.
Farel mengangkat kepalnya, menumpukan dagunya di atas kepala Raisya, mencoba mencari posisi yang nyaman.
“Salsha selingkuh.” Farel berucap dengan datar.
Raisya terdiam, bingung bagaiaman harus meresponnya. Sedangkan Farel yang melihat Raisya seperti sudah tahu hal itu semakin mengeratkan pelukanya.
“Kenapa kau tidak terkejut?”
Raisya mengangkat sebelah alisnya. “Mengapa aku harus terkejut?” Raisya bertanya dengan polos.
Farel bingung dengan pertanyaan Raisya itu. Benar juga, mengapa Raisya harus terkejut. Tapi seharusya Raisya memang harus terkejut, ah, entahlah ia bungung sendiri.
“Harusnya kau terkejut sayang.”
__ADS_1
“Bukan aku yang di selingkuhin, atau yang jadi selinguhan Salsaha. Jadi untuk apa aku harus terkejut?”
“Apa yang kau katakan? Jadi selingkuhan Salsha?”
“Kenapa? Kau cemburu?”
“Kau masih bertanya. Kau suka dengan Salsha?” Farel bertanya dengan terkejut.
“Cih, meskipun aku seperti ini, tapi aku masih suka dengan laki-laki tampan.”
“Untunglah kalau begitu. Kau tidak boleh selingkuh dengan siapa pun. Baik laki-laki atau pun perempuan,” Farel berucap dengan penuh obesesif.
Raisya tercengan dengan perkataan Farel. Sungguh ia mengira jika Farel cemburu dengan Salsha, bukan karena dirinya. Tapi fakta ini benar-benar menamparnya.
“Apa kau tidak mencintai Salsha?” Raisya bertanya tiba-tiba.
Farel terdiam, bingung bagaiaman harsu menjawab. Cinta? Yang ia tahu sekrang ia hanya mencintai Raisya. Tapi apa ia yakin jika ia sudah benar-benar melupakan Salsha. Ah, mungkin untuk melupakan tidak, tapi untuk mencintai kembali ia rasa tidak akan lagi.
“Aku rasa sekarang tidak,” Farel menjawab dengan sedikit ragu.
Raisya terkekeh mendengar jawaban penuh keraguan di dalamnya itu.
“Terus apa yang akan kau lakukan?”
“Aku akan bercerai dengan Salsha.” Farel menjawab dengan tegas.
“Kau yakin?”
“Aku sangat yakin.”
“Kenapa kau sangat yakin?”
“Karena Salsha selingkuh.”
“Bukannya kau juga selingkuh dengan ku?”
Hening, Farel merasa terbungkam dengan perkataan Raisya. Ya, ia juga selingkuh.
“Hubungan kita sudah tidak baik. Kita sama-sama selingkuh, dan pilihan terbaik hanya bercerai. Biarkan Salsha memeiliki kebahagiannya sendiri, beitu pun aku.”
“Oh, kau yakin. Bagaimana jika Salsha tidak ingin kau ceraikan. Apa yang akan kau lakukan?”
Hening, lagi-lagi Farel tidak bisa menjawab pertanyan mudah Raisya. Bagaiaman jika Salsha tidak ingin bercerai. Apa yang harus ia lakukan?
Raisya tersenyum lembut. “Pikirkan baik-baik. Jangan mengambil keputusan dengan gegabah.”
“Kenapa kau seakan tidak suka dengan keputusanku untuk bercerai?”
“Siapa yang suka melihat pernikahan seseorang hancur? Aku masih normal, dan aku tidak sejahat itu, bahagia atas hancurnya hubungan yang sakral.”
“Harusnya kau bahagia, bukannya yang membuatmu sulit menerimaku karena statusku. Jika aku bercerai, maka aku sudah tidak terikat dengan perempuan mana pun. Aku bisa bebas bersamamu.”
“Kau pikir aku wanita jahat? Dan kenapa kau yakin aku akan menerimamu. Kita tidak ada yang tahu bagaiaman takdir membawa kita nanti. Ambil keputusan dari hatimu, jangan kau ambil keputusan itu hanya karena ingin memilikiku. Sekali lagi, aku bukan wanita jahat, aku akan merasa hancur jika kau menceraikan istrimu hanya karena aku. Pikirkam baik-baik keputusanmu, jangan bawa namaku dalam mengambil keputusan, tapi bawalah hatimu.” Raisya bangkit. Kini Farel tidak menahannya lagi. Membiarkan sosok wanita dalam balutan selimut itu berjalan meninggalkanya.
__ADS_1
Meninggalkanya dengan berbagaia kerumitan di dadanya. Ia memang ingin menceraiakan Salsha kemudian menjadikan Raisya menjadi istrinya. Apakah itu terdengar egois?