
Farel merasa butuh udara segar, sudah hampir sore dan ia masih setia di dalam ruang kerja. Tanganya menyapu seluruh wajahnya, seakan menghapus rasa lelah yang terlihat jelas di wajah tampan itu. kakinya melangkah, membawanya keluar dari ruangan itu untuk menuju kamar tidurnya dengan Raisya.
Tepat di depan pintu hitam itu, langkahnya terhenti. Tanganya dengan ragu menyentuh handle pintu. Ia belum siap bertemu dengan Raisya, tapi sampai kapan ia menghindar.
Membulatkan tekat, tanganya menekan hendle itu dengan tegas, membuat bunyi ‘ceklek’ yang menggema di dalam kamar.
Netra coklatnya menyapu tuntas seluruh ruangan mewah itu. Ruangan dengan ranjang besr yang berada di tengah, dan satu set sofa yang berada di pojok, dan satu ruangan besar lagi yang berada di samping kamar mandi. Semua terlihat kosong.
Farel menghembuskan nafas lega, merasa tidak akan bertemu Raisya saat ini. Mungkin ia perlu berbicara serius dengan wanita itu nanati malam, tapi bukan saat ini. ia masih belum tahu bagaimana langkah yang harus ia ambil.
Kakinya berjalan dengan santai menuju kamar mandi. Tangan kekarnya yang hendak membuka Handle pintu terhenti ketika pintu kamar mandi terbuka dengan sendirinya.
Di sana berdiri sosok wanita cantik dengan mata hijaunya yang melotot terkejut. Farel segera menelan ludah kasar melihat pemandangan yang luar biasa di depanya itu, gairahanya melonjak seketika. Bagaimana ia tidak bergairah? Raisya berdiri di depanya dengan handuk yang sebatas setengah paha. Memperlihatkan paha mulus dan kaki jenjangnya, dan jangan lupakan dadanya yang sedikit menyembul membuatnya semakin gelap mata.
Raisya tergagap melihat kedatangan Farel yang tiba-tiba. Tanganya dengan cepat menutup kembali pintu kamar mandi berusaha untuk kabur. Namun, semua terlambat. Farel yang gelap mata menahan pintu yang tertutup itu.
Seakan kehilangan akal, Farel segera mendorong pintu kamar mandi kuat, membuat Raisya mundur beberapa langkah dan terpekik kaget.
Raisya menatap sekliling, mencari pakaian yang dapat membantu menutupi tubuhnya yang terlihat itu. Tatapan penuh gairah itu membuat lututnya lemas.
Farel dengan cepat memasuki kamar mandi dan membanting pintu itu dengan keras. Wajahnya semakin memerah melihat handuk yang menutupi tubuh Raisya tidak sesempurna tadi karena dorongannya itu.
Melihat Raisya yang semakin mundur membuat jiwa binatangnya menutupi akal sehatnya. Tangan kekarnya dengan cepat menarik kuat tangan ramping itu.
“Farel!” Raisya memekik kaget.
Seakan tuli, Farel menarik paksa Raisya, menyeretnya keluar dari kamar mandi dan membantingnya ke atas ranjang.
__ADS_1
Raisya yang mendapatkan perlakuan kasar semakin gemetar. Ingatanya kembali tepat pada saat detik-detik ia dilecehkan dulu. pandanganya semakin mengabur melihat Farel dengan bringas melepas paksa pakaianya sendiri.
Tangan ramping Raisya bersilang di dada, mencoba menutupi ketelan\*\*ngan tubuhnya itu. Handuknya terjatuh tepat saat Farel menariknya kasar. Ia berusaha tetap sadar, mencba mengenyahkan rasa takutnya itu.
Farel menarik paksa kancing atasnya, membuat kancing-kancing hitam itu berhambur di lantai. Raisya yang merasa ketakutan memaksa dirinya untuk bangkit dan berlari keluar. Ia berlari dengan sekuat tenaga mencoba menggapai pintu raungan khusus pakaian. Namun, semua terlambat.
Farel dengan cepat menangkap tubuh Raisya yang hendak melarikan diri itu. Dengan cepat ia angkat tubuh ramping itu dan menghimpitnya di atas ranjang.
“Jangan kabur sayang.” Farel berbisik dengan nada rendah.
Raisya menangis tertahan. Bagaimana bisa ia mengalami pelecehan sekali lagi dengan orang yang sama.
“Farel_ hmmp.”
Farel membungkam kasar mulut Raisya. Membuat Raisya tanpa bisa melawan menerimanya. Tangan kekar Farel meraih tali yang berada di samping ranjangnya. Mengikat kuat kedua tangan Raisya dan menariknya ke atas.
Raisya semakin memberontak, tangisanya teredam oleh cumbuan yang di berikan Farel. Setiap sentuhan basah yang Farel berikan ia merasa jijik dengan tubuhnya sendiri. Apakah ini bukti cinta Farel? Sungguh menjijikan!
Dengan cepat ia posisikan tubuhnya tepat di inti Raisya. Sebentar lagi dan semua akan selesai. Namun, gerakannya terhenti oleh perkataan Raisya.
“Sekali kau menyentuhku, jangan harap kau melihatku lagi! Aku kan membencimu sepanjang hidupku!” Raisya berucap dengan mata yang berlinang
Nafas Farel tercekat. Seakan mendapat siraman air dingin, logikanya yang sempat hilang muncul sekitika. Wajahnya terlihat tertekan dengan perbuatan yang di lakukanya.
Di bawahnya terlihat tubuh Raisya yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Terlebih tanganya yang terikat ke atas. Farel tergagap, tenggorokanya terasa tercekat mengingat kelakuanya yang biad\*b.
“Maafkan aku sayang.” Farel meraih tangan Raisya lembut. Tangan kekarnya melepas ikatan kuat yang terlilit di kedua tangan Raisya. Garis merah terlihat di sana, bahkan terdapat sedikit noda darah di antara kedua pergelangan ramping itu.
Raisya yang melihat tanganya terbebas tidak bisa menahan tangisan yang sudah ia tahan sejak tadi. Dengan kuat ia menangis, mengeluarkan segala rasa yang membelenggunya sejak tadi.
Farel bangkit dari atas tubuh Raisya. Tangan kekarnya meraih celana pendek yang berserakan dilantai dan memakaianya dengan cepat. Kakinya melangkah dengan tegas memasuki ruang pakaian untuk mengambil pakaian milik Raisya.
__ADS_1
Raisya menarik selimut sampai ke atas kepala. Menangis keras di dalam sana. Hatinya lagi-lagi hancur. Belum cukupkah luka yang laki-laki itu torehkan. Kenapa ia tidak bia berubah seperti janji yang pernah ia ucapkan? Perasaan yang sempat bersemayam di hatinya sektika terhempas hilang tak berbekas. Kini ia semakin yakin untuk melanjutkan rencananya.
Farel menjambak rambutnya kuat. Ia terjatuh tepat saat memasuki ruangan pakaian itu. Tubuhnya meluruh kebawah beserta air matanya.
“Maafkan aku, bagaimana bisa aku bersikap seperti itu kepadamu? Bagaimana nanti kalau kau tidak mau memaafkanku dan membenciku, atau lebih parahnya berbuat nekat seperti dulu.” Farel merancau tidak jelas di dalam sana.
Kekalutanya membuat ia kehilangan logika. Penolakan Raisya semalam membuatnya tanpa pikir panjang melakukan hal bejat itu saat melihat tubuh molek Raisya. Ia menyesal, sangat menyesal.
Dengan cepat ia bangkit, tangan kekarnya meraih satu pakaian yang tertangkap indra penglihatnya. Kakinya dengan cepat membawanya keluar untuk segera menemui Raisya dan meminta maaf kembali.
Di sana tatapan Farel terpaku. Di atas ranjang tubuh Raisya terkubur di dalam selimut. Selimut itu bergetar kuat. Farel semakin menggenggam erat pakaian yang di pegang kedua tanganya.
Suara tangisan Raisya membuat langkahnya memelan. Ia dudukkan tubuhnya tepat di samping Raisya. Tanganya dengan pelan membuka selimut tebal itu.
“Apa yang kau inginkan lagi?” Raisya berteriak kencang dengan pipi yang sudah basah.
Farel menelan ludah kasar, matanya ikut memerah melihat kekacauan Raisya.
“Maafkan aku.” Farel menundukkan kepalanya.
Raisya bangkit, mencoba duduk dengan tegap dengan tangan yang memegang selimut erat.
“Kau selalu meminta maaf dan selalu mengulangi kesalahan yang sama. Apa perlu aku mati biar kau sadar! Kadang kata maaf itu tidak cukup, kita butuh pembuktian dari ucapan maaf itu, bukan hanya sekedar perkataan.” Raisya beriak kencang. Air mata Raisya semakin kuat mengalir di pipinya.
“Aku_ aku_”
“aku apa? Hah? Kau mau bilang jika kau mencintaiku? Sekarang aku meragukan cintamu? Kalau kau benar-benar cinta, kau tidak akan melakukan hal bejat seperti itu. Sebaiknya kau renungkan kembali perasaanmu, itu cinta atau obsesi!” Raisya bangkit meninggalkan Farel yang memegang erat pakaian yang di bawa itu.
“aku mencintaimu. Sungguh aku sangat mencintaimu, bahkan cintaku terlalu besar untukmu sehingga aku merasa sakit setiap mengingat cintaku.” Farel berucap dengan lirih. Air matanya terjatuh sebagai saksi seberapa besar dan berat cinta yang ia tanggung untuk Raisya.
_________,
Ada yg mau dikatakan sama Raisya, dan Farel?
Terimakasih sudah membaca,,
jangan lupa Follow, vote, dan komen ya,,,
__ADS_1
Selalu dukung Author, agar Author lebih semangat buat nulis dan up 😘😘😘