
“Tidak, jangan katakan itu. Apa yang kau korbankan kali ini untuk membebaskan kita?” Jesika menatap curiga Raisya. Wanita bermata sipit itu sudah mengenal sifat luar dalam Raisya.
Raisya yang mendengar pertanyaan itu terdiam, menatap sendu dengan senyum lembut di bibirnya, seakan mengatakan bukan apa-apa.
Jesika memicing penuh curiga. Ekspresi wajah Raisya membuatnya semakin yakin, jika wanita di depannya telah mengorbankan sesuatu.
“Jangan berbohong, kalau kau menganggapku teman, kau harus mengatakan semuanya.” Jesika menatap serius Raisya.
Raisya membuang pandangan, enggan untuk menatap Jesika.
“Raisya.” Jesika memanggil nama Raisya langsung dengan namanya, tanpa embel-embel Nyonya. Hal itu menandakan Jesika benar-benar serius.
“Aku__ aku menerima tawaran menikah dengan Farel.” Raisya menjawab dengan mata yang tetap enggan menatap Jesika. Bukan karena ia sedih karena pernikahnnya, tapi ia tidak ingin mendapatkan tatapan iba dari Jesika. Tidak, bukan dari Jesika saja, tapi dari siapa pun.
Jesika menutup mulut tidak percaya, sedangkan Andres menatap Raisya terkejut namun, laki-laki itu dengan cepat mengubah wajahnya menjadi datar kembali.
“Kau serius? Dasar Baji*ngan itu. Seharusnya kau tidak harus menerima tawaran itu. Kita lebih baik membusuk dan menerima penyiksaan itu, dari pada kita harus melihatmu berkorban,” Jesika berucap dengan murka.
Raisya terkekeh, kini wanita itu menatap Jesika dengan mata yang sedikit menyipit. “Bukannya kau dulu mendukungku dengan Farel?”
Raut marah Jesika segera tergantikan dengan tatapan bersalah. “Raisya, maafkan aku. Kalau saja, aku tidak pernah memberikan saran seperti dulu, semua ini tidak akan terjadi.” Jesika menundukkan kepalanya. “Kau tidak akan terikat dengan laki-laki itu seumur hidupmu.”
Raisya Tersenyum lembut. Seakan semua yang terjadi bukanlah apa-apa. “Apa yang kau katakan? Semua ini takdir. Menikah dengan Farel tidaklah buruk.” Raisya tersenyum dengan mata menerawang jauh di sana. Ingatan wanita itu kembali pada saat Farel yang bersikap manja, berubah sedih, kemudian berbinar. Sungguh laki-laki itu terlihat imut dan menggemaskan.
“Raisya?” Jesika mengernyitkan alis tidak mengerti.
“Sudah, kau jangan memikirkan itu. Sekarang kalian berdua sudah terbebas, dan tidak harus bekerja di sini. Kalian masih bisa berteman denganku, datanglah kemari kapan pun yang kalian mau, aku pasti akan menyambut kalian dengan senang.”
Andres dan Jesika saling tatap. Ada sedikit rasa sedih di mata mereka. Mereka di bebaskan, tapi mereka juga di bebaskan dari pekerjaan. Dalam artian, mereka tidak bisa berintraksi dengan Raisya seperti dulu.
“Jangan pernah khawatir denganku. Aku sudah dewasa, dan aku juga bisa melindungi diriku sendiri, bahkan dari Farel.” Raisya berucap dengan nada jenaka. Melindungi dari Farel? Ya, mungkin dia bisa. Tapi melindungi dari orang yang berada di sekeliling Farel? Ia tidak yakin.
__ADS_1
Terlihat Jesika yang menghembuskan nafas panjang. “Apa pun yang kau butuhkan, jangan sungkan bilang pada ku. Aku akan membantumu, dengan cara apa pun,” Jesika berucap dengan sungguh-sungguh.
Andres yang sedari tadi diam menatap mereka berdua, kini memberanikan diri mengeluarkan beberapa patah kata dengan sedikit kesusahan.
“Aku yakin, Tuan akan melindungi Nyonya. Nyonya harus ingat, Tuan sangat mencintai Nyonya, dan Tuan melakukan semua ini karena besarnya rasa cinta itu. Yang perlu dikhawatirkan bukan Tuan, Nyonya. Tapi Salsha.” Andres menatap Raisya dengan serius.
Jesika yang mendengar nama Salsha merasa dingin di sekujur tubuhnya. Entah mengapa ia merasa wanita itu tidak sesederhana kelihatannya. Wanita itu tak ayal seperti seorang monster cantik.
Membahas tentang Salsha, membuat Jesika mengingat tentang status.
“Raisya, jika Kau sudah menikah dengan Farel, berarti Farel sudah resmi bercerai dengan Salsha?”
“Hmm, Farel sudah resmi bercerai kemaren, dan kemaren pula kita menikah.” Raisya menerawang jauh di sana. Bayangan tentang pernikahan mewah seperti putri dongeng kandas. Hah, jangankan pernikahan seperti itu, pernikahan biasa saja ia tidak yakin bisa melakukannya.
Menggelar pesta pernikahan tepat setelah jatuhnya keputusan perceraiaan akan menimbulkan skandal. Bukan Farel, atau pun Salsha yang akan dirugikan, tapi ia sendiri.
“Jadi, mereka semua sudah tahu statusmu sekarang?”
“Belum, atau bisa dibilang tidak akan.” Raisya tersenyum miris.
“Bagaiman bisa?” Jesika menatap Raisya tidak setuju. Sehari ini, emosinya di uji dengan fakta mengejutkan dari Raisya. Ia yang pernah menjabat sebagai seorang Psikolog seakan tidak bisa menerapkan segala ilmu yang ia punya hari ini.
“Jesika, kau harus ingat, perceraiaan itu baru kemaren, dan sekarang kau ingin mereka semua mengetahui statusku? Itu namanya aku cari mati!”
“Oh Tuhan, aku tidak menyangka kau akan mengalami hal rumit seperti ini.” Jesika mengusap wajahnya kasar.
“Bagaiamana dengan keluarga Tuan? apa mereka sudah tahu?” Andres bertanya di tengah-tengah kekalutan Jesika.
Raisya terdiam sejenak, kemudian menjawab dengan santai. “Aku tidak tahu. Sepertinya tidak ada yang tahu tentang pernikahan ini, kecuali aku, Farel, petugas KUA, dan kalian.”
Hening. Mereka semua tenggelam dalam pemikiran masing-masing, sehingga kedatangan kepala pelayan yang mengintrupsi Raisya membuat mereka sadar.
__ADS_1
“Nyonya, bukankah anda ingin berangkat ke perusahaan untuk makan siang dengan Tuan.” Pelayan itu menunduk hormat.
Jesika menatap Raisya yang terlihat tenang. Rasa khawatir di hatinya sedikit terkikis. Mungkin Raisya adalah jodoh Farel. Terlebih bagaiamana menyeramkannya sifat Farel. Kini Jesika hanya bisa mendoakan agar Raisya selalu bahagia.
“Ok, sepertinya kita harus pulang.” Jesika bangkit dengan pelan.
“Hmm, terimakasih atas bantuan kalian berdua. Aku harap kalian selalu bahagia,” Raisya berujar dengan sedikit menggoda.
Jesika memutar mata malas. Meskipun ia dekat dengan Andres, tapi ia yakin, ia tidak memiliki perasaan spesial sama sekali. Berbeda dengan Andres yang terlihat kikuk dan menunduk. Sepertinya di sini ada cerita cinta bertepuk sebelah tangan!
“Jangan mengada-ada. Aku berdoa, semoga kau selalu bahagia.” Jesika memluk tubuh Raisya.
Mereka berdua berepelukan, menyalurkan rasa hangat dari kulit masing-masing, kemudian merasuk ke hati mereka. Membuat mereka lebih tenang, dan merasa tidak sendirian.
****
Raisya memasuki lobi kantor dengan wajah yang tertutup masker. Di sana terlihat Ricard yang sudah berdiri menunggunya dengan raut wajah gelisah. Raisya dengan pelan menghampiri Ricard dan menyapa.
Resepsionis wanita yang melihat kedatangan wanita dengan masker, ditambah kaca mata mengernyitkan alis. Namun, melihat Ricard yang terlihat sangat menghormati wanita itu membuat niat untuk menegurnya hilang.
“Nyonya, anda datang sekarang?” Ricard bertanya dengan wajah aneh.
Raisya mengernyit, merasa aneh dengan pertanyaan konyol itu. “Bukankah sekarang sudah memasuki waktu makan siang?” Raisya bertanya dengan raut datar.
Ricard menelan ludah gugup. “Oh, iya.”
“Antar aku ke ruang Farel.”
“Itu Nyonya__”
“Apa?” Raisya mengangkat sebelah alisnya.
Terlihat dentingan lift yang terbuka. Raisay memutar kepalnya, berniat melihat siapa gerangan yang keluar dari lift berwarna emas itu. Matanya semakin mendatar ketika melihat siapa sosok itu.
__ADS_1
“Oh, kau takut aku memergoki atasanmu yang sedang bersama dengan mantan?”