Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
106. Pantai


__ADS_3

Salsha masih memerankan perannya sebagai protagonis dengan baik. Wanita itu terlahit semakin mengeratkan pelukannya dan menangis tersedu di pelukan Maria.


Maria yang melihat mantan cucu menantunya terlihat sangat hancur itu tidak bisa menahan geram. Ingatan tentang wajah polos Raisya saat pertama kali bertemu dulu hangus seketika, yang tersisa hanya bayangan wajah polos itu yang berubah menjadi seringai keji dan jahat.


“Sudah Salsha, tak perlu kau tumpahkan air matamu untuk mereka. Mereka tidak pantas mendapatkan air mata dari wanita sepertimu.” Maria mengelus pundak Salsha yang bergetar.


Beberapa saat kemudian punggung Salsah terlihat jauh lebuh tenang. Maria yang melihat itu menghela nafas lega, dengan pelan menyentuh bahunya dan membuat wajah mereka saling berhadapan.


“Nenek minta maaf, Nenek tidak bisa mendidik Farel dengan baik.” Maria menundukan kepalanya.


Salsha yang melihat itu merasa iba. Apa ia sudah keterlaluan? Tapi ini semua ia lakukan agar rencana balas dendamnya berhasil. Ia harus membuat Farel kehilangan orang yang ia kasihi. Pertama, menyingkirkan Maria dan membuat wanita paruh baya itu memihaknya. Kedua, membuat selingkuhan yang sudah menjadi istrinya itu pergi kalau bisa lenyap dari bumi ini.


“Tidak, Nenek tidak seharusnya meminta maaf untuk kesalahan yang diperbuat Farel. Cukup Nenek selalu berada di pihakku, maka aku akan merasa lebih baik.” Salsha tersenyum lembut dengan menyentuh lembut tangan keriput itu.


Maria mendongak, melihat tatapan lembut Salsha membuat wanita paruh baya itu semakin merasa bersalah. Bagiamana bisa ia menebus kesalahan Farel, dan membuat wanita malang ini bahagia?


“Nek, sepertinya Salsha harus pergi.” Salsha mengangkat wajahnya, menatap Maria dengan tatapan tidak rela.


Sedangakan Maria yang melihat itu hanya bisa menganggukkan kepala, dan memberikan senyum lembut untuk Salsaha.


Setelah kepergian Salsha, wajah teduh Maria berubah menjad beringas. Wanita paruh baya itu menggertakan gigi kuat.


“Saipkan semuanya, berikan pelajaran untuk wanita ular itu,” Maria berujar dengan datar da tajam.


****


Farel menatap penuh damba Raisya yang memakai bikini berwarna biru. Kulit putihnya terpampang dengan jelas, bahkan terlihat indah dengan pancaran matahari yang menyinari.


Pantai yang sepi membuat Farel leluasa melakukan apa pun sekarang. Laki-laki itu sudah merencanakan semuanya dengan matang. Biar bagaiaman pun, ia tidak mau perjalanan jauhnya menjadi sia-sia.


Raisya yang sedang bermain pasir merasakan ada leser yang sedang memindai tubuhnya. Wanita dengan netra hijau itu memindai seluruh tempat, mencari siapa gerangan yang mengusiknya itu.


Tatapannya terhenti, tepat ke arah laki-laki dengan netra coklat yang menatapnya seperti singa kelaparan. Raisya yang melihat tatapan itu bergidik ngeri.

__ADS_1


“Kau, jaga pandanganmu!” Raisya berkata dengan nada ketus.


Sedangkan Farel yang masih setia mengamati tubuh Raisya dari jarak tiga meter tidak bisa menahan tawanya. Wanitanya itu sungguh luar biasa. Bukan hanya tubuhnya yang menggoda, tapi semua yang ada pada dirinya mampu membuatnya kehilangan akal.


“Kau sungguh seksi.” Farel mengedipkan sebelah matanya dan menjilat bibir atasanya.


Tingkah itu persis seperti iklan mie instan yang sedang melahap kuah mie yang tersisa di sudut bibirnya. Terlihat lezat juga menggoda.


Raisya bergdik ngeri, melihat Farel yang perlahan melangkah mendekat dengan tatapan yang tidak terlepas sama sekali ke arahnya. Dengan cepat, Raisya berlari menjauh dari sosok laki-laki yang menatapnya penuh nafsu itu.


Farel terkekeh, melihat Raisya yang lari dengan wajah ketakutan membuatnya sangat senang, dan pastinya membuat senjatanya yang sudah lama mendamba untuk berkunjung di sarangnya semakin memberontak untuk segera keluar.


“Raisya, kenapa kau lari?” Farel berteriak dengan kaki yang tetap melangkah.


Rasya yang melihat Farel tidak menghentikan langkah kakainya semakin melotot dan menambah kecepatan kakinya.


“Farel berhenti, aku tidak mau melakukan itu di tempat terbuka.”


Farel yang sadar kemana cara berpikir Raisya tergelak dengan kuat. Sungguh ia memang bernafsu dan ingin melakukan hal yang iya iya sekarang, tapi ia mencoba sekuat tenaga menahannya.


“Hay, kenapa kau tertawa?”


“Ha ha ha kau bertanya kenapa aku tertawa? Aku tertawa karena mendengar perkataanmu tadi.”


“Perkataanku yang mana?”


“Kau bilang tidak ingin melakukan ‘itu’ di sini.” Farel berkata dengan menahan tawanya.


“Bukannya kau ingin melakukan ‘itu’ di sisni?”


“Ha ha ha, sebenarnya aku tidak pernah berpikir seperti itu, tapi mendengar usulanmu,” Farel menghentikan kalimatnya sejenak, kemudian berlari dengan cepat dan membawa Raisya dalam dekapannya. “Sepertinya ide yang bagus. Bagaiaman kita bercinta di sini?” Farel berbisisk sensual di telinga wanita yang bergerak liar dalam rengkuhannya itu.


“Farel, lepaskan, kau tidak malu? Ini di tempat terbuka?” Raisya memekik, merasa kesal dengan belitan tangan Farel yang kuat, bahkan kakinya sudah tidak menapak di atas pasir.

__ADS_1


Farel mengabaikan terikan Raisya, kakinya fokus melangkah untuk menuju tempat yang menurutnya sangat tepat untuk memadu kasih. Di hamparan laut, dengan angin semilir, pasti sangat menyenangakan.


Raisya meronta dengan wajah penuh ketakutan, terlebih matanya menagkap gazebo yang letaknya tidak terlalu jauh, bahkan kini tinggal berapa langkah lagi untuk dirinya sampai di sana.


“Farel kau jangan gila!” Raisya merengut merasakan tubuhnya yang sudah terlentang di atas karpet tebal di tengah gazebo itu.


Suara deburan ombak dan angin yang kencang membuat suaranya terlihat lirih. Farel yang melihat Raisya, semakin melebarkan senyumnya.


“Sudah ku bilang, aku tidak gila. Tapi aku tergila-gila denganmu.”


Farel dengan cepat menerjang Raisya. Memberikan sentuhan yang ia yakin dapat membuat Raiya menarik kembai perkataanya tadi. Tangannya dengan lihai bergerak, berselancar indah di tempat yang selalu ia damba untuk di permainkan.


Permainan yang awalnya hanya dilakukan satu pihak kini bersambut. Lawan yang terlihat enggan untuk menerima tawaran bermain dengan senang hati menyambutnya, bahkan kembali menyerang dengan sentuhan yang lebih intens dan menggoda.


Farel terengah-engah, matanya menatap Raisya yang terlihat berantakan namun, lebih menggoda dan menantang.


“Kau sungguh membuatku gila.” Farel berucap di tengah-tengah nafasnya yang memburu.


Rasya tidak menanggapi perkataan Farel. Wanita itu sibuk mengatur detak jantung serta otot-otot tubuhnya yang mengencang, terlebih otot sensitifnya yang berkedut cepat, seakan memita untuk segera menyelesaikan permainanya.


Farel yang melihat tatapan Raisya tidak bisa menundanya lagi, segera laki-laki itu memulai seuatu yang memang sudah di rencanakan dari awal. Memadu kasih dalam permainan dengan wanita yang ia cintai.


Meraka saling memagut, berbagi saliva, serta membaui satu sama lain, seakan mengingat segala sesautu yang berasal dari lawan mainnya. Sahutan suara ******* memenuhi seluruh penjuru gazoba. Tubuh yang polos dengan sapuan angin serta gerakan erotis membuat siapa pun yang melihat akan menutup mata malu namun, mengintip di celah-celah jari.


______


Terimaksih sudah membaca kk,, untuk yang sudah ngasih saran atau pun kritik juga Terimaksih,, Author seneng baca komen kalian,,,


Maaf ya, Author belum bisa up tepat waktu,, juga cuma bisa 1 bab doang,,, Author bener² sibuk, baik di dunia nyata mau pun di dunia Maya,,


Nulis 3 novel berbeda di pf berbeda buat Author pusing,, belum lagi acara yg gk ada habis²nya


Doakan semoga Author tetep bisa konsisten up,,

__ADS_1


Salam cinta dari Author buat kalian semua,,,


Ada yg sudah bosen gak sama cerita Author? 😊😊


__ADS_2