
Malam itu semua digemparkan dengan dua kabar bahagia. Pertama tentang pernikahan seoarang pengusaha muda, Farel wiratman, kemudian sosok keturunana Atmaja, yang tak pernah mereka ketahui bagaiamana rupanya.
Banyak beberap orang yang mencemooh tingkah Raisya, menganggap wnaita itu sengaja mendekati Farel hanya untuk memulihkan perusahaannya yang gulung tikar. Namun, baik dari pihak Farel maupun Raisya terlihat bungkam, enggan menanggapi celoteh mereka yang dianggap hanya angin lalu.
“Farel.” Panggil Raisya pelan.
Farel yang masih asyik bergelung di bawah selumut dengan tangan yang mengelus perut polos Raisya mendongak.
“kenapa sayang?”
“Kenapa kau membangun perusahaanku lagi?” Raisya menatap Farel. Mata hijau itu terlihat menyimpan banyak emosi.
Farel yang melihat itu memebenarkan posisis tubuhnya, membiarkan tubuh polosnya sebagian terekspos.
“Kenapa? Apa kau tidak suka?”
“Tidak, bukan seperti itu. Tapi aku tahu, perusahaan keluargaku sudah tidak bisa tertolong lagi?” Raisya mengeluarkan semua unek-uenk yang ada di hatinya.
“Aku tahu, perusahaanmu itu sangat penting, karena itu satu-satunya peninggalan keluargamu, anggap saja itu sebagai hadiah pernikahan kita.”
Raisya yang mendengar jawaban enteng dari Farel mencebikkan bibir. “Pantas saja semua orang mengira aku sengaja mendekatimu untuk harta.” Gumamnya pelan namun, masih bisa terdengar oleh Farel.
Farel yang mendengar penuturan Raisya menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Menempelkan wajah sang wanita tepat di dada polosnya, untuk mendengarkan degup jantungnya yang terdengar menggila.
Raisya yang diperakukan seperti itu hanya diam, menunggu apa maksud dari tindakana Farel.
“Sayang, kau dengar suara jantungku kan?” Farel bertanya dengan lembut yang diangguki Raisya.
“Degup jantungku ini sudah menjawab semuanya. Bukan kau yang mendekatiku, tapi aku yang mendekatimu. Jangan biarkan omongan mereka membuatmu berpikir yang tidak-tidak. Biarlah mereka berpendapat seperti itu, itu hak mereka. Yang terpenting, kau tidak seperti itu. meskipun iya, aku pun tak masalah. Asalkan kau tetap bersamaku, aku rela memberikan seluruh hartaku.” Farel terkekeh di akhir kalimat.
Raisya yang awalnya mereasa terharu sontak mendongak, kemudian memukul dada Farel dengan pelan.
“Kau kira aku perempuan matre?”
“Tidak, siapa bilang kau perempuan matre. Tidak ada yang namanya istilah matre buat wanita sayang, yang ada itu kere!” Farel menjawil hidung mancung Raisya.
“Ha? Kere?”
“Iya, kere. Hanya laki-laki tidak mampulah yang menilai wanta matre.” Farel menatap Raisya serius.
Raosya yang mendengar penuturan Farel terdiam. Otak kecilnya berusaha mencerna maksud dari perkataan sang suami. Sedangkan Farel yang melihatnya terkekeh.
“Sudah tidak usah dipikir. Lebih baik kau hanya memikirkanku.” Farel mengusap wajah Raisya gemas.
Raisya yang masih serius berpikir terkejut dengan usapan di wajah, mata hijaunya menatap Farel tidak terima.
__ADS_1
“Apa yang harus aku pikirkan tentangmu? Toh, kau sudah ada di depanku.” Raisya mencebik kesal.
“Eits, meskipun aku di depanmu, tapi kau wajib untuk selalu memikirkanku.”
“Kenapa harus seperti itu?”
“Ya harus, kau tahu aku suamimu, dan sewajarnya kau memikirkanku.”
“Memangnya, kau juga memikirkanku?”
“Hay, sayang. Dengarkan aku. Tidak ada hari tanpa memikirkanmu, bahkan saat kita bersama seperti ini, aku selalu memikirkanmu.” Farel menatap Raisya serius.
Raisya yang mendengar penuturan itu tertegun, kemudain senyum tipis tersungging di wajahnya. “Berarti sekarang kau juga memikirkanku?”
“Iya, aku sekarang sedang memikirkanmu.”
“Apa yang kau pikirkan?” Raisya membelai rahang Farel, membuat lak-laki itu memejamkan mata, menikmati elusan di rahang.
“Ekhm, aku memikirkan bagaiman kalau kita tambah satu ronde lagi.”
Tepat saat mengatakan itu, Farel sudah mengubah posisinya menjadi di atas Raisya, membuat wanita hamil itu terkejut dengan tindakan tiba-tiba sang suami.
“Farel, kita baru saja melakukan itu.” Raisya berusaha mendorong dada Farel.
Farel yang melihat tindakan Raisya tersenyum lebar, mata laki-laki itu sudah berkabut gairah, bahkan Raisya juga bisa merasakan aset yang tidak tertutup apa pun itu sudah menjulang tiggi.
“Aku lelah Farel.” Raisya menunjukan wajah melas, berharap Farel iba, dan mengurungkan niatnya.
Farel yang melihat wajah Raisya semakin menyeringai. Hampir satu tahun bersama wanitanya itu, membuat ia paham betul dengan sikap Raisya.
“Tak apa, kau hanya perlu diam dan mendesah. Selebihnya serahkan kepada lelakimu ini.” Farel mengedipkan sebelah mata.
Sebelum mendegar perotasan dari sang wanita, Farel dengan cepat membungkam bibir manis itu, menjelajah di sana, bahkan membelai apa pun yang ia temui dengan lidahnya.
Sedangkan Raisya yang mendapatkan serangan nikmat hanya mampu memejamkan mata. Meskipun ia menolak keinginana sang suamai, tapi suaminya itu sangat tahu bagaiamana cara membuat ia terlena, bahkan ketagihan.
Seperti saat ini. Lidah yang asyik bermain di dalam mulut, dan tangan yang dengan lihai menjelajah lembah-lembah yang selalu ia jaga.
Malam itu terasa lebih dingin di banding malam lainya. Terlebih, negara yang mereka tempati saat ini sedang mengalami musim salaju. Berbagi kehangatan di negara yang menjadi pilihan mereka untuk menetap selamanya, untuk membuka lembaran baru, dan bersuka cita menyambut kebahagian dan kenangan yang akan mereka ukir bersama.
***
“Anak kita sudah tumbuh dewasa, bahkan aku akan menjadi seorang Nenek.” Tamara berbicara dengan sang suami yang terlihat masih setia menutup mata.
Lelehan air mata saat melihat sang anak yang lebih bahagia tanpa dirinya membuat wanita tua itu sekaan tersadar. Semua tindakannya selama ini membuahkan dua hasil. Pertama, kebahagian sang anak. Kedua, kehampaannya.
__ADS_1
Berkat luka yang ditorehkannya sedari kecil membentuk jiwa anaknya lebih dewasa. Itu lebih baik, dibanding anaknya menjadi boneka keluarga Lawson.
“Bangunlah, temani aku. Kau tahu, aku sendiri. Aku sendiri dengan peneyesalan dan rasa bersalahaku.” Tamara menangis tergugu, wanita itu menundukkan kepalanya, menumpahkan tangis dan rasa pedih yang terasa menyikasa.
Sedangkan Maria yang sedari tadi mengawasi Tamara dalam CCTV hanya terdiam. Ada sedikit rasa iba, tapi apa boleh buat, itu hukuman untuk sang putri. Biar bagaiaman pun, anaknya itu harus belajar menjadi lebih deawasa lagi, dan lebih pintar untuk mengambil keputusan.
Bukankah dia bisa menemuinya untuk menyelamatkan sang putra, tanpa harus berperan menjadi tokoh ibu jahat.
“Semoga kau bahagia.” Maria mematikan layar itu, membuat gambaran Tamara yang menangis terganti dengan layar hitam.
***
Tuan Dawal menatap sang istri yang terlihat memberontak. Salah satu perawat terlihat menyuntikkan sesuatu di tubuh sang wanita, membuat tubuh tua itu perlahan mengendur, kemudian ambruk.
“Ya tuhan. Kenapa kau menguji ku seperti ini?” Pria itu mengusap wajahnya kasar, menghalau air mata yang dengan kurang ajarnya erembas keluar dari mata.
Drt... Drt...
Getaran gawai itu membuat Tuan Dawal menghela nafas, kemudian tangan tuanya mengambil gawai itu untuk melihat siapa yang memanggilnya. Tertera jelas nama rumah sakit di sana. Rasa khawatir dengan ceat membuat tubuh tua itu bergetar.
“Ya, hallo.”
“Selamat malam Tuan Dawal. Di sini, saya ingin mengkonfirmasi, keadaan Nona Salsha terlihat memburuk. Rumah sakit kami sudah tidak bisa menangani keadan putri anda.”
Deg!
Tuan Dawal terlihat menegang. Mata tuanya terlihat berembun, satu tetes air mata lolos di mata tuanya. Di saat semua oang sedag di sibukkan dengan berita pernikahan Farel, dia dan keluarganya harus merasakan hal paling berat.
“Apa tidak ada cara lain lagi?” tanyanya dengan suara yang serak.
“Maaf, Tuan dengan sangat menyesal kami sudah tidak bisa menangani lagi. Tapi jika anda berkenan, anda bisa membawa Putri anda untuk berobat di negara XXX, di sana fasilitas sudah memadai.”
Tuan Dawal terlihat menimbang, berpikir dengan sangat matang. Mengingat keuangan mereka yang sudah hancur tak tersisa, mampukah ia untuk membayar biaya pengobatan sang anak.
“Bagaiamana dengan biayanya?”
“Untuk biaya, kebetulan di sini ada yang akan menanggung semuanya Tuan. Anda hanya tinggal menandatangani semua data-data yang diperlukan.”
Tuan Dawal terliat terdiam. “Siapa yang bertanggung jawab?”
“Semua biaya akan ditanggung oleh Tuan Damian, Tuan.”
________
Malam smua, , terima kasih sudah menemani Author sejauh ini,, bentar lagi cerita wanita simpanan bakal end,, dan Author bakal buat cerita baru,, di sana nanti kalian bakal tahu bagaimana kelanjutan hubungan Max dan Salsha,, tapi cerita baru Author gk fokus ke kisah asmara mereka ya,,, ada yg kepo????
__ADS_1
😍😍😍😍