Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
58.Cerai


__ADS_3

“Raisya sayang, jangan pergi.” Farel mendekap erat tubuh Raisya dari belakang.


Raisya yang hendak meninggalkan kamar menghentikan langkahnya karena pelukan itu. Tubuh bergetar Farel terasa jelas, membuatnya dengan pelan membalikkan tubuhnya untuk menatap Farel.



Farel yang merasakan Raisya membalikkan tubuhnya semakin mengeratkan pelukan, menenggelamkan kepalnya di ceruk leher jenjang wanitanya.


“Aku hanya butuh udara segar.” Raisya mengelus lembut punggung yang bergetar itu.


Mendengar jawaban lembut Raisya membuat Farel semakin merapatkan pelukanya dan menggeleng cepat.


“Kau jangan seperti ini Farel.” Raisya mencoba membujuk Farel. Tanganya berhenti mengelus punggung kekar itu, dan berusaha melepaskan pelukan mereka untuk menatap wajah Farel.


“Tidak, jangan lepaskan pelukanku.” Tubuh Farel semakin bergetar.


Raisya memejamkan mata, mencoba menghalau rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak di dadanya. Sungguh ia belum mencintai Farel, tapi melihat keadaan Farel yang seperti ini, ia merasa sesak.


“Tidak, aku tidak akan melepaskan pelukanmu, tapi ayo kita berbaring. Aku yakin kau butuh ketenangan.”


Farel terdiam mendengar ucapan Raisya. Ya, ia butuh ketenangan. Hari ini dadanya terasa akan meledak karena rsa cemas, takut, dan khawatir. Dengan patuh ia berjalan dengan posisi yang tidak berubah sama sekali.



Raiysa dengan hati-hati berjalan kearah ranjang. Posisi Farel yang berjalan mundur dan ia yang berjalan kedepan membuatnya bertanggung jawab mengarahkan langkah mereka.


“Berbaringlah.”


Farel dengan patuh membaringkan tubunya, melepaskan pelukan mereka sejenak. Setelah merasa posisinya sudah pas, segera Farel meraih Raisy, membawanya kedalam dekapanya yang hangat.



Raisya hanya terdiam menerima segala prilaku yang Farel berikan untuknya. Tanganya dengan pelan mengelus lembut puncak kepala Farel. Namun, rasa basah dan lengket di pinggangnya membuat pergerakan tanganya terhenti.



Raisya bangkit, membuat Farel menggerutu tidak senang.


“Sayang, kenap__”


“Apa ini Farel?” Raisy bertanya dengan nada tajam. Netra hjaunya menyorot datar tangan kanan Farel yang kembali mengeluarkan darah segar, bahkan darah itu keluar lebih banyak dari pada sebelumnya.


Farel mengerjapkan mata lucu, tatapanya beralih pada tangan kananya. Ia menunduk merasa bingung bagaiaman harus menjelaskanya.


“Aku tidak sengaja melukai tanganku kembali.”

__ADS_1


“Kenapa? Apa karena emosi?”


“Iya.” Farel mengangguk kecil. Sungguh Farel tidak berani mengangkat kepalanya sekedar menatap netra indah itu. Ia takut Raisya akan meninggalkanya lagi.


“Farel, kau harus mengurangi emosimu. Lihat, tanpa kau sadar kau sendiri yang menghancurkan tubuhmu. Bukan hanya batinmu yang kau siksa karena emosi, cemas, dan rasa khwatirmu, tapi fusikmu juga. Jika kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri, bagaimana bisa kau menjagaku nanti?”


“Maafkan aku, aku akan berusaha. Sungguh aku juga tidak menginginkan semua ini. semua emosi sia*an ini muncul dengan sendirinya,” Farel berucap dengan frustasi. Sungguh ia tidak suka dengan rasa cemas berlebihan yang ia rasakan.


Raisya terdiam, mencoba memahami Farel.Memang tidak mudah bagi siapa pun yang menderita panic eteck untuk mengendalikan perasaanya. Semuanya butuh proses.


“Aku akan membantumu. Aku akan membantumu agar kau bisa mengontrol perasaanmu, terutama rasa takut, panik, dan khawtirmu.” Raisya mengangkat kepala Farel. Memaksa wajah tampan itu untuk menghadapnya.


Farel mengerjap, menatap Raisya dalam diam. Hatinya terasa hangat mendapatkan perhatian seperti itu. Bukan hanya perhatian dari segi fisiknya saja, tapi perhatian menyangkut metalnya.



Meskipun Maria menyanyanginya sepenuh hati, tapi Maria tidak pernah tahu bagaiamana mentalnya yang abnormal itu. Farel terlalu pandai menutupi semuanya.


“Terimakasih.” Farel berucap dengan tulus.


“Sekarang, ayo kita obati lukamu.” Raisya tersenyum.


Farel terdiam, mencoba menuruti apa perintah Rasya, tidak membangkang seperti tadi.




Luka yang awalnya hanya seberapa kini terlihat megerikan. Kenapa mereka berdua sama-sama memiliki luka yang menyeramkan. Saat pelecehan pertama, Raisya melukai lehernya sendiri, sehingga meninggalkan bekas yang mengerikan sampai sekarang.



Pelecehan kedua, Farel sendiri yang melukai tangan kananya, membuat laki-laki itu mengalami kesulitan untuk melakukan semua hal, bahkan membuatnya meninggalkan pekerjaannya. Jika diperhatikan, mereka sama, sama-sama memiliki luka sendiri atas insiden menyeramkan itu.


“Selesai.” Raisya menutup kembali kotak obat itu. Meletakkan tepat di atas nakas samping ranjang.


Farel menatap perban di tangan kanannya dengan senyum kecil. Kini ia merasakan jika tidak semua luka itu menyakitkan. Buktinya, dengan ia luka seperti ini Raisya lebih perhatian dan bisa memberinya kesempatan. Bahkan ia mendapatkan awal kebahagiaanya dari luka.


“Sekarang berbaringlah, atau kau mau kekamar mandi atau mengganti baju terlebih dahulu.”


Farel melihat pakaianya, pakaian yang sudah ia pakai sedari pagi, ia merasa tidak nyaman, dengan pelan ia menganggukkan kepalanya dan bangkit menuju kamar mandi.



Raisya terdiam melihat kepergian Farel.

__ADS_1


“Semoga aku tidak salah dalam mengambil keputusan.”


Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah berbaring di atas ranjang dengan posisi Farel yang menenggelamkan kepalanya di dada Raisya. Farel persis seperti anak kecil yang membutuhkan perlindungan. Tidak butuh waktu lama, Farel terlelap, terhanyut dalam dekapan yang nyaman itu.



Raisya mengelus punggung Farel pelan. Tanganya tanpa lelah bergerak pelan di punggung kekar itu.


“Kau harus sembuh,” ucapnya lirih.


*****


Farel berdiri di dekat jendela besar yang berada di ruang kerjanya. Ia sengaja memilih tempat itu untuk petemuanya dengan detektif yang ia perintahkan menyelidiki Salsha dan Jesika.


“Bagaiaman?” Farel membalikkan tubuhnya. Matanya menatap datar Andres yang ia tugaskan untuk menyelesaikan misi itu. Mengingat kelebihan Andres, hal seperti itu bukanlah hal yang sulit.


“Semua sudah saya dapatkan Tuan. Nyonya Salsha terbutki selingkuh dengan Maxim Alexis.” Andres menundukkan kepalanya. Sungguh ia takut jika Farel tiba-tiba marah, dan menjadikanya sebagai sasaran.


Mengingat bagaiaman sikap Farel terhadap Raisya selama ini yang luar biasa posesif. Pasti Farel akan bersikap lebih dari sekedar posesif terhadap Salsha istrinya sendiri.



Ricard yang kebetulan di panggil Farel dan berada dalam ruangan yang sama menahan nafas mendengar fakta baru itu. Sungguh pernikahan atasanya sangat luar biasa. Kedua pasangan yang sama-sama selingkuh. Jika seperti ini Ricard merasa lebih lega, ia yakin tidak akan ada yang tersakiti di antara kedua pasangan suami istri itu nanti.


“Oh, bagus kalau gitu. Ricard, siapakan perceraianku segera.” Farel mendudukan tubuhnya di kursi kebesaranya.


Mereka berdua yang melihat wajah datar dan intonasai yang sangat tenang itu membuka mata lebar. Mereka terkejut akan respon yang luar biasa. Luar biasa di luar akal mereka.



Farel merasa lega mendengar fakta itu. Mungkin ada rasa sedikit kecewa, tapi itu hanya sedikit. Setidaknya ia bisa melepaskan Salsha dengan tenang. Ia sadar pernikahan seperti itu tidak bisa bertahan lebih lama lagi.



Manusia memiliki kebutuhan biologis, dan mustahil ada manusia yang bertahan hidup tanpa memenuhi kebutuhan itu. Mungkin di awal-awal mereka bisa menjamin kesetiaanya, tapi siapa yang tahu kedepanya, bukanya nafsu bisa menghilangkan akal manusai, seperti dirinya dulu saat bertemu dengan Raisya.



Setidaknya dengan perceraian ini, dia dan Salsha dapat membangun keluarga bahagia masing-masing. Mungkin mereka hanya bersanding sementara, tapi mereka tidak ditakdirkan bersanding selamanya.


“Tuan, apa anda yakin?” Ricard memberanikan diri untuk bertanya. Matanya menatap Farel terkejut dengan pernyataan itu.


Andres juga mentap Farel sama persis seperti Ricard. Ia masih tidak menyangka dengan keputusan Farel.


“Mengapa aku harus tidak yakin. Ia selingkuh, dan aku juga selingkuh. Hubungan pernikahan kita sudah tidak sehat sedari awal, jadi perceraian adalah pilihan terbaik. Jangan lagi kalian pertanyakan keputusanku. Dan Andres bagaiaman penyelidikan tentang Jesika?”

__ADS_1


Andres berdahem canggung. “Maaf Tuan, tidak ada informasi yang mencurigakan dari Nona Jesika. Dia pernah menjadi psikolog, kemudian beralih provesi menjadi dokter, dan dia seorang yatim piatu. Dia bersih Tuan_____terlalu bersih hingga mencurigakan.”


__ADS_2