Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
89. Anting-anting


__ADS_3

Ceklek!


“Sudah ku bilang, jangan berani-beraninya kau menunjukkan wajahmu di depannku sia*an.” Farel mendesis tajam penuh murka, tanpa membalikkan badannya, sekedar melihat gerangan yang telah memasuki ruangannya.


Ricard yang membuka pintu itu menegang. Suara teriakan dari Tuannya itu membuat laki-laki itu menggigil. Sedangkan Raisya yang berada di balik tubuh Ricard mengangkat sebelah alisnya, dan memasang wajah datar.



Ricard berdiri dengan kikuk. Laki-laki itu terlihat menelan ludah gugup guna menetral rasa takutnya, agar dapat memebritahu Farel siapa yang memasuki ruangannya. Raisya yang melihat gelagat Ricard memberikan kode laki-laki itu untuk diam saja. Dengan langkah tegas, bahkan suara hentakkan kaki yang menggema Raisya berjalan.



Farel yang mendengar suara tapak kaki yang semakin nyaring menggeram marah. Dengan cepat laki-laki itu membalikkan tubuh untuk menghancurkan sosok yang sudah berani melanggar perintahnya itu.


“Kau__” Tangan Farel yang sudah melayang ke udara terhenti. Tatapan laki-laki itu terpaku.


Raisya mendongak, seakan menunggu tamparan yang akan medarat di pipi mulusnya itu.


“Kenapa?” tanya wanita itu datar.


Farel dengan gugup menurunkan tangannya. Image yang sudah ia bentuk sedari pagi seakan lenyap karena tindakan cerobohnya itu.


“Maafkan aku, aku kira tadi hama yang masuk.” Farel menunduk, mencicit pelan dengan wajah yang sudah berubah seperti anjing.


Raisya berjalan ke arah meja, tangannya meletakkan tas kertas yang berisi makanan yang sudah ia siapkan dari rumah. Setelah itu, wanita itu berjalan mendekat ke arah Farel.


“Hama?”


“Iya, hama.” Farel menjawab dengan tegas.


“Kenapa tidak kau bunuh saja hama itu sedari awal melihat.” Raisya memringkan wajahnya, menatap raut wajah Farel yang terlihat tercengang dengan penuturannya.


“Kau__ kau ingin aku membunuhnnya?” Farel bertanya dengan nada tidak percaya.


“Bukankah hama ada hanya untuk di basmi?” Raisya mengusap dagunya lembut. Wajah cantik itu terlihat berpikir dengan keras.


Farel tergagap. “oh__ iya, kau memang benar.” Farel terkekeh canggung di akhir kalimatnya.


Raisya berjalan memutari ruangan mewah Farel. Tatapan matanya mengedar, menyapu keseluruhan dengan teliti. Tatapan matanya tetrhenti ketika melihat anting-anting yang tergeletak di sofa pojok ruang.


__ADS_1


Raisya mengalihkan pandangannya, kemudian menatap Ricard yang masih setia berdiri di antara pintu. Dengan cepat Raisya memerintahkan Ricard untuk meninggalkan ruangan dan tak lupa menutup pintu.



Farel hanya diam. Tidak memperotes apa pun yang Raisya lakukan. Bahkan laki-laki itu juga diam ketika Raisya mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya.



Raisya memejamkan matanya, menghirup aroma yang sangat tidak asing dari kursi itu. Namun, ada aroma manis yang ia tangkap, aroma seorang wanita.



Mata hijau yang tertutup itu dengan cepat terbuka. Matanya menyorot datar Farel yang terlihat menunduk itu.



Anting-anting wanita, dan sekarang aroma parfum manis? Patutkah ia marah? Mungkin ia bisa dikatakan sebagai wanita labil, yang awlanya menolak untuk menerima pernikahan, tapi sekarang bertingkah seperti wanita pecemburu.



Tidak, ia tidak labil. Ia melakukan semua ini hanya untuk menegaskan statusnya saja, Jika memang takdir membuat mereka terpisah, setidaknya ia berpisah dengan tetap membawa harga diri seoarng istri. Seorang Istri yang tidak akan tinggal diam ketika melihat sang suami main belakang.


“Siapa yang datang?” Raisya bertanya dengan datar. Bahkan wanita itu terlihat menggoyangkan tubuhnya di atas kursi, membuat tubuhnya memutar dengan pelan.


“Salsha.” Farel mencicit pelan. Aura bahaya tidak terlihat sama sekali dalam wajah Farel, kini wajah itu hanya mengeluarkan aura manja, penakut, dan cengeng.


Raisya terkekeh dengan wajah datar namun, terdapat kesinisan di dalam sana. Melihat reaksi Farel, membuat ia menahan tawanya. Bagaiaman bisa laki-laki itu bersikap seperti itu. Imut dan menjijikan dalam sekali lihat. Melihat wajah dan mengingat perilaku laki-laki itu dulu.



Farel yang melihat reaksi Raisya merasakan dua hal sekaligus. Pertama, ia merasa senang. Apakah Raisya cemburu? Jika iya, bukankah itu artinya Raisya mencintainnya. Kedua, ia merasa takut. Ia takut jika Raisya salah paham dan menganggapnya main belakang. Mengingat ia yang belum mengkonfirmasi status hubungannya.


“Apa kau marah?” Farel bertanya dengan pelan.


Raisya mengangkat alisnya. “Bagaiamana seharusnya sikap seorang Istri ketika mengetahui sang Suami bertemu diam-diam di belakangnya?” Raisya menopang dagunya, menatap Farel dengan datar namun, terlihat menggoda.


Farel menelan ludah gugup. “Maafkan aku, tapi aku tidak bertemu wanita itu diam-diam.” Laki-laki itu terlihat mendekat ke arah Raisya.



Raisya hany diam, melihat apa yang akan di lakukan laki-laki itu dengan wajah datar. Namun, wajah datarmya berubah menjadi raut terkejut ketika melihat Farel yang menunduk tepat di bawahnya.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan?” Raisya memundurkan kursinya.


Farel mendongak dengan posisi yang masih sama, berjongkok. Mata coklatnya menatap polos Raisya. “Aku ingin meminta maaf.”


Raisya menutup mulut tidak percaya. “Kenapa kau harus berjongkok di bawahku?” Raisya berdiri, mendekat ke arah Farel dan membantu laki-laki itu untuk berdiri. Namun laki-laki itu tidak tergoyah sama sekali. Laki-laki itu tetap jongkok.


“Cepat berdiri.” Raisya menarik kuat bahu Farel. Raut wajah wanita itu terlihat cemas.


Raisya merasa cemas, bila ada seseorang yang tiba-tiba memasuki ruangan, kemudian melihat posisi Farel yang seperti ini, maka bisa ia pastikan jika mereka akan memandang Farel aneh.


“Aku akan berdiri kalau kau memaafkanku.” Farel bersikukuh dengan pendiriannya, mengabaiakan Raisya yang sudah megusap dahinya yang berkeringat akibat menarik tubuh besarnya itu.


Raisya menutup wajahnya lelah. Laki-laki itu sangat di luar logikannya.


“Baik-baik, aku akan memaafkanmu. Asalkan kau menceritakan semua yang terjadi tadi. Apa tujuan Salsha kesini?” Raisya menatap Farel serius.


Farel medongak, dengan cepat laki-laki itu bangkit. Tangan kekarnya merangkul pinggang Raisya dengan wajah berbinar. Hanya menceritakan tentang kedatangan Salsha, menurutnya itu bukan masalah besar. Namun, maslah terbesarnya saat ini adalah rasa lapar yang mulai melanda perutnya.


“Baik, akan aku ceritakan semuanya agar Istriku tidak cemburu lagi.” Farel berucap dengan menuntun Raisya ke sofa pojok ruang.


“Aku tidak cemburu!” Raisya berucap dengan tegas.


Farel terkekeh. Meskipun Raisya tidak cemburu namun, kini ia mersa cukup dengan sikap Raisya. Artinya, Raisya tipe wanita yang akan menjaga sesuatu yang sudah menjadi miliknya.


“Baiklah, Istriku tidak cemburu, tapi Istriku sedang memperkuat statusnya,” Farel berucap dengan nada jenaka.


Raisya diam, enggan menjawab ucapan Farel. Mau bagaiaman pun, yang diucapkan Farel semuannya benar. Ia memang tidak cemburu, karena belum ada rasa cinta yang besar di hatinnya. Namun, ia bertindak seperti itu hanya untuk menegaskan dan mengingatkan Farel jika ia bukan wanita yang mudah di bodohi dan tegas.


“Duduklah.” Farel menuntun tubuh Raisya di sofa. Mendudukkan tubuh ramping itu dengan penuh kelembutan.


Raisya hanya menatap Farel datar. Perlakuan lembut itu membuat sudut hatinya menghangat, namun tidak sampai membuat hatinya terlunta-lunta. Ia sudah membangun tembok besar, sampai waktu itu tiba.



Farel beranjak menuju meja, tangan kekarnya meraih tas kertas yang di dalamnya terdapat makanan.



Raisya menatap punggung Farel dengan datar. Matanya ia alihkan tepat di samping sofa yang kosong. Tangannya meraih anting berlian dengan batu rubi di tengahnya.


“Aku lapar.” Farel mendekat ke arah Raisya dengan tangan membawa kotak makanan.

__ADS_1


Langkah laki-laki itu terhenti ketika matanya menatap apa yang di pegang Raisya. Matanya sedikit melotot.


“Bagaimana kau akan menjelaskannya.” Raisya menunjukkan anting-anting itu tepat di depan wajah Farel.


__ADS_2