Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
60. Hamil


__ADS_3

Max menatap Salsha yang sudah terbaring pucat beberapa hari itu. Rasa takut mulai menjalar dalam hatinya, ia takut Salsha memiliki penyakit serius.



Beberapa hari ini Salsha terlihat lesu, bahkan nafsu makanya juga turun drastis. Tingkah anenya terhadap lingkungan membuatnya semakin kebingungan.


“Salsha, ayo bangun, aku belum makan.” Max mengelus lembut bahu itu.


Perlahan Salsha membuka matanya. Mata hitam itu terlihat sayu, bahkan wajah yang biasanya terliha menggoda itu pucat pasi.


“Tidak, aku tidak mau makan makanan menjijikan itu.” Salsha membuang muka.


Max menghembuskan nafas lirih. Bagaimana bisa wanitanya itu mengatakan bubur ayam itu makanan menjijikan. Jika bubur yang ia berikan bubur hambar, mungkin ia akan menerima perkataan itu. Tapi ini bubur langganan mereka, bubur favorit Salsha.


“Hay, ini bubur favoritmu loh, kau yakin?”


“Max, tolong kau buang makanan itu, sungguh baunya menjijikan.” Salsha menarik selimut untuk memnutup seluuh tubuhnya.


Max mencoba bersabar, dengan perlahan ia bangkit meninggalkan kamar itu. Tangan kekarnya membawa kembali bubur itu ke dapur, meletakkan di atas meja, dan meninggalkan bubur itu sendiri.


“Max.”


Max yang baru saja memasuki kamar mendekat. Wajah khawatir terlihat jelas dari sana.


“Kau butuh apa?” Max mengelus lembut kepala Salsha yang menyembul di antara tebalnya selimut itu.


“Aku mau mangga muda.”


Mata Max melotot mendengar ucapan Salsha. Bagaiaman bisa wanita itu meminta hal yang sangat dilarang bagi siapa pun yang sedang sakit untuk dimakan.


“Ha, apa yang kau katakan. Kau tidak boleh makan makanan yang asam seperti itu.”


“Tapi aku mau.” Salsha menatap Max berkaca-kaca.


“Salsha_”


“Kau jahat.” Salsha membalikkan tubuh dengan kasar. Terlihat jelas tubuh itu bergetar.


Max yang melihat keadaan Salsha mengusap wajah kasar. Bagiaman bisa Salsha berubah menjadi anak kecil.


“Ok, aku akan mengambilkan mangga, tapi ku mohon jangan menangis lagi.” Max mengusap punggung bergetar itu pelan.


Salsha yang mendengar itu segera membalikkan tubuhnya. Menatap Max dengan wajah berbinar cerah.


“Aku ingin mangga yang ada di kota XXXX,” Salsha berucap dengan manis.


Max melotot tidak percaya. Hanya karena mangga ia harus ke luar kota. “di sini juga ada, kenapa harus ke luar kota segala. Toh, rasa mangga juga tetap sama.”


“Pokoknya harus mangga di sana. Jangan kembali sebelum kau mendapatkan mangga itu,” Salsha berucap dengan sinis.

__ADS_1


“Kenapa kau berubah seperti itu. Tingkahmu persis seperti wanita hamil saja.”


Deg!


Salsha terkejut mendengar ucapan Max. Hamil? Sedangkan Max yang menyadari ucapanya juga ikut terkejut.


“Jangan berpikir aneh-aneh. Aku selalu minum pil pencegah, jadi aku tidak akn mungkin hamil. Sekarang cepat pergi, jangan cari alasan lain.” Usir Salsha.


Max hanya bisa pasrah mendengar nada penuh pengusiran itu. Meskipun ia sempat curiga dengan keadaan Salsha, tapi ia mencoba tetap tenang.


“aku pergi dulu, kau jangan lupa makan. Kalau kau tidak mau mkan bubur, di dapur ada beberapa makanan.”


“Hmmm.”


Max mendekat ke arah Salsha. Mencium sekilas kening putih itu, kemudian berjalan meninggalkan wanitanya sendiri.



Salsha menatap pintu tertutup itu dengan rumit. Tangan rampingnya tanpa sadar mengelus perut datarnya.


“Bagaimana jika di sini benar-benar ada. Aku tidak bisa menerimanya, aku akan melakukan apa saja untuk menghilangkanya.”


*****


Max menatap jalanan dengan pandangan kosong. Ada secercah harapan di mata itu.


*****


Raisya menatap beberap pelayan yang sedang membrsihkan kebun. Ia sendiri. Farel tadi pagi pamit untk pergi ke kantor, entah apa yang akan dilakukan laki-laki itu di saat tanganya belum bisa digunakan dengan benar.


“Nyonya.”


Raisya mengerjap, matanya menatap laki-laki parush baya yang bertanggung jawab mengurus kebun di Mansion itu.


“Iya kenapa Pak?”


“Sebenarnya Tuan memerintahkan saya untuk bertanya kepada anda mengenai kebun ini. Mungkin anda ingin kebun bunga khusus seperti rumah kaca atau yang lainya?”


“Hmmm, terserah anda Pak. Saya tidak punya gambaran apa pun tentang kebun,” Raisya menjawab apa adanya.


Pelayan tua itu terlihat berpikir. Jika Farel tidak memberikan perintah yang terkesan mengancam, mungkin ia akan dengan senang mendengar ucapan Raisya. Tapi atasanya memerintahkannya, harus membuat kebun itu sesuai dengan keinginan Raisya. Jika seperti ini, ia harus berpikir keras agar dapat menyelesaiakn tugasnya itu.


“Maafkan saya Nyonya, bunga apa yang paling anda suka?” Pelayan tua itu bertanya dengan tersenyum.


Raisya mulai berpikir. Bunga apa yang paling ia sukai, jujur ia menyukai semua bunga dan keindahan alam, Tidak ada spesifik bunga seperti apa.


“Saya menyukai semua bunga Pak. Mungkin lebih suka lagi bunga bank.” Raisya menjawab dengan sedikit lelucon di akhirnya. Entah mengapa ia merasa percakapan yang seharusnya ringan ini terasa berat. Netra hijaunya menatap mata pelayan tua itu yang terlihat tertekan.


Pelayan itu hampir menjatuhkan rahangnya ke bawah mendengar penuturan Raisya. Jika seperti itu, ia juga paling suka bunga bank.

__ADS_1


“Ah, anda terlalu pandai membuat lelucon Nyonya. Apa anda suka sesautu yang harum dan tidak membosankan yang pasti unik?”


“hmmm, ya saya suka.”


“Jika seperti itu bagaiaman jika kita membuat kebun sakura di sini. Pasti akan terlihat indah,” Pelayan itu berucap dengan wajah yang berbinar.


Bayangan tentang pohon sakura yang bermekaran dan berguguran diterpa angin memenuhi otak Raisya. Tanpa sadar bibirnya melengkung ke atas. Pelayan tua yang melihat lengkungan itu ikut tersenyum.


“Ya, itu ide yang sangat bagus. Tapi apa bunga sakura bisa tumbuh di Indonesia?”


“Oh, masalah itu serahkan saya saja Nyonya. Saya mempunyai beberapa cara yang sudah saya pelajari dan berhasil untuk menumbuhkan bunga Sakura. Anda hanya perlu memantau dan melihat hasilnya nanti.”


“Wah, anda luar biasa Pak. Ngomong-ngomong siapa nama anda? Kita dari tadi sudah bercakap banyak, tapi saya sama sekali tidak tahu siapa nama anda,” Raisya berujar dengan malu.


Pelayan tua itu terkekeh canggung. Nyonyanya sangat ramah dan baik hati. “Nama saya Pak Julo Nyonya. Maafkan kebodohan saya yang tidak mengenalkan diri terlebih dahulu.”


“Ah, itu tidak masalah. Sekarang mari kita bahas mengenai penanaman pohon sakura.”


“Baik Nyonya.”


*****


Farel menyandarkan punggung kekarnya. Pikiranya berkecamuk. Ia membenarkan semua ucapan Raisya kemaren malam. Ia harus mengambil keputusan tanpa membawa nama Raisya di dalamnya. Ia tidak ingin Raisya ikut terseret nanti.


Tok... Tok..


Farel menegakkan tubuhnya. Berdahem keras, kemudian memberi intruksi untuk masuk.


Ceklek!


“Permisi Tuan.”


Farel menganggukan kepalanya, menatap Ricard yang membawa map berwarna kuning itu.


“Bagaimana?”


“Semua sudah siap. Hanya perlu tanda tangan Tuan dan Nyonya Salsha.” Ricard menyerahkan map berwarna kuning itu.


Farel menatap Map itu dengan pandangan rumit. Sedangkan Ricard yang melihat tatapan Farel berdahem.


“Maafkan kelancangan saya Taun, apa anda sudah membicarakan masalah ini dengan Nyonya besar.”


Farel terdam mencerna perkataan Ricard. Oh, ia melupakan Maria. Tapi ia yakin Neneknya itu akan mendukung keputusanya nanti. Ya, semoga seperti itu.


“aku yakin, Nenek pasti akan menyetujui keputusanku.”


“Oh, iya Tuan.” Ricard menjawab dengan gugup. Entah mengapa Ricard merasa semua tidak semudah yang Farel bayanagkan. Apa pun itu, ia hanya berdoa semoga Farel bahagia.


Farel dengan cepat mengambil bolpoin yang berada di sakunya. Dengan mantap tanganya bergerak lincah di sana, pertanda ia yakin untuk perceraiaan itu. Setelah percakapan dengan Raisya, pikiran Farel terbuka. Benar, ia memang harus melepaskan Salsha, tanpa membawa nama Raisya di dalam proses perceriaanya nanti.

__ADS_1


__ADS_2