Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
56. Tangisan Rindu


__ADS_3

Raisya memasuki rumah sakit dengan perasaan rumit. Setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Farel mengizinkanya. Pakaian yang semula berwarna hijau itu berubah menjadi biru dan lebih tertutup lagi.



Farel mengizinkannya pergi dengan syarat harus mengganti pakaianya, dan memakai pakaian yang telah laki-laki itu pilih.



Sebenarnya pilihan Farel tidaklah buruk. Dres biru dengan lengan panjang, dan panjang di bawah lutut itu terlihat indah. Ditambah kerah panjang yang menutupi hampir seluruh lehernya menambah kesan anggun untuknya. Tapi masalahnya ia merasa kepanasan.



Orang bodoh mana yang memilih pakaian dengan kerah seperti itu di saat musim panas seperti ini. Bahkan Raisya sudah merasakan gerah tepat saat keluar dari Mansion megah itu.



Netra hijau Raisya memberikan kode untuk Jesika, membuat Jesika yang paham langsung menjalankan tugasnya.



Raisya dengan wajah anggunya memasuki rumah sakit dengan santai. Sedangkan Jesika dengan cepat megotak-atik layar kecil yang ia pegang, sesaat kemudian senyum lebar terlihat dari wanita bermata sipit itu.


“ok, misi komplit.” Jesika memasukan gawainya di dalam saku.


Mata sipit itu menatap sekeliling. Merasa lega melihat beberapa orang suruhan Farel yang terkecoh dengan aksinya itu. Mengingat sifat Farel membuat Jesika geleng kepala. Kadang rasa takut membuat orang kehilangan akal, seperti Farel.



Sampai sekarang Farel tidak mengizinkan Raisya untuk berpergiam tanpa adanya Bodyguard. Bahkan bisa jadi Raisya tidak akan bisa keluar jika tidak berdebat terlebih dahulu, seperti tadi.



Selain itu, Farel juga membuat gerakan Raisya semakin terbatas. Ia memberikan gawai baru untuk Raisya, tapi gawai itu sudah terdapat alat pelacak dan penyadapnya. Membuat Farel mengetahui dengan siapa saja Raisya berhubungan.



Namun, keberadaan Jesika sangat membantu Raisya. Membuat alat penyadap dan pelacak itu tidak berfungsi beberapa saat bukanlah hal yang sulit.



Langkah Raisya terhenti tepat di depan pintu yang tertutup rapat. Jantungnya semakin berdetak kencang. Ia hanya memiliki waktu setengah jam. Dan dalam waktu itu ia harus menyelesaikan semuanya, termasuk hubunganya.


Ceklek!


Raisya membeku. Jantungnya berdebar. Matanya menatap sosok laki-laki yang berbaring dengan menatap kertas merah dengan pandangan sendu.


__ADS_1


Rasa bersalah semakin merongrong hatinya. Apakah ia sudah benar dalam mengambil keputusan?



Jhontan mengalihkan padanganya, berusaha melihat sipa sosok yang memasuki ruanganya. Nafasnya tercekat melihat wanita yang hanya dapat ia genggam dalam mimpinya kini bisa berdiri di depanya dalam keadaan nyata.


“Sayang.” Jhonatan berucap lirih. Tanpa dapat dicegah tubuh kekar itu berusaha bangkit. Namun, ia seakan lupa dengan keadaanya sekarang. Jhonatan terjatuh dengan keadaan yang cukup mengenaskan. Mencoba merangkak berjalan ke arah Raisya.


Mata Raisya membola, dengan cepat ia berlari kearah sang kekasih. Mata hijaunya berubah menjadi merah, menandakan ia membendung terlalu banyak kerinduan hingga berujung dengan gumpalan air mata yang terpendam.


“Jhonatan.” Raisya meraih tubuh lemah itu.


Jhonatan tidak bia membendung rindunnya lagi. Tanpa melihat keadaan dengan cepat ia merengkuh tubuh Raisya, menangis di dalam dekapan sang kekasih.



Raisya yang merasakan dadanya basah, dan tubuh Jhonatan bergetar mengeratkan pelukanya.


“Maafkan aku.” Raisya menangis.


Jhonatan menggeleng, tanganya denga erat merengkuh tubuh Raisya, membuat tubuh mereka saling menempel. Isak tangis kedua pasangan yang dipisahkan dengan takdir yang kejam itu memenuhi ruangan itu. Membuat siapa pun yang mendengar akan merasakan kesakitan, termasuk laki-laki yang berdiri di balik pintu itu.


“Tidak, semua salahku. Andai saja aku lebih kuat dan tidak mengalami hal seperti ini, kau tidak akan mengalami__”


“Sutt, semua sudah berlalu, dan aku tidak menyalahkanmu.” Raisya menatap jhonatan lembut. Jari telunjuknya bertenggar indah di bibir seksi itu.


“Maafka aku. Aku laki-laki tidak berguna. Dan sekarang aku cacat.” Jhontan mengepalkan tangan erat.


Raisya yang masih meratapi nasibnya dan mencoba menguatkan hatinya mengangkat kepala, memandang Jhontan dengan rumit. Cacat? Dia tidak mendapat laporan seperti itu dari Jesika.


“Apa maksudmu sayang?” Raisya mendekat mencoba menggapai tubuh Jhonatan.


“Aku cacat Raisya, aku lumpuh! Aku hanyalah laki-laki yng tak bisa melindungi gadisnya, membuat gadisnya berjuang sendiri dalam dunia yang mengerikan ini. Aku banci, aku pengecut, aku _”


“Sut! Apa yang kau katakan? Kau tetap Jhonatanku, Jhonatan yang aku cintai sepenuh hati tanpa harus melihat kondisimu saat ini.” Raisya mencengkram erat tubuh Jhonatan. Ia menyalurkan kekuatanya dari cengktraman itu.


Jhonatan mengangkat kepalany. Wajahnya trlihat berantakan. Merah dan basah dengan air mata.


“Apa kau tetap mencintaiku? Menerimaku seperti ini?” Jhonatan menatap Raisya dengan sendu.


Raisya tertawa hambar. Pertanyaan macam apa itu? tidakkah laki-laki itu sadar perjuangan apa saja yang telah ia lalui hanya untuk menyelamatkan nyawanya, bahkan ia rela menghilangkan harga dirinya.


“Apa yang kau katakan? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. apa kau masih bisa menerima aku. Aku bukanlah seorang gadis lagi, tapi aku seorang wanita hina, aku wanita simpanan.” Raisya menangis di akhir katanya. Mengingat statusnya saat ini membuat harga diri dan perasaannya terluka.


“Tidak. Kau tetap gadisku. Gadis suciku, kau tetap gadis yang ku jaga selam ini. kau tidak hina, tapi kau mulya bagiku.” Jhonatan megusap wajah Raisya lembut.


Jantung Raisya berdetak dengan kencang. Pernyataan itu membuat ia bahagia sekaligus sakit. Mungkin semua akan lebih mudah saat Jhonatan membencinya, tapi ucapan Jhonatan membuat semuanya terlihat semakin rumit.

__ADS_1


“Ayo bangkit, di lantai tidak baik untuk kesehatanmu.” Raista membantu Jhonatan untuk kembali.


Jhonatan dengan patuh mengikuti perintah Raisya. Hatinya teriris. Dulu, ia yang akan menuntun Raisya, tapi sekarang ia yang dituntun. Ia terkekeh miris mengingat nasibnya saat ini.


“Jhonatan.” Raisya memanggil Jhonatan.


Jhonatan mengalihkan pandangan, memandang kosong Raisya. Ia merasa tidak sanggup menatap wajah itu, setiap mata birunya bersitatap dengan netra hijau itu, rasa kecewa akan dirinya yang tak mampu menjaga sang kekasih melanda jauh di hatinya.


“Maafkan aku.” Raisya menundukkan pandanganya.


Jhonatan menatap Raisya bingung. Mengapa harsu meminta maaf lagi? Bukankah percakapan maaf sudah selesai tadi?


“Sepertinya kita harsu mengakhiri hubungan ini.” Raisya semakin menunduk dalam tapi yakinlah ia menunduk untuk menutupi air matanya yang semakin deras keluar.


Deg!


“Kenapa? Apa kau meminta hubungan ini berhenti karen kecacatanku?” Jhonatan bertanya dengan nafas memburu.


“Tidak, bukan seperti itu Jho. Tapi aku ingin hubungan kita berakhir. Statusku membuatku tidak bisa menjalin hubungan denganmu saat ini. aku masih terikat dengan laki-laki itu.” Jhonatan menatap Raisya dengan mata memerah. Sungguh jika bukan karena statusnya dan keinginanya ingin membantu Farel, ia tidak akan memutuskan hubungannya dengan Jhonatan, terlebih melihat keadaa Jhonatan saat ini.


“aku menerima keadaanmu saat ini. mengapa kau tetap ingin mengakhiri hubungan kita. Masalah laki-laki itu kita akan mencari solusi bersama. Tetaplah di sampingku, aku tidak bisa hidup tanpamu.” Jhonatan mengiba.


Raisya semakin delima. Ia tidak igin menyeret Jhonatan dalam hubungan rumitnya.


“Jhonatan, saat ini itulah yang terbaik. Ku harap kau bisa menerimanya. Meskipun hubungan kita berakhir, bukankah kau tetap kakak ku.” Raisya mencoba tersenyum menutupi kegetiran dihatinya.


“tidak. Aku tidak ingin menjadi kakakamu, aku ingin tetap menjadi kekasihmu, tunanganmu, dan orang yang kau cintai!”


“Kau tetap orang yang ku cinta saat ini Jho, tapi keadan saat ini tidak bisa menyatukan kita. Aku tidak ingin menyakitimu lebih dalam lagi jika kita masih memiliki hubungan seperti ini.” Raisya menundukkan kepalanya.


Jhonatan mengepalkan tanganya, merasa hancur dengan keputusan yang diambil sang kekasih. Sedangkan Raisya yang merasakan getaran di gawainya mengerjapkan mata. Ia harus meninggalkan Jhonatan.


“Maafkan aku, aku harus pergi. Aku akan sering mengunjungimu.” Raisya meninggalkan ruangan itu. Pergi tanpa menengok belakang sekedar melihat keadaan pria yang menatap punggungnya dengan nanar.


“Aku mencintaimu.”


“Aku mencintaimu.”


Kalimat yang sama mereka ucapkan, dengan hati yang sama-sama hancur. Kalimat yang hanya mereka keluarkan tanpa bisa mereka wujudkan. Kalimat yang hanya bisa mereka genggam tanpa sanggup mereka rasakan. Mereka saling mencintai, tapi takdir membuat mereka harus menggali lebih dalam lagi arti cinta, dengan memberikan kata perpisahan di dalamnya.


_______


Gimana pendapat kalian tentang sikap Raisya di part ini?


Kasian sama Jhonatan gak?


Trus kira² siapa laki² yg menjadi saksi pertemuan mereka?

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca 😘😘😘


__ADS_2