Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
100. Tanpa judul


__ADS_3

Raisya menatap tidak percaya laki-laki di depannya itu. Sedangkan laki-laki itu haya menampilkan raut cemberut disertai mata yang berkaca-kaca.


“Kau keluar dari sini!” Farel menatap tajam Jesika. Aura yang dikeluarkan laki-laki itu sangatlah berbeda saat bersama Raisya.


“Tapi__”


“Tidak usah tapi-tapian, suruh Dwi datang ke sini, dan kau.” Tunjuk Farel tepat di depan wajah wanita bermata sipit itu. “Tidak perlu datang kesini lagi!” Farel menatap tajam Jesika.


Jesika merasa tidak terima dengan ucapan Farel. Apa-apaan laki-laki itu?


“Tidak__”


“Sekali lagi kau berani melanggar perintahku, kau akan lihat akibatnya.” Farel mendesis tajam, berbisik dekat di telinga Jesika.


Jesika melotot, merasa tidak terima dengan perintah semena-mena Farel, sedangkan Raisya yang tidak mendengar perkataan Farel hanya mampu terdiam, enggan ikut campur.


“Baiklah, Raisya aku pergi dulu. Jagalah kesehatan, bila butuh sesuatu, jangan sungkan untuk panggil aku.” Jesika tersenyum, kemudian melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Raisya.


Sedangkan Farel yang mendengar ucapan Jesika merengut sebal. Apa-apa\_an wanita itu, kenapa dia bertingkah seperti orang yang paling dekat dengan Raisya.


“Raisya.” Farel memanggil lirih.


Rasya menolehkan kepalanya, menatap bingung Farel yang berwajah cemberut itu.


“Kenapa?”tanyanya dengan alis mengkerut.


“Kau jangan pernah minta bantuan pada orang lain, kau harus meminta apa pun itu kepadaku,” Farel berucap dengan serius.


Raisya terdiam, menatap Farel beberapa detik, kemudian menganggukkan kepala. Farel yang melihat itu tersenyum lebar dan memberikan kecupan di kening wanitannya.


“Farel, kapan aku bisa pulang?” Raisya mendongak menatap Farel yang menjulang tinggi di atasnya.


“Nanti, aku tanyakan dulu sama Dwi.” Farel mengelus pelan rambut coklat itu.


“Baiklah.” Raisya tersenyum lembut.


Meskipun belum bisa dikatakan sembuh total, tapi ia merasa lebih nyaman berada di dalam rumah. Di rumah sakit membuatnya mengingat kenangan menyakitkan.


****


Laki-laki bermaskr itu menatap Salsha yang terbaring lemah dengan infs yang menempel di tangan kirinya.



Wajah wanita itu terlihat sangat pucat, terlebih ada beberapa luka gores di sana. Perlakuan Anj\*\*\* Anj\*\*\* itu sangat luar biasa.


“Kasihan sekali nasibmu.” Laki-laki itu menatap penuh iba, terlebih melihat luka lebam yang hampir memenuhi tubuh mulus itu.


Ceklek!


Laki-laki itu membalikkan tubuhnya, menatap dokter laki-laki yang akan memeriksa keadaan Salsha.

__ADS_1


“Bagaiamana?”


Dokter itu terdiam, menatap Salsha penuh perihatin. Helaan nafas terdengar jelas dari sana.


“Pasien mengalami shock berat. Kemungkinan terburuk, dia akan mengalami gangguan mental. Apa Pasien mempunyai trauma dengan sesuatu?” Dokter itu bertanya dengan serius.


Sedangkan laki-laki yang ditanya hanya terdiam, merasa bingung dengan maksud trauma.


“Saya kurang tahu Dok, saya menemukan wanita itu sudah terlentang tanpa sehelai benang dengan kawanan anj**g yang sedang ekhm,, ya seperti yang anda bayangkan.” Laki-laki itu menggaruk tengkuknya, merasa canggung dengan pembahasan yang ia angkat.


Dokter itu mengangguk, kemudian memeriksa tubuh Salsha. Beberapa saat, terdengar helaan nafas lagi.


“Jika pasien sadar segera anda pencet tombol darurat. Saya khawatir, pasien akan histeris saat terbangun nanti.”


Laki-laki itu mengernyit, merasa bingung dengan maksud dari ucapan Dokter itu. Histeris?


“Saya permisis dulu.” Dokter itu tersenyum, kemudian berjalan meninggalkan ruangan itu.


Laki-laki itu kembali menatap Salsha dengan tatapan rumit. Beberapa detik kemudian bibir laki-laki itu terangkat sebelah, meraih gawai dalam ponselnya, dan berjalan keluar dari ruangan.


****


“Bagaiamana pun, saya mau kau tangkap wanita ja*ng itu!” Farel menggeram marah.


“Maaf Tuan, kami akan berusaha semaksimal mungkin.”


“Saya tidak ingin mendengar kata gagal!”


Farel menggeram marah, laki-laki itu mengepalkan tangan kuat. “Kau harus menerima balasan dari semua yang telah kau perbuat. Berani menyakiti wanitaku, berarti kau sudah berani mmpertaruhkan nyawamu.” Farel menatap lurus lantai.


Ceklek!


Farel mendongak, aura pekat yang dikeluarkan segera berubah menjadi tenang. Netra coklatnya menatap Raisya yang berjalan dengan pelan. Dengan cepat, laki-laki itu bergerak, berjalan ke arah Raisya, dan mengangkat tubuhnya.


“Farel, apa yang kau lakukan?” Raisya terkejut karena tindakan Farel yang tiba-tiba.


“Aku sedang menggendongmu, kenapa kau masih bertanya.” Farel menjawab dengan polos.


Raisya berdecak. “Kalo itu aku juga paham. Maksudku, kenapa kau mengangkatku seperti ini, aku masih bisa berjalan Farel.”


“Sudah, sekarang kau harus istirahat, nanti sore kita pulang.” Fare meletakkan tubuh Raisya dengan pelan.


Wanita bernetra hijau itu yang awalnya ingin marah tersenyum. Mendengar kata pulang membuatnya bahagia.


“benarkah?”


“Iya, maka dari itu, kau harus istirahat. Tidurlah sebentar, nanti aku bangunkan ketika semua sudah siap,” Farel berujar dengan lembut yang segera di angguki Raisya.


Mata wanita itu dnegan cepat terpejam degan bibir yang melengkung manis. Sedangkan Farel terkekeh kecil melihat betapa menggemaskan wanitanya itu.


__ADS_1


Farel beranjak menuju sofa yang berada di sudut ruangan, tangannya dengan terampil mengambil laptop yang berada di atas meja kcil itu.


Netra coklat itu terlihat sangat serius, beberapa kali terlihat kerutan dalam dari dahinya. Tangannya dengan cekatan bergerak dan mencoret sana-sini.


Tok.... Tok...


Gerakan tangan Farel terhenti, matanya menatap pintu yang terketuk itu. Petlahan ia bangun dan membuka pintu itu dengan pelan, berharap tidak menimbulkan suara yang mengganggu Raisya.



Di balik pintu itu berdiri Ricard dengan tumpukan dokumen di tangan kanannya. Laki-laki itu membungkukkan tubuh dan tersenyum dengan teduh.


“Siang Tuan, saya membawakan berkas-berkas yang anda minta sekarang.”


“Masuklah.” Farel berjalan, mndahului Ricard. Sedangkan Ricard dengan patuh ikut berjalan membuntuti atasannya itu dengan sopan.


“Duduk!”


Ricard dengan patuh mendudukan tubuhnya tepat di sebrang Farel. Tangan laki-laki itu membuka beberapa berkas dan mengurutkannya dengan benar.


“Ini Tuan, sesuai yang anda minta.”


Farel tersenyum, matanya menatap berkas-berkas itu dengan penuh binar.


“Lakukan sesuai intruksiku. Buat perusahaan Dawal hancur, dan satu lagi persiapkan konfrensi pers untuk minggu depan.” Farel menatap Ricard serius, dengan tangan yang mengulurkan satu berkas yang sudah di tanda tangani.


“ Baik Tuan, akan saya persiapkan sesuai permintaan Anda.” Ricard menerima berkas itu dengan sopan dan senyum formal.


“Maaf seblumnya Tuan, apa anda sudah memberi kabar tentang status Tuan saat ini?”


Farel mengkerutkan alis bingung, membuat Ricard memahami kesalahan bahasa dalam penyampaiannya.


“Maksud saya, Apakah Nyonya besar sudah tahu semuannya.”


“Belum, saya kan segera memberitahu semuanya sebelum konfrensi pers itu.”


“Tapi Tuan, kondisi Nyonya besar saat ini kurang baik, apakah anda yakin untuk memberitahu semuanya?” Ricard menatap Farel takut-takut.


“Apa maksudmu?”


“Kemaren malam, saat anda dan Nyonya Raisya menghadiri pesta, Nyonya besar memberi kabar untuk Tuan, agar Tuan menghadap.” Ricard mengehentikan kalimatnya sejenak, kemudian melanjutkannya dengan hati-hati. “Ternyata Nyonya besar sempat mengalami serangan jantung.”


Deg!



Seluruh darah Farel seakan terhenti. Ingatannya seakan kembali pada waktu ia kecil, saat dimana sang nenek memberikan perlindungan dan kenyamanan untuknya.


“Ricard, persiapkan keberangkatanku besok pagi, aku harus segera menemui Nenek.” Farel berucap dengan serius.


“Bagaiamana dengan Nyonya Raisya Tuan?”

__ADS_1


__ADS_2