Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
65. Aku Adalah Karma


__ADS_3

“Siapa kamu sebenarnya?” Raisya menatap lurus Jesika.


Jesika yang medengar pertanyaan itu menegang. Siapa dirinya? Apa Raisya mengetahui sesuatu tentangnya?



Raisya yang melihat tubuh Jesika menegang mengernyitkan alis. ‘siapa sebenarnya Jesika?’


“Aku seorang Dokter magang.” Jesika mnejawab dengan tenang. Bibirnya melengkungkan senyum tipis.


Raisya yang melihat jelas kebohongan di sana merasa tidak puas. Tapi ia tidak bsa memaksa Jesika untuk menceritakan asal-usulnya.


“Kau yakin?”


“Iya, memangnya apa yang kau pikirkan tentangku?” Jesika menatap lurus Raisya.


“Oh, tidak apa-apa. Aku hanya merasa aneh, kenapa kau bisa menemukan bukti-bukti itu dengan cepat, bahkan kau bisa tahu tentang masa lalu Farel.” Raisya menggosok dagunya pelan.


Jesika mengalihkan pandangan, rasa gugup tiba-tiba menyerangnya.


“Ada sesuatu yang tidak bisa aku ceritakan saat ini, tapi apa pun itu, aku bersumpah hal itu tidak merugikanmu,” Jesika berucap lirih.


Raisya mengalihkan pandangan, menatap lurus Jesika yang terlihat menerawang jauh di sana.


“Oh, baiklah. Aku hanya ingin kau tahu, apa pun itu, semoga kau tida menghianatiku,” Raisya berujar dengan sungguh-sungguh. Matanya menatap lekat perubahan wajah Jesika.


Jesika mengalihkan pandangan, menatap lurus Raisya dengan serius.


“Aku bersumpah, aku tidak akan menghianatimu.”


Raisya menganggukkan kepala dan tersenyum. Ia sedikit merasa lega, meskipun fakta tentang Jesika masih membuatnya penasaran.


“Jesika, bisakah aku minta tolong sesuatu?”


Jesika mengangkat alis sebelah. “Apa itu?”


“Tolong kau selidiki tentang keluarga Balawel, semuanya. Aku ingin data jelas keluarga itu, dan tolong kau sampaikan suratku untuk Zakiel.” Raisya mengulurkan kertas putih yang sudah dilipat rapi.


“Oh, baiklah. Aku akan melakukan semuanya secepatnya.”


“Terimaksiah.”


“Apa pun untukmu, jangan sungkan kalau kau membutuhkan sesuatu.” Jesika mengulas senyum lembut.


****


Tangan kekar itu meraba, mengais sesuatu untuk direngkuh. Merasa tempat tidur sampingnya kosong dan terasa diingin mata yang masih terpejam itu seketika terbuka lebar. Mata hitam itu mengedar, menyapu seluruh ruangan yang terlihat sunyi.


Dengan serampangan laki-laki itu bangkit menuju pintu.


Ceklek!


“Farel / Raisya,” ucap mereka secara bersamaan.

__ADS_1


Raisya mentap aneh Farel yang terlihat sangat berantakan itu, sedangkan Farel menghela nafas lega melihat Raisya yang berdiri di depanya. Tanpa membuang waktu Farel segera beranjak mendekat. Tangan kekarnya merengkuh kuat tubuh ringkih itu, membuat Raisya yang mendapatkan serangan tiba-tiba tersentak kaget.


“Kau kenapa?” Raisya bertanya di tengah kebingunganya.


“Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya takut kamu pergi.” Farel menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Raisya.


Raisya yang mendengar ucapan Farel menghela nafas, lagi-lagi kecemasan Fare membuat Laki-laki itu terlihat menyedihkan.



Raisya dengan pelan mengangkat tanganya untuk membalas rengkuhan itu. Farel yang merasakan balasan Raisya menegang, tapi ia juga merasa senang. Tanpa dapat ia cegah air matanya lolos dari netra hitamnya, bahkan tubuhnya bergetar kuat.



Raisya terkejut melihat respon Farel yang seperti itu.


“Kenapa kau menangis?” Raisya bertaya dngan pelan.


Farel menggelengkan kepala. Jujur, ia juga tidak tahu alasan pastinya menangis. Air matanya secara alami keluar, bahkan tubuhnya tanpa dapat di cegah bergetar.



Raisya yang memahami tingkah Farel tersenyum kecil. Tanganya dengan pelan melepas rengkuhan yang membelit kuat pinggang rampingnya. Setelah terlepas ia pandangi laki-laki tampan yang menunduk dengan wajah memerah.


“Sudah, jangan menangis. Aku di sini, dan aku tidak akan meninggalkanmu.” Raisya mengelus lembut pipi Farel.


Farel mengangkat pandangannya, menatap lekat Raisya yang tersenyum lembut di depannya.


“Mau kah kau berjanji untuk menikah denganku?”


Raisya menegang. Mengapa pertanyaan seperti harus di lontarkan di saat yang tidak tepat.


“Farel, sebaiknya kita tidur.” Raisya meraih tangan kekar itu. Membimbungnya ke arah ranjang besar.


Farel yang paham akan sikap Raisya tersenyum kecut. Lagi-lagi fakta menamparnya. Meskipun Raisya sudah bisa bersikap lembut, dan terlihat menerimanya, nyatanya Raisya belum mampu mengiyakan ajakan menikahnya.



Raisya membaringkan tubuhnya tepat di samping Farel. Tubuhnya dengan spontan memunggungi sosok laki-laki tampan itu. Ia tidak sanggup untuk melihat tatapan kecewa itu lagi.



Farel menatap punggung ringkih itu dengan kosong. Rasa hampa menyelimuti hatinya, Perjuangannya masih panjang, dan langkah pertama yang harus ia lakukan adalah segera menyelesaikan perceraiaanya.



Farel beringsut mendekat ke arah Raisya. Dadanya menempel erat punggung ringkih itu. Raisya yan merasakan hawa panas di belakangnya menegang namun, ia tetap mencoba beusaha tenang.



Dengan pelan, tangan Farel membawa tubuh Raisya dalam dekapanya. Kepalanya ia letakkan tepat di atas rambut Raisya, bahkan nafasnya terlihat jelas di sana, membuat rambut coklat itu bergerak seiring nafas yang ia keluarkan.


“Kau tidak perlu berjanji sekarang. Seharusnya aku bertanya setelah perceraiaanku selesai. Ah, jika seperti ini, aku seperti laki-laki bereng**k, melamar wanita di saat statusnya masih suami orang.” Farel mengecup lembut puncak kepala Raisya.

__ADS_1


Raisya terdiam, Farel sudah menjadi laki-laki breng\*\*k sebelum ia mengatakan tentang pernikahan itu.


****


Jesika terdiam, matanya menyorot kosong Mansion yang terlihat sepi itu. Tatapanya tiba-tiba meredup. Bayangan tentang masa lalunya tanpa bisa dicegah menari di otaknya.


Jesika kecil yang menagis di pojokkan bersama anak laki-laki yang terlihat mengenaskan. Pipi yang lebam, tangan terikat, membuat Jesika kecil merasa ketakutan. Adegan di mana laki-laki kecil itu di lecehkan membuatnya menjerit ketakutan, bahkan tubuh kecilnya terasa bergetar kuat.



Adegan pelecehan itu dengan cepat beralih di tempat yang lebih menyeramkan. Puluhan anak yang terlihat berkumpul dengan keadaan yang tidak bsia di katakan baik-baik saja memenuhi penglihatannya.



Mata sipitnya mengedar, menatap sekumpulan anak-anak yang terlihat sama menyedihkanya seperti dirinya. Teriakan kesakitan memenuhi ruang sempit nan kotor itu. Jesika kecil menutup mata erat, melihat adegan kekerasan di tayangkan tanpa sensor di depan matanya.



Brak!



Jesika terlonjak kaget. Matnya mengedar, ia sadar ia terlalu hanyut dalam masa lalu kelamnya itu. Tanpa dapat dicegah matanya memrah dan mengeluarkan cairan bening dari sana.


“Rafael aku merindukanmu. “ Jesika menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya bergetar kuat, suara tangisannya memenuhi seluruh Mansion, membuat sosok laki-laki yang sedari tadi mengamatinya dari kejuhan mengenyitkan alis bingung.


“Siapa dirimu sebenarnya, Jesika.” Sosok itu mendesis dengan tatapan rumit.


****


Max menatap sendu gundukan kecil yang di penuhi taburan bunga itu. Matanya kosong. Raut putus asa terlihat jelas dari wajahnya.


“Maafkan Papa.” Max menunduk dalam. Tetesan air mata terjatuh membasahai gundukan itu.


Beberapa pengawal yang sengaja mengawalnya berdiri dari kejauhan, menunggu atasanya mengeluarkan kesedihanya.


“Akan Papa lakukan apa pun agar mereka menyesal. Meskipun Papa harus kembali ke keluarga sialan itu.” Max bangkit. Tangan kekarnya mengusap kasar wajahnya.


Para pengawal yang melihat Max berdiri segera mengatur baris rapi dengan tubuh membungkuk. Max hanya berjalan lurus, tanpa menghiraukan mereka semua. Wajahnya terlihat sangat dingin.



Dulu ia merelakan seluruh warisanya di miliki paman serakahnya hanya untuk menjadi model. Namun, sekarang akan ia rebut kembali haknya. Ia butuh kekuasaan untuk menghancurkan mereka semua.


“Aku bukanlah Max yang dulu, tapi aku wujud dendam dan karma untuk kalian semua, terutama kau Salsha.” Max mendesis tajam.


______


Terimakasih sudah membaca,,, siapa Jesika? Trus bagaimana Max membalas mereka ya kira2?


jangan lupa vote, komen, like, dan follow


Mungkin part ini terlalu apa ya🤔 terlalu gk menarik mungkin, tapi part ini ngasih beberapa kunci buat part2 selanjutnya,,,

__ADS_1


Semoga kalian tetap menikmati karyaku 😘😘


__ADS_2