
Farel menatap dua dokumen berbeda warna yang tergeletak di atas mejanya. Satu dokumen dengan warna merah sudah terdapat tanda tangannya namun, satunya lagi masih kosong.
Sudah satu minggu sejak kejadian itu, Farel menghindar, menjauh, dan menjaga jarak terhadap Raisya. Bahkan laki-laki itu tidak pulang ke mansion mereka, dan lebih memilih tinggal di rumah rahasianya.
Bukan karena ia yang akan melepas Raisya, tapi laki-laki itu memilih menyendiri untuk mengambil keputusan yang tepat. Keputusan untuk megikat Raisya namun, tidak menyakiti wanita itu.
Farel merasa bingung. Sekali lagi netra hitamnya menatap map berwarna hijau itu yang masih kosong. Di dalam map itu terdapat beberapa berkas perlengkapan pernikahan. Terlihat jelas dua nama Farel dan Raisya degan tulisan kapital.
“Aku harus segera mengikat Raisya dalam pernikahan.” Farel menatap serius berkas-berkas itu. Tangannya dengan cepat bergerak, membubuhkan tanda tangan yang diperlukan. Semua terlihat sempurna, hanya menunggu tanda tangan Raisya.
“Setidaknya, kau sudah resmi menjadi istriku, untuk selanjutnya biarkan takdir dan aku yang menentukannya,” Farel berucap dengan serius.
Ya, laki-laki itu sudah memutuskan untuk menikah dengan Raisya, meskipun perceraiaanya belum benar-benar selesai. Ketakutan yang besar membuatnya memilih jalan seperti ini. Langkah selanjutnya yang harus ia ambil adalah meminta tanda tangan Raisya.
Tok... Tok...
Farel mengalihkan pandangannya. Matanya menyorot datar pintu hitam itu.
“Masuk!”
Beberapa detik kemudain, terlihat jelas sosok Ricard yang membawa beberapa berkas di tangan kananya.
“Bagaiamana?” Farel bertanya dengan datar.
“Sejauh ini semua berjalan dengan lancar, saya yakin Nyonya Salsha tidak akan bisa mengelak dalam persidangan, dan proses perceraiaan anda akan berjalan sesuai dengan keinginan Tuan.” Ricard menyerahkan berkas di tanganya ke arah Farel.
Farel tersenyum, matanya menatap beberapa data, bahkan foto dan video tentang perselingkuhan Salsha.
“Kerja bagus. Dan satu lagi, saya ingin kau selesaikan semuanya, nanti malam saya ingin semua beres.” Farel menyerahkan map berwarna hijau.
Ricard mengernyit, matanya melirik map yang di serahkan oleh Farel itu. Dengan cepat tanganya mengambil alih dan membaca sedikit isi dari map itu. Matnya melotot terkejut.
“Tuan, apa anda serius ingin mengajukan pernikahan?” Ricard tergagap.
“Iya, sangat serius. Dan ingat, urus semua dengan cepat dan secara rahasia.”
“Tuan, bukankah anda belum bercerai dengan Nyonya Salsha secara sah.”
Farel menatap Ricard tidak suka. “Jangan panggil Salsha dengan sebutan Nyonya. Nyonyamu hanya Raisya. Untuk masalah pengajuan pernikahanku, aku ingin malam ini selesai, jadi, kau harus mengurus perceraianku sampai batas waktu jam tujuh malam, dan saya tidak mau mendengar kata gagal.”
__ADS_1
Ricard menelan ludah kasar. Bagaiaman bisa menyelesaikan perceraiaan secepat itu. Setahunya paling cepat satu atau dua bulan. Itu pun jika tidak ada banding, atau apa pun itu.
“Tuan, bagaimana bisa?”
“Harus bisa, kau bisa menyewa pengacara terkenal, bahkan lebih dari satu. Aku ingin semua terselesaikan dengan cepat, dan jangan sampai Nenek mengetahuinya. Saya sendiri yang akan mengkonfirmasi masalah itu.”
“Tuan__”
“Dari pada kau terus mengeluh, lebih baik kau gunakan waktumu untuk menyelesaikan semuanya. Dan nanti malam aku tunggu akte nikahku dengan Raisya.” Farel menatap tajam Ricard.
Ricard meneguk ludah kasar. Merasa tertekan dengan perintah itu dan aura yang dikeluarkan Farel.
“Baik Tuan.” Ricard menjawab dengan pasrah.
Farel tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
“Oh ya, kau awasi selalu pergerakan Salsha. Saya khawatir wanita ular itu mencoba mengorek informasi tentangku, terutama tentang Raisya, dan yang pasti jangan sampai wanita itu bertemu dengan Nenek.”
Ricard mengernyitkan alisnya namun, tetap mengangguk menerima perintah dari Farel. Ya, tugas seorang bawahan adalah menjalankan segala perintah atasanya itu, meskipun semua itu tidak masuk akal.
*****
Raisya melamun di dalam kamar. Perasaanya tersa kosong, terlebih sudah seminggu semenjak kejadian itu, Farel menghilang darinya.
Setiap pelayan yang ia tanyai tentang keberadan Farel, mereka selalu menjawab tidak tahu.
“Kau kemana?” Raisya mengusap wajah frustasi.
Wanita itu tidak bisa pergi ke mana-mana. Bahkan ia juga sudah lama tidak melihat keberadaan Jesika dan Andres. Rasa takut mulai menyelimuti hatinya. Ia takut mereka berdua terkena imbas karena ulahnya.
Raisya berusaha menyelesaikan masalahnya tanpa menyeret mereka di dalamnya. Namun, tanpa wanita itu sadari, ia sudah terlalu dalam menyeret mereka berdua. Membuat mereka berada dalam posisi yang sangat sulit.
Raisya menatap gawainya yang terlihat sepi. Jesika yang biasanya selalu menghubunginya, kini tidak terlihat sama sekali pesan darinya. Rasa gelisah semakin melandanya.
“Apa kalian baik-baik saja.” Raisya menggigit bibir atasnya.
***
__ADS_1
Salsha menatap foto wanita yang terbaring lemah dengan luka sayatan di leher. Netra hitamnya menajam melihat sosok laki-laki yang sangat dicintainya menggengam erat tangan wanita itu. Bahkan terlihat jelas raut khawatir dari sana.
Matanya melirik tanggal di dalam foto itu. Mengingat tanggal itu membuat ingatanya kembali pada saat ia kembali dari rumah. Ia ingat saat itu ada panggilan dari rumah sakit, dan semuanya kini terjawab.
“Jadi, kau juga main api di belakangku, bukankah kita sebenarnya pasangan yang sangat cocok?” Salsha tertawa dengan keras. Tawa itu terlihat meyeramkan. Tawa disertai lelehan air mata.
Tangan rampingnya mengusapa wajahnya kasar. Kemudian mengalihkan pandangan ke arah foto selanjutnya. Bahkan foto itu terlihat masih baru, mungkin di ambil tepat saat ia keguguran.
Foto dengan nuansa yang sangat romantis. Ia sebagai istri sah Farel merasa sakit hati. Mengapa selama menikah, Farel tidak pernah memperlakukan ia seperti ini.
“Ha ha ha, bahkan kau menyiapkan makan malam romantis untuk selingkuhanmu?” Salsha menunjuk wajah Farel dengan kasar.
Foto Farel yang terlihat merangkul erat pinggang Rasiya membuat amarahnya membeludak. Ia kira tangan kekar itu hanya akan merengkuh tubuhnya. Namun, kenyatan ini membuat ia terkekeh miris.
“Raisya Atmaja, bagaimana rasanya jika aku jadikan kau benar-benar seorang ******?” Salsha bertanya dengan mata menyorot tajam gambar Raisya yang sedang tersipu itu.
“Ha ha ha, aku pastika kau benar-benar akan menjadi ******, dan kau Farel, kau akan melihat Raisya sama sepertiku.” Salsha tertawa dengan lebar. Bahkan terlihat jelas seluruh giginya dan lidahnya yag bergetar akibat goncangan tawanya.
Tangan rampingnya menggapai gawai yang tergeletak di antara berkas-berkas yang berserakan. Dengan lincah tangannya bergerak di atasnya dan memencet tombol panggil.
“Kau siapakan semuanya.”
“.....”
“Aku ingin paling lambat seminggu, kalau bisa lakukan besok malam juga.” Salsha menyorot tajam kedepan.
“....”
“Hmm, aku tunggu kabar selanjutnya.”
Tut!
Salsha melempar gawainya tepat di atas meja, membuat beberapa berkas yang ada di sana semakin berserak. Hp dengan warna gold itu terlihat mengenaskan namun, masih bisa digunakan.
“Akan ku buat kau digilir dan di saksikan secara langsung oleh Farel.” Salsha mengepalkan tangan erat.
__________
Salsha meresahkan 😈😈😈
Terimakasih sudah membaca 😘😘
__ADS_1