
Raisya memasuki kamarnya dengan hati yng berkecamuk. Ia sudah memilih keputusan, ia akan membantu menyembuhkan Farel.
Kaki jenjangnya membawanya semakin masuk kedalam. Terlihat di san laki-laki yang terbaring dengan keadaan yang bisa di bilang lemah. Dengan perlahan Raisya menaikan tubuhnya tepat di samping Farel.
Tangan rampingnya dengan pelan mengelus pelan rambut hitam itu. Bayangan tentang masa kelam yang di alami Farel cukup mengganggu perasaanya. Membuat ia seperti di ombang-ambing.
“Kenapa kau mengalami hal sepert itu?” Raisya menatap Farel rumit. Tangan rampingnya dengan setia tetap mengelus rambut hitam itu.
Mersakan sentuhan lembut dan bau yang cukup familiar untuk Farel, membuat laki-laki itu semakin nyaman. Bahkan ia melupakan sesuatu yang di dengarnya tadi.
“Raisya jangan tinggalkan aku!” Farel mebalikkan tubunya. Merengkuh pinggang Raisya, membenamkan wajahnya di dada wanita itu.
Raisya tertegun dengan sentuhan tiba-tiba itu. Jantungnya berdetak tidak normal, membuat ia merasa tidak nyaman.
Netra hijau itu menatap kebawah, matanya terpaku pada sosok pria yang berperilaku seperti bocah itu. Bagiaman bisa seorang yang arogant, kasar, dan sombong, terlihat menggemaskan sekarang?
Farel mengeratkan pelukanya, kepalanya semakin ia tekan kedalam membuatnya merasa nyaman.
Raisya terkekeh. Ingin sekali ia memukul kepala laki-laki kurang ajar itu, andai saja Farel tidak dalam keadaan seperti ini, ia tidak akan berpikir dua kali untuk memukulnya.
“Berani sekali kau menyentuh asetku dengan kepalamu itu? Kali ini aku maafkan karena kau sedang sakit!” Raisya menepuk pelan kepala itu. Perilaku dan ucapanya sangat kontras.
*****
Para pelayan menahan nafas, mereka melihat Farel dan Raisya turun dari tangga. Pasangan yang sempat perang dingin itu terlihat jauh lebih baik sekarang, bahkan bisa dikatakan sangat romantis.
Raisya menahan geraman dalam hati, Farel yang sedari tadi mengikutinya seperti anak kecil yang tidak ingin kehilangan ibunya membuat ia malas. Bahkan tangan kiri laki-laki itu memegang erat ujung pakaiannya, membuat dres cantik itu terlihat sedikit kusut.
“Farel, bisa kau lepaskan tanganmu dari dresku?”
__ADS_1
Raisya berhenti di tengah tangga, tanganya berkacak pinggang dengan menatap Farel datar. Farel menjilat bibir atasnya, berpura-pura tuli. Raisya yang melihat tingkah Farel menggertakkan gigi, laki-laki ini sungguh \_ ah ia kehabisan kata-kata. Mengabaiakan sejenak rasa jengkelnya, Raisya melanjutkan langkahnya menuju ruang makan.
Farel senang melihat Raisya yang tidak marah lagi. Rasa takut kehilangan begitu membuat ia tidak rela melepaskan wanitanya, meskipun sejenak.
Para pelayan mulai menghidangkan berbagai sarapan dengan menu mewah seperti biasa. Raisya yang mulai terbiasa dengan kemewahan Farel, diam tanpa berkomentar apa pun. Tangan rampingnya dengan cepat mengambil satu piring dan mengisinya dengan nasi goreng. Ia terlalu fokus dengan nasi goreng yang sudah masuk ke mulutnya, mengabaiakan tatapan yang menelanjanginya sedari tadi.
Farel mengalihkan tatapannya sejenak, memberikan kode para pelayannya. Para pelayan yang melihat tatapan Farel menelan ludahnya sendiri. Mereka semua pergi meninggalkan ruang makan itu, membiarkan Farel menikmati paginya bersama Raisya.
Prang!
Raisya yang hendak menyuapkan nasi gorengnya terkejut. Netra hijaunya menatap Farel dengan alis mengkerut. Di sana laki-laki itu terlihat menyedihkan, dengan tangan kanan yang terbalut kasa mencoba meraih piring namun, piring itu dengan mudahnya tergelincir dari tangan kekarnya.
Raisya menghembuskan nafas. “Jika tanganmu sakit, kau bisa meminta pelayanmu untuk menyuapimu.”
Farel terdiam mendengar perkataan Raisya. Kepalanya menunduk, persis seperti seorang anak yang ketakutan.
“Di mana para pelayanmu?” Raisya bertanya dengan wajah bingung.
Farel menjilat bibir bawahnya, mencoba menutupi rasa gugupnya itu. Ia sengaja menyuruh para pelayan pergi karena ingin menghabiskan waktu bersama Raisya, dan juga ingin mengklarifikasi sesauatu.
Farel berdahem canggung. “Aku tidak tahu,” Ujarnya dengan suara pelan.
Raisya mendengus. “Sini, aku ambilkan makanan.” Tangan Raisya mencoba meraih piring kosong namun Farel mencegahnya.
“Tidak usah, kau bisa menyuapiku dengan makananmu saja, tidak perlu mengambil yang baru.” Farel berucap dengan telinga yang memerah.
Raisya terperangah dengan ucapan polos itu. “Tidak bisa, ini sisaku, bekas mulutku.”
Farel mengerjap polos. “Terus kenapa? Kita sudah biasa bertukar saliva, menurutku hal ini tidak masalah.”
Wajah Raisya memerah, bagaiaman bisa Farel berkata sevulgar itu dengan wajah polosnya.
“Kau_”
__ADS_1
“Raisya, aku lapar.” Farel merengek seperti anak kecil.
Raisya berusaha mengambil kesabaran dengan menghembuskan nafas berkali-kali. Tangan rampingnya mulai menyuapi Farel dengan sendok bekasnya.
“Kau juga makan.” Farel betrkata setelah melihat Raisya yang hanya menyuapai dirinya.
“Aku sudah kenyang.”
Farel merasa tidak senang dengan ucapan Raisya, ia yakin Raisya hanya makan beberapa suap.
“Kau baru makan beberapa suap. Kau jijik padaku?” Farel menatap Riasya dengan menahan getaran rasa sakit di dadanya.
Mendengar ucapan Farel membuat Raisya terdiam. Sedangkan Farel yang melihat keterdiaman Raisya terkekeh masam. Siapa wanita yang tidak jijik dengan laki-laki sepertinya? Laki-laki yang mengaku mencintainya, tapi melecehkan dan menghancurkan harga dirinya.
“Maafkan aku, kau tidak perlu menjawab pertanyaanku tadi. Aku sudah tahu jawabanya.” Farel tersenyum dengan masam. Tangan kananya berusaha mengambil alih piring Raisya, mencoba menghabiskan makanan itu dengan tangan kirinya.
Raisya yang melihat tindakan Farel tersadar dari rasa terkejutnya.
“Apa yang kau lakukan. Sini, aku bantu.” Raisya mencoba merebut piring itu tapi Farel menggeleng.
“Tidak, tidak perlu. Aku akan memakan dengan tangan kiri. Kau ambil saja makanan baru, yang ini buatku saja.” Farel mencoba memepertahankan senyumnya saat berkata.
“Aku tidak jijik.” Raisya berkata dengan lirih. Sungguh sekarang ia tidak jijik dengan Farel. Ia sempat jijik, tapi itu dulu sebelum ia mengetahui fakta tentang Farel itu.
Farel terkekeh. “Tidak usah berbohong. Bukankah aku sudah bilang, kau boleh jijik padaku, boleh membenciku, bahkan kau boleh menyamakanku dengan binatang, tapi satu hal yang tidak boleh kau lakukan, kau tidak boleh meninggalkanku!” Farel menatap lurus Raisya. Saat mengatakan kata ‘meninggalkanku’ terlihat geraman dan tatapan emosi di netra coklat itu.
Raisya tercekat dengan perkataan Farel. Apa segitu takutnya Farel kehilanganya? Lantas bagaiaman jika ia benar-benar pergi meninggalkanya nanti.
“Farel.” Raisya memanggil Farel dengan lembut.
Jantung Farel berdetak mendengar panggilan lembut itu. Ia tidak pernah mendengar Raisya berucap seperti itu. Baru kali ini, dan itu membuatnya berdebar.
“Apa?” Farel menatap Raisya dengan gugup.
“Apa kau mencintaiku?” Raisya menatap Farel dengan pandangan rumit.
“Sangat! Aku sangat mencintaimu!” Farel berucap dengan tegas.
“Bagaimana jika nanti kau kehilanganku bukan karena aku yang meninggalkanmu? Apa yang akan kau lakukan?”
Mata Farel bergetar. Rasa takut kehilangan Raisya mulai mendominasinya, membuat ia mengepalkan tanganya dengan kuat, sehingga kasa putih itu berubah menjadi merah dalam waktu singkat.
__ADS_1
“aku akan menghancurkan siapa pun yang memisahkan kita. Aku akan mengahncurkan dunia. Akan ku buat dunia juga berduka seperti aku yang berduka karena kehilanganmu!”