Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
139. Konferensi pers


__ADS_3

“Bukan, gaun ini bukan dari Jhonatan, tapi dari ibumu, Tamara Lawson.”


Farel yang mendengar penuturan itu menghentikan langkah. Matanya menyorot Raisya dengan tatapan sulit diartikan, sedangkan Raisya yang ditatap seperti itu hanya berekspresi santai.


“Kenapa kau menerimanya?”


Pertanyaan dengan nada dingin itu tak membuat raut wajah Raisya berubah. Hanya senyum tipis yang menjadi balasan, membuat wang lelaki semkain tersulut emosi.


“Raisya.” Farel menyeru nama sang istri, berharap sang istri segera menjawab peetanyaannya, bukan malah mengabaiakan dengan memilih tersenyum dengan beberapa tamu yang terlihat mulai berdatangan.


“Rai_” Perkataan Farel terhenti saat netranya menagkap sosok yang tidak asig lagi muai mendekat, Zakiel.


“Oh, selamat untuk pernikahan kalian, aku harap kalian selalu bahagia.” Zakiel menyulurkan kotak sedang dengan pita biru di atasnya.


Raisya yang melihat itu tersenyum dengan lebar. Rasa kesal akibat Farel yang mengingatkannya dengan Jhonatan dengan cepat menguap.


“Akhirnya kau datang juga. Di mana Azriel?” Raisya mencari sosok kecil yang biasanya selalu mengikuti kemana pun perginya Zakiel.


Zakiel yang mendenar pertanyaan itu terkekeh kecil, kemudain tangannya tapa dikomando mengelus puncak rambut Raisya, membuat Farel yang sedari tadi diam, melototkan mata.


“Riel marah.”


Raisya yang mendengar penuturan itu menatap terkejut. “Kenapa Riel marah?”



Farel yang merasa di abaiakan kedua orang tu dengan cepat menarik pinggang Raisya, membawa sang wanita agar lebih dekat denannya, kemudain membubuhkan satu kecupan di bibir merah itu.



Para tamu yang melihat itu saling berbisik, membuat aula itu terkesan gaduh dengan respon yang mereka berkan. Ada yang tersedak ada juga yang mejatuhkan piring, bahkan ada juga yang berteriak kecil.



Raisya yang menyadari keadaan berubah kacau mendelik kesal. Mata abunya menatap sangar Farel yang terlihat menerbitkan senyum lebar.


“Kau...”


“Ekhm, sepertinya Suamimu tidak tahu tempat.” Zakiel menceletuk, megundang bberap orang mengangguk takut.


Farel yang mendengarnya mengangkat sebelah alis. “Kenapa? Raisya ini Istriku, jadi wajar kalau aku menciumnya, yang bermasalah itu kalau aku mencium Istri orang lain.” Farel menatap remeh Zakiel.



Para tamu yang mendengarnya semakin heboh. Sikap baru seorang Farel Wiratman mebuat mereka semua tidak percaya. Terlebih beberap kolega, dan karyawan di perusahaannya.

__ADS_1



Raisya yang mendengar penuturan Farel membuang muka, merasa malu dengan sikap tidak tahu malu suaminya itu. Sedangkan di sisi lain ada yang menatap mereka sendu. Sosok wanita dengan umur sekitar lima puluhan itu meneteskan air mata.


“Farel, sudah, jangan buat kehebohan lagi. Ya, yang kau katakan benar, tapi kau harus tahu tempat,” Raisya berbisik pelan.


Zakiel hanya memutar mata malas. Melihat sikap mereka yang terlihat romantis, bahkan di depan semua orang membuat ia bahagia dan juga jengkel.


“Sudahlah, sebaiknya aku kembali. Dan ya, Azriel marah karena kau menikah tanpa memberi tahunya, dan satu lagi, anak kecil itu merasa patah hati. Dia pikir, kau akan menikahinya, bukan malah menikah dengan seorang duda.” Zakiel tersenyum lebar, tepat setelah mengatakan itu dia berjalan cepat meninggalkan dua pasangan itu yang memilki raut muka yang berbeda-beda.


Farel yang mendengar penuturan Zakiel melototkan mata, merasa tidak terima engan ucapan laki-laki itu.



Raisya yang menyadarai situasi segera meraih lengan Farel, membuat laki-laki yang terlihat ingin mengejar Zakiel terhenti kemudian menatap Raisya engan alis mengernyit.


“Kenapa kau menghentikanku, sayang?”


“Farel, ingat, ini pesat kita. Jangan sampai kau menghancurkannya.” Raisya memaksakan senyum lebar di wajahnya.


Farel yang mendengar itu berdecak kesal. Andai saja sekarang bukan pestanya, ia yakin sudah menghabisi laki-laki itu.


“Tapi dia mengatakan aku duda, sayang. Padahal aku masih perjaka. Mending mana, seoarang duda yang masih perjaka, atau single yang sudah tidak perjaka lagi.” Farel berbisik pelan.


“Dengarkan aku sayang, banyak di sana laki-laki yang mengaku belum pernah menikah, tapi naytanya sudah tidak perjaka. Jadi aku harus memberikan pelajaran Zakiel, dia mengatakan itu seakan kamu mendapatkan bekas, padahal aku juga masih tersegel, sampai aku memasukimu.” Farel semakin mengeluarkan egala unek-uenknya, sedangkan Raisya yang mendengar itu emnutup mata, merasa bingung bagaiaman harus membuat laki-laki itu diam.


“Farel....”


“Sayang, degarkan aku, meskipun aku seaoarng duda, tapi aku yakin kau tidak akan menyesal menikahiku.”


“Farel_”


“Jangan pernah terhasut dengan perkataan Zakiel, sayang.”


“Farel__”


“Pokonya kau harus percaya dneganku__”


“SAYANG!” Raisya menekan ucapannya, berharap Farel segera meghentikan segala ocehan yang dikeluarkan.


Farel yang masih ingin melanjutkan perkataanya terdiam, terlebih mendengar panggilan synag yang tidak pernah eluar dari mulut Raisy. Mata coklatnya terliat berbinar.


“Sayang, kau panggil aku apa tadi?” Farel mengguncang bahu Raisya, bahkan laki-laki itu seakan melupakan jika mereka sudah menjadi sorotan banyak tamu.


Raisya yang sudah kepalang malu dan kesal menghembuskan nafas panjang, kemudian jari telunjuknya mengarah ke bibir Farel yang hendak terbuka lagi.

__ADS_1


“Sayang, aku memanggilmu sayang. Jadi tolong sekarang, sayang berhenti berbicara, tidak usah membahasa masalah perjaka dan duda, toh sekarang aku sudah menjadi Istrimu. Yang harus kamu lakukan, segera selelsaiakan acara malam ini, kau tidak lihat perutku.” Raisya menunjuk perut buncitnya yang tertutup gaun indah.


Farel yang melihat itu mengerjapakan mata beberapa kali, laki-laki itu seakan baru sadar jika sang istri sedari tadi berdiri. Menepuk jidat sekali, kemudian tangannya menuntun sang istri untuk duduk di tempat yang sudah di sediakan.


“Maafkan aku sayang duduklah, pasti kau dan Baby capek berdiri terus.” Farel mendudukan Raisya denga lembut.


Pesta ini buka hanya pesta pernikahan, melainkan konfrensi pers terkait hubungan mereka berdua. Memilih mansion sebagi tempat pernikahan sudah menjadi pertimbangan Farel dan Maria.



Selain karena mansion yang megah, laki-laki itu juga ingin menjaga keselamatan sang istri dari pihak-pihak yang mungkin tidak menyukai hubungan mereka.



Beberapa wartawan terlihat membidik kedua pasangan itu. Bahkan mereka semua dengan rapi merekam jalannya acara. Sampai pada saat yang mereka tunggu, sambutan dari sang pengantin pria.



Farel yang sudah tahu kini waktunya untuk memberikan pemberitahuan resmi terkait hubungannya setelah rentetan acara tersenyum lebar. Tangannya menepuk paha beberapa kali, kemuian merai tanga Raisya dan memberika kecupan di sana.



Tindakan itu berhasil membuat beberapa orang yang melihatnya terpekik, bahkan tak kurang juga mereka menginginkan pasangan seperti David, terlepas dengan skandal perselinkuhannya.


“Aku akan ke atas dulu. Kau tetap di sini, lihatlah suamimu yang tampan ini.” Farel mengedipakan sebelah mata, kemudain berjalan ke arah podium yang sudah di sediakan.


“Ekhm, selamat malam semuanya.” Farel menatap mereka semua dengan datar, tapi saat matanya menatap sang istri tatapan itu berubah menjadi lembut.


Sahutan dari beberapa tamu membuat Farel tersenyum tipis, kemudain laki-laki itu berdahem pelan untuk melanjutkan kalimat yang sudah ia susun di hati dan otak.


“Mungkin kalian sudah lma penasaran dengan wanita yang mendampingi saya. Saya kenalakan, wanita cantik itu adalah Istri saya, Raisya Atmaja, yang sekarang menjadi Raisya Wiratman.” Jeda sejenak, banyak bisik-bisik mulai terdengar, terlebih para kolega yang sudah tidak aing lagi dengan nama Atmaja.


“Ya, kami sudah menikah hampir tujuh bulan. Mungkin banyak dari kalian mempertanyakan kenapa baru sekarang saya melakukan konfrensi pers?”


“Mungkin kalian semua sudah tahu skandal yang menjerat saya, dan hal itu pula yang membuat saya dan Istri saya tercinta menunda untuk melakukan konfrensi pers. Saya menikahi wanita bermata hijau itu karena cinta, bukan seperti yang kalian bilang yang hanya ingin mencari keturunan. Menurut saya, anak itu seperi bonus, atau kita sebut juga anugrah. Dan saya bersyukur, Tuhan sangat menyanyangi saya.Tuhan memberikan banyak kebahagian setelah tuhan memberikan saya banyak kesulitan.” Farel berhenti sejenak, matanya mentap lembut Raisya yang terihat membuang muka. Dengan pelan, laki-laki itu berjalan ke arah sang wanita dan mendudukan diri tepat di bawah kaki sang wanita.


“Terimaksih telah menerimaku, dan memberika hadiah terindah untukku.” Farel mencium perut buncit Raisya, membuat Raisya yang membuang muka segera menutupnya karena wajahnya yang memerah. Sedangkan semua orang terlihat bertepuk tangan.


“Cucuku.” gumam seorang wanita paruh baya yang terlihat menutup mulutnya di pojok ruangan.


_____


Maaf ya kalau bab ini gk ada fell sama sekali,, dan banyak typo,, Author lagi pacet bgt jadwal hari ini,,


klo kurang apa, bisa langsung komen, biar Author revisi secepatnya

__ADS_1


__ADS_2