Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
36. Istri Kedua


__ADS_3

Farel menatap kertas-kertas putih itu dengan datar. Sudah dua hari ia pergi meninggalkan Raisya. Ia sangat merindukanya.


“Kapan semua ini selesai.” raungnya frustasi.


Ricard yang duduk tepat di sebrang meja Farel bergidik ngeri. Bagaiman bisa atasanya yang datar itu berubah seperti itu. Ia yakin dulu Farel mencintai salsha, tapi tidak sekalipun ia pernah melihat Farel yang uring-uringan karena kepergian Salsha.



Farel yang merasa ditatap mengalihkan pandanganya, membuat Ricard tersentak kaget. Segera ia menunduk, pura-pura mencoret kertas-kertas di depanya. Farel yang paham jika Ricard hanya pura-pura mendengus kesal.


“Kau, selesaikan ini.” Farel bangkit.


Ricard yang mendapat perintah tiba-tiba itu melotot tidak percaya. Sumpah, tumpukan di mejanya saja belum selesai. Kini, atasan kepar\*tnya menambah tugasnya.


“Ya Tuhan, tolong beri hamba kekuatan.” Ricard menatap langit kantor dengan wajah tertekan.


****


Farel memasuki ruangan yang dibuat khusus untuknya itu. Sudah dua hari ia berada di luar negri. Andai saja ia berada di luar kota, ia akan dengan cepat pergi menemui Raisya.



Tangan besarnya dengan cepat mengetik sesuatu di dalam komputer khusus itu. Dengan cepat gambar aktifitas Raisya terpampang jelas di sana.



Ia mungkin bisa di kategorikan sebagi laki-laki posesif atau bahkan lebih. Dengan gilanya ia menaruh CCTV di seluruh ruamh barunya itu. Bahkan ia juga menaruh CCTV di dalam kamar mandi mereka.



Semua itu ia lakukan karena rasa takutnya. Ia takut Raisya kabur, dan lebih buruknya lagi mencoba bunuh diri seperti dulu. ia tidak ingin kecolongan lagi. Lagipula, hanya dia yang akan melihat CCTV itu.



Wajahnya memerah melihat Raisya yang melepas pakaianya, kini hanya terlihat dalaman berwaran hitam yang menggoda itu. Jakunya naik turun melihat Raisya yang melepas pelan dalamanya yang terlihat sangat erotis. Kini terpampang jelas bentuk tubuh Raisya tanpa pengahalang satu pun.


“Ishhh.” Farel mendesis panjang. Merasakan bukit gairahnya yang membeludak. Bahkan hanya dengan melihat Raisya ia dapat meraih kepuasan.


Tangan kekarnya dengan lihai memebelai dirinya sendiri. Matanya terpejam dengan sesekali mengintip aktifitas mandi Raisya. Farel menggigit bibirnya kuat, menahan suara laknat yang keluar. Dengan cepat ia sampai pada puncaknya, bersamaan dengan Raisya yang selesai dengan aktifitas mandinya.


“Terimakasih sayang, bahkan hanya dengan melihatmu aku terpuaskan.” Farel beranjak memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dengan senyum lebar yang menghiasi, dan jangan lupakan peluh yang membasahi dahi serta lehernya.


Sedangkan di tempat lain Raisya menatap sudut kamar mandi dengan tajam. Giginya bergemeletuk menehan geraman.


“Dasar bajingan!”

__ADS_1


****


“Nyonya saya sudah mendapatkan informasi tentang kondisi Jhonatan.” Jesika berbisik pelan.


Raisya yang mendengar kabar baik itu tersenyum lebar. Mereka berdua tahu jika semua tempat itu sudah terpasang CCTV. Jadi mereka hanya bisa berbicara dengan cara berbisik.


“Bagaimana?” Raisya menatap penuh harap Jesika.


“oprasinya berjalan dengan lancar. Meskipun tidak seratus persen. Tapi kondisinya sangat baik. Bahkan sudah ada perkembangan.”


Raisya terseyum mendengar penuturan itu. Air mata terjatuh dengan sendirinya, ia terlalu bahagia.


“Terimakasih.” Raisya menatap Jesika lembut.


Mereka duduk di pojok taman, tempat itu menjadi pilihan yang tepat untuk membahas misi penting. Jesika tersenyum melihat rona kehidupan yang mulai terlihat di wajah Raisya. Ia ikut senang melihatnya.


“Sudah kewajiban saya untuk membantu Nyonya.” Jesika mengelus lembut tangan Raisya.


Raisya merasa terharu mendengar penuturan Jesika. Seakan mendapatkan harapan baru, ia tidak akan menyia-nyiakan bantuan Jesika.


“Saya harap anda segera bangkit dari keterpurukan.”


“Jangan terlalu formal, kita sekarang teman.” Raisya menggenggam erat tangan Jesika.


“Ok. Sekarang kita teman. Nyonya, bisakah aku minta agar Nyonya selalu tersenyum, jangan lagi terpuruk. Jika ada sesuatu yang nyonya tidak suka, atau Nyonya merasa putus asa, saya mohon agar Nyonya cepat bangkit. Tidak ada salahnya kita untuk merenungi nasib buruk kita, tapi alangkah baiknya kita belajar lebih baik dari keterpurukan itu, bukan malah menjadikan keterpurukan itu sebagai penghambat kelanjutan hidup kita. Semua tidak akan ada yang berubah dengan Nyonya seperti itu, malah hal itu akan memperburuk perasaan dan mental Nyonya.”


Raisya terdiam mencerna semua ucapan Jesika. Semuanya benar. Ia tidak bisa terpuruk seperti itu. ia terlalu mengahayati rasa sakit yang ia rasakan, sehingga membuat cahaya kehidupannya ikut meredup.


“Jesika, bisakah aku meminta pertolongan lagi?”


“Bukankah kita teman? Selama aku bisa membantu, dengan senang hati aku akan membantumu.”


“Bisakah aku meminjam ponselmu.”


Jesika tersenyum dang menganggukkan kepalanya. Tanganya terulur menyerahkan ponsel miliknya.


“Tidak, aku meminjam ponselmu tapi tidak dengan memegangnya langsung. Kau tahu kan di sana ada pengawal.” Raisya menunjuk ke arah dua pria berbadan besar dengan dagunya,


Jesika mengikuti arah yang ditunjuk Raisya. \*\*\*\*\*\*\* kasar ia keluarkan. Ia masih tidak menyangka jika atasanya itu sangat gila dalam hal seperti ini. Rasanya untuk mengambil nafas saja susah. Ia tidak membayangkan bagaimana posisi menjadi Raisya.


“Terus bagaiaman aku membantumu?”


Raisya membisiskan sesuatu yang membuat Jesika melotot tidak percaya. Dengan cepat jesika menatap wajah serius Raisya.


“Kau serius?”

__ADS_1


“Iya, tidak ada cara lain lagi agar aku bisa terbebas dari jeratan Farel.”


Jesika menelan ludah gugup. Ia tidak habis pikir dengan usul mengerikan Raisya. Bagaimana bisa ia memiliki ide meminta bantuan kepada *dia*.


“Akan aku usahakan.” Jesika tersenyum miris. Dalam hati ia berdoa semoga tidak ada adegan kekarasan nanti.


*****


Matahari mulai terbenam, membuat beberapa orang di luar sana bergegas untuk pulang. Di antara banyakanya manusia yang menyiapkan diri untuk istirahat, ada satu pria yang masih sibuk dengan tumpukan berkas. Yaitu, Ricard.


“Kapan semua ini selesai. Memang Bos kurang ajar!” umpatnya lirih.


Ia masih sayang dengan nyawanya, sehingga memilih untuk mengecilkan volume suaranya. Meskipun keberadan Farel entah kemana, tapi ia tetap tidak ingin mengambil resiko.



Sedangkan disisi lain, Farel dengan nyaman bergelung manja di atas ranjang empuk. Ruangan khusus yang ia sediakan memiliki kamar cukup besar. Ia sengaja mendesain ruangan seperti itu untuk memudahkanya beristirahat.


Bukan hanya dia yang memiliki ruangan seperti ini. Tapi ia juga menyediakan kamar yang hampir persis dengan miliknya untuk Ricard. Meskipun tidak terlalu mewah, tapi ia yakin tempat itu cukup layak dan nyaman.


Getaran alaram membuatnya terusik. Dengan perlahan mata yang awalnya terpejam itu terbuka dengan cepat. Tanganya dengan cepat meraih gawai yang berada di atas nakas itu.


“Oh, sudah malam rupanya.”


Farel mengusap wajahnya, berharap dapat menyingkirkan rasa kantuk yang melanda. Perlahan ia bangkit dari kamar mandi untuk menyegarkan wajahnya. Tangan besarnya menangkup air dan membasuhnya ke wajah.



Rasa segar membuat rasa kantuknya seketika menghilang. Farel memandang pantulan wajahnya di cerimin. Senyum lembut tercipta di wajahnya.


“Aku akan segera menikahimu. Meskipun kau harus menjadi istri kedua, aku harap kau bisa menerimanya Raisya.”


Farel berucap dengn binar bahagia di wajahnya. Bahkan ia tidak memikirkan perasaan sang istri ketika mendengar keinginannya itu. Yang ia pikirkan hanya bagaimana ia bisa menjalin hubungan lebih baik dengan Raisya tanpa harus menutupi status mereka, atau bahkan menjalin hubungan dengan status buruk, yaitu simpanan.



Ia akan segera meminta izin Salsha, apa pun tanggapan Salsha, ia tidak akan mendengarnya.


_______


hallo, Author balik lagi. Seperti biasa dua bab selanjutnya akan Author up nanti sore, jangan lupa ramaikan cerita Author ya 😘😘😘


Gimana perasaan kalian baca bab ini?


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yg menjalankan 😘😉

__ADS_1


__ADS_2