Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
79. Kekasih


__ADS_3

Farel menutup matanya dengan erat. Wajahnya memerah. Tamara sudah pergi tanpa meninggalkan jejak kedatangannya, tapi wanita itu telah berhasil mengukir satu luka yang sama, di tempat yang sama pula.


Tok... Tok..


Farel menghela nafasa panjang, membuka mata, dan menatap pintu yang terketuk dengan datar


“Masuk.”


Beberapa saat terdengar pintu yang terbuka. Di sana terlihata Ricard berdiri dengan kikuk. Melihat wajah Fare yang tidak enak dipandang membuat Ricard meneguk ludah kasar.


“Maaf, Tuan. Anda memilki pertemuan lima menit lagi.” Ricard menunduk takut-takut.


Farel terdiam, mencoba menguasai seluruh perasaanya. Ia memilki pertemuan penting siang ini. Namun, kehadiran Tamara membuat semuanya berantakan, terutama perasaanya.


“Gantikan!” Farel membuang nafas kasar.


Ricard terkejut. “Maaf Tuan?”


“Kau tuli? Saya bilang gantikan!” Farel menaikkan nada suaranya.


Ricard yang melihat wajah marah Farel menelanludah takut. Rasa takut untuk menggantikan pertemuan sekaligus takut terkena amukan bercampur menjadi satu.


“Maaf Tuan, apa anda serius?” Ricard mencoba menego namun, tatapan tajam Farel membuat nyalinya menciut. Jika a menuruti perintah Farel, maka dapat dipastikan, ia akan mendapatkan amukan dari mereka. Tapi jika ia tetepa menolak atau memaksa Farel untk datang, ia tidak bisa memastikan besok masih bisa bernafas. Namun, apa salahnya mencoba?


“Maaf, Tuan. Bukan maksud saya untuk melanggar perintah Tuan. Tapi pertemuan ini sangat penting, apa anda yakin menyerahkan ke saya?”


“Kau meragukan keputusanku? Atau kau meragukan kelayakanmu sebagai asistenku?” Farel berujar dengan datar dan tajam.


“Tidak, tidak, maafkan saya Tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya akan melakukan sesuai perintah anda.” Ricard menjawab dengan cepat.


“Hmm, satu lagi. Kosongkan seluruh jadwalku hari ini, dan segera kirim surat perceraian ke rumah.”


“Baik Tuan.” Ricard menunduk sebagai tanda hormatnya.


Farel mengangguk dan bergegas berdiri dan melangkah pergi. Ia butuh suasana tenang, dan itu hanya dapat ia temukan di diri Raisya.


*****


“Jadi, lo ngelakuin semua itu untuk pengobatan Tunangan lo?” Zakiel bertanya dengan wajah terkejut.


Raisya mendongak ke atas, mencoba menghalau air mata yang dengan kurang ajarnya keluar tanpa diminta.


Menceritakan alasan semua kemalangan yang terjadi, membuat hatinya kembali terluka dan merasakan bagaiaman rasa sakitnya kehilangan.


Zakiel menatap sendu Raisya. Tidak ia sangka gadis yang ia kagumi dan sudah ia anggap seperti adik sendiri harus berada di posisi yang sangat sulit. Menjual keperawanan dan menjadi simpanan untuk kesembuhan sang kekasih.


“Ya, semua gue lakuin buat Tunangan gue.” Raisya menjawab dengan mata memerah.

__ADS_1


Zakiel memejamkan mata, tidak sanggup melihat tatapan terluka itu. “Apa yang bisa gue bantu? Apa tiga milyar itu untuk beli kebebasan lo?”


“Lo nggak perlu bantu gue, tapi gue minta lo jaga tunangan gue.”Raisya berucap dengan serius. Entah mengapa ia merasa akan sulit menjaga dan memberi perhatian lebih seperti dulu untuk Jhonata. Wanita tu memilki firasat buruk. Apa pun itu, ia tidak ingin menyeret Jhonatan di dalamnya.


“Apa maksud lo? Ngapaian gue harus jaga tunangan lo? Sedangkan gue gak kenal smaa sekali sama dia. Seharusnya lo minta gue buat jaga lo, Lo udah gue anggep kayak adek gue sendiri, sama kayak Azriel!” Zakiel menatap Raisya tidak terima.


“Lo harus jaga dia, soalnya dia kakak lo.”


Zakiel menatap Raisya terkejut. “Apa maksud lo? Gue anak pertama dan nggak mungkin gue punya kakak!”


“Baca ini.” Raisya menyodorkan dokumen berwarna hijau.


Zakiel merasa bingung namun, tetap menerima dan membaca isi di dalam dokumen itu. Wajah laki-laki itu tampak terkejut.


“Lo yakin semua ini bener?” Zakiel mentap Raisya denga pandangan kosong,


“Ya, semua itu bener. Lebih baik lo segera ngasih tahu orang tua lo, gue yakin mereka bakal senang dapat kabar ini.” Raisya tersenyum lembut.


“Gue__ gue ngerasa bingung. Gue udah terbiasa jadi anak pertama, dan jadi seoarang Kakak. Dan sekarang gue dapat fakta kalau gue punya kakak.”


Zakile menatap kosong depan. Wajah tampanya terlihat sangat kebingungan. Fakta baru itu terlalu mengejutkan untuknya.


“Apa lo mau ketemu sama Jhonatan dulu?” Raisya mencoba mencairkan suasana hening itu.


Zakiel mengerjap memandang Raisya dengan alis tertaut. “Jhonatan?”


“Iya, Jhonatan. Jhoatan tunanagan gue, atau bisa dibilang mantan tuanangan.” Raisya tersenyum miris.


“Maaf, gue belum siap. Kayaknya gue lebih baik ketemu sama bokap gue dulu, dan ngasih ini.” Zakiel menunjuk map hijau yang di pegangnya.


Raisya tersenyum. Ok, kalau gitu, gue pergi dulu. Gue mau jenguk Jhonatan.” Raisya bangkit, meninggalka Zakiel yang masih terdiam dengan pikiran yang berantakan.


“Bagaiamana Nyonya?” Jesika bertanya tepat saat melihat kedatangan Raisya.


“Hmm, semua sudah beres. Sekarang kita pergi ke rumah sakit.”


“Baik!”


*****


Farel memasuki Mansion dengan perasaan kosong. Harapan untuk bertemu Raisya hilang ketika matanya menyapu seluruh ruang yang terlihat kosong.


“Kemana perginya Raisya?” Farel bertanya dengan datar dan tajam.


Mereka semua yang melihat suasana hati Farel tidak baik saling melirik.


“Nyonya hanya berpesan ingin keluar untuk membeli sesuatu.” Salah satu bodyguard dengan anting tengkorak menjawab dengan sedikit gugup.

__ADS_1


“Dengan siapa?”


“Nyonya pergi dengan Jesika Tuan.”


Farel terdiam. Jesika? Oh, dokter itu. Rasa curiganya dengan wanita bermata sipit itu belum tuntas, wanita itu terlihat mencurigakan.


“Kalian boleh pergi!”


Mereka semua dengan cepat membubarkan diri, kembali pada tugas masing-masing.


Farel menatap datar ke depan. Tangannya mengepal, ia merasa ada sesuatu yang janggal. Dengan cepat kaki kekarnya membawanya berjalan menuju ruang kerjanya. Mungkin sekarang saatnya ia kembali ke dunianya, dunia hacker.


Farel menatap titik merah yang menunjukkan keberadaan Raisya. Namun, ia yakin jika titik itu sudah sejak beberapa jam yang lalu. Dalam artian, ada yang sengaja menyabotase.


Dengan cepat tangan kekar Farel membuka, mencba membobol satu item yang terlihat mengacak atau merusak sistem yang sudah ia pasang di hp Raisya. Beberapa menit kemudian, munculah titik merah, kali ini dengan posisi yang membuat Farel mengernyit.


“Rumah sakit? Apa yang terjadi? Apa Raisya terluka?” Farel bertanya dengan wajah menegang. Rasa takut akan keadaan Raisya mendominasinya. Dengan cepat Farel meraih kunci mobil, berlari dengan cepat menuju garasi.


Farel mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Tangannya mencengkram erat setir mobilnya, bahkan matanya memerah.


Bayangan tentang kondisi Raisya yang terbaring lemah seperti dulu membuatnya berkeringat dingin.


“Aku mohon, jangan pergi, jangan sakit, dan jangan terluka.” Farel bergumam dengan cepat.


Matanya menatap gedung rumah sakit dari dalam mobil. Dengan cepat tanganya membuka handle mobil. Berjalan dengan kecepatan yang luar biasa, Farel terhenti tepat di depan resepsionis.


“Suster, toling beritahu saya, di mana ruang rawat Raisya Atmaja?” Farel bertanya dengan nafas memburu.


Petugas resepsionis itu terlihat mengerutkan kening. Merasa asing dengan nama wanita yang di sebut itu namun, bukan sebagai pasien.


“Raisya Atmaja? Maaf Tuan, di sini tidak ada pasien yang bernama Raisya Atmaja.”


“Jangan berbohong! Saya tahu Raisya ada di sini.” Farel menggeram marah.


Petugas itu meneguk ludah gugup, merasa takut dengan tatapan dan wajah Farel.


“Maaf Tuan. Tapi benar, tidak ada pasien yang bernama Raisya atamaja. Namun, di sini memang ada Raisya Atmaja sebagai penaggung jawab, bukan sebagai pasien.”


Farel menghela nafas lega. Mungkin Raisya tanpa sengaja melukai seseorang hingga berakhir di rumah sakit. Apa pun itu yang terpenting Raisya tidak terluka.


“Apakah pasien terluka parah?” Farel bertanya, mengantisipasi sanksi yang akan di dapat Raisya nanti. Jika korban mengalami luka parah dan keluarganya menuntut tanggung jawa, akan ia lakukan apa pun untuk membebaskan Raisya dari jerat hukum.


“Pasien sudah membaik, Nona Raisya sangat rajin datang ke sini, dan mengurus semua keperluan Pasien.” Penjaga itu berbicara dengan penuh binar.


Farel mengerutkan kening, merasa bingung dengan ucapan penjaga itu. Rajin datang?


“Apa maksud anda?”

__ADS_1


“Tuan harus tahu, Nona Raisya sangat terkenal di rumah sakit ini. Terlebih cinta Nona Raisya untuk kekasihnya, mebuat kita semua jadi terharu.” Penjaga itu menjawab dengan semangat seakan melupakan kode etiknya sebagai pegawai di rumah sakit itu.


“Kekasih?”


__ADS_2