Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
63. Kehilangan


__ADS_3

Max menatap pintu kaca yang tertutup gorden itu dengan cemas. Pakaiannya yang penuh darah sudah ia ganti dengan baru. Beberapa kali tanganya mengusap wajahnya kasar.


“Jika terjadi sesuatu dengan anakku, aku tidak akan pernah memaafkanmu,” Max berucap penuh janji. Matanya menerawang jauh di sana.


Sikap lembut Salsha dulu membuatnya jatuh cinta. Kelembutan, perhatian, dan sikap ramah Salshalah yang membuatnya memutuskan untuk memberikan seluruh hatinya, bahkan tanpa sisa lagi.



Namun, sikap Salsha kali ini seakan menyadarkan Max, jika Salsha yang ia kenal tidaklah sama. Semua berubah sejak kedatangan Farel.



Salsha yang selalu bersamanya mulai menjauh, bahkan sekedar menyapa pun tak pernah Salsha berikan lagi untuknya. Bentuk perhatian kecil yang selalu ia terima beralih dengan sekejap setelah kedatangan Farel dalam hidupnya.



Setiap hari ia hanya bisa memandang mereka dalam kejauhan. Sikapnya yang penyendiri membuatnya tidak mampu hanya sekedar untuk mengatakan apa yang ia rasakan. Ia selalu berpikir jika Salsha akan kembali padanya seperti dulu. namun, beberapa tahun ia menunggu, Salsha semakin jauh. Jauh dalam jangkaunya.



Berbagai cara ia lalui agar bisa selalu dekat dengan Salsha. Namun, Salsha seakan menganggapnya hanya orang asing. Ia kecewa namun, ia selalu berusaha menerimanya lapang dada.



Menjadi seorang model merupakan salah satu pengorbanan terbesar dalam hidupnya. Ia yang tek memiliki keberanian menampilkan dirinya di depan semua orang, harus berusaha tenang ketika berhadapan di depan kamera, bahkan berintraksi dengan semua orang. Ia melakukan semua itu untuk menarik kembali perhatian Salsha.



Bertahun-tahun ia mencoba bersikap baik-baik saja, berperan menjadi orang asing seperti yang Salsha minta. Namun, Salsha dengan teganya memberikanya sebuah undangan, undangan pernikahan dengan senyum yang mengembang di bibirnya.



Tidak tahukah wanita itu jika ia sangat mencintainya? Tidak tahukah wanita itu apa saja yang ia korbankan untuk selalu dekat denganya? Tidak tahukah wanita itu hal apa saja yang harus ia lalui agar ia bisa terlihat seperti yang wanita itu inginkan?



Hati siapa yang tidak hancur melihat orang yang dicintai bermesraan tepat di depannya? Bercumbu mesra tanpa mengenal tempat, bahkan tanpa melihat di depan mereka ada hati yang tersakiti?

__ADS_1



Max mencoba tersnyum, mungkin benar jika cinta tidak harus memiliki. Ia dengan terpaksa menerima undangan itu. Ia mencoba terlihat bahagia. Bukankah cinta dikatakan tulus ketika seseorang mencoba menerima yang dicintai bahagia, meskipun bukan dengan dirinya?



Max hanya menghabiskan hari-harinya memandang mereka dari kejauhan dengan senyum miris. Melihat hari-hari yang mereka lalui membuatnya ikut bahagia. Ya, ia menerima semuanya, termasuk ia yang tidak berjodoh dengan gadis pujaannya.



Satu fakta tentang kekurangan Farel membuatnya tercengang. Impotent? Laki-laki yang terlihat gagah itu Impotent? Sungguh ia ingin sekali tertawa. Ingin sekali Max datang dan mengambil kembali Salsha dari genggaman laki-laki impotent tu, tapi melihat keadaan salsha yang sepertinya mengetahui kekurangan dan menerima semua fakta itu dengan lapang dada membuatnya mundur.


Kekagumanya semakin meningkat. Wanita sempurna itu bisa menerima kekurangan sang suami tanpa mengeluh atau pun berusaha berbuat curang, seperti selingkuh. Max semakin menghormati Salsha, terlepas sikapnya yang terlampau jahat terhadapanya.


Pertemuan malam mereka saat di Paris membuatnya tercengang. Wanita yang ia kira menerima semua kekurangan Farel nyatanya tertekan. Wanita itu mendamba sebuah sentuhan yang tidak pernah ia dapatkan.


Salsha yang dalam pengaruh alkohol merancau, mengeluarkan segala keluh kesah dan bagaimana tertekannya selama menikah dengan Farel. Wanita itu berbicara denga putus asa jika ia tidak mandul, dan mengatakan jika penilaiana mereka tentang kesehatannya sangat salah. Ia wanita yang cukup sehat dan mampu untuk mengandung seorang bayi.


Max merasa tersentuh. Mendengar tangis pilu wanita pujaanya membuat hatinya juga merasa sakit. Dengan pelan ia membawa tubuh ringkih itu kedalam rengkuhanya, memberikan sekedar kekuatan dan pernyataan jika wanita itu tidak sendiri.


Namun, Salsha bertindak agresif. Tanpa persetujuan Max, Salsha mencumbu laki-laki itu dengan penuh gairah. Bahkan merancau, memohon untuk disentuh. Max yang awalnya enggan menyentuh wanita bersuami, terlihat iba. Dengan tekat kuat ia menerima sentuhan itu, biar bagiaman pun itu juga pertama kali banginya menyentuh seorang wanita, dan janjinya dulu yang hanya akan menyentuh Salsha akhirnya terpenuhi.


Salsha mulai menjauh, dan ia menerima semuanya. Ia akan menjaga wanita itu seperti biasa, menjadi bayangan yang akan melindunginya dengan segenap jiwa.


Namun, kejadian yang sama terulang kembali. Max mencoba menyadarkan tindakan gila mereka. Namun, semua sia-sia. Salsh yang ia kira akan menolak sentuhannya terlihat menerima dengan baik. Satu harapan muncul di hatinya, mungkin ini cara tuhan menyatukan mereka, meskipun dengan cara yang salah, tapi ia mencoba menerimanya. Kali ini ia akan berjuang mengambil kembali wanitanya.


Menjadi selingkuhan Salsha adalah salah satu caranya untuk mengambil kembali perhatian Salsha yang sempat direbut Farel. Ia tidak pernah menyesal menjadi pria murahan untuk wanita yang ia cintai. Harapannya hanya satu, ia dan Salsha dapat bersatu kembali dalam ikatan yang lebih suci.


Ceklek!


Suara itu menyadarkan Max yang terperengakap dalam ingatan masa lalu. Dalam sekejap ia bangkit untuk menghampiri dokter wanita yang terlihat lelah itu.


“Bagaiaman keadanya?” Max bertanya dengan gugup.


Dokter itu memandang sekilas Max. Max yang mendapatkan tatapan seperti itu mengangkat alisnya, merasa bingung dengan cara tatap sang dokter.


“Apakah anda suami pasien?” Dokter itu bertanya karena tidak bisa melihat wajah Max yang tertutup masker.

__ADS_1


Max tertegun mendengar pernyataan itu. Bagaiaman ia harus menjawab. Bagaiamana pun semua orang tahu jika Salsh istri dari Farel Atmaja. Jika ia mengaku sebagai suaminya maka semua akan berantakan.


“Saya saudaranya.” Max menjawab dengan mengepalkan tanganya. Lebih baik ia berbohong.


“Oh, dimana suami pasien?”


“Ekhm, suami pasien sedang di luar negri, dan dia sudah menyerahkan semua tanggung jawab istrinya ke saya.”


“Oh, baiklah. Mari ikut saya keruangan.”


Max menganggukan kepalanya, berjalan pelan megikuti setiap langkah dokter wanita itu. Tepat di depan ruangan Max menghel nafas panjang. Ia berdoa agar tuhan memberikanya sedikit rasa kasihan. Jika Tuhan ingin menghukumnya karena perbuatan dosanya, maka ia akan terima. Namun, tolong jangan hukum dia dengan kehilangan darah dagingnya.


“Silahkan anda duduk.”


“Terimakasih.”


Dokter itu terlihat tersenyum, namun senyum itu mengandung arti berbeda.


“Saya tahu anda bukan saudara pasien, siapa pun anda, saya yakin anda orang terdekatnya.”


Max merasa canggung mendengar pernyataan itu. Biar bagaiaman pun sulit membuat kebohongan jika menyangkut seseorang yang selalu di sorot publik. Ia merasa percuma menutup wajahnya di depan dokter itu.


“Langsung saja, bagaiaman keadan Salsha?”


Dokter itu terlihat mengeluarkan nafas panjang. Tangan keriputnya membenarkan letak kaca mata yang terlihat baik-baim saja.


“Maafkan saya, janin itu tidak bisa di selamatkan. Obat yang di minum pasien terlalu berlebihan, bahkan obat itu menyebabkan rahim pasien rusak.”


Deg!


Max mematung. Ia benar-benar kehilangan. Semesta dengan kejam menghukumnya seperti itu. Bahkan hukuman itu ia dapatkan melalu orang yang dia cintai. Hatinya hancur, bahkan lebih hancur dari pada melihat kedua orang tuanya pergi meninggalknya selamanya.



Andaikan anaknya pergi dalam keadaan wajar, mungkin ia tidak akan merasa sesakit ini. Namun, anaknya pergi dengan kesengajaan, dan pelaku semua itu tak lain ibu dari anak itu sendiri, orang yang paling ia cinta.


_______

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca,,, jangan lup vote, koen, like, dan follow akun Author ya 😘😘


__ADS_2