
Farel berjalan dengan cepat. Matanya menyorot tajam, membuat setiap orang yang menghalangi jalanya dengan sendirinya menyisihkan diri, membuat tempat lenggang untuk laki-laki itu berjalan.
Para wanita yang sempat terpesona dengan ketampanannya secara teratur mengundurkan diri, karena melihat sorot menyeramkan itu.
Tangan kekar itu merogoh saku, mengambil kunci mobil, kemudian memasukinya dengan cepat.
Wajah itu terlihat mengeras, bahkan selama perjalanan hanya ada suasana suram yang muncul di dalam mobil itu.
Satu jam berlalu, dan kini Farel telah berdiri di depan Mansion megahnya, Mansion yang di dalamnya terdapat wanita pujaannya, Raisya.
Netra hitamnya menyorot sendu, rasa bersalah kian menguar dari dada, merambat keseluruh persendiannya. Ia takut Raisya menjauhinya, terlebih pergi meninggalkannya.
“Permisi Tuan.”
Farel mengalihkan pandangan, menatap sosok laki-laki yang tak lain Andres dengan alis terangkat sebelah.
Andres yang melihat tatapan itu meneguk ludah gugup.
“Ada apa?” Farel bertanya dengan datar.
“Maaf Tuan, Nyonya Raisya belum pulang.” Andres menunduk takut.
Farel terkejut mendengar penuturan itu. Dengan cepat tangan kekarnya mencengkram erat kerah Andres.
“Apa yang kau katakan? Bukankah kau berada di tempat waktu saya meninggalkan Raisya. Bagaiaman kau bisa berkata seperti itu, cepat katakan, breng**k.” Farel mencengkram kerah itu semakin kuat.
Andres memejamkan matanya, wajah tampanya terlihat menahan sakit luar biasa. Cengkraman di kerahnya membuat laki-laki itu tidak bisa bernafas.
“Uhk, uhk, Ma__ma”
Melihat Andres yang kesulitan bernafas, Farel segera melepaskan cengkramanya dengan kasar. Membuat Andres terbatuk hebat dan mengambil nafas dengan rakus.
“Katakan!” Farel menyotrot tajam Ansres.
“Maafka saya Tuan. Setelah kepergian anda, saya langsung memanggil taxi untuk menjemput Nyonya. Seperti perintah Tuan, saya harus menjadi pengawal bayangan tanpa harus terlihat. Namun, Nyonya menolak kedatangan Taxi itu, kemudian datanglah mobil hitam tanpa nomer plat yang menjemput Nyonya. Saya sudah berusaha mengejar mobil itu, tapi kehilangan jejak.” Andres menunduk penuh sesal.
Farel mengeraskan rahangnya. Semua di luar prediksinya. Ia kira Raisya kan menerima taxi itu dengan baik namun, Raisya malah menolaknya. Dengan kasar Farel mengusap wajanya penuh frustasi.
__ADS_1
Sedangkan Andres hanya mampu menunduk. Ia akui ia salah. Ia tidak becus menjaga Raisya. Tugas yang terlihat mudah nyatanya sangat susah. Hanya mengawasi seluruh gerak-gerik satu wanita, dan ia gagal.
“Kau tahu alasanku memilihmu menjadi pengawal bayangan Raisya?” Farel menatap tajam Andres.
Andres menunduk., sungguh ia tak tahu alasan di balik pemilihan itu. Ia hanya seorang detektif yang kebetulan pandai beladiri. Ia seratus persen bukan Bodyguard.
“Saya memilihmu, karena saya yakin kau pandai. Kau pandai dalam menempatkan posisimu. Tapi sepertinya saya salah.” Farel mendesis di akhir kata.
Andres semakin menunduk. Rasa bersalah dan kecewa terhadap dirinya sendiri semakin besar.
“Maafkan say__”
Gedebuk!
Farel membanting tubuh Andres dengan kuat. “Saya tidak butuh ucapan maaf. Apa ucapan maafmu bisa membuat Raisya kembali malam ini. Kau tolol, kau lalai dalam pengawasan, bagaimana jika pemilik mobil itu orang jahat, dan berniat mencelakai Raisya, hah?” Farel berteriak. Wajahnya memerah, sungguh laki-laki itu sangat murka.
Para pengawal yang kebetulan sedang berjaga bergidik ngeri. Melihat Farel yang dengan mudahnya membanting tubuh besar Andres membuat mereka ngilu secara bersamaan.
Andres meringkuk kesakitan. Sungguh bantingan yang diberikan Farel luar biasa sakitnya. Bahkan ia sampai terbatuk kuat.
Farel yang melihat Andres kesakitan menyeringai, laki-laki itu seperti psikopat yang sangat suka melihat tawanannya kesakitan.
Andres memekik kesakitan. Injakan itu membuat nafasnya memberat. Para pengawal yang melihat itu mengalihkan pandangan mereka, jika sudah seperti itu, ia yakin hanya kematian akhir dari semuanya.
Brum....
Semua mata mengalihkan pandangan, terutama Farel. Mata laki-laki itu menyorot tajam mobil hitam tanpa plat itu. Dengan cepat Farel mengangkat kakinya dan berjalan menuju mobil hitam itu.
Mobil hitam itu terbuka memperlihatkan sosok wanita cantik dengan balutan gaun berwarna silver dengan dagu terangkat. Farel yang melihat Raisya mengeraskan rahangnya.
Netra hitam itu memicing tajam melihat mobil hitam itu pergi tanpa meninggalkan petunjuk siapa yang mengendarainya.
“Kau dari mana saja?” Farel bertanya dengan geram.
Raisya yang berjalan santai menghentikan langkah kakinya. Matanya menatap Farel dengan datar.
“Kau bertanya padaku?” Raisya menunjuk dadanya.
Farel menggeram melihat Raisya yang seperti mempermainkannya. “Raisya jawab aku, kau dari mana? tidak tahukah kau aku sangat khawatir?” Farel meraih kedua bahu Raisya, bahkan laki-laki itu memberikan sedikit goncangan di tubuh ramping itu.
__ADS_1
Raisya hanya terdiam, seakan raut emosi dan guncangan di tubuhnya tidak memiliki efek apa pun.
“Pertanyaan yang lucu.” Raisya terkekeh sinis. Tangan rampingnya menyentak kasar tubuh Farel, kemudian berjalan, meninggalkana Farel yang terpaku di tempat.
Farel tercengang melihat sikap Raisya yang seperti itu. Apa ia salah bertanya? Ia hanya mengkhawatirkan Raisya. Dengan cepat, Farel segera menyusul Raisya, berjalan dengan tidak sabar kemudian meraih tangan wanita itu.
“Ada apa?” Raisya menatap tangan Farel tidak suka.
Farel semakin mencengkram erat tangan ramping itu, meninggalkan jejak merah di sana. Namun, tidak membuat pemilik tangan meringis kesakitan sama sekali. Wanita itu seperti mati rasa dengan yang namanya sakit.
“Apa maksudmu? Aku mengkhawatirkanmu. Kau pergi, bahkan kau tidak menerima taxi yang sudah aku siapakan.” Farel berujar marah.
Raisya mengangkat alisnya, mendengar penuturan Farel membuatnya teringat dengan kedatangan Taxi yang menurutnya sangat tiba-tiba itu.
“Kau memata-mataiku?” Raisya mendesis marah.
Glek!
Farel menelan ludah gugup, bahkan cengkraman tanganya mengendur membuat Raisya dengan mudah menarik tangannya yang memerah dan mengelusnya lembut.
Rasa takut mulai menjalar di hati Farel. Ia takut Raisya akan marah jika mengetahui ia telah mengawasi seluruh gerak-geriknya, terlebih, Raisya sudah pernah mengatakan jika wanita itu tidak suka dengan perilakunya.
“Aku... tidak,” Farel berucap dengan gugup.
Raisya memicingkan mata. “Jika tidak, kenapa kau tahu kalau aku menolak taxi itu?” Raisya bertanya dengan tenang, bahkan tanganya ia taruh di depan dada.
Farel semakin gugup. “Supir Taxi yang memberitahuku.” Bohong Farel.
Raisya terkekeh. “Jangan membual, aku sudah memberikan bayaran yang cukup banyak, dan hal itu sebagai upah untuk supir itu tutup mulut.”
Farel memejamkan mata frustasi. Memang benar ia tidak mendapatkan konfirmasi dari supir taxi, karena memang bukan dirinya yang memesan Taxi itu. Semuanya laki-laki itu serahkan ke tangan pengawal bayangan Raisya.
Raisya yang tidak suka di atur, dan diawasi, membuatnya mengambil keputusan diam-diam. Dan hal itu pula yang membuatnya ketakutan setengah mati sekarang. Ia takut Raisya meragukannya lagi, terlebih sikap brengseknya yang meninggalkan dirinya di tengah jalan yang sepi. Meskipun di sana terdapat pengawal bayangan yang mengawasinya, tapi pengawal itu terikat janji untuk tidak terlihat sama sekali.
“Maafkan aku. Aku salah.” Farel menundukkan kepalanya takut.
Raisya memutar kepalanya malas, malas untuk menatap wajah pecundang di depannya itu. Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya, berjalan meninggalkan Farel yang terdiam.
Farel menatap punggung Raisya dengan tatapan nanar. Hubungan yang sudah mulai membaik, kini berubah mejadi dingin kembali, dan semua itu karena kebodohannya. Andai saja ia tetap mengantar Riasya pulang, atau paling tidak ia menjelaskan permasalahan saat ini, mungkin semua tidak akan seperti ini.
________
Terimakasih sudah membaca 😘😍
Like, komen, vote, dan follow ya 😍😍😍
__ADS_1
Kritik, saran, dan dukungan dari kalian selalu Author tunggu 😍😍