
Raisya membuka mata dengan kesal. Laki-laki di sampingnya menggempurnya tanpa ampun, mengatakan pelan, tapi selalu minta berulang.
“Farel, singkirkan tanganmu.”
Gerutuan dengan nada sebal dari wanita bernetra hijau itu tak mengusik sang lelaki sama sekali, malah membuat lilitan di pinggang ramping itu semakin kuat.
Raisya yang merasa sesak, terlebih ia yang akhir-akhir ini tidak bisa menahan kantung kemih mendengus. Bagaiamana bisa, laki-laki itu dengan santainya tetap tidur, bahkan matagari pun sudah terlihat cerah di luar sana.
“Farel,” Raisya memanggil dengan nada lembut namun, Farel terlihat tidak merespon sama sekali.
“Farel,” Panggilnya lagi, tapi sang lelaki tetap diam.
Menjilat bibir atasnya yang terasa kering, Raisya memejamkan mata sejenak.
“Sayang.”
Panggilan dengan nada lembut itu membuat tubuh sang lelaki tegang, tapi tetap menutup matanya, bahkan wanita itu bisa melihat senyum yang tersungging di sana. Raisya yang menyadari, segera menggeplak lengan sang suami dengan keras.
“Bangun! Gak usah pura-pura tidur.”
Ucapan dengan nada ketus itu membuat Farel terkekeh. Dengan pelan, laki-laki itu membuka mata, dan pemandangan pertama yang laki-laki itu lihat adalah wajah cemberut Raisya.
“Kenapa?”
Pertanyaan dengan nada polos itu membuat Raisya semakin geram. “Jangan pura-pura bodoh. Lepaskan tanganmu, aku mau ke kamar mandi.” Raisya menatap ajam Farel.
Farel yang mendapat tatapan itu tergelak. “Panggil aku sayang dulu, baru aku melepasmu.” Farel mengetipkan sebelah mata genit.
Raisya membuka mulut tidak percaya. Bagaiamana bisa suaminya ini ke kanak-kanakan sekali. Ia sudah menahan kantung kemihnya yang penuh sedari tadi, tapi sang suami malah bertingkah.
“Cepat lepas!” desisnya pelan.
Farel tetap kukuh dengan pendirianya, dengan kuat menggeleng. Laki-laki itu ingin mendengarkan panggilan sayang. Selama mereka bersama, sang istri tidak pernah sekali pun mengucapkan panggilan sayang, Mungkin tadi pertama kali.
Raisya yang sudah tidak tahan akhirnya pasrah, mengikuti apa kemauan sang suami. “Sayang, lepaskan aku, aku ingin ke kamar mandi.” Raisya menatap Farel dengan memasang wajah dibuat semanis mungkin.
“Baiklah, apa pun untuk Ratuku.” Farel mengerling genit.
__ADS_1
Tanpa aba-aba, laki-laki itu segera mengangkat tubuh ramping sang istri, kemudain membawanya ke kamar mandi.
Raisya yang mendapatkan perlakuan tiba-tiba hanya pasrah, menolak pun tak kuasa, toh digendong tidak merugikan. Badannya benar-benar pegal, dan kantung kemihnya yang terasa sangat penuh membuat ia akan kesusahan berjalan.
“Silahkan Ratuku.” Farel meletakkan tubuh polos Raisya di atas closet.
Raisya menghela nafas, kemudian memberikan satu senyuman kecil sebagai tanda terimakasih. Tanpa canggung, wanita itu segera melakukan keinginannya yang sudah ia tahan sejak tadi, melirik Farel sebentar, seakan mempertimbangkan sesauatu.
“Apa kau akan tetap di situ?”
Pertanyan dengan nada menyindir itu membuat Farel yang sedang mengaggumi keindahan di depan matanya mengerjap, kemudian memasang wajah konyol.
“Ya, aku akan tetap di sini, mungkin kau kan butuh bantuan.” Farel mengedipkan sebelah mata. Bahkan tubuh laki-laki itu sudah terasa sangat panas. Boxer kecil sebatas pahanya pun sudah mulai terasa sesak.
Raisya yang mendengar itu pun hanya mengangkat sebalah alisnya. “Baiklah, asal kau tidak meminta lebih setelah ini.” wanita itu menatap Farel dengan penuh arti.
Farel hanya tersenyum, laki-laki itu belu paham maksud dari perkataan Raisya. Tapi melihat Raisya yang mulai melakukan rutinitas paginya dengan tubuh plos membuat keperkasaanya sebagai laki-laki melonglong ingin keluar.
Farel semakin meneguk ludah, rasa ingin segera menjamah tubuh sang wanita meronta-ronta, tapi ingatan tentang bayi yang sedang bersemayam di perut sang istri membuatnya segera tersadar.
“Farel, bisa kau nasuh punggung belakangku.” Raisya memunggungi Farel, jarinya menunjuk tengah punggung, yang terlihat banyak sekali bekas merah.
Raisya yang merasa tidak ada gerakan sama sekali, bahkan sahutan, segera membalikkan badan. Namun, sebelum tubuhnya benar-benar berbalik, ia merasakan dekapan hangat dari sang lelaki.
“Farel,” Raisya menggumam lemah.
Kecupan basah terasa jelas di punggungnya itu. Rasa panas mulai menjalar ke sluruh tubuh.
“Ehnggg.”
Lenguhan panjang itu terdengar saat Farel menyesap punggung tengahnya dengan penuh damba, bahkan laki-laki itu terlihat sangat menikmati sesapan itu.
Gerpe!
__ADS_1
Tubuh ramping itu terperangkap, membuat tubuh atas mereka yang sama-sama polos menempel dengan sempurna.
Cup .... Cup ...
Raisya semakin melenguh, kecupan di tulang selangkanya benar-benar membuat ia kehilangan akal, terlebih lidah hangat itu yang terlihat lihai memainkan permukaan kulitnya itu.
“Fa ... rel,” Raisya berucap dengan terbata-bata.
Farel semakin terpancing. Gairahnya seakan tidak bisa tuntas saat berdekatan dengan Raisya. Laki-laki itu hanya ingin menyatu dengan sang wanita, tanpa adanya jeda.
“Bolehkah?” Farel menatap Raisya dengan sayu.
Raisya masih berusaha mengatur nafasnya, bahkan pertanyaan itu tidak masuk sempuna ke dalam otaknya.
Kruk!
Suara perut itu membuat Farel yang sedang termakan gairah segera tersadar. Mata sayunya dengan cepat berubah menjadi rasa khawatir.
“Maafkan aku, seharusnya aku bisa menahan nafsu binatangku, kau dan Baby pasti membutuhkan makan.” Farel mengusap perut buncit Raisya.
Raisya mengerjapkan mata polos. Wanita itu merasa sedikit malu. Kenapa kegiatan mereka harus terhenti dengan bunyi cacing di perutnya, tapi ia juga berterimakasih. Dengan itu, ia tidak harus berlarut, menghabiskan berjam-jam lagi dengan bertukar peluh dan berbagi \*\*\*\*\*\*\* dengan Farel.
“Hmm, sebaiknya kita segera membersihkan diri.” Raisya segera beranjak meninggalkan Farel yang masih memasang wajah yang terlihat sendu, khawatir, kecewa?
***
Farel dnegan telaten menuangkan beberap makanan yang sudah a pelajari baik untuk tumbuh kembang si bayi dan ibu. Bahkan beberapa pelayan yang melihat ikut geleng kepala.
“Farel, cukup.” Raisya mencoba menghentikan gerakan tangan Farel yang ingin mengambil ikan salmon.
Sungguh piringnya sudah penuh dengan makanan lima sehat, enam sempurna. Sedangkan Farel yang mendengar larangan Raisya mengangkat sebelah alisnya. Laki-laki itu tampak tak terima dengan penolakan yang diberikan Raisya.
“Sayang, ini masih kurang. Kau harus ingta jika sekarang tidak sendiri. Di sini ada buah hati kita.” Farel mengelus perut buncit itu, yang segera di balas dengan tendangan dari dalam sana.
“Waw,” Farel berjar dengan nada takjup. Anak di dalam kandungannya ini suka sekali menendang saat ia mengelus atau pun berdekatan dengan sang ibu.
Raisya bahkan ikut terkejut. Perkembangan anaknya ini cukup dibilang sangat cepat. Anakanya saat ini terlihat sangat aktif.
“Lihat, Baby bergerak lagi.” Farel menatap perut buncit itu dengan takjup, bahkan tangannya ttidak terlepas dari permukaan perut sang Istri.
Raisya hanya terkekeh kecil. Melihat Farel seperti itu membuat hatinya membuncah. Dulu Farel tidak memiliki keluarga, dan hanya memiliki Maria. Kini, ia akan memberikan keluarga untuk laki-laki itu. Mengganti kenanagan buruknya dulu dengan kenangan yang manis.
“Tuan, ada Tuan Zakiel Balawel d depan, beliau mengaku sahabat Nyonya.”
Perkataan itu membuat tubuh Raisya tegang. Zakiel? Sedangkan, Farel sudah memasang wajah sangar. Kelembutan dan binar itu dalam sekejap berganti dengan aura hitam kelam.
__ADS_1