Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
92. Kesalahan


__ADS_3

Farel yang melihat raut gelisah Raisya segera memeberi kode desainer wanita itu untuk keluar.


“Sayang.” Farel menyentuh bahu Raisya lembut.


Raisya yang masih ling lung mengalihkan pandangannya untuk menatap Farel dengan fokus.


“Jangan khawatir, aku akan selalu menjagamu. Di sana tidak akan ada yang berani mencaci atau pun menggunjingmu.” Farel tersenyum lembut ke arah Raisya.


Raisya membuang muka dan menghembuskan nafas panjang. Kenapa Farel memahami kegelisahannya? Apa wajahnya terlalu kentara?


“Tidak, aku tidak apa-apa.”


Farel tersenyum, tangannya bertenggar manis di kedua bahu Raisya, membuat wanita itu menghadap sepenuhnya ke arahnya.


“Kau tak perlu menutupi kegelisahanmu. Aku akan bertanggung jawab untuk keamanan dan kenyamananmu. Kalau kau merasa tidak nyaman atau merasa apa pun, kau harus bilang langsung, jangan hanya diam dan memendamnya. Bukankah dulu kau mengatakan jika sebuah hubungan bisa terjalin karena komunikasi yang baik? Maka, apa pun itu, kataka saja.”


Raisya megerjap, menatap lurus tepat di manik coklat Farel. Hanya ada kejujuran, ketegasan, dan kelembutan di sana. Rasa hangat dan tenang mulai merasuk di hatinya.


“Baiklah, aku memang sedikit gelisah. Kau tahukan, hubungan kita tidak banyak yang tahu, atau bisa dibilang tidak ada yang tahu. Bagaiamana tanggapan mereka saat tau kau datang di acara sebesar itu tanpa Salsha dan malah menggandeng wanita asing.” Raisya mendongak, menatap Farel yang sedikit menunduk untuk menatap wajahnya.


Serasa di ingatkan dengan kelalaiannya, Farel segera mengubah wajahnya menjadi serius. “Apa aku umumkan saja pernikahan kita nanti malam?”


Mata Raisya membola, tatapan tidak setuju terlihat jelas di wajah wanita itu. “Tidak, kau tidak bisa mengatakan semua ini secepat itu. Kau harus menunggu satu bulan lagi. Jika kau mengatakan semuannya sekarang, pasti mereka akan menilaiku wanita simpanan, meskipun kenyataannya seperti itu.” Raisya menatap Farel dengan sungguh-sungguh.


Farel mengetatkan rahangnya. Mendengar Raisya yang menyebut dirinya wanita simpanan membuat ia murka. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Julukan itu, hanya membuat ia teringat dengan perilaku brengs\*knya dulu.


“Maafkan aku.” Farel menunduk.


Raisya menggelengkan kepala. Wanita itu tidak ingin mendengar permintaan maaf dari Farel. Jika di telaah, semua bukan salah Farel sepenuhnya.


“Tidak perlu meminta maaf. Semua sudah terjadi, yang harus kita lakukan adalah memperbaiki keadaan dan pribadi kita lagi.”


Farel menatap Raisya dengan mata berkaca-kaca. Rasa haru membanjiri hatinya. Ia tidak salah memilih wanita. Raisya, wanita yang tepat, meskipun wanita itu keras, tapi wanita itu sanggup membuat ia teringat jalan benar, dan tidak terus terbelenggu dengan kesesatan.



Mungkin wanita lain akan dengan senang hati membuat pengumuman bahwa dia sudah menjadi Istri seorang Wiratman, tapi wanitanya selalu memikirkan kedepannya seperti apa. Bahkan wanitannya itu selalu mempertimbangkan apa yang akan ia lakukan, dan bagaiaman imbasnya di masa depan.


“Aku mencintamu.” Farel merengkuh kuat tubuh Raisya.


“Ya, aku tahu.” Raisya membalas pelukan itu.


***


Terlihat wanita dengan gaun merah dengan belahan panjang di kakinya meminum satu gelas anggur. Mata wanita itu terlihat fokus memperhatikan sekitar.



Wanita itu yang tak lain Salsha, memeberikan kode untuk bawahannya yang sudah ia letakkan di ujung ruangan.

__ADS_1



Pesta topeng seperti ini membuat identitasnya sebagai Salsha, sang model terkenal tertutup. Bahkan di undangannya pun tidak akan tertera nama atau pun margannya. Hal ini membuat wanita itu mempermudah aksinya nanti.


“Oh, lihatlah wanita dengan gaun Rose gold itu, sungguh matanya terlihat luar biasa.”


Salsha memutar kepalnya, menatap sosok laki-laki dengan jas maron yang mengomentari tamu yang baru datang itu.



Merasa penasaran, Salsha mengikuti tangan laki-laki iu yang menunjuk arah wanita yang sedang bergandengan tangan, dengan laki-laki yang menurutnya sangat tidak asing lagi.



Seringai kecil ia perlihatkan. Kedua pasangan bahagia itu tak lain, Farel dan Raisya. Musuhnya yang akan ia hancurkan malam ini.



Raisya mengangkat kepalannya, meskipun rasa gugup tidak dapat ia pungkiri, tapi rengkuhan yang diberikan Farel di pinggangnya membuat ia merasa sedikit tenang.



Meskipun ia berasal dari keluarga terkenal, tapi ia sangat jarang mengikuti acara seperti ini. Semenjak kejadian penculikan dulu, orang tuannya sepekat menutup rapat jati dirinya.


“Apa kau baik-baik saja?” Farel berbisik pelan di telinga Raisya.


Raisya menatap mata Farel yang terlihat khawatir itu. “Ya, aku baik-baik saja.” Raisya tersenyum lembut.


Raisya hanya memberikan anggukan dan senyuman. Farel mengeratkan rengkuhan di pinggang Raisya dan melanjutkan langkahnya menuju stan makanan.



Pesta kali ini sangatlah beda. Wali kota mengusung tema pesta topeng, bahkan menganjurkan mereka semua yang hadir untuk menutup rapat identitas mereka masing-masing. Entah apa tujuan dari pesta itu, tapi Farel merasa sangat beruntung.



Bahkan pesta ini di adakan semalam penuh, di sini juga sudah di sediakan kamar hotel bagi siapa pun yang ingin menghabiskan malam di sini.



Mungkin pesta ini di selenggarkan untuk perayaan aniversery pernikaha wali kota, dan tidak ada sangkut pautnya dengan politik, maka wali kota itu bisa membuat pesta dengan temanya sendiri.



Di sini, mereka akan merasa sama. Tidak ada yang kan menonjolkan bisnis atau apa pun itu. Karena mungkin memang tujuan dari menutup identitas seperti itu.


“Farel, aku haus.” Raisya mendongak, menatap Farel dengan tatapan lucu.


Farel terkekeh, tangannya dengan pelan memberkan kode kepada pelayan untuk mendekat dan membawa minuman yang sudah di sediakan.

__ADS_1



Pelayan yang melihat itu dengan cepat berjalan ke arah Farel, dan memberikan minuman berwarna merah itu.



Farel menatap tajam pelayan itu, sedangkan pelayan itu hanya menganggukkan kepalannya, seakan sudah paham dengan tatapan itu.


“Minumlah.” Farel menyodorkan gelas itu dengan lembut.


Raisya dengan senang hati menerima minuman itu. “Terimakasih.”


Farel memberikan senyum lembut. Matanya mengedar keseluruh arah, sehingga tatapannya terhenti tepat pada sosok wanita dengan gaun merah dengan belahan yang panjang itu.



Farel yang melihat seringai jahat wanita itu tersenyum remeh. Tidak akan ia biarkan wanita itu menang dan menghancurkan hubungannya. Sebelum wanita itu bertindak maka ia yang akan bertindak terlebih dahulu.


“Farel, aku mau ke toliet sebentar.”


Farel mengalihkan pandangan, menatap wajah Raisya yang terlihat seperti menahan sesauatu.


“Kau kenapa?” Farel menatap cemas Raisya.


“Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin ke kamar mandi.” Raisya tersenyum aneh. Entah mengapa wanita itu merasakan seperti ingin buang air kecil tiba-tiba. Bahkan tubuhnya sudah berkeringat karena tidak tahan.


“Apa perlu aku antar.”


“Tidak, tidak perlu. Aku pergi dulu.”


“Baiklah, kabari aku jika terjadi sesuatu.”


“Iya.” Raisya segera berjalan dengan cepat, meninggalkan Farel yang terdiam dan menatap cemas dirinya.


Drt.... Drt...


Farel menatap gawainya. Nama pengawal yang ia beri tugas untuk mempertanggung jawabkan misi kali ini tertera di sana.


“Hmm.”


“Tuan, ada yang menukar minuman yang sudah kami tukar.”


Alis Farel menukik tajam, meras bingung dengan ucapan bawahannya itu. “Apa maksudmu?”


“Nyonya, sudah meminum minuman yang di beri obat perangsang.”


Deg!


Farel dengan cepat mematikan panggilan itu. Wajahnya terlihat memrah, terlebih ketika matanya melihat Salsha yang sudah tidak ada di tempat.

__ADS_1


“Sia*an, akan aku bunuh kau Salsha.”


__ADS_2