Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
136. Kematian Jhonatan


__ADS_3

Suasana pagi itu terasa mencekam. Farel tidak penah melepaskan tatapannya barang sejenak dari laki-laki bernama Zakiel. Mata coklatnya menyorot tajam sosok itu.



Raisya yang merasakan perbedaan hawa di sekitarnya berdahem pelan, berharap perang tatap mata itu segera berakhir. Dan ya, rencananya berhasil.


“Kenapa sayang?” Farel bertanya dengan lembut, sedangkan Zakiel juga ikut menatap Raisya.


Raisya menggeleng pelan, kemudian mengalihkan tatapan, tepat ke mata Zakiel. “Lama tidak berjumpa.”



Ucapan pertama yang keluar dari Raisya disambut dengan senyuman tulus Zakiel. Mata hitam itu terlihat menyimpan banyak kerumitan, tapi yang jelas di sana adalah tatapan rindu.



Farel yang melihat intraksi istrinya merasa kesal, dengan pelan, laki-laki itu mengecup bibir sang wanita, membuat kedua mata yang bebeda warna itu melotot kaget.


“Farel,” Raisay memekik kaget, dan matanya menyorot Farel tajam.


Sedangkan Farel terlihat masa bodoh, laki-laki itu semakin giat menunjukan keromantisannya di depan laki-laki pengganggu itu.



Zakiel yang melihat itu hanya tersenyum kecut. Kekhawatirannya terhadap Raisya sedikit berkurang, setidaknya ia melihat tatapan penuh cinta di mata Farel.


“Saya minta maaf jika kedatangan saya menggangu kalian.” Zakiel menatap Raisya dan David dengan pandangan tidak enak.


Farel berdecih lirih, sedangkan Raisya hanya bisa memberikan tatapan memperingati untuk Farel, agar tidak bersikap kekanak-kanakan.


“Tidak, jangan berkata seperti itu. Dan apa itu, saya? sejak kapan bahasamu berubah seperti itu? kau lupa jika kita sudah sepakat berbicara dengan gue lo.” Raisya menatap dongkol Zakiel.


Farel yang mendengar itu melotot tidak terima. Apa-apaan Istrinya itu, kenapa bersikap akrab dengan laki-laki lain? Ah, ini tidak bisa dibiarkan.


“Sayang__”


“Farel, sumaiku, tolong jangan cemburu.” Raisya menatap Farel dengan tatapan lembut namun, menyiratkan sebuah penekanan.


Farel yang ingin marah seketika menciut, terlebih mendengar panggilan suamiku, membuat dadanya bergemuruh, dan perutnya berbunga-bunga.



Zakiel tersenyum kecil, melihat Raisya yang seperti itu, membuat ia merasa bahagia. Setidaknya pesan dari kakaknya sudah tersampaikan, meskipun bukan denganku, tapi Raisya terlihat bahagia.


“Ekhm, kayakanya udah gak pantas kita pakek ‘lo’ ‘gue’ lihat tuh, perutmu aja udah kayak balon.” Zakiel berkata dengan nada bercanda.


Raisya yang mendengar penuturan itu mendelik sebal. “Hay, bagaiamana bisa kau bilang perutku seperti balon. Di sini tuh isinya anak gue.” Wanita itu menatap garang Zakiel.

__ADS_1



Kedua laki-laki itu yang mendengar kata ‘gue’ dari mulut Raisya melotot horor, terlebih melihat tatapan yang menyeramkan itu.


“Sayang, benar kata Zakiel, ingat, di sini sudah ada buah hati kita, jadi sebaiknya kau tidak meakai bahasa gaul seperti itu. kau tidak mau kan, nanti anak kita lahir-ahir bukannya oek oek, tapi gue, gue.” Farel mengelus pelan perut Raisya.


Sedangkan kedua manusia itu yang mendengar perkataan polos Farel menjatuhkan rahang seketika.


“Ish, teori dari mana itu. Kau jangan khawatir, aku hanya memakia ‘gue, lo’ saat bersama Zakiel.”


Farel semakin melotot. Apa panggilan itu termasuk panggilan khusus. Bagiamana bisa, hanya memakai kosa kata itu saat bersama Zakiel, sedangkan bersamanya, wanita itu memakai panggilan sama dengan orang lain.


“Tidak, kau tidak boleh memakai kosa kata itu lagi. Terlebih hanya untuk Zakel.” Farel meraih bahu Raisya, membuat tubuh wanita itu menghadap langsung ke arahnya.


Zakiel yang melihat petengkaran rumah tangga, yang sangat tidak berutu itu memutar mata malas. Ia harus ingat tujuannya ke sini.


“Ekhm, maaf kalo aku mengganggu pertengkaran kalian. Tapi alangkah baiknya, kalian bertanya terlebih dahulu, apa tujuanku datang kemari.” Zakiel menampilkan senyum paksa, berharap pasangan suami istri itu paham jika masih ada orang lain di sana.


Farel bedahem canggug, sedangkan Raisya membuang muka, enggan memperlihatkan wajahnya yang sdah memerah.



Zakiel yang merasa situasi sudah membaik, berdahem pelan, seakan menyuruh mereka untuk memperhatikannya.



“Aku hanya ingin memberikan ini untuk Raisya.” Zakiel menyerahkan kotak kecil berwarna biru. Dari penampilan kotak itu, semua pasti tahu apa isi di dalamnya.


“Apa maksudmu memberkan ini?” Farel menatap tajam Zakiel.


Sedangkan Raisya hanya menatap kotak itu dengan pandangan rumit.


“Maaf, Tuan Farel. Saya tidak mempunyai makasud apa pun.”


“Tidak mempunyai maksud? Mana ada, seorang laki-laki bujang memberikan perhiasan, terlebih itu cincin untuk seorang wanita? Coba jawab? Kau ingin melamar istriku? Kau berniat menjadi Suami kedua? Tidak akan ku biarkan.” Farel meraih pinggang Raisya, mendekatkan tubuh sang wanita.


Zakiel tersenyum kecil. “Tidak, saya tidak mempunyai maksud apa pun, anda hanya salah paham Tuan. Ini pemberian almarhum Kakak saya, Jhonatan.” Laki-laki itu tersenyum tipis,



Deg!


Tubuh Raisya menegang. Mendengar kata almarhum membuat hatinya seakan tertusuk, Apa maksudnya? Apa Jhonatan telah pergi?


“Apa maksudmu Kiel?” Raisya menatap Zakiel dengan mata berkaca-kaca, sedangkan Farel yang paham betul siapa Jhonatan terdiam.


“Ya, Kakak ku telah pergi jauh, pergi meninggalkan dunia ini.”

__ADS_1


Tes!


Satu tets air mata jatuh dari mata hijau itu. Semua begitu cepat. Kesembuhan laki-laki itu yang selalu ia harapkan nyatanya sia-sia. Pengorbanannya juga terlihat tidak berarti apa pun.


“Kapan?” Raisya bertanya dengan tubuh bergetar. Farel yang melihat itu dengan cepat mengelus bahu sang wanita. Meskipun ia merasa cemburu melihat sang waita menangisi laki-laki lain, tapi ia masih memilki hati.


“Dua hari yang lalu.”


Raisya terdiam. Ia sadar hari ini akan tiba, tapi ia tidak menyangka akan secepat itu. Biar bagaiaman pun, di hatinya, Jhonatan memilki tempat khusus.


“Antarkan aku ke sana.” Raisya menatap Zakiel sendu.


Zakiel yang melihat itu tertegun, terlebih melihat tatapan hancur dari wanita hamil itu. Ternyata kematian kakaknya snagat berpengaruh. Ia berpikir, Raisya benar-benar sudah melupakan snag kakak.



Farel menatap Raisya dengan tatapan rumit. Laki-laki itu terlihat ingin menyela, terlebih pesta pernikahan itu akan di lakukan besaok. Jika mereka pergi untuk mengunjungi makam Jhonatan, bagaiamana dengan pesta pernikahannya?


“Sayang, besok pesta pernikahan kita loh.” Farel berkata dengan lembut. Laki-laki itu berusaha mencegah kepergian Raisya, terlebih kandungan Raisya yang sudah memasuki usia ke lima menjelang enam, ia takut ada masalah saat melakukan perjalanan jauh.


Raisya menatap Farel dengan tatapan sulit. Ada sebersit kecewa di sana. Sedangkan Farel yang paham dengan arti tatapan sang istri segera berkata, berharap tidak akan ada kesalah pahaman.


“Sayang, jangan salah paham. Kita bisa pergi ke sana, tepat setelah pesta pernikahan kita. Dan yang pastinya, kita harus konsultasi ke dokter kandungan. Apa kau baik-baik saja saat melakukan perjalanan jauh.” Farel mengelus lembut perut bunct itu, seakan meminta dukungan sang anak agar sang ibu menangkap maksud dari perkataannya.


“Ya, Raisya. Apa yang diakatakan suamimu benar. Sebaiknya kalian pergi setelah melaksanakan pesta pernikahan, sekaligus konsultasi ke dokter kandungan.”


Raisya menunduk. Matanya menatap sang anak yang masih di dalam perut. “Baiklah.”



Zakile tersenyum, begitu pula Farel. “Ok, sepertinya k


aku harus kembali ke hotel.”


Farel menatap Zakiel yang terlihat bersiap untuk bangkit, kemudian berkata dengan tenang, “Mungkin, kau bisa tingal di negara ini beberapa waktu untuk menghadiri pesta pernikahan kita.”



Zakiel terlihat menimbang, tapi beberap detik kemudian, laki-laki itu terlihat mengangguk, mengundang senyum tipis di wajah Farel, sedangkan Raisya masih diam.


“Sampai jumpa di pesat pernikahan kalian. Aku pamit.” Zakiel bangkit, perg meninggalkan kedua pasangan itu sendiri.


Setiap langkah yang di lalui Zakiel terlihat lebih tenang dan ringan. “Benar kata Kakak. Ada kalanya kebohongan diperlukan untuk kebahagian orang. Biarlah kematian keluarga Raisya menjadi rahasia selamanya. Semoga Kakak tenang di sana.” Zakiel menatap langit cerah, seakan melihat kakaknya di atasa sana, senyum lebar laki-laki itu sunggingkan.


_____


Terimakasih untuk kalian semua yang sudah setia membaca karya author,, kritik dan saran sangat author harapkan untuk memperbaiki karya selanjutnya 😗😗

__ADS_1


__ADS_2