
Raisya menatap penampilanya di dalam cermin itu. Degup jantungnya menggila membuat telapak tanganya basah. Hari ini ia memutuskan untuk menemui Jhonatan. Bagaiamana pun ia harus menyelesaikan semuanya. Terlebih ia sudah mengambil keputusan untuk membantu Farel.
“Semua akan baik-baik saja. Ini yang terbaik.” Raisya tersenyum sedih. Netra hijaunya menatap bayanganya di dalam cerimin. Gaun hijau membungkus apik tubuh indahnya.
Ceklek!
Raisya mengangkat alis, matanya menatap Farel yang memasuki kamar dengan raut wajah yang tidak biasa. Sedangkan Farel yang dalam suasana hati buruk mengangkat alisnya ketika melihat penampilan Raisya yang terlihat rapi itu.
Masih dengan tangan yang bercucuran darah, Farel mendekat. Mencoba mencari tahu sebab penampilan Raisya saat ini.
“Kau mau kemana?” Farel bertanya dengan lembut. Jujur, Farel menahan emosinya melihat pakaian indah yang membungkus tubuh Raisya itu. Pakaian yang memperlihatkan bahu mulus dan leher jenjang yang sudah ia klaim sebagai miliknya.
Raisya menjawab dengan datar bahkan tatapanya kembali ke arah cermin. “Aku ada urusan.”
Farel menggeram marah melihat keacuhan Raisya. Bagaiman bisa, wanitanya tidak menatapnya sama sekali, bahkan hanya memberikan jawaban yang tidak memuaskan.
“Di mana? urusan apa itu? kenapa kau tidak meminta izin dulu kepadaku?”
Raisya membalikkan tubuhnya, menatap aneh Farel.
“Kenapa aku harus meminta izin kepadamu?”
“Kau, kau wanitaku. Sudah seharusnya kau meminta izin kepadaku!” Rahang Farel terlihat mengetat.
Raisya mendengus. Ia merasa apa yang ia ucapkan tadi tidak dapat dicerna dengan baik oleh Farel.
“Farel, aku ada urusan penting. Jadi bisakah kau memberiku izin,” Raisya berucap dengan malas. Sungguh ia mencoba menurunkan sedikit egonya, karena ia paham jika Farel tidak akan dengan mudah mengalah dan memahami maksud perkataanya tadi. Mengingat sikap laki-laki itu.
“Dengan siapa?” Farel menatap Raisya dengan curiga.
Raisya memutar matanya, merasa geram dengan keposesifan Farel. Sedangkan Farel yang melihat Raisya seperti itu dengan cepat menarik kasar bahu Raisya, membuat wanita itu memekik kaget dan kesakitan.
“Apa yang kau lakukan, kau menyakitiku!” Raisya memberontak mencoba terlepas dari cengkraman Farel.
Farel yang melihat wajah kesakitan Raisya dengan cepat mengendurkan cengkramannya. Wajahnya terlihat bersalah, sedangkan Raisya yang melihat ekspresi itu hanya bisa menghela nafas. Lagi-lagi Farel tidak bisa mengontrol emosinya.
“Maafkan aku.” Farel menunduk.
__ADS_1
Raisya yang ingin mengeluarkan amarahnya terhenti ketika merasakan rasa basah dan lengket di bahunya, tempat yang sempat dicegkram Farel. Dengan cepat, tangan rampingnya menyentuh bahu putihnya. Wajah cantik itu terlihat terkejut ketika melihat tanganya yang berubah warna merah, darah. Bahunya berdarah? Tapi ia yakin bahunya tidak terluka, mungkin hanya memar tidak sampai mengeluarkan darah.
Raisya dengan cepat mengalihkan tatapanya dari tangan rampingnya menuju laki-laki yang hanya menunduk itu. Netra hijaunya dengan cepat melihat tangan Farel, matanya membola melihat tangan yang terbalut kasa itu meneteskan banyak darah, bahkan membasahai lantai, dan meninggalkan jejak di sana.
“Kau bodoh!” Teriak murka Raisya.
Farel menundukkan kepalanya merasa takut dengan amarah Raisya. Ia paham siapa pun perempuan yang mendapatkan perilaku kasar seperti tadi pasti tidak akan bisa menahan mulutnya untuk mengumpat.
Raisya dengan cepat meraih tangan Farel dan membawanya ke atas ranjang. Farel yang mendapatkan perlakuan seperti itu mengerjapkan mata terkejut. Ia berpikir jika Raisya marah denganya, tapi mengapa wanitanya itu malah membawanya ke atas ranjang?
“Lihat, tanganmu kembali terluka, dan kau dengan bodohnya membiarkan luka itu. Kau mau kalau tanganmu infeksi dan akhirnya harus di amputasi.” Raisya mengomel panjang lebar dengan mata yang tetap fokus membuka perban itu.
Farel terkejut. Jadi Raisya bukan marah kepadanya, tapi marah karena tanganya terluka. Apa itu artinya Raisya mulai menerimanya.
“Kau tidak marah kepadaku karena sikapku tadi?” Farel bertanya dengan takut-takut.
Gerakan tangan Raisya terhenti. Matanya menatap Farel dengan menyipit.
Farel tersenyum. Ia merasa bahagia. Jika dengan ia terluka Raisya bisa berperilaku seperti itu, maka ia rela untuk selalu terluka. Dasar laki-laki bodoh!
Raisya yang merasa di tatap dengan intns mengalihkan pandanganya guna menangkap sang pelaku. Terlihat jelas Farel yang menatapnya dengan senyum konyol.
“Kau sudah gila? Kenapa kau senyum-senyum seperti itu?”
Farel mengerjapkan mata. Kemudian berdahem canggung. “Ekhm, aku__ aku hanya bahagia.” Farel menundukkan kepalanya mencoba menutupi wajahnya yang memerah.
Raisya mengangkat alisnya, merasa bingung dengan ucapann Farel. Hal apa yang membuat Farel bahagia sehingga berperilaku seperti orang gila?
“Apa yang membuatmu bahagia?”
“Kau..... kau perhatian padaku.” Farel mengangkat kepalanya. Netra coklat itu mengunci pergerakan netra hijau Raisya. Raisya merasa tercekat dengan ucapan polos namun terasa luar biasa itu.
Apakah dengan perhatian kecil darinya Farel merasa sangat bahagia? Apakah sesederhana itu kebahagiaanya. Raisya memutuskan tatapan itu, ia merasa akan semakin tersesat jika ia tetap memepertahankan aksi saling tatapnya.
__ADS_1
“Kau tunggu di sini. Aku akan mengambil kasa baru.” Raisya beranjak menuju lemari pojok yang di dalamnya terdapat perkakas. Salah satunya obat-obatan.
Farel terdiam menatap punggun ramping itu. Senyum tipis ia keluarkan. Sungguh ia mencintai sosok itu, dan berharap bisa menghabiskan waktu bersamanya, selamanya. Bersama keluarga kecilnya nanti, tanpa gangguan siapa pun.
Netra hijau Raisya memindai seluruh obat yang berada di dalam kotak itu. Ia hanya membutuhkan alkhol dan satu obat lagi yang entah apa namanya, yang jelas obat itu berwarna merah. Setelah menemukanya tangannya dengan cepat mengambilnya tak lupa juga sekotak kasa dan teman-temanya.
Farel tetap mengunci pandanganya pada sosok wanita ramping itu. Bahkan matanya tidak berkedip saat Raisya sudah membalikkan badanya, berjalan kearahnya dengan wajah bingung menatapnya.
“Apa yang kau lihat?” Raisya bertanya sambil mendudukan dirinya ke tempat semula.
“Aku melihatmu.” Farel menjawab dengan jujur. Ia tidak akan menutupi perasaanya dengan Raisya lagi. Apa pun itu.
Raisya mengangkat alisnya. “Kenapa kau melihatku, aku tidak akan hilang.” Raisya mulai menuangkan alkohol di atas kapas.
“Aku takut semua ini hanya mimpi.” Farel menatap Raisya dengan pandangan rumit.
Raisya menghentikan gerakan tanganya. Matanya kini menatap lurus Farel, mimpi?
“Perhatianmu, sikap lembutmu, dan caramu mengobati lukaku, semuanya terasa membahagiakan sekaligus menakutkan.” Farel tersenyum lembut. Tangan kirinya mengelus surai coklat itu, seakan meyakinkan dirinya jika semua bukan mimpi, tapi kenyataan.
Raisya yang mendengar penuturan Farel semakin di buat bingung. Mengapa laki-laki itu berubah mellow seperti itu. Dan bahagi sekaligus menakutkan?
“Aku bahagia karena kau sudah tidak marah lagi, tapi aku takut jika semua kelembutanmu ini hanya caramu agar bisa terlepas dariku, atau tanda jika akan ada orang yang memisahkan kita.” Farel berucap dengan tangan yang masih mengelus lebut rambut Raisya.
Raisya tertegun dengan ucapan Farel. Hatinya terasa teriris mendengar ucapan itu. Seakan ada bagian hatinya yang ikut terluka.
“Raisya, apa kau akan meninggalkanku jika da kesempatan untuk pergi?” Farel mengelus pipi Raisya. Menatap wajah Raisya dengan tatapan penuh damba dan terluka.
Tenggorokan Raisya terasa tercekat. Pertanyaan itu? bahkan ia sendiri tidak tahu jawaban pastinya. Tapi__
“Aku akan berusaha tidak pergi darimu, tapi aku tidak bisa berjanji untuk tetap bersamamu.” Jawaban itu keluar dengan sendirinya. Tanpa direncankan atau pun terpikirkan. Semua keluar sendiri, jauh dari lubuk hati.
____________
Terimakasih sudah membaca,,, Terimakasih juga buat kk² yg sudah setia menemani cerita Author dari awal sampai sekarang,,,, dukungan kalian sangat berarti bagi Author 😘😘😘😘
__ADS_1
Gimana pendapat kalian tentang part ini?