Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
120. Terkuak


__ADS_3

Semua mata menatap kedatangan keluarga Wiratman yang di dampingi dua asisten dengan raut wajah penasaran. Berbagai media terlihat saling menyorot, berebut untuk mendapatkan jawaban dari berbagai pertanyaan yang sudah mereka simpan.



Tuan Dawal, serta Istrinya menatap tajam kedatangan mereka. Wajah tua laki-laki itu terlihat jelas memerah, karena besarnya emosi yang melanda jiwa. Sedangkan orang yang menjadi sebab emosinya dengan santai mendudukan diri di sebrang tanpa beban, bahkan meninggalkan kesan yang arogant.


“Tuan, apa benar anda meninggalkan Nona Salsha karena saat itu anda selingkuh dan Nona Salsha keguguran?” Pertanya dari salah satu wartawan itu membuat gemuruh.


Tuan Dawal menatap sinis Farel, dengan cepat menjawab, meskipun pertanyaan itu bukan untuknya, tapi laki-laki tua itu tidak ingin manusia satu itu berkilah.


“Semua itu benar, saya sebagai orang tua Salsha merasa sangat kecewa. Menantu yang saya harapkan untuk memberi kebahagian malah menorehkan luka yang begitu dalam.”


Farel menatap sinis Tuan Dawal, sedangkan Maria hanya memberikan tatapan datar. Ricuh para wartawan itu membuat suasana saat itu benar-benar kacau.



Dalam hati Farel sudah memutuskan, jika laki-laki tua itu berbicara sedikit saja tentang sebuah kebohongan, maka akan ia buka seluruh aib anaknya, tanpa terkecuali.


“Saya sudah mempunyai niat menceraikan Salsha sebelum kejadian keguguran itu, meskipun awalnya saya ragu, tapi setelah melihat Salsha keguguran, saya tambah yakin dengan keputusan itu.” Farel menatap tegas semua orang, terlebih laki-laki tua yang terlihat semakin terpancing emosinya.


Tuan Dawal yang mendengarkan perkataan itu langsung dari bibir Farel merasa sangat geram. Tangan tuanya terlihat terkepal, memperlihatkan otot-otot tuanya yang masih menonjol meskipun sudah dimakan usia.


“Kau....” Tuan Dawal mendesis tajam.


Para wartawan mulai menatap naylang setelah mendengar jawaban tanpa beban dari Farel, menurut mereka Farel termasuk sosok laki-laki yang tidak bisa bersyukur, bahkan tidak memiliki empati.


“Siapa yang akan bertahan dengan wanita yang sudah menghabiskan setiap malamnya dengan laki-laki lain?” Farel melanjutkan perkataannya dengan nada datar tapi terkesan tajam.


Mereka yang awlanya mencemooh Farel terlihat bingung. Apa maksud ucapan laki-laki bernetra coklat itu? sedangkan Tuan Dawal mengernyitkan alis, merasa bingung dengan maksud perkataan Farel.


“Apa maksudmu?” Tuan Dawal berkata dengan nada tajam, sedangkan Istrinya hanya menatap Farel dengan raut terkejut.


“Kalian tahu, bahkan mantan Istri saya itu sudah menjalin hubungan dengan laki-laki lain, dan mengandung anak dari laki-laki itu.” Farel mengode Ricard untuk memberikan beberapa bukti perselingkuhan Salsha, bahkan di sana juga tertera tanggal, bulan dan tahun. Semua yang melihat bukti itu semakin dibuat heboh, sedangkan Tuan Dawal yang melihat sesauatu yang tidak pernah ia pikirkan menutup mulut tidak percaya.


“Kau memanipulasi semua ini?” Tuan Dawal bertanya dengan raut wajah yang tidak bisa dimengerti. Percampuran anatar Shock, marah, kecewa, dan tidak percaya.

__ADS_1


Farel mengangkat sebelah alisnya, menatap remeh mantan mertuanya itu. “Kenapa saya harus memanipulasi? Saya tidak seperti putri anda, yang melakukan berbagai cara untuk menutupi kesalahannya.” Farel bengkit meninggalkan ruangan itu. Tujuannya kali ini mendatangi keluarga Lawson, yang tak lain kedua orang tuanya. Akan ia buat mereka semua meminta maaf, terlebih sudah berani mengusik kehidupan sang Istri.


Maria membiarkan Farel bersama Asistennya pergi meninggalkan ruangan itu. Beberapa wartawan terlihat saling mengerubungi laki-laki itu untuk mempertanyakan bukti-bukti yang sudah terlihat jelas kebenaranannya.



Wanita tua itu menatap Tuan Dawal dengan datar. Sungguh ia menyayangkan tindakan pria itu yang dinilai sagat gegabah. Percaya langsung tanpa meminta bukti? Itu namanya bodoh!


“Mari kita bicara Tuan.” Maria menatap lurus Tuan Dawal dan Istrinya yang terlihat sangat terkejut itu.


***


Salsha merenung, menatap jendela dengan tangan yang setia mengelus perut datarnya. Tatapan itu terlihat kosong. Besarnya cinta yang dimiliki membuat wanita itu hancur karena cintanya balik menyerang.



Kehilangan orang-orang yang di sayang satu persatu menjadi tamparan keras bagi wanita itu. Bahkan dengan bodohnya menghilangkan mahkluk suci yang ada di dirinya sendiri. Makhluk yang ia ciptakan karena nafsu dan dosa, namun makhluk itu tidak tahu menahu tentang itu.


“A..ana...anakku..” Salsha tergagap dengan wajah yang penuh air mata. Tangannya mengelus lembut perut datarnya, elusan yang diberikan seakan-akan ia tidak ingin menyakiti makhluk yang ada di sana, meskipun di perutnya sudah tidak terisi makhluk itu lagi.


“Pembunuh.”


Salsha yang merasakan kata-kata tajam serta elusan di perutnya dengan pelan membuka mata. Di depannya berdiri sosok menjulang dengan wajah setengah yang ditutup masker, tapi ia tahu siapa sosok itu.


“Max....” Salsah memanggil dengan nada lirih.


Laki-laki itu yang tak lain Max mendongak, menatap datar sosok wanita yang terlihat sangat menyedihkan.



Salsha yang melihat Max menatapnya datar, bahkan tidak ada sorot hangat sama sekali di mata hitam itu membuat hatinya tersayat. Sosok yang selalu memberikan kehangatan kini berubah menjadi sosok yang dingin.


“Apa kau bahagia?” Max bertanya di tengah keheningan yang melanda.


Salsha tediam, tidak bisa menjawab pertanyaan mudah itu. Tapi matanya tidak bisa berhenti mengeluarkan air mata. Rasa kecewa pada dirinya sendiri yang terlalu berharap membuat ia hancur.

__ADS_1


“Apa kau bahagia setelah membunuh anakku?” Max bertanya dengan nada bergetar. Mata laki-laki itu terlihat memerah.


Sedangkan Salsha semakin tergugu. Tangis yang awalnya tidak mengeluarkan suara, kini terdengar jelas suara yang memilukan.


“Harusnya kau bahagia. Bukankah kau sudah membuat pengorbanan besar dalam hidupmu? Membunuh anakku hanya karena obsesimu.”


“Harusnya kau bersenang-senang setelah melenyapkan anakku yang kau anggap penghalang!”


“Harusnya kau bahagia, tertawa di sana, menggunakan gaun mewah dan bergandengan tangan dengan laki-laki yang kau anggap sempurna sebagai pendamping hidupmu!”


Salsha semakin menangis dengan keras. Ya, harusnya ia bahagia. Tapi kenapa ia malah mendapatkan rasa sakit luar biasa dari pengorbanan besar yang dilakukan. Apa ini yang dimaksud karma?


“Lihatlah, sosok yang kau anggap sempurna itu mebuangmu seperti sampah. Ah, kau memang sampah. Ternyata Farel lebih pintar daripada aku. Dia dengan cepat membuang dirimu yang tidak layak disebut sebagai manusia.”


Salsha semakin menangis, bahkan kepala wanita itu mulai berputar mengingat saat-saat ia kehilangan bayinya. Rasa sakit, bercampur dengan kecewa menghujam di dada.


“Kenapa kau menangis? Apa kau kecewa? Ha ha ha, inilah yang di sebut karma!” Max menatp tajam Salsha. Wajah laki-laki itu sudah terlihat jelas.


“Roy!” Max memanggil asistennya yang sedari tadi berdiri di ujung ruang, bahkan Salsha tidak menyadari kehadiarn sosok itu.


“Iya, Tuan.”


Salsha menatap sosok laki-laki yang terasa tidak asing lagi baginya, bahkan ia semakin bingung ketika melihat Max yang menyeringai.


“Alex...” Salsha menatap sosok laki-laki dengan kaos hitam dan topi putih itu degan terkejut.


“Selamat, kau sudah masuk perangkap kita!” Roy yang tak lain Alex menyeringai.


_________


Terimakasih sudah membaca,, jangan lupa kasih rating 5,vote, komen, like, dan Favorite,,,


Untuk double up belum bisa ya,, Author lagi gk enak badan terus juga kegiatan di dunia nyata lagi nguras tenaga dan waktu banget,,


Terimakasih dukungan kalian,, tanpa kalian cerita author bukanlah apa²

__ADS_1


__ADS_2