Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
121. Menyesal


__ADS_3

“Selamat, kau sudah masuk ke perangkap kita.” Roy, yang tak lain Alex menyeringai.



Salsha semakin menatap mereka berdua ketakutan. Dua laki-laki dengan postur tubuh yang terlihat tidak biasa sedang menatapnya rendah. Bahkan ada tatapan remeh di mata kedua laki-laki itu.



Mendengar dia telah masuk perangkap membuat Salsha bingung, dan berpikir dengan keras.


“Apa maksud kalian?” Salsha bertanya dengan suara lemah. Sungguh tubuh wanita itu seperti tidak punya tenaga.


Tenaganya habis untuk menangisi nasib, dan kini kedatangan mereka berdua semakin menyedot habis sisa tenaga yang ia miliki.


“Kau terlalu bodoh, Salsha. Kau pikir, yang membuatmu melakukan hubungan int*im dengan para hewan itu Farel?” Max bertanya dengan wajah berbinar. Laki-laki itu persis seperti seorang psikopat yang berhasil menjebak musuhnya.


Roy memasang wajah sama seperti Tuannya, meskipun di dalam hati, ia merasa tidak tega dengan Salsha, tapi apa boleh buat. Ia hanya seoarang Asisten. Hidupnya sudah ia sumbangkan semuanya untuk keluarga Alexis. Apapun perintahnya, ia hanya memilki satu pilihan, yaitu menuruti.



Salsha yang mendengar tentang perkataan Max tercekat. Nafas wanita itu memburu. Ingatan tentang betapa berutalnya anj\*ng-anj\*ng yang menggeretnya, menjilat dengan air liur menjijikan membuat rasa takut mulai menjalar di seluruh tubuh.



Suara gonggongan, dan tarikan baju robek memenuhi kepalanya. Dengan wajah ketakutan, wanita itu bangkit, menutup kuping, dan membenamkan wajahnya di atas lutut.


“Tidak! jangan sentuh aku! Aku mohon! Maafkan aku, arghh.” Salsha meraung. Wanita itu terbawa dalam ilusi, ilusi yang membawanya di saat-saat malam kelam yang wanita itu habiskan dengan segerombol hewan menjijikan itu.


Teriakan dan pemberontakan yang dilakukannya, saat tubuhnya terpengaruh oleh obat perangsang semakin membuat tubuh aslinya saat ini begitu lemas. Ilusi itu seperti nyata, bukan hanya sekedar rasa trauma.



Max semakin menyeringai. Inilah yang laki-laki itu inginkan, melihat wanita yang dengan gilanya membunuh darah daging sendiri menjadi benar-benar gila. Sedangkan Roy yang melihat Salsha menutup mata tidak tega.

__ADS_1



Tidak ada yang bisa dilakukan laki-laki itu, ia hanya bisa diam, menatap lantai, atau menutup kuping dan telinga saat mendengar jeritan pilu dari wanita di depannya itu.


“Kau tahu, aku sengaja menyuruh Alex datang, seakan-akan ia menolongmu. Bahkan aku sengaja menyuruh Alex untuk membuatmu semakin benci dengan Farel. Dan boom, kau masuk perangkap. Kau membenci Farel dan Raisya, bahkan berusaha membuat nama mereka jelek di depan semua orang. Bodohnya, kau melupakan siapa Farel itu. Ha ha ha.” Max tertawa dengan keras.


“Tanpa harus mengotori tanganku, kalian sama-sama hancur. Farel hancur karenamu, dan kau hancur karena Farel. Bagaiamana, baguskan sekenario yang aku buat.” Lanjut Max dengan nada angkuh sarat akan dendam.


“Dan sekarang, kalian sama-sama saling menghancurkan. Dan aku puas melihat semua itu. Semua orang yang menjadi sebab kematian anakku, akan mendapatkan karmanya masing-masing.”


Alex terdiam, ia sudah tahu semuanya. Semua tanpa terkecuali. Mengenai syarat yang ia ajukan untuk Salsha, tak lain, agar Salsha mau memberitahu perselingkuhan Farel kepada keluarga Lawson, keluarga kandung Farel sendiri.



Max tahu jika hubungan mereka tidak baik. Keluarga Lawson yang mata duitan, akan melakukan apa saja agar mendapatkan harta banyak. Termasuk menyingkirkan anaknya dari kedudukan saat ini. Berita miring itu akan di manfaatkan dengan baik, dan pastinya ia juga akan ikut memanfaatkannya untuk membawa Raisya pergi jauh.




Mencoba melawan ilusi yang menyakitkan, Salsha mendongak, matanya menatap Max dengan sayu. Bukan rasa marah yang ia rasakan saat ini, tapi penyesalan. Ia menyesal telah membuat laki-laki baik menjadi seorang monster.


“Maafkan aku,” Salsha berucap dengan nada lirih.


Max terkejut, begitupula dengan Alex. Max tidak mengharapakan ucapan maaf dari Salsha, ia ingin wanita itu marah, dan merasa putus asa, bukanlah tatapan penuh sesal seperti itu. Ia memang ingin membuat wanita itu menyesal, tapi tidak sekarang. Masih terlalu dini membuat wanita itu sadar. Rencananaya belum selesai semuanya.



Alex merasa iba. Ternyata wanita jahat itu dengan cepat berubah. Namun, ia tidak bisa apa-apa. Ia hanya bisa diam, semua keputusan di tangan sang atasan.


“Kenapa kau inta maaf?” Max bertanya dengan datar.


“Aku salah, aku menyesal. Semua ini pantas aku dapatkan. Aku lebih buruk dari hewan. Maafkan aku, karena ku kau berubah menjadi orang jahat. Kembalilah ke jalanmu, aku yang pantas jahat di sini, bukan dirimu. Jangan kotori tanganmu hanya untuk dendam. Cukup, biar aku saja yang merasakan semua ini, biar aku menebus semua kesalahanku,” Salsha berucap dengan lemah, tapi setiap kalimat yang ia lontarkan mengandung sebuah ketegasan.

__ADS_1


Wanita itu benar-benar lelah. Ia sadar, semua ini bermula karena dirinya. Jadi, ia harus dengan lapang dada menerima ganjaran dari semua yang ia tanam. Ia merasa bersalah dengan Farel dan Raisya, terlebih Max, lak-laki tulus yang selalu menemani hari-harinya, dulu maupun sekarang.



Max terdiam, Salsha di depannya ini sama persis dengan Salsha sebelum bertemu dengan Farel. Salsha yang sudah lama hilang kini kembali, tapi apa ia masih bisa menerimanya. Kenapa ia harus kembali saat sudah seperti ini.


“kenapa?” Max bertanya dengan nada bergetar.


Demi apa pun, laki-laki itu juga hanya manusia yang terlalu mencintai. Cintanya membuat ia buta. Bahkan menutup mata dari segala dosa yang di lakukan agar tetap bersama dengan sang pujaan hati. Tapi takdir tidak pernah tinggal diam. Segala sesuatu yang diawali dengan keburukan tidak akan berakhir dengan baik. Ia terlalu kecewa dengan cintanya.



Alex yang melihat keadaan sang atasan dan wanita rapuh itu diam-diam undur diri. Ia masih memiliki tugas yang harus disegerakan.


“Kenapa kau baru bersikap seperti ini saat semuanya sudah terlambat?” Max berteriak dan menatap Salsha tajam.


Salsha diam matanya semkain memerah dengan pipi yang basah. Ia tidak tahu bagaiamana harus menjelaskan. Satu hal yang pasti, ia menyesl. Ia menyesal telah membuat semuanya seperti ini.



Andai dulu ia tetap bersama Max, tanpa menuruti obsesinya yang ingin menjadi nomer satu di mata orang, semua ini tidak akan terjadi. Mungkin sekarang ia sudah memiliki banyak anak. Ah, tapi apa gunanya semua ini jika hanya khayalan, nyatanya ia sudah menghancurkan hidup banyak orang.


“Maafkan aku.” Salsha menunduk, wanita itu tidak kuat menatap wajah terluka Max.


“KATAKAN, AKU TIDAK BUTUH MAAFMU, KENAPA KAU SEPERTI INI SEKARANG? KENAPA BARU SEKARANG!” Max menggoncang kedua bahu Salsha.


Salsha semakin menagis. “ AKU MENYESAL! ANDAI AKU TETAP MEMILIH CINTAKU DAN MENINGGALKAN OBESIKU, AKU YAKIN SEMUA TIDAK AKAN SEPERTI INI! AKU MENYESAL TELAH MENGHANCURKAN HIDUP BANYAK ORANG! AKU MENYESAL TIDAK MEMILIHMU! AKU MENYESAL TELAH MENGHILANGKAN BAYIKU! DAN AKU MENYESAL TELAH LAHIR HANYA UNTUK MEMBERIKAN RASA SAKIT UNTUK ORANG DI SEKITARKU!” Salsha berteriak, matanya memerah menatap Max dengan pandangan penuh luka.



Max terdiam, tubuhnya kaku. Tidak memilih cinta? Bukankah, dia mencintai Farel?


“Apa maksudmu?” Max bertanya dengan nada bergetar, sedangkan Salsha masih menangis dengan tergugu.

__ADS_1


__ADS_2