
Beberapa warga di gegerkan dengan berita tentang bisnis penjualan anak-anak di bawah umur dengan bekedok panti asuhan. Beberapa keluarga yang pernah mengalami kehilangan anak, bahkan belum ditemukan hingga saat ini merasa bahagia dan sedih.
Bahagia karena sang anak masih terselamatakan, dan sedih, karena sebagian anak-anak sudah di kirim ke tempat yang jauh dari deteksi polisi. Meskipun polisis menemukan tempatnya, mereka tidak bisa apa-apa.
Anak kecil yang sudah terkirim mereka mengalami hal buruk di antara paling buruk. Pencucian otak, serta menjadi budak se\*, dan juga di bunuh secara cuma-cuma untuk penjualan organ dalam.
Sembilan puluh tujuh anak di temukan dalam keadaan linglung, dan tiga sisanya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.
Beberap hujatan mereka lontarkan untuk pemilik bisnis ilegal itu, yang baru mereka ketahui Istri dari seorang pembisnis terkenal. Jasmin, atau bisa kita panggil Nyonya Lawson.
Beberapa wartawan terlihat saling berebut untuk mengorek kabar tentang keadaan sang pelaku. Tak jarang mereka menambahi beberapa berita untuk memanaskan para pembaca.
Jasmin yang menjadi cacian para warga merasa terpojok, terlebih sikap kasar yang diberikan Lawson, Karena mengetahui jika perusahaannya yang menjadi penanggung jawab bisnis ilegal itu.
“Aku akan membalsamu Farel.” Jasmin bergumam dengan penuh tekat. Di tempat yang gelap serta berdebu, wanita tua itu melakukan beberap hal tanpa sepengetahuan penjaga.
***
Farel menyeringai, mata coklatnya menatap kabar di layar besar tipis yang menggantung di dinding.
“Bagaimana semuanya?” Farel bertanya dengan mata yang masih menatap layar itu.
Ricard dengan segera bergerak, tangannya membawa setumpuk dokumen yang di dalamnya berisi beberapa berkas penting.
“Sesuai dengan permintaan Tuan. perusahaan Lawson akan segera gulung tikar akibat wanita itu.” Ricard menyerahkan Map berwarna hijau.
Farel dengan senang hati menerima Map itu, membacanya dengan senyum yang tak pernah luntur.
“Bagus! Lakukan tugasmu selanjutnya.”
__ADS_1
“Baik Tuan.” Ricard membungkukkan tubuh, kemudian pamit undur diri untuk menyelesaikan beberapa hal yang emang sudah di rancang dengan baik oleh Farel.
Farel mengetuk meja di depannya dengan tempo lambat. Mata coklatnya menerawang, seringai yang menghiasi bibirnya perlahan pudar, berganti dengan tatapan sendu.
Jangan berpikir ia merasa sedih akan kehancuran keluarganya itu, tapi ia merasa sedih akibat berjauhan dengan sang Istri dalam keadaan mengandung.
“Bagaiaman kabarmu sayang?” Farel bertanya dengan mata berkaca-kaca.
Jika boleh jujur, akhir-akhir ini, laki-laki itu merasa sedikit sentimental. Ia pasti akan merasa kesal jika ada sesuatu yang tidak sesaui dengan keinginannya, dan ia juga sering menginginkan hal yang aneh-aneh.
“Ck, kenapa aku ingin melihat tua bangka itu memakai rok warna pink.” Farel berdecak kesal.
Bayangan Tuan Lawson yang menari dengan mengenakan rok berwarna pink sebatas paha berputar di otaknya.
Kinginan yang luar biasa menjengkelkan, tapi laki-laki itu tidak kuasa untuk menolak. Dengan menggigit ujung kuku, laki-laki itu berusaha mengenyahkan keinginannya itu.
“Nak, kenapa kau ingin hal yang di luar kuasa Papa.” Farel mengusap wajah frustasi
Sepertinya keinginan itu tidak bisa ditunda lagi. Bayangan itu semakin kuat membuat laki-laki itu merasa gelisah, karena tidak segera menuruti keinginannya.
Max menatap lurus pintu berwaran putih itu. Bau obat-obatan menyeruak di dalam indra penciumannya.
Mata hitamnya terlihat berkaca-kaca namun, rasa sombong lebih membuatnya memilih untuk tetap diam dari pada menunjukan perasaan yang terpendam.
Roy yang paham betul apa yang dirasakan Tuannya itu hanya diam, merasa bingung harus bagaiamana. Tapi satu hal yang pasti, Asisten itu tidak ingin, Max mengalami penyesalan.
“Tuan .....”
Max mengerjap, matanya menatap Roy yang terlihat menunduk ketakutan. “Hmmm.”
“Ada baiknya, anda menemui Nona Salsha.”
Ucapan dengan nada lirih, namun jelas itu memasuki indra pendengaran Max. Max dengan rahang mengeras menatap tajam Roy.
__ADS_1
“Untuk apa aku menemui wanita itu?”
“Tuan, apa anda tidak akan menyesal?” Roy mendongak sebentar, kemudian menunduk lagi.
“Apa yang harus ku sesali?” Max bertanya dengan nada hampa. Matanya menatap kosong pintu putih itu. emosinya seketika surut saat mendengar pertanyaan tentang penyesalan.
“Maafkan saya Tuan. Bukan saya lancang, tapi semua manusia memiliki kesalahan, dan dia juga memiliki satu kesempatan. Keadaan Nona Salsha jauh dari kata baik sekarang. Luka rahim akibat keguguran itu membuat daya tahan tubuh Nona semakin turun, ditambah depresi dan rasa trauma akibat ulah anda semakin memperparah keadaan Nona. Jika anda tidak bisa memaafkan Nona, ada baiknya anda memberikan kesempatan untuk Nona membuktikan penyesalannya. Mungkin dengan begitu, keadannya akan membaik.” Roy memberi saran.
Max tetap diam. Laki-laki itu juga bingung bagiamana perasaanya saat ini. Apa ia sedih? Atau bahagia? Wanita yang membunuh darah dagingnya itu sedang berjuang melawan kematian.
“Roy__”
“Dokter! Selamatkan anak saya. Saya mohon, dia anak satu-satunya yang saya miliki.”
Ucapan dengan nada penuh keputus asaan itu membuat perkataan Max terhenti. Mata Max menatap laki-laki paruh baya, yang tak lain ayah Salsha dengan pandangan rumit. Dengan tubuh yang sedikit bergetar, ia melangkah.
“Maafkan saya Tuan. tapi Nona memang sudah tidak bisa tertolong. Luka rahimnya terlalu parah, dan deprsei kuat yang Nona alami membuat keadaan tidak bisa saya kontrol lagi. Untuk saat ini, kita hanya bisa berdoa, semoga Tuhan masih memberikan kesempatan untuk Nona.” Dokter itu berucap dengan pelan, wajahnya terlihat lelah bercampur pasrah.
Deg!
Jantung max terasa berhenti, kabar itu membuat rasa takut yang sama persis saat ia mengetahui sang anak yang telah tiada muncul. Dengan tergesa-gesa laki-laki itu berjalan ke arah sang dokter, kemudian menarik kerah putih itu kuat.
“Apa yang kau katakan? Bukannya kau dokter? Tugasmu untuk menyembuhkan pasien! Sembuhkan Salsha, apa pun yang terjadi, atau nyawamu yang akan menjadi gantinya.” Max menatap tajam sang dokter.
Laki-laki itu mengabaikan raut kesakitan sang dokter. Mendengar penjelasan tentang kesehaan Salsha membuat laki-laki itu hilang akal, bahkan melupakan kebenciannya.
“Maafkan saya Tuan, bisa anda lepaskan dulu,” Tutur dokter itu berusaha melepaskan diri dari jerat Max.
Max mendengus kuat, kemudian melepaskan cengkramannya dengan kasar, membuat sang dokterter batuk kuat dengan wajah memerah.
“Maafkan saya Tuan, tapi kondisi Nona Salsha memang sudah di luar kontrol saya. Bahkan saat ini sebagian organ tubuhnya sudah tidak berfungsi, hanya jantung yang berdetak dengan nafas lirih sebagai tanda jika sampai sekarang Nona masih hidup.”
“Kenapa bisa seperti itu? Kau jangan membohongiku. Aku baru saja melihatnya kemaren, meskipun keadaannya jauh dari kata baik, tapi aku yakin semua tubuhnya masih terlihat normal,” sahut Max penuh emosi.
“Maafkan saya Tuan. Tapi Nona salsha di bawa kemari dalam keadaan tidak sadarkan diri, dan tubuh penuh luka.”
“Apa maksudmu?” Max bertanya dengan mata menyorot tajam.
_____
Maaf banget hari ini up nya kemaleman,, Author Lagi ngurisin acara sunatan di rumah kk, jadi Author baru bisa nulis setelah tamu² pulang,,
__ADS_1
Terimakasih buat kalian semua yang sudah setia menemani Author sampai sekarang,, Maaf ya kalo di part ini kurang bagus atau apa gitu,, soalnya Author nulis ini kebut banget 😭😭😭