
Farel menatap Mansion yang tak kalah mewah dari miliknya itu datar. Mansion yang pernah menjad tempat tinggalnya dulu. tempat yang menjadi saksi rasa sakit yang selalu ia terima. Tapi, Mansion itu juga ada kenangan manis bersama almarhum sang adik.
“Tuan,” Ricard memanggil dengan nada formal, seakan mengingatkan agar Tuannya itu tidak mengingat masa-masa buruknya dulu.
“Ekhm, ayo kita masuk.”
“Baik Tuan. Ricard segera berjalan terlebih dahulu untuk mengkonfirmasi beberapa penjaga yang terlihat berjajar di depan gerabang.
Farel hanya melihat intraksi asisetnnya dengan datar. Terlihat beberap kali Asistennya itu cekcok. Namun, beberapa menit kemudian, gerbang besar itu terbuka.
Terlihat Ricard memasuki mobil lagi, mengendarainya untuk memasuki Mansion yang terlihat sangat mewah. Setiap jalan yang Farel lewati, kenangan buruk menari di otaknya.
Di taman ujung sana, ia pernah hampir mati akibat kedinginan. Di sudut yang terdapat jendela besar, ia sering mengintp kedalam, sekedar untuk melihat mereka makan dengan lahap. Di kolam besar itu juga, ia hampir meregang nyawa akibat dorongan para pelayan akibat ia yang tidak sengaja menjulurkan kaki ke dalam sana. Ingatan-ingatan itu muncul, seakan mencekik lehernya sampai kesulitan bernafas.
“Mari Tuan.”
Farel terdiam, melihat pintu mobil yang sudah terbuka dengan Ricard yang membungkuk, membuat dorongan besar untuk menghancurkan Mansion besar beserta manusia biada\* yang berada di sana mencuat.
“Hmm.”
Ceklek!
“Silahkan Masuk Tuan. Nyonya sudah menunggu anda di ruang keluarga.”
Farel terdiam. Matanya menatap pelayan tua yang masih ia ingat. pelayan itu, hanya pelayan itu yang dulu sempat berbaik hati menolongnya, meskipun cuma sekali.
Laki-laki itu memantapkan langkah kakinya, mengabaikan beberapa pelayan yang terlihat menatapnya dengan tatapan mencemooh, tak kurang juga tatapan memuja.
Melihat sikap mereka yang tidak tahu umur, membuat ia semakin muak. Laki-laki itu ingin sekali menghabisi semuanya sekarang juga.
“Oh, cucuku. Selamat datang.”
Suara laki-laki tua yang masih terlihat tegas itu menjadi sambutan utama saat kaki Farel memasuki ruangan yang di sebut ruang keluarga itu. Matnya menyorot tajam, terlebih melihat beberapa jajaran penjaga yang berdiri di setiap sudut ruang. Ia rasa, ini bukan ruang keluarga, melainkan penjara.
__ADS_1
“Hmm.” Farel dengan acuh mendudukan tubuhnya di sebrang laki-laki tua itu. Mengabaiakan fakta jika ia belum menjawab sambutan, bahkan tanpa dipersilahkan untuk duduk.
Laki-laki tua itu terlihat menatap Farel kesal tapi sekuat tenaga berusa terlihat ramah. Ia tidak ingin rencananya hancur.
“Oh, kau terlihat lebih sehat, dan yang pasti lebih berkelas.” Sindirnya dengan mata yang menilai Farel dari ujung kaki sanpai kepala.
Farel yang melihat tatapan itu menyeringai. Ingatan tentang pakaian yang tidak layak dulu membuat ia semakin tidak sabar membalaskan dendam.
“Oh, pasti. Seorang pewaris tunggal Wiratman harus memiliki standar tinggi,” Farel menjawab dengan angkuh.
Laki-laki tua itu terkekeh. Beberapa saat kemudian, terlihat wanita yang seumuran dengan ibunya itu masuk dengan pakaian yang terlihat sangat kurang bahan. Wanita itu dengan genintnya mengedipkan mata kemudian duduk di pangkuan laki-laki tua, yang tak lain Kakek kandung Farel.
Farel yang melihat adegan tidak pantas di depannya itu membuang muka. Sungguh, dari dulu sampai sekarang, ia paling jijik dengan wanita itu. wanita itu lebih cocock menjadi \*\*\*\*\*\* dari pada Nyonya Lawson.
“Sayang, apa ini Farel, Cucu kita?” Tanya wanita itu dengan nada yang dibuat seserak mungkin. Suaranya persis seperti wanita yang tengah dilanda gairah.
Farel yang melihat tatapan tidak senonoh itu segera membuang muka. Ia enggan untuk bersitatap dengan wanita kurang belaian itu. Setiap mengingatnya, membuat ia merasa mual. Wanita itu sebenarnya pedofil.
“Hmm, dia Farel, cucu kita. Lihatlah sekarang, Farel kecil itu sudah besar.” Laki-laki tua itu menatap Farel dengan seringai lebar.
“Lagsung saja, Tuan Lawson, saya tidak ingin basa basi,” Farel berucap dengan nada santai, bahkan terkesan tidak minat.
Malihat tingkah Farel, membuat dua pasangan itu menatap dengan tatapan berbeda.
“Oh, baiklah. Sayang, bisa kau pindah sebentar.” Laki-laki tua itu menunjuk sofa di sampingnya, berharap sang istri segera pindah.
“Hmm, baiklah.”
“Hentikan semuanya.” Farel menatap serius. Seakan ucapan singkatnya itu bernada ancaman yang tidak bisa di abaiakan.
“Ha ha ha ha. Apa maksudmu? Hentikan? Apa yang harus aku hentikan.” Laki-laki tua itu menatap Farel remeh, sedangkan sang wanita hanya bergelayut manja di lengan tua itu.
“Jangan pura-pura bodoh. Aku tau semunya. Jika kalian masih ingin tenang, maka hentikan sekarang juga, Dan satu lagi, kembalikan Suami Tamara Lawson.” Farel meletakkan kedua tangannya di depan dada, tak lupa kakinya yang menyilang, menambah kesan yang luar biasa bagi siapa pun yang menatap. Begitu pula wanita tua itu, yang terlihat tergoda.
“Ha ha ha, bahkan kau menyebut Ibu kandungmu sendiri dengan Tamara Lawson, lantas kenapa kau ingin aku mengembalikan suaminya, yang merupakan ayah kandungmu itu.” Serinai jahat terlihat jelas di wajah tuanya.
Farel mendengus, melihat wajah kurang ajar itu, membuat ia semakin mual. Yang satu menatapnya remeh, dan yang satu menatapnya dengan tatapan penuh nafsu.
__ADS_1
“Jangan pernah bermain-main dengan seorang Wiratman!” Farel mendesis tajam, tapi desisan itu hanya di balas tawa keras oleh lawannya.
“Ha ha ha ha, ingat! kau bukan seorang Wiratman, tapi kau seorang Lawson. Seharusnya kau lebih memilih keluarga dari ayahmu i__”
“Aku tidak memiliki darah Lawson. Darahku murni Wiratman. Dan aku ingatkan sekali lagi, seorang Wiratman tidak akan pernah memberikan kesempatan kedua.”
“Oh, ya. Jika akau menuruti perintahmu, apa yang akan ku dapat.” Laki-laki tua itu menatap Farel dengan tatapan penuh binar. Namun, siapa pun tahu, binar itu hanyalah topeng untuk menutupi wajah mengejeknya.
“Pertanyaan yang salah! Seharaunya kau tanya, jika kalian tidak mengikuti perintahku, apa konsekuensinya?” Farel menyeringai.
Laki-laki tua yang tak lain Tuan Lawson itu menggeram marah. Ia merasa dipermainkan oleh bocah ingusan.
“Kau_”
“Bacalah!” Farel melemparkan map berwarna hitam.
Tuan Lawson dengan cepat mengambil Map itu, sang istri juga terlihat mengintip untuk melihat isinya.
Seperkian detik hanya terdengar keheningan di sana, hingga suara benda jatuh membuat seluruh mata tertuju pada satu titik.
Prang!
“S*alan, apa maksudmu?” Laki-laki tua itu menatap tidak terima Farel, bahkan ia sudah berdiri dengan nafas yang terlihat tidak beraturan.
“Sudah aku bilang, siapa pun yang ingin membuat keluarga Wiratman hancur, maka ia yang akan hancur duluan. Oh satu lagi, Ricard berikan itu pada wanita sampah di sana.” Farel menunjuk Istri Tuan Lawson dengan jijik.
Ricard dengan cepat mengambil map yang sudah jauh-jauh hari mereka siapkan. mengabaikan tatapan tidak terima dari pasangan paruh baya itu.
Wanita tua itu menatap sinis Ricard, dengan kasar tangan tuanya merampas map itu, kemudian membacanya.
Bruk!
Tubuh wanita tua itu terjatuh, tepat saat melihat lembar pertama. Mata tuanya terlihat bergetar ketakutan.
“Kau__”
“Bagaimana? Apakah itu masih kurang?” Farel bertanya dengan seringai lebar.
__ADS_1