
Farel menatap Max yang terlihat tegang di depannya dengan datar. Laki-laki bermata hitam itu terlihat sangat gelisah sedari awal menginjakkan kaki di Mansion besar milik Farel.
“Kau hanya ingin diam seperti itu, tanpa mengatakan tujuanmu ke sini?” Farel berucap dengan nada datar namun, penuh dengan sindirian.
Max mendongak, helaan nafas panjang telihat dari laki-laki itu, bahkan tangannya juga terlihat mengepal.
“Temuilah Salsha.”
Deg!
Farel yang mendengar ucapan itu mengangkat sebelah alisnya. Ingatana tentang Salsha yang membuat ia harus berjauhan dengan sang Istri membuat perasaanya panas oleh api amarah.
“Ya, aku akan menemui wanita ular itu untuk memberikan pelajaran.” Farel menjawab dengan penuh penekanan.
Max mendongak, terlihat wajah laki-laki itu mengetat, bahkan memerah. “Apa yang ingin kau balaskan?”
“Semuanya, dia telah membuat aku berpisah dengan Istriku, oh, jangan lupakan kau juga. Kau juga ikut dalam rencana ini kan, kau juga menginginkan aku berpisah dengan Istriku.” Farel menatap Max dengan penuh murak.
Max terlihat membuang muka, entah apa yang dipikirkan laki-laki itu sekarang. Apa, ia menyesal?
“Maafkan aku, aku hanya merasa, Raisya terlalu suci untuk bersanding dengan manusia sepertimu.” Max berucap dengan nada datar, bahkan wajah laki-laki itu terlihat sama sekali tidak berdosa saat mengatakan kata-kata kasar itu.
Farel yan mendengarnya dengan cepat bangkit, kemudian meraih keah baju Max, membuat beberapa pengawal ikut merasakan ketegangan.
“Apa maksudmu?” Farel bertanya dengan nada tajam.
“Aku hanya berbicara jujur. Kau tahu, kita bertiga, aku, Salsha, dan kau, hanya sekumpulan orang yang ditutupi nafsu. Aku tahu, kau memaksa Raisya agar terikat denganmu, bahkan aku tahu ancaman yang kau berikan agar Raisya mau menikahimu.” Max menatap Farel tenang.
Bug!
Max terjatuh. Satu bogeman mendarat mulus di wajah tampannya, membuat tubuhnya terpelanting ke samping, karena kerasnya pukulan yang diberikan Max.
“Katakan sekali lagi? Memang aku akui, aku bukan manusai suci, setidaknya aku mencintai wanitaku dengan tulus.” Farel berucap dengan nafas terengah.
Ricard yang berada di pojok ruang memasang wajah bingung, sedagkan Max semakin terkekeh.
__ADS_1
“Tulus? Kalau kau tulus dengan raisya, seharusnya kau melepaskannya, biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri. Jangan ikat wanita itu dengan segala ancaman dan keegoisanmu.” Max mendongak, menatap dengan wajah merahnya, bahkan laki-laki itu terlihat tidak ada keinginan untuk bangun dari jatuhnya itu.
“Kau_”
“Sudah, kita tak perlu membahas hal itu lagi, aku datang ke sini dengan tujuan lain. Tolong, pergi temui Salsha.” Max menatap Farel dengan sendu.
Farel mendengus, laki-laki itu terlihat membuang muka, dengan tangan yang berkacak pinggang.
“Untuk apa aku menemui wanita itu. Aku sudah muak, biarkan wanita itu membusuk di neraka.”
Max dengan cepat bangkit, laki-laki itu dengan kasar meraih kerah Farel, menatap wajah laki-laki tampan itu dengan rahang mengeras.
“Jaga ucapanmu.” Max mendesis tajam.
Farel ikut mentap tajam Max. Dua laki-laki itu persis seperti dua pejantan yang sibuk memperebutkan betina. Beberapa pengawal yang melihat atasannya di perlakukan kasar oleh Max dengan cepat bergerak, menarik tubuh laki-laki itu degan kasar.
“Lepaskan aku.” Max memberontak, matanya menyorot tajam dua pengawal yang sudah menariknya untuk menjauh dari Farel.
Sedangkan Farel hanya melihat semua itu dengan tatapan datar. Ia muak dengan sesuatu yang berhubungan dengan Salsah, biarlah wanita itu menangung semua akibat yang telah ia perbuat, apa pun itu.
Farel yang hendak membalikkan tubuh terhenti, laki-laki itu terlihat diam, seakan berpikir dengan keras.
“Apa maksudmu?”
“Salsha dalam keadaan tidak baik-baik saja. Dia sedang diambang kematian, aku mohon, datanglah, mungkin dengan kedatanganmu, dia akan kembali seperti sedia kala.”
“Apa yang harus aku lakukan. Jika dia sakit, yang dibutuhkan Dokter bukan aku. Dan kau harus ingat, aku sudah memiliki Istri, aku harus menjaga perasaanya.”
“Kau egois! Keu menyalahkan semuanya pada Salsha, padahal semua juga terjadi karena kesalahanmu.” Max berterik kencang, bahka pengawal yang memegang kedua lengannya terhempas begitu saja. Laki-laki itu terlihat sangat marah.
Farel mengangkat sebelah alisnya, merasa ikut terpancing dengan apa yang diucapkan Max.
“Aku? Egois?” Farel menunjuk dadanya sendiri. Laki-laki itu berjalan dengan perlahan, setiap langkah yang ia lalui mengeluarkan aura yang tidak biasa.
Max tetap diam, laki-laki itu memasnag wajah seakan-akan apa yang dia ucapkan semua benar.
__ADS_1
“Bagian mana aku egois? Jelaskan?” Farel mendesis taja tepat di depan wjah Max.
“Aku tahu, Salsha berselingkuh karena ia tidak pernah mendapatka haknya sebagai seorang Istri.” Max mentap Farel nyalang.
“Apa semua itu bisa menjadi alasannya untuk berselingkuh? Bukankah sedari awal dia sudah tahu semuanya, seharusnya jika ia tidak sanggup, maka perpisahan lebih baik untuk kita.” Farel mendesis tajam. Laki-laki itu tidak akan pernah terima jika di salahkan, dan ia harus menerima dengan lapang mengenai perselingkuhan yang dilakukan mantan Istribya dulu.
Max terdiam, dalam hati, laki-laki itu juga ikut membenarkan apa yang dikatakan Farel. Jangan jadikan kekurangan pasangan kita untuk mencari kebahagian diluar sana.
“Kenapa kau diam? Mana suaramu tadi? Bukankah kau berbicara seakan kau orang yang palig suci dan benar?” Farel menatap Max dnegan rahang mengeras.
Laki-laki itu berjalan dnegan pelan, mengitari tubuh Max yang terlihat menegang itu.
“Bukannya di sini yang egos itu kalian berdua.” Farel berhenti tepat di samping Max, membuat laki-laki itu memutar tubuhnya untuk menatap wajah Farel
“Apa maksudmu?”
“Kau beusaha memisahakan aku dengan Raisya, karena kau merasa aku ikut andil atas kematian anakmu itu. Sedangkan Salsha membuat drama murahan, seakan aku adalah laki-kaki breng*ek, yang meninggalkan Mantan Istrinya saat terpuruk.” Farel menatap Max remeh, tapi jika ditelisik lebih dalam, wajah tampan itu menunjukan rasa jijik.
“Aku ...” Max terdiam. Laki-laki itu terlihat kesulitan mencari alasan dibalik semua peristiwa yang menimpanya.
“Kenapa? Kau bingung bagaiamana harus memeberika alasan atas perilaku yang kau perbuat itu. berencana menghancurkan keluargaku, membuat Nenekku membenciku, dan memeisahkan diriku dan Istriku.” Farel terkekeh sinis.
“Perlu kau tahu, keluarga Wiratman bukan keluarga biasa. Mengatasi Mafia sepertimu bukanlah perkara besar, kau bagaiakan serangga jika di bandingkan dengan kita.”
Max terlihat menegang. “Bagaiamana kau tahu aku seorang Mafia?”
“Sudah aku katakan, tidak ada yang tidak diketahui keluarga Wiratman.” Farel terkekeh sinis.
“Aku tidak akan pernah menemui Salsha. Satu lagi, jangan berani-beraninya kau mengusik keluargaku, atau kau akan tahu akibatnya nanti.” Farel menatap Max dengan penuh ancaman.
Tepat seteelah mengatakan itu Farel beranjak pergi, matanya melirik Ricard untuk memberikan berkas yang suadh ia siapakan jauh-jauh hari untuk Max.
“Apa ini?”
“Anda baca saja Tuan.” Ricard menyerahkan berkas itu dengan wajah datarnya, kemudian meninggalkan Max dengan wajah bingung.
__ADS_1
Max dengan cepat membuka berkas itu, detik selanjutnya wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Laki-laki itu tidak menyangka, Farel mengetahui semuanya. Semua yang seharusnya tidak diketahui siapa pun.