Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
103. Penghinaan


__ADS_3

Risya menghembuskan nafas panjang, perjalan panjang yang mereka tempuh sungguh menguras tenaganya. Sedangkan Farel sedikit meregangkan ototnya yang kaku. Meskipun mereka menggunakan jet pribadi tidak bisa menghilangkan rasa pegal di tubuh.


“Apa kau baik-baik saja?” Farel bertanya pelan melihat Raisya yang terlihat sangat kelelahan.


“Tidak, aku tidak apa-apa, hanya sekedar kelelahan.” Raisya tersenyum lembut untuk menenagkan Farel.


“Sini, mendekatlah.” Farel merentangkan tangannya.


Raisya mengernyit, tapi tetap menuruti perintah Farel. “Baiklah, ehh apa yang kau lakukan?” Raisya terkejut karena tindakan Farel yang tiba-tiba.


Sedangkan Farel hanya terdiam, enggan menanggapi pertanyaan yang selalu sama saat ia menggendong Raisya. Kaki kekarnya melangkah dengan tegas, membuat para pengawalnya menunduk hormat.


“Aku tahu kau kelelahan. Diam saja, tidurlah.” Farel menatap lembut Raisya, dan memberikan kode agar wanitanya itu menuruti perintahnya itu.


Raisya memutar mata malas, tapi tetap menuruti perintah Farel untuk menutup mati. Rasa letih dan tubuhnya yang belum benar-benar stabil membuat wanita itu dengan cepat terlelap. Wanita itu semakin menduselkan kepalnya di dada bidang Farel, membuat laki-laki itu terkekeh gemash.


“Manisnya Istriku.” Farel bergumam lirih, menatap wajah Raisya yang terlelap dengan senyum tipis di wajahnya.


Para pgawal yang sudah ditugaskan untuk menjaga keamanan saling lirik, melihat atasan kejam mereka bisa berperilaku manis seperti itu membuat mereka ngeri.


“Apa itu benar-benar Tuan Farel?”


“Iya, aku juga tidak menyangka, Tuan Farel bisa berperilaku seperti itu.”


“Hay, diamlah, jangan sampai Tuan Farel mendengar.”


Mereka dengan cepat menutup mulut rapat, dan menelan ludah gugup. Meskipun Farel sudah terlihat jauh, tapi mereka tahu seberapa sensitifnya indra pendengaran atasannya itu. lebih baik cari aman dengan menutup mulut rapat.


****


“Bagaiamana?” Max bertanya dengan menimbang jam pasir di meja.


“Sesuai dengan perintah Tuan. Semua berjalan dengan sempurna tanpa menimbulkan kecurigaan sama sekali.”


“Bagus, kau awasi terus wanita itu, dan satu lagi, jaga keamanan Raisya.”


Roy yang mendengar perintah atasannya itu mendongak, merasa bingung dengan perintah Tuanny itu.


“Maaf Tuan, kenapa kita harus menajaga keamanan Nona Raisya?” Roy bertanya dengan takut-takut.


“Apa perlu alasan untuk melindungi seseorang yang tidak bersalah?” Max menatap Roy datar. Laki-laki itu merasa tidak senang dengan pertanyaan itu.


Roy menelan ludah gugup. Memang betul, kita tidak perlu alasan untuk menolong seseorang, tapi masalahnya, Max yang berkata seperti itu setelah melakukan aksi kejam.

__ADS_1


“Maaf Tuan, bukannya Nona Raisya anda jadikan umpan?”


Max terkekeh, matanya menatap sinis. “Aku jadikan Raisya umpan bukan korban. Kau tahu perbedaan umpan dan korban?”


Lagi-lagi Roy tidak paham dengan cara berpikir atasannya. Meskipun menjadi umpan, bukankah itu sama saja? Tapi ada baiknya ia menuruti seluruh perintah atasannya itu tanpa mempertanyakan hal-hal yang menurutnya janggal.


“Maafkan saya Tuan.” Roy membungkukkan tubuhnya.


Max mendengus. Ia paling tidak suka dengan seseorang yang mempertanyakan keputusannya.


“Hmm.”


Roy terdiam, kembali ke posisisnya semula, berdiri di pojok ruang, menunggu atasannya menyelesaikan tugas rahasiannya.


“Roy.”


Roy yang mendengar panggilan itu segera mendekat. “Iya, Tuan?”


“Kau siapkan semuanya, malam ini kita berangkat,” Max berucap dengan nada datar.


Roy mendongak, sekedar mencari keseriusan dari perintah atasannya itu. Namun, yang ia lihat hanya nada datar, serta tatapan serius.


“Baik Tuan.” Roy menunduk yang di tanggapi anggukan Max. Kemudian, laki-laki itu berjalan mundur untuk meninggalkan ruangan dan menyelesaiakn tugas yang diberikan atasannya itu.


“Aku akan melindungi kalian.” Max mengelus lembut foto Raisya.


****


“Apa tidurmu nyenyak?” Farel menatap Raisya yang mengerjapkan mata.


Raisya mendongak, menatap Farel dengan mata menyipit. Setelah adegan Farel yang menggendong dan memerintahkannya untuk tidur, ia benar-benar tidur seperti orang meninggal. Hampir sebelas jam ia terlelap.


“Hmm.” Raisya mengusap matanya lembut.


Farel terkekeh, laki-laki itu mendaratankan ciuman di kening bening itu. Raisya hanya terdiam, masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.


“Farel, sudah, aku mau ke kamar mandi.” Raisya mendorong tubuh Farel.


“Baiklah, silahkan ke kamar mandi Ratuku.” Fael membungkukkan tubuhnya, mempersilahkan Raisya bangkit untuk menyelesaikan rutinitas paginya.


Raisya tersenyum geli, tingkah Farel sungguh menghibur kegundahannya. Bertemu dengan keluarga Farel membuat ia dilanda kegugupan. Rasa takut akan penghinaan, atau pun tatapan merendahkan membuat tubuhnya lemas.


“Ayo, aku bantu kau mencuci wajahmu.” Raisya menarik tangan kekar Farel, membawa laki-laki itu memasuki kamar madi.

__ADS_1


Sedangkan Farel hanya tersenyum, melihat tangan kekarnya ditarik lembut membuat hatinya menghangat.


****


“Nyonya, Tuan muda berkunjung.”


Maria yang terfokus pada tanaman di depannya mengalihkan pandangan, menatap asisten mudanya itu dengan datar.


“Hmm, bagus, setidaknya cucuku tidak melupakan Neneknya ini.” Maria mengangkat dagunya sombong.


Wanita paruh baya tu melangkah dengan anggun, membiarkan tukang kebun menyelesaikan pekerjaanya tadi.


Raut wajah asisten muda itu terlihat cemas, seperti ada yang di sembunyikan. Dengan pasrah, asisten itu melangkahkan kaki pelan, bejalan di belakang Maria.


Lagkah kaki anggun itu tiba-tiba terhenti tepat saat memasuki ruang tamu. Netra hitam itu melotot, wajah keriput iu memerah, dan rahang tua itu juga ikut mengetat.


“Berani sekali kau datang kemari membawa jal*ngmu!” Maria berteriak dengan lantang.


Farel yang duduk dengan tangan mengelus lembut pundak Raisya terhenti. Teriakan dengan makna penuh makian itu membuat hatinya mencelos. Sedangkan Farel yang diteriaki Jal*ng mengangkat wajah ke atas, enggan menundukkan pandangan.


“Nenek, apa yang kau katakan?” Farel bangkit, mendekat ke arah Maria.


“Stop, jangan mendekat. Nenek tidak menyangka, kau benar-benr selingkuh!” Maria menghindar, memilih duduk dengan jarak cukup jauh dari cucu kesayangannya itu.


Nafas Raisya tercekat, inilah yang paling ia takutkan. Menjalin hubungan dengan pria yang statusnya belum jelas di mata keluarganya hanya akan mencoreng nama baik sang wanita.


Farel mencoba menahan amarahnya, mengingat kembali wanita paruh baya di depanya adalah orang yang melindunginya dulu.


“Nek, akan aku jelskan semuanya. Raisya ini Istriku.”


“Apa? Jadi kau menikah diam-diam di belakang Salsha?” Maria menatap tidak percaya Farel.


“Bukan Nek. Aku sudah bercerai dengan Salsha, jadi aku tidak menikah diam-diam, karena aku menikah setelah resmi bercerai dengan wanita itu.”


Maria terdim, mencerna ucapan dari Farel. Ingatan tentang informasi yang ia terima membuat kepalnya ingin pecah.


“Apa kau sempat menjalin hubungan saat masih bersetatus Suami Salsha?”


Farel terdiam, bingung bagaiamana harus menjawab pertanyaan mudah itu. Sedangkan Raisya hanya bisa menatap mereka berdua dengan datar, tapi tidak dengan hatinya. Hatinya sudah seperti tercabik tepat saat wanita tua menyebut dirinya Jal*ng.


“Nyonya, Nona Salsha berkunjung.”


Mereka yang berada di ruangan itu menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar. Sosok wanita bergaun hitam dengan kaca mata lebar memasuki ruang itu dengan anggun namun, membawa aura kelam.

__ADS_1


__ADS_2