
Farel menatap Raisya dengan gusar. Sedangkan Raisya yang ditatap hanya fokus dengan hidangan lezat di depanya.
“Aku selesai.” Raisya bangkit.
Farel yang melihat Raisya bangkit dengan cepat mengambil air putih dan meminumnya sekali teguk. Kakinya melangkah cepat berjalan di belakang wanitanya.
Para pelayan yang melihat drama yang dibuat atasanya bingun. Antara ingin tertawa dan bertanya-tanya.
“Raisya, sayang, tunggu aku.”
Raisya menahan mual mendengar panggilan Farel. Sungguh menjijikan! Kakinya dengan cepat melangkah, mengabaiakan Farel yang mengejarnya dari belakang.
Farel yang merasa kesal dengan Raisya yang selalu menghindarinya sejak percakapan sore itu dengan cepat meraih tangan Raisya.
Raisya terhenti karena cekalan di tanganya. Matanya menatap Farel dengan datar.
“Tolong, beri kesempatatan untukku.” Farel menatap sendu Raisya.
Raisya menatap bingung Farel, kesempatan?
“Kesempatan apa?”
“Kesempatan untuk membuktikan cintaku.”
Raisya mendengus. Lagi-lagi pembahasan itu. Tanganya dengan kasar menyentak cekalan ditanganya, membuat ia terbebas.
Farel menatap punggung Raisya dengan tatapan kosong. Ia menarik kasar rambutnya mersa frustasi.
“Sefatal itukah kesalahanku, sampai-sampai kau enggan memeberi ku kesempatan?” Farel pergi. Menjalankan kakinya berlawanan arah dengan Raisya. Ia butuh suasana yang segar agar dapat menjernihkan otaknya.
****
Raisya membanting tubunya di atas kasur. Bayangan Farel yang menatapnya sendu selalu menghantuinya, membuat ia frustasi. Apakah ia sudah terlalu jahat?
“Tidak! Apa yang kau pikirkan. Ingat Raisya, sekali penghianat tetap penghianat. Kau harus ingat jika kau menerima ajakannya untuk menikah, maka kau akan menghancurkan dua hati sekaligus. Hati Salsha, dan hati Jhonatan.” Raisya mencoba menguatkan hatinya.
Matanya terpejam tapi tidak dengan otaknya. Ia sibuk berpikir untuk memikirkan cara agar terbebas dari jeratan Farel, sebelum hal yang tidak di inginkan terjadi.
Farel termasuk laki-laki yang sangat nekat, dan ia paham bagaimana karakter orang seperti itu.
__ADS_1
Ia harus cepat menemui dia agar semua masalah dan hubungan ini cepat berakhir. Hanya dia harapanya kali ini.
Tapi ia butuh kebebasan saat ini. Ia ingin sekali melihat keadaan Jhonanatn, juga menemui dia tanpa dicurigai Farel.
“apa yang harus aku lakukan? Apa aku manfaatkan saja permintaanya itu?” Raisya bertanya dengan dirinya sendiri.
“Ya, sepertinya itu solusi terbaik saat ini. Aku juga harus mengurusi buku-buku yang akan aku terbitkan itu. Dan yang terpenting, aku harus melihat keadaan Zakiel setelah apa yang diperbuat Farel.”
“Aku harus meminta maaf kepadanya.”
Raisya mengusap wajah kasar. Selintas bayangan tentang pelecehan muncul di benakanya, membuatnya dengan cepat menghapus bayanagn itu. Ia harus bangkit jika ingin menyelesaikan semuanya dengan baik dan lancar.
*****
Farel menatap sendu lampu taman. Ia paham rasa takut yang di alami Raisya. Ia memang bukan laki-laki baik, bisa dibilang ia baji\*\*an. Tapi ia sungguh mencintai Raisya dengan tulus.
Bagaiaman caranya agar Raisya mau menikah dengannya. Apa ia harus membuat Raisya mengandung anaknya? Ahh, tidak. Hal itu tidak boeh terjadi, jika ia melakuka kesalahan fatal lagi, ia takut Raisya akan melakukan hal yang lebih nekat dan membuat dirinya sendiri dalam bahaya.
Ia harus berusaha bersbar, dan mencoba memahami keinginan Raisya. Dan yang pasti ia harus cepat-cepat menyingkirkan setiap penghalang yang membuat Raisa ragu.
“Raisya, kenapa kau membuat ku gila?” Farel mendesah frustasi.
Kepalanya ia dongakkan ke atas. Menatap langsung langit hitam yang di taburi dengan ribuan bintang dan satu bulan.
“Andai aku bertemu denganmu terlebih dahulu. Aku yakin hubungan kita tidak akan serumit ini.” Farel mendesah kasar.
Ia tidak menyesal menikah dengan Salsha. Salsha adalah sahabat terbaiknya. Namun, ia menyesalkan perasaanya yang sangat labil ini. Jika saja ia bertemu dengan Raisya terlebih dahulu, maka ia tidak akan pernah mau menerima ajakan menikah dari Salsha, dan hubungan mereka akan tetap seperti dulu, sahabat.
Perasaanya yang ia yakin sudah seratus persen milik Salsha dengan cepat hilang sekali hempas ketika melihat Raisya.
Menceraiakan Salsha sempat terlintas di benaknya, terlebih saat mengetahui penghianatan Salsha dulu. Tapi ia masih memiliki keraguan untuk melakukan itu, ditambah perjuangan Salsha dalam memperbaiki kesalahanya. Sudah dipastikan jika ia menceraiakan Salsha hanya karena wanita lain, maka ia akan menjadi bajin\*an.
****
Ceklek!
Raisya menatap sosok yang membuka pintu kamarnya. Matanya menatap Farel yang sudah berdiri tegap dengan pandangan sayu. Ia menghela nafas.
__ADS_1
Farel yang melihat Raisya belum tidur tersenyum tipis. Kakinya membawanya mendekat ke arah sosok cantik itu.
“Kau belum tidur?” Farel mendudukan dirinya tepat di samping Raisya.
“Belum,” Raisya menjawab seadanya.
Farel tersenyum kecut, segera ia merebahkan tubuhnya tepat di samping Risya yang terlentang. Ia topang kepalanya menggunakan tangan kiri guna mempermudah menatap wajah cantik itu.
“Apakah benar-benar tidak ada kesempatan untukku?” Farel menatap sendu Raisya.
Raisya meahan nafas mencoba menguatkan tekat dan niatnya. Menghilangkan rasa iba di hatinya.
“Maafkan aku, tapi sungguh aku terlalu takut.” Raisya menatap lurus langit-angit kamar tanpa melihat lawan bicaranya.
Farel tersenyum, tangan kekarnya mengelus kening Raisya lembut kemudian mendaratkan satu kecupan di sana. Raisya memejamkan mata, mencoba menyerap perasaanya.
“Jangan takut. Cukup berikan aku kesempatan, maka kau hanya perlu melihat dan menilainya.”
Fael meraih kepala Raisya lembut, meletakkannya di tangan kirinya. Raisya hanya terdiam menurut, bahkan saat Farel membawanya mendekat dan merengkuhnya erat.
“Aku bersumpah tidak akan menghianatimu jika itu yang kau takutkan. Dan aku akan berusaha adil.”
Raisya tertawa dalam hati. Adil? Apakah Farel paham maksud dari adil itu sendiri? Bukankah dengan perselingkuhan yang ia lakukan itu sudah menandakan sebuah ketidak adilan? Terus, adil seperti apa yang ia maksud? Sungguh Raisya sangat membenci laki-laki seperti itu!
Laki-laki yang tidak bisa menghargai wanita, bahkan melakukan hubungan gelap dengan wanita lain sudah pasti tidak bisa melakukan keadailan. Adil hanya bisa dimiliki oleh orang yang berhati bersih, itu pendapat Raisya.
Apakah pelecehan dan pemakasaan yang dialamainya selama ini itu juga termasuk adil? Apakah ia bisa melupakan semua kemalangan yang menimpanya hanya karena janji yang laki-laki itu ucapkan tanpa tahu kedepanya seperti apa?
Farel perlu merubah dirinya menjadi lebih baik, terutama mengambil keputusan untuk hubungan mereka tanpa adanya pemaksaan dari berbagai pihak. Mencoba memperbaiki keadaan, dan kondisi mereka saat ini.
“Adakah perempuan yang ingin di madu?”
Farel terdiam mendengar pertanyaan Raisya.
“Dan adakah perempuan yang ingin dijadikan madu?”
“Sesabar-sabarnya wanita, ia akan merasakan sakit ketika melihat suaminya mendua.”
“Secinta-cintanya madumu, ia juga akan merasa sakit ketika julukan plakor selalu menghantui setiap langkahnya.”
“Aku akan memberi kesempatan untukmu, tapi aku tidak bisa berjanji menerima ajakanmu untuk menikah.”
_________
Terimakasih sudah membaca karyaku,,,,
__ADS_1
semoga Part ini kalian suka 😘