
Raisya menatap Farel yang menunduk. Wajah wanita bernetra hijau itu terlihat memerah, bahkan pipinya sudah penuh jejak air mata.
Terdengar sedkit suara isak tangis dari Farel. Tangis tertahan yang membuat siapa pun yang mendengarnya menahan rasa sesak.
Raisya mendongakkan kepalanya. Mulutnya sedikit terbuka guna mengeluarkan nafas dari sana. Tanpa membuang waktu, segera wanita itu merengkuh tubuh kekar itu.
“Menangislah.” Raisya mengelus lembut punggung Farel yang terlihat menegang.
Farel yang terkejut mendapat perlakuan seperti itu menegang. Namun, semua tidak bertahan lama. Perkataan Raisya membuat pertahanan yang selama ini laki-laki itu bangun hancur dalam sekejap.
Tubuh kekar itu bergetar kuat. Bahkan terdengar dengan jelas raungan tertahan dari laki-laki itu.
Raisya dengan sabar menjadikan pundaknya sebagai tumpuan Farel. Mengelus lembut punggung bergetar itu, sebagai tanda bahwa laki-laki itu tidak sendiri.
“Aku anak Sial.” Farel berucap dengan tersendat-sendat.
Raisya menggeleng dengan kuat. Wanita itu mempererat pelukannya, seakan memberikan kekuatan Farel.
“Semua orang celaka karena ku.” Farel masih meraung. Menylahakan dirinya atas ketidakadilan yang terjadi di masa lalu.
Raisya ikut menangis. Tanganya mengepal kuat dengan nafas yang terlihat semakin tersendat.
Farel menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Raisya. Memebuat leher jenjang itu basah oleh air mata bercampur ingusnya.
Raisya terdiam merasakan lehernya semakin basah. Hatinya terasa tersayat merasakan air yang semakin banyak di lehernya. Semakin banyak rasa basah di leher itu membuat ia paham jika Farel menangis dengan kuat.
“Aku, aku pembunuh.” Farel semakin mengerskan tangisannya.
Raisya menggeleng, tanganya menegelus lembut rambut lembut Farel. Namun, Farel terlihat semakin tenggelam dalam masa lalu dan rasa bersalah. Perasaan itu membuat laki-laki itu merasa sendiri, takut, dan cemas berlebihan.
Farel dengan cepat melepaskan pelukannya. Tangan kekarnya meraih kedua pundak Raisya. Masih dengan wajah yang memerah karena tangisan, bahkan ingus yang terlihat keluar, laki-laki itu menatap Raisya dengan cemas.
“Kau tidak akan pergi kan?”
__ADS_1
Raisya menatap Farel dengan wajah yang penuh air mata. Bibirnya kelu, sekedar menjawab pertanyaan sepele itu.
Farel yang melihat keterdiaman Raisya semakin bergetar ketakutan. Bayangan kehilangan wanita yang dicintainya membuat nafasnya sesak.
“Kau tidak akan pergikan? Kau tidak akan pergi seperti adikku meninggalkanku?”
“....”
“Kenapa kau diam? Apa kau akan pergi? Apa kau pergi karena aku__ pembawa sial.” Farel menatap Raisya dengan wajah sendu.
“Tidak, jangan berkata seperti itu. Semua yang terjadi adalah takdir. Semuanya bukan salahmu, tidak ada yang namanya anak pembawa sial atau apa pun itu. Adikmu pergi karena tuhan lebih menyayanginya.” Raisya mengusap lembut wajah Farel yang basah.
Farel terdiam, menatap Raisya dengan pandangan rumit. Wanita itu tidak menjawab pertanyaannya, tapi memberikannya sebuah motivasi tentang takdir dan kepergian adiknya. Apakah ia mersa tenang? Tidak, ia semakin merasa takut. Namun, ia dengan sekuat tenaga mencoba terihat baik-baik saja. Mencoba terlihat lebih baik setelah mendengar penuturan Raisya.
“Terimakasih.” Farel mencoba menutupi rasa takutnya dengan ucapan terimakasih dan senyum tipis di bibirnya.
Raisya menganggukkan kepalanya. Senyum titpis wanita itu terbitkan. Rasa sesak di dadanya perlahan memudar.
“Jangan bersedih karena sebuah kepergian, tapi jadikan kepergian itu sebuah motivasi dan semangat baru untuk hidup. Lebih hargai dan cintai hidupmu Farel.”
Farel menatap Raisya dengan senyum lembut di wajahnya. Mereka berdua saling menatap, mencba meneylami perasaan masing-masing. Tatapan yang sama namun, dengan pikiran yang berbeda.
****
Salsha menatap setiap sudut apartemen. Tempat terakhir yang ia tuju, dan tempat terakhir ia bersama dengan bayi dalam kandungannya.
Tangan rampingnya dengan sedikit getaran menyentuh obat itu, menggengam erat dan mengahncurkannya dengan sekali genggaman.
“Maafkan aku, tapi aku tidak pernah menyesal melenyapkanmu.” Salsha menunduk.
Wajah wanita itu terlihat kosong. Hanya ada kehampaan di mata hitam itu. Namun, sorot hampa itu hanya bersarang beberapa detik saja.
“Ha ha ha, akan ku buat kau menyesal Farel. Terutama ****** murahanmu. Akan aku cari wanita itu dan menghancurkannya hingga tak berbekas.” Salsha membanting semau benda yang terlihat di depan matanya.
Wanita itu terlihat sangat kacau. Dengan barang pecahan di sekitarnya, dan rambut yang acak-acakkan. Ditambah wajahnya yang penuh dengan air mata namun, dihiasi dengan senyum menyeramkan.
Salsha terdam, tangannya yang sedari tadi membantingi perabot terhenti. Matanya menyeringai kejam. Dengan cepat tangan itu merih gawai yang berada di sakunya.
“Tolong selidiki siapa wanta yang sedang dekat dengan Farel Wiratman, suamiku.” Salsha berucap dengan nada tajam.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari sebrang, wanita itu dengan cepat mematikan sambungan telpon.
Hening, kemuian terdengar suara tawa yang nyaring.
“Ha ha ha, akan ku tunjukan di mana tempatmu ******. Seorang ****** tidak pantas di samakan dengann ku, apalagi menggeser tempatku.”
****
Max yang sedang berkutat dengan beberap lembar kertas di depannya dikejutkan dengan ketukan di pintu.
“Masuk!” Max menatap datar pintu yang masih tertutup itu. Matanya menunggu siapa gerangan yang berada di balik sana.
Ceklek!
“Maaf saya mengganggu waktu anda Tuan.” Roy menunduk memberikan hormat serta menunjukan raut wajah menyesal.
Max menatap datar Roy, menunggu alasan laki-laki itu mengganggu waktu kerjanya.
“Katakan!” Max berucap dengan datar tapi tajam.
“Nona Salsha sudah melakukan tindakan.”
Max mengangkat alisnya merasa tertarik dengan info yang di bawa bawahannya itu. “Tindakan seperti apa?”
“Nona Salsha mulai menyelidiki tentang wanita yang dekat dengan Farel Wiratman. Bagaimana pendapat, Tuan? apa saya harus menggagalkan rencana itu?” Roy menatap sopan Max.
Max terdiam, dahinya mengernyit dalam, menandakan laki-laki itu sedang serius dalam berpikir.
“Tidak, jangan kau hentikan. Kalau bisa kau bantu wanita itu untuk mendapatkan informasi dengan cepat dan akurat.” Max mengelus pelan dagunya.
Roy tersentak dengan penuturan Max. Bukannya Max pernah berkata akan menyelamatakan Raisya?
“Tuan, apa anda yakin. Bukankah anda pernah mengatakan ingin membebaskan Nona Raisya dari Farel Wiratman? Bukankah dengan seperti ini, Nona Raisya akan semakin sulit lepas dari mereka, bahkan bisa jadi Nona Raisya akan menjadi sasaran empuk untuk masa dan Nona Salsha,” Roy berucap dengan takut-takut.
Max mengangkat sebelah alisnya, menatap datar Roy yang terlihat meragukan keputusannya itu.
“Kau meragukan keputusanku?” Max menatap dingin Roy.
“Maafkan saya Tuan, saya telah lancang.” Roy menundukkan wajahnya semakin dalam.
“Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, baik sekarang atau pun terdahulu. Jika aku mengatakan akan membebaskan Raisya dari mereka, maka aku akan memebebaskannya. Namun, kita butuh Raisya sebagi umpan untuk menghancurkan dua manusia sia*an itu.”
____
Terimakasih sudah membaca,,, semoga tidak mengecewakan bab ini 😀
__ADS_1
Jangan lupa, vote, komen, follow, like, dan taruh di favorite 😘😘😘
Cium banyak² buat kalian 😘😘😘