Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
98. Takut


__ADS_3

Farel menunggu di depan pintu ruangan putih itu dengan cemas, bahkan kakinya terlihat sedikit gemetar. Beberapa kali laki-laki itu menundukkan kepala, dan meraup kasar wajahnya. Harusnya ia teringat dengan alergi Raisya, andaiakan ia lebih berusaha lagi, mungkin Raisya tidak akan mengalami hal seperti ini.


“Kau bodoh!” Farel menarik rambutnya kuat.


Ricard yang berada di pojok kursi menatap ngeri Farel. Atasan yang biasanya terlihat tegas, penuh wibawa, sekarang terlihat sangat mengenaskan. Bahkan ia yakin, pria itu belum membersihkan diri. Aroma percintaan menguar jelas dari tubuh kekar itu. Ditambah beberapa bekas ****** yang terlihat jelas di sekita leher, bahkan tepat di antara jakun itu.


Ricard yang sedari tadi mengamati Farel merasa merinding. Melihat hasil dari percintaan membuat ia mulai berpikir kotor. ‘ish, hilangkan pikiran kotormu!’ Ricard memperingati dirinya sendiri.


Laki-laki itu mencoba mendekat, dan berkata dengan pelan, “Tuan.”


Sedangkan, Farel yang merasa ada yang memanggilnya menatap tajam sosok itu. Tatapan tajam itu seakan memperingati siapa pun yang mengganggunya hanya karena perkara sepele, maka siap-siap untuk kehilangan nyawa.


Ricard menelan ludah kasar. Namun, ia mencoba memberanikan diri. “Tuan, sebaiknya anda membersikan diri sebentar.” Ricard menyodorkan tas kertas yang sudah berisi perlengkapan Farel.


Farel mengangkat alis, dan menatap datar Ricard. Bahkan rahang laki-laki itu terlihat mengeras yang membuat Ricard semakin ketakutan.


“Tolong, anda jangan salah paham dulu Tuan. Saya memberi saran agar nanti saat Nyonya bangun, anda sudah bersih dan terlihat rapi,” Ricard berbicara dengan nada gugup. Bohong! Apa yang di ucapkannya semua kebohongan.


Pria itu meminta Farel untuk mandi dan bersih-bersih agar aroma aneh di tubuh Farel hilang. Sungguh, Ricard tidak tahan dengan bau itu. Bau itu membuatnya mual.


Farel yang awalnya akan marah memejamkan mata. Ya, saran yang diberikan bawahannya benar. Ia harus terlihat rapi saat Raisya membuka matanya nanti. Dengan tetap memasng wajah datar, Farel menyambar tas itu dan membawanya memasuki ruangan khusus yang sudah dipersiapakan Ricard.


Ricard yang melihat punggug Farel menjauh menghela nafas lega. Laki-laki itu terlihat menghirup udara rakus. Sungguh aroma orang sehabis bercinta sangat menjijikan. Bagaiamana bisa ia membaca novel yang terlihat pasangan sehabis bercinta biasa sja? Apa hidung mereka yang rusak, atau dia sendiri yang bermasalah?


****


Dwi menatap prihatin Raisya yang lagi-lagi masuk IGD. Entah mengapa nasib gadis cantik yang terbaring lemah ini sangat jauh dari kata beruntung.


Di sisi lain, Jesika mengatur jalannya cairan ketubuh Raisya dengan teliti. Rasa khawatir tidak bisa ia tampik, terlebih mengetahui penyebab Raisya menjad seperti ini.

__ADS_1


Amarah membeludak di hati wanita bernetra sipit itu. Bagaiamana bisa ada manusia sejahat itu? dengan penuh tekat, Jesika berjanji akan membalas Salsha nanti.


“Pasien sudah mulai menunjukan tanda-tanda kesadaran.” Dwi berucap tepat saat melihat tubuh Raisya yang merespon.


Jesika dengan cepat mendekat dan melihat perkembangan itu sendiri. Beberapa perawat yang ikut membantu bernafas lega. Mereka terlalu takut, karena ancaman dari Farel begitu menyeramkan.


“Ahh, sykurlah kalau begitu.” Mereka semua bernafas dengan lega.


“Ayo kita pindah pasien keruang VVIP, sesuai ruang yang di pesan Tuan Farel.”Dwi menatap mereka semua yang diangguki secara serempak.


****


Farel sudah kembali dengan penampilan lebih baik lagi. Tapi di wajah tampannya masih terlihat jelas raut khawatir dan sedih di sana.


Kriek!


Farel berdiri, matanya menatap brankar berisi Raisya yang terbujur lemah dengan memejamkan mata. Rasa khawatir perlahan merangkak keluar, membuat laki-laki itu mengepalkan tangan kuat.


Kaki kekarnya berjalan, mengikuti laju brankar yang terlihat memasuki beberapa lorong. Di sisi lain, Ricard yang melihat Tuannya seperti itu harus menahan sedih. Bukan sedih melihat keadaan atasannya, tapi sedih menyadari jika ia harus meneyelesaikan pekerjaan atasannya lagi.


“Jika seperti ini terus, aku sudah persis seperti pemilik perusahaan saja.” Ricard bergumam dengan wajah frustasi.


****


“Bgaiamana keadaanya?” Farel bertanya tepat saat memasuki ruang rawat VVIP.


Para perawat yang melihat itu berjalan dengan sedikit membungkuk untuk meninggalkan ruang rawat. Sedangkan Dwi dan Jesika tetap tinggal dengan tujuan berbeda.


Dwi yang harus menjelaskan keadaan Raisya, dan Jesika yang masih ingin melihat keadaan temannya itu.

__ADS_1


“Nyonya sudah membaik, untung dosis dan obat itu tidak teralu bahaya. Satu lagi, sepertinya Nyonya mengalami kemajuan tentang penyakitnya ini. Maksud saya, tubuh Nyonya lebih kuat dalam menahan penyakitnya di banding sebelumnya.”


Farel menghela nafas lega. “Apakah Raisya akan sembuh?”


“Untuk sekarang saya yakin, Nyonya akan cepat sembuh. Tapi untuk masalah alergi saya kurang tahu. Setahu saya, tidak ada obat untuk menghilangan alergi, adanya obat untuk mencegah atau mengobati alergi itu sendiri. Tapi di sini kita memiliki kesulitan, karena Nyonya memiliki alergi obat.” Dwi tersenyum lirih di akhir kalimatnya.


Farel terdiam. Sesulit itu ternyata. Tapi ia harus berusaha sabar dan berpikir positif.


“Hmm.” Farel menganggukkan kepala, kemudian membalikkan tubuhnya untuk melihat keadaan Raisya.


Dwi yang melihat itu menggelengkan kepala. Atasannya itu tidak akan pernah mengucapkan terimakasih dan maaf dalam situasi apa pun. Jadi, jangan pernah mengharapkan kalimat itu dari mulut seorang Farel Wiratman.


Wanita paruh baya itu menghela nafas sejenak, kemudian membalikkan tubuhnya dan meninggalkan ruangan itu.


Di sisi lain, Jesika menatap sendu Raisya yang terlihat terbaring lemah. Tangan rampingnya berusaha menyentuh wajah wanita cantik itu namun, geraman dan larangan dengan nada dingin di belakangnya membuat tangannya berhenti di udara.


“Jangan pernah menyentuh wajah Istriku!” Farel menatap tajam Jesika.


Jesika mengerjap pelan, matanya sedikit membola namun, dengan cepat berubah menyipit seperti semula.


“Dia temanku!” Jesika menatap tajam Farel. Tidak ada rasa takut di sana, toh, Farel bukan lagi atasannya.


Farel mengangkat alisnya, menatap remeh Jesika. “Dia Istriku!” Farel megunuskan tatapan tajam dan menyeringai tipis.


Sedangkan Jesika yang melihat seringai itu menggeram kesal. Biar bagaiama pun statusnya masih kalah jauh dengan status Farel saat ini.


“Cih, kalian masih bisa bercerai, jangan terlalu bangga dengan statusmu saat ini.” Jesika bergumam lirih namun, masih bisa didengar oleh Farel.


Farel medelik tajam, rahangnya mengetat. Perkataan itu mengingatkannya tentang awal mula pernikahannya bisa terjadi. Ya, ia memberikan ancaman agar Raisya mau menikahinya, dan tidak salah jika suatu saat Raisya meminta berpisah darinya.

__ADS_1


“Itu tidak akan terjadi, lebih baik kau keluar!” Farel mendesis tajam. Matanya menatap Jesika penuh permusuhan.


Jesika merupakan penghalang terbesar dalam hubungannya dengan Raisya. Statusnya sebagai teman dekat Raisya sering kali membuatnya cemburu. Ia merasa jika Raisya lebih paham dan lebih dekat dengan Jesika, dan itu membuatnya tidak suka. Apa perlu ia menyingkirkan Jesika?


__ADS_2