
Raisya termenung di dalam kamar mewahnya. Rasa rindu tiba-tiba menyeruak di dada. Sekuat tenaga, wanita hamil itu berusaha menahan perasaanya, paling tidak, sampai semua beres.
Tok... Tok...
Mata hijaunya mengerjap menatap pintu pitih yang terketuk dari luar itu. Rasa malas yang sedang membelenggu membuat wanita hamil itu hanya tetap diam, dan beteriak meminta siapa pun sosok di balik pintu itu untuk segera masuk.
Beberapa detik kemudian, muncullah Jesika dengan penampilan lucu. Memakai bando berwarna kuning macan, dan baju yang hampir menyerupai tarzan.
Raisya yang melihat itu berbinar. Dengan semangat berdiri, kemudian mendekat ke arah wanita bermata sipit itu.
Sedangkan Jesika yang mejadi korban nyidam Raisya hanya mampu tersenyum paksa. Sepertinya hidup wanita bermata sipit itu tidak kan tenang sampai sembilan bulan kedepan.
“Maaf, Nyonya, sekarang waktunya anda makan dan minum susu.” Jesika mengarahkan pelayan yang berada di belakangnya untuk mendorong makanan yang sudah di bawa di atas troli.
Raisya menatap penuh binar ekspresi Jesika. Entah kenapa, ia senang sekali melihat wanita bermata sipit itu memakai gaun persis seperti Tarzan itu.
“Kau cantik, cocok dengan pakaian itu.” Raisya memegang kedua pipinya, merasa gemas dengan penampilan Jesika saat ini.
Jesika hanya menampilkan senyum penuh tekanan. Biar bagaiamana pun, ia ditugaskan di sini untuk menjaga Nyonya muda, dan seklagius menjamin keselamatan, serta kesenangan wanita hamil itu.
“Terimakasih Nyonya.” Jesika menyunggingkan senyum. Meskipun di hati wanita itu sudah dongkol setengah mati, tapi ia tidak bisa menunjukan ekspresi seperti itu jika masih ingin selamat.
“Kenapa kau sekarang memanggilku Nyonya? bukankah dulu kau sudah berani memanggil namaku?” Raisya memringkan kepala lucu dengan menampilkan ekspresi wajah berpikir.
“Maafkan saya Nyonya, dulu saya memanggil anda dengan nama karena anda sudah tidak lagi menjadi majikan saya. Dan sekarang, anda sudah menjadi majikan saya lagi, jadi saya harus mematuhi aturan yang ada.” Jesika menjelaskan dengan pelan.
Wanita bermata sipit itu berharap, semoga Raisya tidak marah karena jawaban yang diberikan. Sifat Raisya yang sering berubah saat hamil membuat wanita itu harus berhati-hati dalam berkata. Salah kata sedikit saja, bisa membuat majikannya itu menangis histeris.
“Hmmm.” Raisya hanya berdahem, kemudian berjalan menuju sofa yang di depannya sudah tersaji berbagai hidangan untuk makan siangnya.
Tangan rampingnya mengambil beberapa lauk yang menurut matanya sangat cocok untuk menu makan siang ini.dengan lahap wanita itu mulai memasukan makanan ke dalam mulut.
__ADS_1
Rasa syukur akibat ia yang tidak merasakan mual atau pun gangguan lainnya membuat ia dengan santai memasukan makanan apa pun kedalam mulut.
Jesika yang melihat bagaimana lahapnya Raisya tersenyum. Tidak apa, setidaknya wanita itu tidak merasakan penderitaan seperti wanita amil pada umumnya.
Tiba-tiba gerakan tangan Raisya terhenti. Rasa nikmat dari makanan yang masuk kemulut terasa hambar. Dada wanita hamil itu terasa sesak, bukan karena sakit jantung atau apa pun itu, melainkan karena rasa rindu yang tiba-tiba menggebu.
Jesika yang melihat prubahan sang atasan mengerjapkan mata, kemudain mendekat untuk menanyakan apa yang terjadi.
“Nyonya, apa makananya kurang enak? Atau anda ingin sesautu?” Jesika bertanya dengan hati-hati.
Raisya menghembuskan nafas panjang, kemudian wanita itu meletakkan sendoknya di atas piring dan menggigit bibir atasnya kuat.
Jesika semakin ketakutan. Diamnya Raisya dengan ekspresi aneh membuat ia berpikir tidak-tidak.
“Huaaaa, aku rindu Farel. Hiks, hiks.” Raisya menyemburkan tangisnya dengan tangan yang sudah menutup wajah.
Jesika semakin kebingungan, ditambah tangisan Raisya yang tidak berhenti membuat ia kelimpungan sendiri.
Raisya semakin menguatkan tangisannya, rasa rindu yang terlalu tiba-tiba itu membuat dadanya sesak, bahkan wanita itu merasa kantung matanya bocor, karena dengan mudahnya mengeluarkan tangisan.
Brak!
“Apa yang terjadi?” Andres mendobrak pintu, membuat dua wanita yang berada di dalam kamar itu terdiam.
Raisya menatap Andres memakai pakaian ala tentara dengan laras panjang di tangan kirinya. Mata hijaunya yang berata megerjap lucu.
Jesika yang sadar kedatangan Andres karena kegaduhan yang dibuat sang atasan segera mendekat, berusaha menjelaskan apa yang terjadi saat ini.
__ADS_1
“Nyonya sedang merindukan Tuan.” jesika berbisik dengan pelan.
Andres mengerjap, matanya menatap Jesika tidak percaya. “Jangan berbohong.”
“Ck, aku sudah berkata jujur.”
“Huaaaa, kenapa kalian malah bisik-bisik. Hiks, hiks.” Raisya menangis dengan keras. Melihat kedua pelayannya mengabaikan dirinya di sana, membuat wanita itu semakin kesal.
Andres dan Jesika terlihat kebingunga, terlebih tingkah Rasya yang menurut mereka sangat jauh berbeda. Raisya yang pertama kali mereka lihat adalah sososk wanita dewasa, sedikit dingin, dan yang pastinya terlihat sangat anggun. Tapi saat ini, mereka seakan melihat sosok berbeda.
“Maafkan kami Nyonya, kami tidak akan mengulanginya lagi.” Andres membungkukan tubuhnya beberapa kali, membuat senjata laras panjangnya bergerak seiring pergerakan tubuhnya itu.
Raisya tetap menangis, namun kali ini hanya terdengar isakan kecil. Mata hijaunya menatap mereka berdua dengan intens, membua dua pelayan itu meneguk ludah gugup. Rasa takut apabila Nyonya meminta sesautu yang aneh membuat bulu kuduk mereka berdiri.
“Kalian akan aku maafkan, dengan syarat___” Raisya menyeringai dengan wajah yang masih memerah, sedngkan mereka berdua sudah merasakan firasat buruk.
“Aku ingin kalian memancing di danau, dan dapatkan ikan Hiu di sana.” Raisya menatap mereka dengan penuh binar.
Jesika dan Andres merasa dunia seakan mendekati kiamat. Bagaimana bisa mendapatkan ikan hiu di danau? Ikan Hiu itu tempatnya di laut!
“Tapi Nyonya, ikan Hiu itu tempatnya di laut, bukan di danau.” Andres menjelaskan dengan pelan.
Sedangkan Jesika hanya diam, ia tahu wanita hamil tidak akan mendengarkan alasan apa pun yang berbau penolakan. Hormon itu sungguh menakutkan!
“Raisya menatap tajam Andres, tangan wanita itu menggebrak kencang meja, membuat beberapa makanan yang ada di atasnya bergetar.
Andres terjengat kaget, wanita di depannya kenapa suka sekali berubah. Tadi seperti anak kecil, dan sekarang sudah berubah seperti singa betina. Apa semua wanita hamil seperti itu?
“Aku tidak mau tahu! Kalian harus mendapatkan ikan Hiu di danau.” Raisya memicingkan mata. Netra hijaunya menatap mereka penuh ancaman, bahkan tangan wanita itu menunjuk tepat di depan wajah mereka berdua.
Mereka hanya bisa menghela nafas kemah. Mungkin ada ada saran untuk mendapatkan ikan Hiu di dalam danau?
“Maafan kami Nyonya, kami akan segera menangkap ikan Hiu,” Jesika berucap dengan tubuh yang membungkuk, pertanda ia meminta izin untuk segera melakukan tugas penting itu.
Raisya dengan malas menganggukkan kepala, bahkan tangannya sudah mengibas, seakan mengusir mereka berdua untuk segera meninggalkan ruangan.
Beberapa saat kemudain, ruangan itu terlihat sepi, hanya ada Raisya di sana.Wanita hamil itu menatap jendela besar yang berada tepat di sebrangnya. Mata hijaunya memandangi pemandangan indah. Senyum lembut terukir dari bibirnya. Sepertinya, Raisya yang dulu mulai kembali.
__ADS_1