
Raisya termenung di dalam kamar, ingatanya kembali beberapa jam yang lalu.
Flashback on
Raisya menatap jalanan dengan mata yang dingin. Rasa getir di dadanya membuat air matanya terjatuh. Sikap Farel membuatnya tersadar, ia tidak boleh mencintai seorang pria dengan status yang masih abu-abu. Sekuat apa pun cintanya, pasti akan terkalahkan dengan status.
Tin.. Tin...
Raisya mengusap wajahnya pelan. Menghembuskan nafas lirih, kemudian tersenyum lembut.
Tangan rampingnya membuka pintu mobl hitam itu dengan lembut dan hati-hati.
“Terimakasih,” Raisya berucap dengan tulus setelah mendudukan tubuhnya di samping kemudi.
“apa yang terjadi?”
Raisya mengalihkan pandanganya, matanya menatap Jesika dengan datar. Ya, sosok yang ia minta bantuan adalah Jesika.
“Bukan apa-apa.”
Jesika mengalihkan pandanganya dari depan untuk memandang wajah Raisya sejenak.
“Apa Tuan Farel menyakitimu?” Jesika bertanya secara terus terang.
Mendengar nama Farel membuat Raisya tersenyum getir. Jesika yang melihat senyum itu menghela nafas panjang, ia yakin sesuatu telah terjadi, dan hal itu bukanlah hal baik.
“Tidak apa-apa, berhentilah kalau kau merasa tersakiti.”
Raisya menunduk, enggan untuk melihat tatapan Jesika yang ia yakin tatapan wanita itu tatapan iba. Ia tidak butuh tatapan itu.
“Kenapa aku harus berhenti? Sedari awal aku tidak pernah memulia. Aku melakukan semua ini murni untuk membantu Farel, kalau sudah waktunya aku akan pergi,” Raisya berucap dengan mantap.
Raisya mencoba menekan perasaanya. Ya, seharusnya ia ingat tujuan awalnya bersikap lembut terhadapa Farel. Tidak sepatutnya ia terhanyut dengan perannya. Mengenai penyakit mental Farel, sepertinya itu sudah bukan menjad tanggungannya.
Jesika menghentikan laju mobilnya. Tanganya mencengkram setir erat. Wanita bermata sipit itu tahu jika Raisya menahan semua perasaanya. Semua sikap Raisya membuatnya sesak, ia tidak ingin wanita bermata hijau itu sedih.
“Apa pun keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu.” Jesika menyentuh lembut tangan Raisya. Raisya mengalihkan pandanganya, tatapanya terpatut pada genggaman tangan itu. ‘ya, dia tidak sendiri.’
“Terimaksih.” Raisya tersenyum lembut.
“Apa pun untukmu.”
“Oh, ya. Bagaiaman dengan penyelidikanmu?” Raisya mengubah wajah sendunya menjadi serius.
Jesika yang memahami situasi sudah berubah dengan cepat ikut merubah ekspresinya juga. Tangan yang awalnya menggengam lembut terurai dan meraih tablet yang selalu setia ia bawa.
__ADS_1
“Semua data ada di sini, Nyonya.” Jesika mengeluarkan tablet itu yang dengan senang hati langsung di terima oleh Raisya.
Raisya membaca tulisan di sana dengan alis mengkerut. Ekspresi wanita bermanik hijau itu berubah dengan cepat, dari serius, sedih, dan terakhir ekpresi tidak percaya.
“Kau serius? Apa kau sudah menetliti lagi kebenaran data ini?” Raisya menatap wajah Jesika dengan tidak percaya.
“Benar, Nyonya. semua data-data itu benar dan akurat.”
Raisya terdiam, sungguh ia tidak percaya dengan fakta yang baru ia ketahui. Jadi semua yang terjadi bukan hanya kebetulan, bahkan kemiripan itu juga bukan hanya kebetulan.
“Jadi Jhonatan benar-benar anak dari keluarga Balawel?” Raisya menutup mulut tidak percaya.
Jesika yang melihat keterkejutan luar biasa di wajah itu menganggukkan kepalanya.
“Apa kau ingin langsung pulang?”
“Tidak, aku akan pergi ke rumah sakit.”
Flashback off
Cekklek!
Farel measuki kamarnya dengan langkah gontai. Tatapan dan sikap dingi Raisya membuatnya merasa takut. Rasa cemas yang berlebihan mulai memuncak di hatinya. Netra hitamnya menatap sosok wanita berbalut piyama hitam yang terlihat berbaring dengan mata menerawang ke atas.
Kriek!
Raisya menglihkan pandanganya, matanya menatap penyebab bunyi berderit itu. Di sana terlihat jelas sosok Farel yang terlihat menyedihkan. Menghela nafas panjang, segera Raisya membalikkan tubuhnya untuk memunggungi Farel.
Farel tersenyum kecut melihat respon Raisya. Bagaiamana pun ia sadar jika ia salah. Tidak ada laki-laki yang mengaku mencintai, tapi dengan tidak punya hati meninggalkan wanitanya di pinggir jalan.
“Maafkan aku.” Farel mengelus lembut bahu Risya.
Raisya yang mendengar ucapan lirih itu mencoba menutup mata erat. Wanita itu berharap kantuk segera datang, agar dia tidak perlu mendengarkan ucapan laki-laki pecudang itu dan kembali luluh.
Farel dengan pelan merebahkan tubuh menyamping, tepat menghadap punggung ramping itu. Tangan kekarnya dengan pelan merengkuh tubuh wanitanya. Rasa lega muncul ketika laki-laki itu tidak mendapatkan penolakan dari sang wanita.
Raisya yang pura-pura tidur akhirnya terbawa suasana, rengkuhan hangat yang ia rasakan membuat ia semakin terhanyut dalam mimpi.
Farel yang melihat nafas teratur Raisya mendaratkan satu kecupan di rambut coklat itu.
“Maafkan aku, seharusnya aku jujur. Seharusnya aku bilang kalau Salsha keguguran dan nenek mengancamku. Tapi aku takut, kau akan berpikr jika anak yang dikandung Salsha adalan anakku. Aku takut kau akan salah paham. Aku takut kau akan berpikir kalau aku akan mundur untuk menceraikan Salsha. Aku takut kau akan menganggapku laki-laki tidak bertanggung jawab yang menceraiakan istrinya setelah kehilangan anaknnya. Aku takut.... aku takut kau tidak akan percaya kalau aku hanya bisa berhubungan intim dengan dirimu aku takut, maafkan aku, sungguh aku takut.” Farel tersenyum getir.
Rasa takut membuatnya seperti orang kehlangan akal. Rasa takut membuatnya mengambil keputusan yang berakibat fatal.
“Maafka aku, bukan aku tidak percaya padamu. Aku memberimu pengawal bayangan, semua itu semat-mata hanya untuk membuatku tenang. Aku akan merasa gila kalau kau keluar dari jangkauanku.” Farel mengeratkan pelukannya. Mata hitamnya mulai terpejam, terhanyut dalam mimpi berselimut rasa ketakutan.
__ADS_1
*****
Salsha menangis, meraung di dalam ruang sunyi itu. Tatapanya nanar. Rasa kecewa, marah, cemburu menjdi satu.
“Kenapa kau tidak bisa menyentuhku, sedangkan kau bisa menyentuh wanita lain?” Salsha meraung dengan keras. Ruangan VVIP membuatnya leluasa mengamuk seperti orang gila.
Salsha menangis dengan tangan memukul dadanya kuat.
“Apa kurangku? Apa aku kurang cantik? Kurang seksi? Apa aku kurang menggoda?” Salsha menjambak rambutnya kuat.
Perasaanya bercampur menjadi satu. Tatapanya terhenti pada perutnya yang datar. Ada rasa hampa yang menyapanya. Ia telah kehilangan semuanya, anak dan juga suami.
Tatapan matany menjam. Mata hitam itu penuh dengan ambisi dan kelicikan.
“Akan ku buat kau menyesal Farel, ingat itu. Keinginanmu untuk menceraikanku tidak akan semudah itu. Jika aku kehilangan kebahagiannku, maka kau juga hrus merasakannya.” Salsha tertawa jahat. Tertawa dengan wajah penuh air mata membuat ia terlihat seperti orang psikopat.
*****
Laki-laki dengan jas abu-abu yang tak lain Max itu menatap layar kaca yang menampilkan segala gerak-gerik Salsa menyerngai jahat.
“Sepertinya menarik. Kita akan lihat drama baru. Seseorang yang akan mengahncurkan orang yang di cintai. Salsha akan menghancurkan Farel, kemudian Farel menghancurkan Salsha , dan aku berdiri di sana sebagi pahlawan yang akan membantu mereka untuk saling menghancurkan. Kita akan lihat dua manusia sialan itu sama-sama hancur.” Max bertepuk tangan kesenangan.
Beberapa pengawal yang melihat tingkah Max hanya bergidik negri. Kini ia tidak bisa meragukan kekejaman darah Alexis.
“Roy, selidiki tentang Farel Wiratman.” Max mengeluarkan perintah dengan mata yang tetap setia menatap layar kaca.
________________
Mungkin sebagian atau bahkan kalian semua yg baca part ini nganggep Farel lebay,,, di sini kalian harus ingat kalau Farel punya gangguan kecemasan akut, dan hal seperti ini bukanlah lebay, tapi murni dari rasa takut yg berlebihan.
Mungkin kalau Author gk lihat secara langsung orang yg punya tingkat kecemasan tinggi bakal bilang lebay, tapi Author pernah lihat sendiri, dan itu temen Author sendiri, bahkan lbih parah dari yg Author tulis ini.
Mungkin diantara kalian ada yg pernah belajar tentang psikolog? Atau punya teman atau pernah ngalamin hal seperti ini?
Kenapa Farel ninggalin Raisya di jalan? di sini Farel posisi serba salah ya, Farel diancam Maria, sedangkan kalian pasti tahu siapa Maria dalam hidup Farel? Dengan kondisi mental yg tidak stabil apa Farel bisa ngambil keputusan yg tepat? Bahkan untuk menceritakan masalahnya ke Raisya, Farel udah takut setengah mati.
Kalau ada yg bilang Farel pecundang, bodoh, tolol, bahkan Breng**k, Author setuju kok, bahkan sebelum Farel ninggalin Raisya di jalan, Author udah nilai Farel kayak gitu...
Aduh, kok Author malah banyak ngomong ya 😁😁😁
Untuk kalian yg komen Author persilahkan, jangan takut kalau Author kesinggung atau apa gitu,,, santai 😉 Author mah seneng² aja kalau ada yg komen, bahkan marah² dikomen 😉
Kritik dan saran kalian sangat Author harapkan, agar Author bisa menulis dg lebih baik lagi,,
Sampai jumpa di part depan 😘😘😘
__ADS_1