
Prang!
Salsha menatap pecahan vas dengan nafas memburu. Amarah wanita itu meledak keluar, membuat siap pun yang melihatnya pasti akan berpikir dua kali untuk melirik.
Wajah yang biasanya menampilkan senyum anggun dan tatapan menggoda kini hanya terpancar amarah dan dendam.
“Breng*ek! Berani sekali kau memperlakukanku seperti ini.” Salsha membuang seluruh benda yang terlihat di matanya.
Rambut yang acak-acakkan serta wajah yang memerah membuat penampilannya jauh dari kata modis.
“Aku akan membalas segala penghianatan, penghinaan dan kekerasan ini.” Salsha menyentuh lembut lehernya.
Terdapat bekas merah kebiruan di leher jenjang nan putih itu. Ingatan wanita itu melayang saat Farel dengan tidak berperasaannya mencekik serta menyeret tubuhnya dengan menarik rambutnya kuat.
Pelayan pria yang merangkap sebagai detektif serta pesuruh Salsha hanya menunduk. Terlihat pria itu sudah terbiasa dengan sikap kasar atasannya itu.
“Jack!” Salsha berteriak.
Jack yang tak lain pelayan pria itu hanya mampu menahan rasa pengang di kuping. Jarak yang tak terlalu jauh membuat laki-laki itu menutup matanya.
“Iya Nona.” Jack menunduk.
“Kau siapakan semuanya malam ini, aku tidak mau ada kesalahan sama sekali.” Salsha mendesis tajam tanpa menatap wajah lawan bicarannya.
“Baik Nona.” Jack menganggukkan kepalanya sekali dan berjalan meninggalkan Salsha untuk menyelesaikan tugasnya.
Andai laki-laki itu tidak memiliki hutang budi, dan tidak membutuhkan biaya banyak untuk pengobatan orang tuannya, ia tidak mungkin menyalah gunakan kelebihannya untuk melakukan hal bejat.
Apa boleh buat? Ia hanya ingin menyelamatkan nyawa orang tuannya dan membalas budi. Untuk kali ini, akan ia tutup hati nuraninnya sejenak.
Salsha menatap barang-barang yang berserakan di lantai dengan tajam. Pecahan itu ia gambarkan seperti Farel dan Raisya. Akan ia pecahkan, dan akan ia pastikan pecahan itu tidak mungkin bisa menyatu lagi.
“Ha ha ha ha.” Salsha tertawa dengan terbahak-bahak.
Sedangkan di sisi lain, Max hanya menatap datar CCTV, sesekali alisnya mengernyit seakan tidak percaya dengan kelakuan Salsha.
“Mengapa aku dulu buta? Mencintai dan memberikan keperjakaan untuk wanita gila seperti itu membuatku ilfil dengan diri sendiri,” Max berujar dengan nada tidak percaya.
Roy yang mendengar ucapan vulgar atasannya tidak bisa menahan warna merah di kupingnya. Perasaan malu mulai merambat. Ia yang terlihat seperti pria brengsek saja belum pernah merasakan yang namanya nikmat dunia, sedangkan atasnnya yang terlihat anti wanita nyatanya sudah tidak perjaka. Ck ck ck, memang jangan pernah nilai seseorang dari covernya.
__ADS_1
“Roy!” Max berteriak kencang.
Roy yang hanyut dalam pikirannya sendiri tersentak kaget. Matanya membola melihat Max yang sudah menatapnya tajam.
“Iya Tuan?”
“Kau, kenapa wajahmu memerah seperti itu?” Max menatap penuh selidik Roy. Ia yang awalnya ingin memberikan perintah mengurungkan niat setelah melihat wajah aneh bawahannya.
Roy menegang. Benarkah wajahnya memerah? Rasa tidak percaya mulai bermunculan. Hanya gara-gara ucapan Vulgar Max, wajahnya memerah? Sungguh seperti wanita saja dia.
“Tidak apa-apa tuan, hanya saja, saya merasa sedikit gerah.” Roy tersenyum canggung.
Max memcingkan mata. Gerah, apa laki-laki itu buta? Di ruangan ini sudah ada dua AC, dan laki-laki itu masih bilang gerah.
“Kau gila atau kebanyakan dosa?” Max menatap aneh Roy.
Roy yang mendapat pertanyaan seperti itu merasa tertohok. Gila dan kebanyakan dosa? Sepertinya pernyataan itu sangat cocok untuk atasannya. Tapi ia masih sayang nyawa, dan hanya mampu mengeluarkan perkataan itu di kepalannya saja.
“Tidak, Tuan. Saya tidak gila dan kebanyakan dosa.” Roy menjawab dengan kepala tegak.
“Cih, jangan mengangkat kepalamu di depanku.” Max mendengus tidak suka.
Roy dengan cepat menundukkan kepalannya. Ingatannya kembali saat atasannya menghajar habis-habisan bodyguard dulu karena sudah berani megangkat wajah di depannya.
“Tidak Tuan, maafkan saya.”
“Baiklah, kali ini aku maafkan, tapi ingat, tidak ada kesempatan kedua dalam kamus hidupku.”
“Hmm, pintar.”
Hening, Roy tidak mampu sekedar bertanya maupun mengangkat kepalannya. Bawahannya itu hanya bisa menatap ujung sepatunnya. Sebenarnya, Roy sangat penasaran mengapa Max memanggilnya tadi. Jika hanya karena wajahnya yang memerah itu terlalu mustahil.
“Oh. Ya. kau jalankan semua sesuai rencana kita nanti malam.”
Roy yang sedari tadi penasaran dengan apa yang akan di ucapkan oleh Max menghembuskan nafas lega.
“Baik Tuan.”
“Jangan sampai ada kesalahan. Jika iya, kau harus menyiapkan kepalamu untuk santapan kesayanganku malam ini.” Max menyeringai.
Roy yang melihat itu meneguk ludah kasar. Bayangan tentang kesayangan Tuannya yang mengaung dengan mulut penuh lendir membuat ia bergidik ngeri.
“Baik, Tuan.” Roy membungkukkan tubuhnya, kemudian berjalan keluar untuk mempersiapkan semuannya.
****
Farel menatap undangan berwarna emas itu dengan tatapan rumit. Pesta topeng, yang dl dalamnya sudah ada banyak jebakan yang di siapkan wanita ular itu membuat ia geram. Tapi bukan Farel namanya jika hanya akan diam saja ketika megetahui rencana busuk itu.
__ADS_1
“Bagiamana?” Farel bertanya dengan nada datar.
“Semua sudah siap Tuan, sesuai dengan permintaan anda, saya sudah menyelundupkan beberapa bawahan saya di acara nanti.”
“Bagus, kau harus selalu memantau wanita ular itu.” Farel menggertakan gigi kuat.
“Baik, Tuan.”
“Hmm, sekarang keluarlah.” Farel menatap pria di depannya dengan datar.
Masih ada dua jam lagi untuk menghadiri pesta itu, dan masih emapt jam lagi untuk membalas perbuatan wanita ular yang tak lain Salsha itu.
Di sisi lain, Raisya menatap beberapa gaun yang berjajar di depannya dengan satu desainer terkenal yang sedang menjelaskan perbedaan gaun masing-masing.
“Bagaiaman Nyonya, anda ingin memakai gaun yang mana untuk malam ini?” Desainer wanita itu bertanya dengan senyum manis di wajah tuannya.
Raisya memejamkan mata, merasa bingung dengan kedatangan tiba-tiba Desainer itu. Apa ia akan melakukan makan malam romantis seperti dulu lagi? Tapi gaun yang di bawa terlalu mewah jika hanya untuk makan malam.
“Sebenarnya ada acara apa?” Raisya bertanya dengan menahan kesal.
Desaainer itu memiringkan kepala, wanita itu juga bingung acara apa. Farel hanya berpesan untuk menyiapkan gaun mewah dengan sepasang topeng.
“Saya juga kurang tahu Nyonya. Mungkin semacam pesta topeng.” Desainer itu menerka.
Raisya mengernyitkan alis tidak paham. Pesta topeng? Mengapa ia tidak tahu, dan Farel pun tidak memberi tahunya sama sekali.
Ceklek!
“Wah, gaun ini pasti akan terlihat indah di tubuh Istriku nanti.” Farel menyentuh gaun dengan warna Rose gold.
Desainer itu yang sudah tahu hubungan Farel hanya menampilkan senyum dan anggukan. Memang gaun itu terlihat sangat indah, terlebih tambahan berlian di beberapa titik, membuat gaun itu akan terlihat bersinar.
“Benar, Tuan. gaun ini memang sangat cantik, terlebih jika yang memakai Nyonya.” Desainer itu menyetujui perkataan Farel, dengan sedikit memberika pujian untuk Raisya. Semua itu di lakukan desainer itu untuk megambil hati Farel, dan menarik minat Farel untuk berlangganan di butiknya.
Raisya menghembuskan nafas, merasa jengah dengan dua manusia di depannya itu.
“Benar, Istriku memang sangat cantik. Gaun apa pun itu, kalau yang memakai Istriku, aku yakin akan terlihat indah.” Farel berucap dengan menekankan jika Raisya cantik. Hal itu menunjukkan alasan kenapa Farel mengucapkan ‘gaun itu akan terlihat indah di tubuh Istriku, bukan Istriku akan terlihat cantik saat memakai gaun itu.
Desainer itu berdahem canggung. Sepertinya Farel sangatlah bucin terhadap Raisya. Maka jalan satu-satunya untuk mengambil simpati Farel adalah dengan selalu memuji Raisya.
Raisya yang melihat Desainer itu akan membuka mulutnya untuk melancarkan aksi merayu segela menyela.
“Farel, sebenarnya ada apa?” Raisya menatap Farel penuh tuntutan.
__ADS_1
Farel tersenyum, tangannya menyodorkan undangan warna emas kepada Raisya. “Undangan pesta topeng yang di adakan wali kota.” Farel menatap lembut Raisya.
Raisya tercengang, merasa shock dengan ucapan Farel. Pesta topeng? Dan yang mengadakan wali kota? Apa laki-laki di depannya sedang bercanda? Bagaiamana bisa laki-laki itu membawanya jika statusnya saja masih tidak jelas di depan publik?