
Raisya menyendokkan salad kedalam mulutnya. Salad membuatnya lupa akan segalanya, bahkan melupakan sosok laki-laki yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan memuja.
Farel menyuapkan makanannya dengan pelan, fokusnya haya tertuju pada wanita yang terlihat sangat menikmati salad buah itu. Beberapa kali terlihat jelas wanita itu memejamkan matanya.
“Apa begitu nikmt?” Farel bertanya tanpa bisa dapat dicegah.
Raisya yang menutup mata spontan membukanya. Merasa bingung dengan pertanyaan Farel yang sangat tiba-tiba. Sedangkan Farel yang melihat raut bingung Raisya tidak bisa menahan kekehannya.
“Maksudku, apa begitu enak salad itu. Cara makanmu membuatku semakin nafsu,” Farel berucap dengan menjilat bibir atasnya.
Raisya mengernyit. “Jika kau bernafsu, ambil saja salad di depanmu.”
“Bukan, aku tidak berafsu dengan salad, tapi aku bernafsu menjadi salad.” Farel berucap dengan penuh ambigu.
“Apa maksudmu? Kau mau tubuhmu di potong kecil-kecil, kemudian di balur dengan yoogurt, mayonis, dan keju?”
“Ah, kau terlalu polos. Aku ingin menjadi salad yang bisa kau nikmati, bukan menjdi salad yang di balur dengan keju dan lainya apalagi dipotong kecil-kecil.” Fael memberengut. Laki-laki itu merasa kesal dengan sikap Raisya yang terlihat tidak paham sama sekali.
Raisya terdiam, mencoba mencerna maksud dari ucapan Farel. Ingin dinikmati?
“Sia*an. Kenapa kau sangat mesum!” Raisya mengumpat dengan mata yang menghunus tajam Farel.
Laki-laki itu terkekeh melihat Raisya yang baru memahami ucapannya. Namun, merasa marah juga mendengar umpatan wanita itu.
“Raisya jangan mengumpat!” Farel mendesis tajam.
Raisya memutar mata malas. “Aku akan selalu mengumpat selama kau masih berbicara dan membahas sesuatu yang berbau mesum.”
Farel terkekeh. “Kalau begitu, kau harus bersiap untuk mengumpat terus.”
“Apa makudmu?”
“Ya, kau mengatakan akan selalu mengumpat ketika aku membahas sesuatu yang berbau mesum. Sedangkan setiap bertemu atau bersamamu otakku tidak akan berhenti berputar dari hal-hal yang berbau mesum.” Farel mengerlingkan mata genit.
Raisya mendengus kesal. Segera wanita itu menghabiskan saladnya, kemudian beranjak meninggalkan Farel yang masih tergelak di kursinya.
“Dasar, laki-laki sinting!” Raisya mendumel dengan kaki yang menaiki tangga satu persatu.
Farel tertawa dengan keras. Menjahili Raisya terasa sangat menyenangkan. Wajah bingung wanita itu membuatnya semakin tergoda untuk berbuat jahil.
****
Raisya menatap hamparan taman dengan raut berbinar. Ia merasa nyaman berada di tempat ini. Suasana yang awlnya membuat ia tercekik, seiring berjalannya waktu membuat ia terbiasa.
“Nyonya.”
Raisya terkejut mendengar sapaan tiba-tiba dari arah belakang. Dengan cepat kepalanya ia tolehkan untuk melihat siapa gerangan yang memanggilnya.
__ADS_1
Terlihat di sana Jesika berdiri dengan wajah lembut seperti biasa. Melihat Jesika membuat Raisya tanpa sadar tersenyum.
“Hay, duduklah.” Raisya menepuk kursi kosong di sebelahnya.
Jesika yang melihat perintah itu segera mengikutinya. Toh, ia juga membutuhkan posisi yang nyaman untuk berbincang dengan Raisya.
“Terimakasih.” Jesika tersenyum lembut.
“Tidak masalah.”
“Nyonya, apa Tuan sudah pergi?”
“Oh, Farel? Iya, dia sudah pergi.”
“Bagaiaman dengan rencanamu?”
“Rencanaku? Hmmm, ya, aku akan ke sana sekarang.”
“Kalau seperti itu, aku akan memeprsiapkan semuanya. Kau ingin bertemu Jhonatan atau Zakiel terlebih dahulu?”
“Sepertinya Zakiel. Ada banyak hal yang harus aku luruskan.” Raisya menerawang jauh di sana.
***
Farel menatap layar laptop yang menunjukan grafik perkembangan saham di perusahaan. Matanya menyorot tajam dan teliti.
“Bagaiamana bisa kita mengalami penurunan nol koma sembilan persen bulan ini?” Farel bertanya dengan tajam.
“Maaf Tuan, ada sedikit kendala saat pengiriman barang. Pergantian musim yang tiba-tiba, terlebih wabah yang melanda membuat tim distributor kewalahan dan mendapat komplain dari beberapa pihak, karena barang yang telat datang,” Ricard berucap dengan tegas sembari menunjukan bukti.
Farel menatap sekilas sesautu yang ditunjukkan Ricard. Matanya terpejam dengan erat. Laki-laki itu tidak menyukai ketidak sempurnaan. Namun, semua di luar kendalinya.
“Baiklah, saya ingin mereka lebih teliti dan lebih cekatan. Saya tidak ingin melihat penurunan seperti ini lagi. Sebagai gantinya dan pelajaran, kalian harus menaikkan saham bulan depan sebanyak dua persen.” Farel berucap dengan santai namun, penuh dengan ancaman.
Ricard meneguk ludah kasar, dua persen bukanlah angka sedikit. Dua persen bagi perusahan Farel itu sama saja dengan triliunan.
“Baik Tuan.” Ricard berucap sedikit gagap.
Brak!
Farel yang terfokus melihat grafik terkejut mendengar pintu yang terbuka dengan sedikit gebrakan. Ricard yang masih merasa gugup dan takut semakin terlonjak mendengar gebrakan tiba-tiba itu.
Farel yang ingin memuntahkan kemarahanya terdiam menatap sosok wanita paruh baya dengan sorot tajam dan merendahkan di depannya itu.
__ADS_1
Ricard yang melihat situasi tidak tepat segera meminta izin untuk pergi meninggalkan ruang.
“Ada perlu apa anda ke sini?” Farel bertanya dengan nada tajam.
Wanita paruh baya itu terlihat menyeringai. Senyum menjijikan terlihat jelas dari wajah penuh make up itu. Dasar tidak tahu umur!
“Oh, Putraku, pertanyaan macam apa itu?” wanita itu yang tak lain orang tua Farel mengernyit merasa tersinggung dengan pertanyaan Farel.
Farel menggertakkan gigi. Ia sangat membenci kata ‘putraku’ panggilan itu mengingatkannya detik-detik mendekati penyiksaan.
“Jika anda tidak ada kepentingan, silahkan keluar dari perusahaanku.”
“Oh, Putraku yang penakut ini sudah berubah menjadi pemberani.” Wanita itu mendudukkan tubuhnya di sofa panjang. Mengabaiakan tatapan tidak suka dari Farel.
“Ternyata nyaman juga di sini.” Wanita itu memindai seluruh ruangan.
Farel memejamkan matanya, tangannya mengepal kuat. Hembusan kasar ia keluarkan.
“Silahkan anda keluar.” Farel mendesis tajam.
“Oh, kau mengusirku? Aku tidak percaya, anak yang ku besarkan dengan penuh cinta bersikap seperti itu.” Wanita itu berucap dengan memasang wajah pura-pura sedih.
Farel muak. “ Dasar sialan, keluar dari ruanganku!” murka Farel.
Wanita itu menutup mulut, memasang wajah pura-pura terkejut. “Oh, kau bilang aku sialan? Bukankah kau yang sialan! Setelah melenyapkan adikmu, sekarang kau juga membuat anakmu lenyap. Ckckckc, memang sekali pembawa sial, tetap pembawa sial.” Wanita itu geleng kepala.
Farel mengetatkan rahangnya. “Tamara Lawson, sekali lagi saya bilang anda keluar! Anda paham bahasa manusia kan? Atau anda sudah berubah menjadi binatang? Oh, mengingat segala perilaku anda, saya yakin anda sudah berubah menjadi binatang!”
Wanita itu, yang tak lain Tamara Lawson menggertakkan gigi, merasa tersinggung dengan ucapan Farel. Dengan cepat wanita itu bangkit, menyorot tajam Farel.
“Untung kau tidak bermarga sama denganku. Andai kau memiliki marga yang sama, aku tidak tahu kesialan apa yang akan melanda keluargaku nanti. Dasar anak pembawa sial.” Tamara melenggang pergi. Meninggalkan sosk Farel yang terpaku menatap punggungnya yang terlihat menjauh.
Brak!
Melihat pintu yang tertutup, Farel tidak bisa menopang berat tubuhnya. Tubuhnya mbruk, terjatuh tepat di atas kursi kebesaranya. Sekuat-kuatnya laki-laki itu, ia akan tetap merasa rapuh ketika mendapatkan sebuah penghinaan, terlebih hinaan itu berasal dari mulut orang tuanya sendiri.
Mengingat tentang marga, ya, ia tidak di masukkan dalam marga keluarganya. Ia mengikuti marga dari pihak neneknya, Wiratman. Seharusnya dia Lawson. Namun, mereka teralu jijik dengannya.
Kadang ia berpikir, apa salahnya. Ia juga darah daging mereka, mengapa mereka bisa berbuat keji terhadapnya. Mengapa hanya dia? Dia juga tidak ingin terlahir di antara mereka berdua. Tidak meminta, dan tidak akan!
_________
Author lagi galau,,, doakan ya galaunya cepet hilang, trus bisa semangat nulisnya 😢😢😢
__ADS_1
entah dua bab ini gimana? Karena mode yg sedang berantakan, nulis juga jadi ogah²an,,, kasih semangat dong 😢😢😢
Terimakasih sudah dukung cerita Author,, dukungan kalian sangat² membantu 😍😍