Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
69. Marah


__ADS_3

Farel menatap gedung rumah sakit dengan wajah merah padam. Rasa emosi campur bersalah bersarang di dadanya.



Tangan kekarnya terkepal erat, membuat beberapa otot biru terlihat jelas di sana. Memejamkan mata sebentar, ia memutuskan untuk memasuki gedung itu.



Setiap langkah yang ia ambil membuat beberapa pasang mata menatapnya terpesona. Masih memakai pakaian yang menawan, Farel langsung menuju rumah sakit tanpa ada niatan untuk mengganti pakaiaanya sama sekali.



Laki-laki itu ingin cepat menyelesaikan seluruh beban di pundaknya. Rasa perihatin terhadap Salsah yang kehilangan bayinya membuatnya sedikit goyah, tapi ia harus konsisten dengan keputusannya.



Menemui Salsha dan megatakan tentang perceraiaan saat ini sangatlah tepat menurut laki-laki itu. Ia berharap semua berjalan sesuai rencannya.


“Permisi, di mana ruang rawat Nyoya Salsha Dawal?” Farel bertanya dengan raut datar.


Perawat wanita yang melihat sosok laki-laki terkaya dan terkenal mengerjapkan mata beberapa kali. Rasa tidak percaya timbul di matanya. Sedangkan Farel yang melihat perawat itu hanya terdiam, tanpa menjawab pertanyaanya menggeram marah dan menatap tajam perawat itu.



Perawat wanita yang menadapatkan tatapan tajam itu meneguk ludah kasar, dengan segera tanganya bergerak di atas keyboard untuk mencari nama pasien.


“Pasian berada di kamar rawat nomer 233 VVIP.” Perawat itu menjawab dengan gugup.


Masih dengan tatapan tajam, Farel menganggukkan kepalnya, kemudian melenggang pergi meninggalkan perawat itu yang menahan nafas.


*****


Tepat di depan pintu bertuliskan 233 VVIP, Farel terdiam. Wajahnya terlihat sangat rumit. Menghela nafas sejenak, ia ulurkan tangan kekarnya untuk membuka handle pintu.


Ceklek!


Farel terdiam tepat di tengah pintu. Pemandangan Salsha yang sedang direngkuh Maria menjadi penyambutan pertama yang ia lihat. Kaki kekarnya melangkah dengan pelan, mendekat ke arah dua sosok itu.


Maria yang mendengar pintu terbuka mengalihkan pandanganya. Tatapannya menajam melihat Farel memasuki ruangan dengan wajah datar, tanpa ada sedkit pun rasa khawatir. Sedangkan Salsha yang melihat kedatangan Farel semakin gugup.

__ADS_1


“Maaf, aku terlambat. Nenek bagaiamana kabarmu?” Farel bertanya dengan datar.


Maria yang mendengar pertanyaan datar itu menggeram marah. Segera tanganya melepaskan rengkuhannya. Dengan cepat tangan rapuhnya melayangkan tamparan kuat di wajah tampan Farel.


Plak!


“Bagus, kau kemana saja, kau lihat, kau sekarang kehilangan anak.” Maria berucap dengan wajah memerah.


Farel yang terdiam dengan wajah yang sudah tertoleh ke samping karena tamparan itu segera menatap lurus Maria. Ia merasa bingung dengan perkataan itu. Anakanya? Apa Salsha bercerita jika wanita itu sedang mengandung anaknya.


“Nek, Farel tidak tahu apa pun.” Salsha mencicit pelan. Rasa takut mulai menjalar di dadanya. Wanita itu takut jika Farel mengatakan di depan Maria jika bayi yang di kandung bukanlah anak laki-laki itu.


Farel yang mendengar penuturan itu menatap Salsha dengan rumit. Satu pemikiran muncul di otaknya. Salsha mengkambing hitamkan dirinya. Wajahnya yang datar berubah menjadi kekehan miris.


Maria menatap Salsha tidak percaya. “Bagaiamana bisa kau bicara seperti itu. Semua ini terjadi karena kelalaian Farel. Andai saja Farel di rumah dan menjagamu dengan baik, tidak akan terjadi seperti ini. Klaian tidak akan kehilangan anak yang sudah lama kalian nanti.” Maria mengusap wajah frustasi.


Wanita paruh baya itu tidak tahu jika setelah kepergiannya dari Mansion Farel, Salsha juga ikut pergi, meninggalkan Mansion itu cukup lama. Yang diketahui Maria, Salsha tetap menunggu di rumah sendirian, menunggu kepulangan Farel yang tak kunjung datang.



Kekehan Farel semakin kuat, bahkan ia mulai menatap Salsah sinis. Wanita yang ia kira baik-baik ternyata berperilaku menjijikan. Seandainya Salsha tidak mengatakan jika anak yang wanita itu kandung darah dagingnya, mungkin ia masih bisa berteman dengan wanita itu setelah perceraiaan. Namun, setelah melihat drama murahan ini, ia memutuskan untuk tidak menganggap, bahkan mengenal Salsha lagi. Wanita itu terlampau jahat, dan licik.


Salsha yang mendengar penuturan Farel menegang, apalagi tatapan netra coklat itu semakin menajam. Wanita itu semakin meremas tangannya kuat, ia ketakutan.


“Apa maksudmu?” Maria bertanya dengan alis terangkat sebelah.


Salsha menelan ludah kasar. Ia harus cepat bertindak sebelum semuanya hancur. Mata hitamnya mengedar kesuluruh tempat, hingga tatapannya terhenti pada gelas berisi air. Dengan cepat, wnaita itu berpura-pura mengambil gelas itu dan menjatuhkannya.


“Aku tidak__” ucapan Farel terhenti. Mata coklatnya menatap wajah Salsha yang terlihat seakan terkejut.


Prang!


Maria yang awalnya terfokus pada ucapan Farel segera mendekat ke arah Salsha. Wajah tuanya terlihat sangat khawatir.


“Salsha, kau tidak terluka?”


Salsha menggeleng dengan tangan menutup mulut terkejut. “Tidak, Nek. Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengambil air karena aku merasa haus, tapi tanganku terlalu lemah.” Salsha menundukkan kepala.


Maria menghela nafas panjang. Rasa kasihan menjalar di hatinya. Sungguh malang nasib wanita di depannya ini. Mungkin jika ia tidak mendapatkan info dari nomor misterius, ia tidak akan ke sini. Dan yang pasti Salsha tetap akan sendiri. Mengingat seluruh keluarga dan kerabat Salsha yang berada di luar negri.

__ADS_1



Maria mengalihkan pandanganya. Tatapannya kini terkunci pada Farel. Dengan tegas ia berkata.


“Sekarang kau harus menjaga Istrimu. Kau tahu ia membutuhkan dukungan, ia baru saja kehilangan seorang anak.”


Farel mengetatkan rahangnya. Kini ia tahu Salsha sengaja menjatuhkan gelasnya untuk mengalihkan perhatian Maria. Namun, ia akan tetap mengungkapkan kebenaran itu sekarang.


“Nek, sebenarn__”


Salsha yang sudah ketakutan segera menyela ucapan Farel. “Farel, bisakah kau menjagaku malam ini. sungguh aku membutuhkanmu. Dan Nenek, sebaiknya Nenek pulang saja, di sini sudah ada Farel.” Salsha memasang wajah lembut. Namun, di hatinya ia sangat ketakutan. Takut jika Fael membongkar semuanya, dan Maria tidak mau pulang. Ia harus menyusun strtegi. Meluluhkan Farel, dan membuat Maria selalu berada di pihaknya.


Maria menghela nafas panjang. “Baiklah. Nenek akan pulang, kau jaga kesehatanmu. Jika Farel berbuat macam-macam, kau bisa langsung panggil Nenek.” Maria mengelus pundak Salsha pelan.


Salsha tersenyum, dalam hati ia merasa lega. Setidaknya Maria tidak mempersulitnya.



Maria berjalan melewati Farel. Namun, sebelum ia benar-benar pergi, matanya menatap Farel penuh peringatan.



Hening menyelimuti ruang rawat itu. Farel hanya mentap Tajam Salsha, sedangkan Salsha hanya menunduk dan memilin jari-jarnya.


“Maafkan aku,” Salsha berujar lirih.


Farel mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa kau mengatakan jika anak itu anakku?” Farel bertanya dengan dingin.


Salsha memejamkan mata kuat. Sepertinya kali ini sulit untuk mendapatan kepercayan Farel, tapi ia akan tetap berusaha.


“Maafkan aku, sebenarnya aku juga tidak tahu siapa ayah dari bayi ini.” Salsha mengangkat kepalanya, menatap Farel dengan mata yang berkaca-kaca.


Farel terkekeh sisni. “Apa maksudmu kau tidak tahu siapa ayah dari bayi itu?”


“Aku diperkosa, dan aku tidak tahu siapa ang telah memeperkosaku. Aku baru sadar setelah aku bangun pagi hari. Tolong Farel percaya padaku. Aku di sini korban, dan aku tidak mungkin mengatakan kepada Nenek jika bayi yang ku kandung bukan anakkmu.” Salsha menatap Farel dengan wajah yang berderai air mata.


Farel terdiam, matanya menatap Salsha dengan rumit. Sedangkan Salsha semakin mengeraskan tangisannya. Ia harus bisa berperan menjadi wanita yang tersakiti dengan baik. Biar bagaiaman pun, ia tahu jika Farel tidak akan pernah tega dengannya. Bahkan dulu ia juga menerima ajakan menikahnnya setelah ia menanngis dan memasang wajah menyedihkan seperti ini.


_______

__ADS_1


Terimaksih sudah membaca,,,


__ADS_2