
Farel menatap Raisya yang terlentang dengan nafas terengah-engah. Mata coklat itu terlihat penuh binar. Dengan pelan, Farel melepas penyatuan mereka.
“Apa aku terlalu kasar?” Farel mengelus pelan surai Raisya.
Raisya menggeleng, masih dengan memejamkan mata dan mengatur nafasnya. Sungguh obat itu memilki efek yang sangat besar.
Farel tersenyum, tangannya merengkuh tubuh Raisya, membuat kedua tubuh itu saling menempel secara sempurna.
“Terimakasih.” Farel mendaratkan kecupan di puncak kepala wanitanya.
Raisya tetap diam, wanita itu menduselkan wajahnya di dada bidang Farel, mencari kenyamanan untuk tidur.
Farel mendesis pelan, sentuhan di dadanya, dan kelembutan tubuh Raisya membuat ia merasakan gejolak. Namun, sekuat tenaga laki-laki itu tahan.
“Tidurlah.” Farel mengelus pelan surai coklat itu, mebuat sang empu terhanyut dalam mimpi indahnya.
Suara nafas yang teratur, dan dengkuran halus membuat hati Farel terasa hangat. Laki-laki itu berharap, semoga ini menjadi lagkah awal yang baru.
****
Ricard menatap setumpuk kertas yang ada di depannya. Apa pun kesenangan yang Farel lakukan, pasti akan berujung kesi*lan untuk laki-laki itu.
“Kapan kau akan menipis?’ Ricard menatap sengit tumpukan kertas yang masih menebal itu. Bahkan matahari sudah mulai terlihat, dan tumpukan itu masih saja tidak berkurang.
Demi gaji yang besar, akan ia tahan kantuk dan rasa malas yang melanda. Farel mengambil cuti tiga hari full, artinya, selama itu pula, ia harus menyelesaikan seluruh tugas dan mengatur ulang jadwal Farel.
“Sabar, orang sabar jodohnya juga sabar, dan yang pasti penyayang.” Ricard mengelus dadanya, den menghebuskan nafas berulang kali.
Wajah yang terlihat sayu itu berubah menjadi ceria kembali. Bayangan tentang wanita cantik, baik hati, dan penyayang, membuat laki-laki itu tersenyum tanpa sadar.
Drt... Drt...
Ricard menatap gawainya yang bergetar. Tertera nama Nyonya Besar, yang tak lain Maria di sana. Tanpa sadar mata laki-laki itu melebar, bayangan wanita cantik dengan cepat terganti dengan wajah wanita tua yang tegas dan kejam.
“Hallo Nyonya besar,” Ricard berucap dengan sedikit gemetar.
“Dimana Farel?”
“Eh, Tuan sedang ada urusan Nyonya Besar.”
__ADS_1
“Katakan padanya, saya ngin membicarakan sesuatu yang penting.”
Tut!
Ricard terkejut dengan nada tajam dari Maria, lebih terkejut lagi dengan pernyataan barusan.
“Apa yang teradi? Sepertinya ada sesuatu yang tidak baik-baik saja.” Ricard menggaruk pelipisnya.
****
Matahari terlihat mengintip malu dari celah gorden itu. Dua sosok pasangan saling memeluk dan menyalurkan kehangatan terlelap dengan tenang di atas ranjang yang terlihat sangat berantakan.
Beberapa kali angin mengusik rambut mereka, membuat salah stu darinya membuka mata, dan memperlihatkan netra coklat indah.
Farel tersenyum, pemandangan Raisya yang terlelap dengan memeluk erat pinggangnya setiap pagi adalah sebuah impian terbesarnya. Ia berdoa agar tuhan mengizinkan dirinya selalu menikmati pemandangan seperti ini setiap hari.
Farel yang melihat mata Raisya yang mengerjap akibat kibaran rambutnya itu tersenyum. Netra hijau itu menelisik lebih dalam wajah damai yang terlihat sedikit pucat itu. Tangan kekarnya mengelus surai lembut itu, mengembalikan ke tempat semula, dan menyentuh pelan pipi mulus itu.
Raisya yang merasa sangat terusik lantas mengerjapkan mata, kemudian membuka matanya. Pemandangan pertama kali yang ia lihat adalah pahatan dada yang sempurna, ditambah beberapa tonjolan otot yang terlihat kuat.
“Selamat pagi, sayang.” Farel mengecup puncak kepala Raisya saat matanya menatap Raisya yang sudah terbangun.
“Pagi.”
“Ehh, bukannya ini sudah siang?” Raisya terlonjak saat menyadari matahari yang terlihat sudah meninggi dari jendela.
Farel mengalihkan pandangan, menatap jendela yang menampilkan matahari yang benar-benar sudah menjulang tinggi. Laki-laki itu terkekeh kecil, kemudian menenggelamkan wajahnya di rambut coklat Raisya.
“Uhh, apa yang kau lakukan?” Raisya mencoba mendorong dada Farel yang menutupi wajahnya.
Farel terkekeh, laki-laki itu semakin memperdalam pelukannya, mengendus rakus aroma rambut Raisya. Aroma melati yang bercampur dengan keringat.
“Farel, kau membuat ku sesak.” Raisya memukul pelan dada Farel.
Farel terkekeh, kemudian melepas rengkuhannya. Matanya menatap ke bawah, terlihat jelas wajah Raisya yang cemberut.
“Dasar!” Raisya mendengus kesal. Wajah wanita itu semakin pucat, bahkan keringat dingin mulai keluar dari keningnya.
Farel yang melihat wajah Raisya yang awalnya cemberut berubah menjadi sayu mengernyitkan dahi.
__ADS_1
“Raisya, apa kau baik-baik saja?” Farel bertanya dengan nada cemas.
Raisya memejamkan mata sejenak, mencoba menghalau rasa pusing yang sudah melandanya sejak tadi. Bahkan wanita itu mulai tidak bisa mendengar suara Farel yang memangilnya dengan penuh khawatir.
“Raisya.” Farel bangkit, mendudukan dirinya, bahkan laki-laki itu tidak memperdulikan ketelanjangannya.
Ingatan tentang Raisya yang alergi obat-obatan menghantam kepalanya. Bagaiamana bisa, ia lalai. Dengan sedikit gemetar, tangan kekar itu meraih celana pendek yang teronggok di bawah dengan cepat, kemudian memangku kepala Raisya di atas pahanya.
Kulit dingin terasa jelas di pahanya yang hangat. Farel semakin khawatir, terlebih ketika melihat Raisya yang tetap menutup matanya dengan alis mengernyit, seperti menahan sakit.
“Sayang, kau bisa mendengarku?” Farel menepuk lembut pipi Raisya.
Raisya tetap diam, ia ingat obat perangsang itu akan berakibat buruk untuk kesehatannya. Bahkan dadanya mulai sesak, dan nafasnya mulai terasa sulit.
Farel menggengam erat tangan Raisya yang terkepal, bahkan dada wanita itu terlihat sedikit membusung karena rasa sakit yang terasa.
“Ah, Farel, dadaku sakit.” Raisya memegang dadanya dengan nafas yang mulai tidak beratur.
Farel semakin gemetar, tangannya meraih gawai yang tergeletak di ujung ranjang, dengan cepat ia meraih dan mencoba menghubungi nomer Jesika.
“Sayang, kau harus bertahan.” Farel mengecup beberapa kali kening Raisya yang terlihat penuh peluh itu.
Raisya merasa telingannya mendengung, bahkan matanya semakin sulit untuk dibuka. Semuanya semakin terasa menyakitkan saat tubuhnya bergetar hebat, bahkan seperti kejang.
Farel menatap cemas Raisya. Tangannya terkepal erat dengan wajah yang memerah menahan tangisan. Ingatan tentang Raisya yang terbaring keritis memenuhi otaknya. Ia tidak ingin kehilangan Raisya. Baru saja ia merasakan kebahagian, kenapa Tuhan dengan teganya mengambil kebahagiannya dengan memperlihatkan keadaan wanitannya yang mengenaskan.
“Breng*ek! Kenapa kau tidak bisa dihubungi.” Farel menggeram marah mendengar nada sibuk dari hp-nya.
“Sayang, bertahanlah, jangan membuat aku khawatir.” Farel menggenggam erat tubuh Raisya, mencoba menahan kejang di tubuh yang tidak berbalut benang sama sekali.
Raisya mengeluarkan air mata. Bahkan kesadarannya sudah menipis, dan wanita itu tetap mengeluarkan air mata. Rasa sakit yang ia rasakan sungguh tidak bisa ia toleransi lagi. Semuanya semakin kacau saat kegelapan semakin menenggelamkannya, membuat ia terhanyut dalam rasa sakit yang tak kunjung surut itu.
Farel akhirnya menangis, melihat tubuh Raisya yang tenang dengan bibir semakin memburu membuatnya ketakutan luar biasa.
“Akan aku bunuh kau Salsha, jika terjadi sesuatu dengan Istriku!” Farel mendesis tajam dengan air mata yang memenuhi pipinya.
____
Maaf ya,, up nya telat bgt, lagi banyak tamu terus juga lagi gk enak badan,, terimakasih sudah membaca
__ADS_1