Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
118. Pembunuh


__ADS_3

Raisya menatap sosok wanita yang pernah dekat denganya itu dengan pandangan penuh tanya, sedangkan yang di tatap hanya menunduk untuk menutupi kegusarannya.


“Jesika!”


“Andres!”


Raisya dan Farel bergumam dengan serentak. Mata mereka menatap tidak percaya dengan kehadiran mantan pelayannya itu.


“Nek....” Farel menatap Maria seperti menuntut penjelasan.


Maria menatap sekilas Farel, wajah tua itu terihat jelas malas untuk menjelasakan semuanya.


“Raisya, mereka berdua yang akan menemanimu nanti.” Maria mengelus lembut pundak Raisya.


Raisya masih terkejut, bahkan wanita itu menatap Maria dengan raut wajah tidak terbaca.


“Bagaiamana bisa?” Farel bertanya dengan wajah tidak terima.


Maria menatap sinis Farel. “Apanya yang tidak bisa? Kau kira Nenekmu ini bodoh? Bahkan yang kau sebut wanita tua ini lebih pintar dari pada dirimu yang masih muda.”


Andres hanya menunduk, merasa telah berkhianat selama ini. Meskipun ia tidak melakukan apa pun, nyatanya selama ini sebenarnya ia bekerja untuk Maria bukan Farel.



Sedangkan Jeni tidak kalah gugup. Tatapan kecewa dari Raisya membuat wanita bermata sipit itu merasa tidak nyaman. Biar bagaiamana pun, ia menerima tawaran dari Maria hanya untuk menjaga Raisya lebih dekat lagi, dan yang pastinya tidak akan ada yang berani menyakiti wanita itu nanti.


“Jadi selama ini kau mengkhianatiku?” Farel menatap tidak percaya Andres. Bahkan laki-laki itu terkekeh miris.


“Maafkan saya Tuan, tapi saya tidak bermaksud demikian. Saya ditugaskan Nyonya Besar untuk menjaga Tuan.” Andres menjawab dengan tegas, sesuai dengan bentuk tubuhnya yang tinggi besar.


Farel terkekeh merasa ia selama ini sudah bisa bangkit dengan bahunya sendiri. Tapi fakta ini benar-benar menamparnya. Ia masih saja seperti dulu, harus selalu di pantau dan di jaga. Jika seperti ini, tidak salah Maria menganggap dia tidak akan bisa menjaga Istrinya itu.



Andres hanya diam. Biar bagaiamana pun ia yakin akan ada masanya pertemuan seperti ini, dan dia juga sudah mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari. Padahal, ia sudah merasa tenang saat Farel memecatnya, ia lebih leluasa untuk menjalankan tugasnya nanti, tanpa perlu memiliki rasa bersalah.



Meskipun ia tidak pernah membocorkan mengenai perselingkuhan Farel, tapi semua terbongkar tepat setelah tragedi Salsha itu. Ia yang hanya memiliki status bawahan hanya bisa berkata jujur tanpa mampu berdusta.

__ADS_1


“Nek, apa aku harus benar-benar menjauh dari Istriku?” Farel menatap Maria, meminta sedikit belas kasihan dari wanita tua itu.


“Hmm, kau harus menjauh, sampai kau menyelesaikan semuanya. Setelah itu datanglah, jemput Istrimu dengan layak, dan berikan pengakuan untuknya dan status yang jelas.” Maria menekan setiap ucapannya.


Bukan karena tanpa alasan. Ia hanya khawatir, Raisya akan memiliki nasib yang sama dengan mendiang putrinya. Terlebih bukan hanya satu pihak saja yang ingin menghancurkan Farel.



Farel menunduk, begitu pula dengan Raisya. Meskipun wanita itu sudah mengambil keputusan, tapi ia juga merasa berat saat berjauhan dengan Farel. Rasa takut akan ditinggalkan dalam keadaan mengandung membuat ia sedikit ragu, tapi mengingat kembali tujuan perpisahan ini membuat ia harus berusaha tegar.


“Apa aku tidak bisa sesekali berkunjung?” Farel bertanya dengan lemah.


Andres dan Jesika merasa lucu melihat tingkah atasannya itu yang biasanya segarang singa kini berubah seperti kucing.


“Untuk apa kau berkunjung. Lebih baik waktu berkunjungmu kau gunakan untuk membasmi para tikus. Kau tidak ingin terlalu lama berpisah dengan Istrimu kan? Minimal kau harus bisa menghapus nama buruk yang nanti akan terlimpah pada Raisya. Untuk masalah lainnya kita bisa membasminya bersama-sama.” Maria berucap dengan serius.


****


Tuan Dawal menatap sendu putriya yang terlihat menyedihkan. Tubuh yang semakin kurus, wajah yang terlihat pucat, bahkan pria paruh baya itu seperti tidak mengenali anakanya lagi.



Berbagai permasalahan yang datang bertubi membuat otak tuanya merasa sangat pening. Perusahaan yang sudah pasti gulung tikar, sang istri yang terlihat tidak terima dengan siatuasi ekonomi, dan sekarang kondisi putrinya yang terlihat seperti raga tanpa jiwa.


Tok... Tok...


Pria paruh baya itu menangkat alisnya, merasa bingung siapa yang datang malam-malam seperti ini. Dengan langkah gontai, ia membuka pintu.


“Siapa anda?” Pertanya dengan nada ketus itu meluncur dari bibir tuanya. Mata tuannya menatap sosok laki-laki yang menutup wajahnya dengan setengah masker. Tapi ia yakin wajah di balik masker itu tidak bisa di anggap buruk.


“Maaf jika kedatangan saya terkesan tidak sopan Tuan Dawal. Tapi saya di sini sebagai teman dari putri anda, Salsha Dawal, ingin melihat kondisinya.”


Pria paruh baya itu merasa bingung, apakah di depannya itu teman putrinya di dunia permodelan? Sedangkan pria bermasker itu yang melihat tatapan menilai itu tetap berdiri dengan sopan, menunggu sang Tuan rumah mempersilahkan.


“Tuan__”


“Oh, ya. Silahkan masuk.” Tuan Dawal mempersilahkan pria itu dengan menggeser sedikit tubuhnya.


“Terimaksiah Tuan.”

__ADS_1


Mereka berjalan dengan tenang. Pria paruh baya itu masih sibuk dengan pertanyaan tentang siapa pemuda itu, sedangkan pemuda itu menatap datar sekelilingnya.



Mereka berhenti tepat di depan pintu berwarna putih. Helaan nafas panjang terdengar jelas dari pria tua itu, sedangkan Pemuda itu masih tetap memasang wajah datarnya.


Ceklek!


“Silahkan masuk.”


Pemuda itu menatap setiap sudut ruang sebelum kaki panjangnya mengambil langkah masuk, sedangkan Tuan Dawal yang sudah masuk duluan menatap perihatin kondisi sang putri.



Melihat Tuan Dawal yang sudah terlihat sedikit jauh darinya membuat pemuda itu tersadar, kemudian melangkah untuk memasuki ruangan yang terlihat sangat suram itu.


“Beginilah kondisinya sekarang.” Tuan Dawal mengawali pembicaraan.


Pemuda itu tetap diam, menatap sosok lemah yang terkulai dengan mata tertutup. “Apa yang terjadi sebenarnya Tuan?” pemuda itu bertanya dengan mata yang tidak teralih satu detik pun dari wajah Salsha.


Helaan nafas panjang terdengar lirih dari pria paruh baya itu. “Semua ini karena mantan suaminya.”


Pemuda itu mengalihkan tatapan, menatap pria paruh baya itu dengan penuh minat. Namun, pria paruh baya itu hanya mengucapkan kalimat itu saja, tanpa menambahkan sesautu yang akan memenuhi rasa ingin tahu pemuda itu.


“Oh, ekhm, sepertinya saya tinggal sebentar. Mungkin kau ingin menunggu Salsha di sini saja, atau ke ruang tamu sekedar meminum teh?” Tuan Dawal memberi penawaran untuk pemuda itu. mengingat ia juga harus memantau kondisi sang Istri yang terlihat sangat linglung itu.


“Saya di sini saja Tuan. Tujuan saya datang untuk melihat Salsha, jadi tempat yang pantas, ya di ruang ini.” Pemuda itu menjelaskan dengan nada tenang.


Tuan Dawal menganggukkan kepala, kemudian berjalan untuk meningglkan pemuda itu. Setiap langkah yang di ambil terasa berat, bahkan setelah pintu itu tertutup



Pemuda itu menatap pintu yang sudah tertutup. Tatapannya beralih pada Salsha yang terlihat sangat pucat itu. tangan kekarnya mengelus perut datar dengan pandangan rumit.


“Pembunuh.” Pemuda itu mendesis dengan tajam.


_________


Sorry ya telat up, dan cuma satu bab doang....

__ADS_1


Author lagi suibuk bgt hari ini 😭😭😭😭😭


Jangan lupa Mampir di ceritanya Author yg di Fi**o ya,,, Judulnya second life, nama pena Althoza_$,, kalo punya PF nya ya 😍😍😍


__ADS_2