Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
22. Monster


__ADS_3

Farel mencoret-coret kertas di atas mejanya. Beberapa bulan terpekur memikirkan keberadan Raisya, membuat ia menjadi pribadi baru.


Srek


Wanita dengan rambut digelung itu gemetar melihat dokumen yang susah-susah ia buat dicoret, kemudian dirobek tanpa perasaan.


“Berapa tahun kau bekerja di sisni?”


“Sudah... ha..m.. hampir dua tahun tuan.”


Farel mendengus mendengar suara gagap pegawainya, sedangkan pegawai wanita itu menahan gemetar di seluruh tubuhnya.


“Dua tahun tapi kinerjamu masih seperti orang magang. Kau dipecat!”


Wanita itu mendongak menatap atasanya dengan mata berkaca-kaca.


“Tuan, maafkan saya. Saya berjanji saya tidak akan mengulangi kesalahan lagi.” Wanita itu berlutut berharap mendapat belas kasihan dari atasanya.


Ricard yang sedari tadi melihat menutup matanya, menahan amarah yang meletup. Ia merasa semakin hari, sifat atasanya semakin menyeramkan. Sebulan ini sudah sepuluh pegawai yang dipecat dengan alasan sepela. Tak jarang ia dientak, dan disalahkan jika ada kesalahan dari pegawai lain.


“Keluar.”


Wanita itu semakin menangis, hanya karena kesalahan menulis gelar atasanya ia dipecat. Ingin sekali ia berteriak marah, tapi amarahnya hanya tertahan di dada.



Farel menatap wanita itu muak. Bagaimana bisa ia tidak memahami bahasa manusia? Segera ia lirik Ricard yang berdiri di samping wanita itu. Ia memberi kode, dan Ricard menangkap kode itu dengan baik.


“Maaf, silahkan anda keluar.” Ricard menarik lengannya. Wanita itu menatap Ricard penuh permohonan, tapi Ricard menggelengkan kepalanya.


Farel menatap datar Ricard yang menggeret lengan pegawainya. Helaan nafas ia keluarkan melalui mulut dengan kasar.


“Manusia bodoh seperti itu tidak layak hidup.”


****


Semua pegawai menatap perihatin wanita yang di seret Ricard. Mereka sudah tidak asing dengan pemandangan seperti ini.


“Pak farel sekarang berubah menjadi monster.” Bisik wanita dengan pakaian berwarna kuning.


“Iya, gue jadi takut buat masuk ruangannya.” Wanita dengan alis sincan itu mengangguk.


“Gue rasa Pak Bos lagi patah hati deh makanya bawaanya marahmarah mulu.” Sambung wanita dengan atasan hijau.


“Eh, bisa jadi. Kalian tahukan bu Salsaha udah hampir dua bulan gak ada kabar, gue denger-denger hubungan mereka juga mulai renggang?”


“Ihh, masak sih?”


“Iya, gue denger sendiri dari pelayan yang kebetulan kena pecat juga.”


“Ah, pantes kayak gitu. Lagi patah hati toh rupanya.”


Ricard yang mendengar bisik-bisik karyawan wanita yang sudah di luar batas segera mendatanginya dan menegor.

__ADS_1


“Kalian digaji untuk kerja, bukan ngegosip.”


Mereka bertiga yang awalnya asyik dengan pembicaraan itu segera bubar. Terlalu takut menjadi korban selanjutnya lagi.



Ricard menatap tajam mereka bertiga. Meskipun ia tidak suka dengan sikap atasanya, tapi ia tetap marah jika ada yang menggunjingnya di belakang. Mereka bertiga tidak tahu mengenai masalah yang sebenarnya, dan dengan entengnya menyimpulkan sesuatu.



Dengan menahan geraman, Ricard berjalan menuju ruanganya. Ia berharap hari ini cukup satu orang yang dipecat.


****


Maria merasa ada yang aneh. Sudah tiga bulan ia tinggal di kediaman cucunya namun, hanya sekali ia melihat cucunya bersama dengan istrinya itu. Apakah mereka sedang ada masalah? Mata tua itu mengedar keseluruh penjuru arah, tatapanya terhenti menatap pelayan yang membersihkan pojok ruangan.


“Pelayan, ke sini.”


Wanita dengan seragam putihnya menghentikan gerakan tanganya, kemudian mebalikkan tubuh dan menunduk melihat siapa yang memanggil. Sesuai etikanya sebagai pelayan, ia berjalan dengan membungkukkan badanya dan berhenti tepat satu meter di depan sang majikan.


“Iya Nyonya, ada yang bisa saya bantu?”


“Apakah Salsha memang sering berpergian seperti ini?”


Pelayan itu terdiam, bingung harus menjawab apa? Maria yang melihat keterdiaman pelayan itu mendengus. Ia tidak suka orang dungu dan lelet.


“Berapa tahun kau bekerja di sini?”


Pelayan itu tergagap mendengar nada tidak suka majikanya. Bisa gawat kalau dia dipecat, paling parah dilaporkan pada perusahaan yang menyalurkanya sekaligus tempat pelatihanya.


Tatapan datar itu membuat tubuh pelayan semakin gemetar. Bahkan keringat dingin mulai merembas di punggungnya. Kini ia akui, seluruh keturunan Wiratman mempunyai aura seperti monster.


“Jika kau sudah bekerja selama itu, kenapa kau masih seperti orang dungu! Jawab pertanyaan saya tadi!”


“Nyonya Salsha memang sering berpergian, tapi tidak pernah selama ini Nyonya,” ucapnya dengan menunduk ketakutan.


Maria terdiam mendengar penuturan Pelayan di depanya. Ia semakin yakin jika ada yang tidak beres di sini. Pikiran negatif mulai memenuhi otak tuanya.


“Kau boleh pergi.”


“Baik Nyonya, saya permisi. Semoga hari anda menyenangkan.”


Pelayan itu memundurkan tubuhnya dengan wajah lega. berhadapan dengan Wiratman seperti berhadapan dengan malaikat kematian.


“Apakah Salsha selingkuh, kemudian Farel merasa patah hati? Jika seperti itu, akan aku buat hancur karir Salsha.”


*****


Farel memasuki mansionya dengan wajah mengeras. Netra hitamnya menatap jejak kaki.


“pelayan!”


Mereka yang mendengar teriakan Farel segera berlari untuk menghadap. Farel tatap satu persatu di antara mereka dengan rahang yang mengeras.

__ADS_1


“Bagaimana kalian membiarkan ada noda di sini.” Tunjuknya tepat ke arah lantai.


Mereka mengikuti arah tunjuk Farel, mata mereka terbelalak dan saling senggol kemudian.


“Kalian bodoh!”


Mereka semakin gemetar mendengar nada geram itu. Bahkan salah-satu dari mereka menahan air matanya, karena yakin nasibnya akan sama seperti pelayan yang melakukan kesalahan.


“Siapa yang bertanggungjawab di sisni.”


Salah satu pelayan yang menahan tangis itu maju dengan menunduk. Gemetar ditubuhnya tidak bisa di tahan lagi, bahkan air matanya dengan lancang menerobos keluar.


“Kau! Silahkan kemasi pakaian, dan pergi dari sini.”


Mereka yang melihat temprament atasanya yang semakin hari semakin menakutkan hanya bisa pasrah. Bahkan sekedar untuk membela diri tak sanggup. Mereka terlalu takut dengan konsekuensi akibat berani membela diri. Dengan pasrah pelayan itu pergi.


“Bubar!”


Dalam sekejap, ruangan yang ramai itu berubah mnjadi sepi. Farel menghembuskan nafas kasar. Ia merasa tidak ada yang benar selama dua bulan ini.



Maria melihat semua kejadian itu dari awal sampai akhir. Tidak ada niatanya untuk menegur atau pun membela pelayan malang itu. Kakinya melangkah mendekat ke arah cucunya yang terlihat frustasi.


“Kau kenapa?”


Farel terperanjat mendengar pertanyaan neneknya. Ia memejamkan mata dan menggigit bibirnya kuat. Dia juga tidak faham apa yang terjadi pada dirinya.


“Sini.” Maria menarik lengan Farel.


Farel hanya bisa mengikuti kemana pun neneknya berjalan. Netranya menunduk, terlalu malu untuk bersitatp dengan sang nenek. Maria yang melihat cucunya seperti tertekan segera mendudukan mereka di sofa ruang tengah. Tanganya terlepas, kemudian beralih menyentuh kepala cucunya yang terus menunduk.



Sentuhan di kepalanya membuat Farel mendongak. Netra hitam itu bertemu dengan mata yang sudah keriput. Dengan kasar ia menegak ludahnya sendiri, berusaha membasahi kerongkongan yang tiba-tiba kering.


“Jangan berbohong, Nenek kenal baik dirimu. Apa yang terjadi?”


Farel semakin menggigit pip dalamnya kuat, berharap mampu menekan rasa takut dan was-was yang tiba-tiba melanda.


“Jangan katakan Salsha selingkuh?”


Jlep!



Netra hitam itu terbelalak mendengar penuturan Maria. Selingkuh?


____


**Hallo pembaca setia,,, aku balik lagi di sini. Satu bab dulu ya, nanti sore aku up lagi.


Jangan lupa vote, komen, biar author semangat nulisnya😘😘😘

__ADS_1


kalo mau follow juga boleh 😍😍😍😍**


__ADS_2