Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
130. Aku mencintaimu


__ADS_3

Raisya mengelus perutnya yang sudah terlihat membuncit. Memasuki bulan ke lima, ia sudah merasa begah di perutnya, bahkan wanita itu mulai merasa sangat lelah saat berjalan.


“Nyonya.”


Raisya mengalihkan pandangan, menatap Jesika yang datang membawa nampan berisi buah kiwi itu. senyum cerah terbibit di wajah wanita hamil itu.


“Oh, kau sudah membawa apa yang aku minta, bagus!” Raisya tersenum lebar.


Jesika yang melihat senyum itu semakin merasakan firasat burk. Sudah cukup ia melakukan beberapa hal yang mustahil dilakukan manuisa itu. Apa kali ini, si jabang bayi ingin mengerjainya lagi.


“ANDRES!” Raisya berteriak dengan nyaring.


Semakin lama, wanita hamil itu semakin bar-bar. Teriakan sudah menjadi hal lumrah sekarang. Bahkan, Jesika yang awalnya merasa bising, sudah bisa menerima semua dengan lapang dada, bahkan kupingnya juga terlihat sudah kebal.



Terlihat Andres berlari dengan tergopoh-gopoh. Laki-laki dengan setelan tentara itu terlihat menghirup nafas dengan rakus.


“Iya, Nyona. Ada yang bisa saya bantu?” Anfdres bertanya di sela-sela nafanya yang tersengal.


“Ok, kalian semua sudah berada di sini. Sekarang aku ingin kalian makan kiwi ini semuanya.” Raisya tersenyum cerah.


Andres dan Jesika saling melirik, merasa aneh dengan perintah yang menurut mereka sangat lumrah itu.


“Oh, ya jangan lupa kalian harus makan dengan cara saling menyuapi.” Raisya tersenyum semakin lebar, membuat mereka berdua menghela nafas panjang.


Mereka terlalu aneh dengan permintaan yang menurutnya sangat biasa itu. Dan semua terjawab, si jabang bayi sepertinya ingin membuat mereka dekat.


Raisya yang melihat mereka berdua hanya saling melirik tanpa melakukan perintahnya mendengus sebal. Dengan geram, tangannya mengambil botol caos yang ada di ujung meja.


“Kenapa kalian hanya diam? Pendengar kalian sudah tidak berfungsi lagi?” Raisya menatap tajam mereka.


Selain suka teriak-teriak, wanita hamil itu kini suka sekali mengeluarkan kata-kata pedas.


“Tidak, maafkan kami Nyonya. Kami akan segera memakannya,” Mereka serentak berucap dengan gugup.


“Hmm, sebagai hukuman akibat keteledora kalian, sekarang kalian hanya boleh makan buah kiwi dengan caus ini.” Raisya mengarahkan caus sambal itu di depan muka mereka.


Jesika yang melihat itu menelan ludah takut. Ia paling benci dengan yang namanya saus. Melihat saus, mengingatkannya pada darah saat melakukan oprasi, atau pun menangani paisen yang kecelakaan dengan darah yang menggenag kemana-mana.


“Nyonya ...”

__ADS_1


“Tidak ada bantahan.”


Mereka dengan terpaksa memakan kiwi dengan caus, bahkan muka jesika terlihat sudah merah, seperti menahan mual, karena caus yang masuk ke mulutnya.



Andres menatap Jesika dengan kernyitan di dahi. Meskipun percampuran antara caus dan kii sungguh di luar akal, tapi menurutnya makanan seperti ini masih bisa di terima lidahnya.


“Kau tidak apa-apa?” Andres berbisik pelan.


Jesika terlihat enggan menjawab, wanita itu masih sibuk mengunyah dan menutup ata rapat. Wanita itu persis seperti bayi yang dipaksa meminum obat pahit.


Huek!


Raisya mendelik, melihat Jesika yang dengan tiba-tiba mengeluarkan makanan yang sudah ia telan itu menimbulkan kernyitan jijik dan tanda tanya.


“Kau kenapa?” Andres bertanya dengan nada khawatir.


“Kau hamil?” Raisay bertanya dengan nada lirih dan wajah tidak percaya bercampur jijik itu.


Jesika yang terlihat kacau itu mendongak, menatap mereka berdua dengan wajah penuh kekesalan.


“Maafkan saya Nyonya, sepertinya saya harus istirahat.” Jesika tersenyum formal, kemudain berjalan meninggalkan mereka berdua dengan ekspresi berbeda.


***


Farel dengan wajah penuh binar melangkah kaki di bandara, senyum lebar d bibirnya tidak pernah pudar. Semua masalah sudah terselesaikan, meskipun harus memakan waktu yang begitu lama.


“Tuan, itu mobil yang akan menjemput anda.” Ricard membungkuk, tanganya menunjuk mobil hitam mewah yang di depannya berdri seorang supir dengan seragam resminya itu.


Farel yang melihatnya semakin tersenyum, tanpa menunggu lama, kaki panjangnya berjalan dengan cepat menuju mobil mewah itu.



Ricard yang melihat tingkah tuannya hanya bisa tersenyum kecut. Nasib seoarng jomblo sepertinya bisa apa? Mungkin di antara kalian ada yang ingin bersamanya, menjalin hubungan, dan menua bersama. Dan yang pasti, siapa pun orangnya nanti, ia harap bisa menerima saat ia harus membagi perhatiannya dengan pekerjaan.


***


Farel dengan tangan yang sedikit gemetar memegang kenop pintu. Tubuh kekarnya terlihat tidak kaut lagi untuk melangkah akibat besarnya rindu yang di pendam. Lima bulan sudah, dan ia bisa menuangkan segala kerinduannya sekarang juga.


“Andres!”

__ADS_1


Teriakan dari dalam itu membuat senyum di bibir Farel hilang. Kenapa ia harus mendengar nama laki-laki lain dari bibir wanitanya itu saat meginjakkan kaki di sini.



Dengan wajah penuh kekesalan, tangan kekarnya membuka kenop pintu dengan kasar. Namun, rasa kesal yang dirasa seketika menguap. Di depan sana, terlihat Riays yang terlihat kesusahan untuk berdiri.



Perut buncit wanita itu membuat mata coklat itu berkaca-kaca. Bahkan kakinya seperti ada yang mengikatnya.


“Sayang ....”


Panggilan lirih itu membuat Raisya terdiam, tubuh wanita itu terlihat sedikit membeku. Dengan pelan, wanita itu memutarkan tubuh.


“Farel ....”


“Iya, sayang. Ini aku.” Farel tersenyum dengan lebar, bahkan matanya sudah meneteskan air mata.


Raisya yang melihat semua itu nyata dengan cepat berlari ke arah Farel. Ia tubrukkan tubuhnya yang tidak bia diblang kecil itu.


“Kenapa kau lama sekali? Apa kau sudah menemukan yang baru? Atau kau sudah bosan denganku?” Raisya bertanya dengan wajah yang semakin ditenggelamkan di dada bidang itu.


Farel yang mendengar pertanyaan dengan nada cemburu itu menegang. Aap ini artinya Raisya sudah mencintainya? Apa ini artinya ia sudah tidak menjadi laki-laki baji\*gan karena mengikat wanita dengan pernikahan tanpa mencintainya? Apa semua doanya terkabul?



Raisya yang tidak mendengarkan jawaban dari Farel semakin kesal, wanita itu dengan kasar melepaskan pelukannya, bvahkan memberikan sedikit dorongan di dada bidang itu.


“Kenapa kau diam? Kau benar-benar selingkuh?” Raisya menyorot tajam.


Melihat itu, Farel semakin menangis. Rasa bahagia tidak bisa ia tampung lagi, membuat kebahagiannya tercecer memenuhi seluruh sarafnya itu.


“Kau cemburu? Apa kau sudah mencintaiku?” Farel bertanya dengan sungguh-sungguh.


Raisya yang mendengar itu tertunduk malu, tapi ingatan tentang Farel yang tidak menjawab pertanyaan tadi membuat ia kesal.


“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Kau mau mengalihkan topik ya?”


Farel tersenyum lebar, tanpa emnunggu lama, laki-laki itu membawa tubuh yang terlihat sedikit gempal itu ke dadanya, memeluk erat, dan meninggalkan beberapa kecupan di rambut sang wanita.


“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Akhirnya kau membalas perasaanku,” Farel berbisik lirih.

__ADS_1


Raisya tersenyum mendengar pernyataan Farel. Ya, ia akui sudah mencintai Farel. Berbulan-bulan jauh dari laki-laki itu, membuat ia sadar jika perasaannya sudah lama berlabuh, meskpun ia tidak bisa menghilangkan nama Jhonatan di sana, tapi ia tahu, Farel sydah menduduki tahta tertinggi di hatinya.


__ADS_2