
“Tidak, jangan seperti itu. hukum aku. Pukul aku. Apa pun itu, lakukanlah semua yang kau mau untuk menghukumku. Bahkan kau bisa menampar mulut kurang ajarku yang telah mengeluarkan kata-kata laknat itu. Dan juga, kau bisa memukul kakiku yang dengan kurang ajarnya meninggalkanmu di tempat sepi.” Farel menagkupkan kedua tangannya memohon. Matanya menyiratkan banyak luka. Luka akibat tindakan yang ia ambil, tindakan yang membuat wanita pujaannya merasakan rasa sakit.
Raisya terdiam. Melihat, dan mendengar Farel seperti itu membuatnya tergugah untuk merengkuh tubuh kekar yang nayatanya sangat rapuh itu.
“Tidak usah berlebihan seperti itu. Cukup kau ambil pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi. Meskipun aku memukul, menghajar, atau bahkan membunuhmu, ingatan dari perilakumu tidak bisa hilang dengan begitu saja.” Raisya membuang muka.
Wanita itu lebih memilih untuk melihat balkon kamar dari pada wajah menyedihkan itu. Ia tidak ingin luluh dan memberikan kelonggaran lagi. Keputusannya sudah bulat, dan ia melakukan semua ini juga untuk kebaikan laki-laki itu. Raisay ingin laki-laki itu lebih bisa berpikir logis, serta memikirkan setiap keputusan yang akan laki-laki itu ambil.
Farel mengangkat kepalanya, menatap takut-takut wajah Raisya yang terihat enggan menatapnya itu. Rasa nyeri tiba-tiba menghantam dadanya, membuat nafasnya tercekat, juga sesak.
“Maafkan aku.” Farel menggenggam erat kedua tangan Raisya.
Raisya menganggukkan kepalanya dengan wajah yang tetap menghadap balkon. Wanita itu terlalu bingung bagaiamana untuk bersikap.
Farel memejamkan matanya, berusaha mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Sekuat tenaga laki-laki itu menghirup nafas dalam-dalam. Bukanya sebuah hubungan harus di dasari sebuah kejujuran, mungkin sekarang saatnya ia menceritakan semuanya, termasuk kisah kelamnya dulu.
“Raisay, aku ingin jujur dan menceritakan sesuatu.” Farel menatap wajah Raisya yang menyamping.
Raisya yang mendengar penuturan itu dengan cepat mengalihkan pandangan untuk menatap wajah Farel yang terlihat berbeda itu. campuran antara sendu, sedih, marah, dan rindu?
“Sebenarnya, malam aku meninggalkanmu aku pergi menemui Salsha.” Farel menundukkan kepalanya. Tingkah laki-laki itu persis seperti suami yang ketahuan selingkuh.
“Oh! Bukankah itu wajar, meninggalkan simpanan untuk menemui Istri sahnya.” Raisya menjawab dengan sekuat tenaga, menghalau rasa sesak yang tiba-tiba timbul.
“Bukan, bukan seperti itu maksudku. Aku menemui Salsha di rumah sakit, dia keguguran,” Farel berucap dengan rahang mengeras.
Raisya tidak bisa menutupi raut terkejutnya, bahkan tanpa sadar tangannya menampik kasar tanga kekar Farel. Sedangkan Farel yang melihat raut terkejut Raisya dan penolakan wanita itu menggengam tanganya erat, seakan menahan rasa takutnya.
“Aku turut berduka cita,” Raisya berucap dengan tulus.
__ADS_1
“Dia keguguran, tapi aku berani bersumpah jika anak yang dia kandung bukanlah anakku.” Farel menatap serius Raisya.
Raisya terdiam. Ia tidak terkejut dengan fakta itu. Namun, ia berusaha membuat mimik wajahnya seperti tidak percaya.
“Apa maksudmu?”
“Aku__ aku tidak pernah menyentuh Salsha sama sekali.” Farel memejamkan matanya. Mengingat kembali kata-kata kasar yang di lontarkan Salsha akibat kekurangannya itu.
“Kau tidak menyentuh Raisay karena kau menyentuhku.”
“Tidak, bukan seperti itu. Tapi aku memang tidak pernah menyentuh Salsha sama sekali. Dari dulu, bahkan sebelum bertemu denganmu.”
“Kau__ kau sungguh tega. Bagaiamana bisa kau membiarkan ranjang pernikahanmu dingin. Apa kau tidak memikikan kebutuhan seorang wanita. Meskipun wanita terlihat diam saja, tapi kau sebagi seorang sumi seharusnya memahami tugasmu yang harus memenuhi nafkah lahir dan bathin.” Rasiya menatap Farel tidak percaya. Mendengar fakta langsung dari Farel membuatnya berkali lipat terkejut.
“Bukan, bukan aku tidak mau. Tapi aku tidak bisa. Aku, impotant.”
“Apa yang kau maksud Impotent? Aku masih ingat dengan jelas bagaiamana buasnya kau meniduriku dan melecehkanku.”
“Kalau kau sudah sembuh, kenapa kau tidak kembali dengan Istrimu dan memberikan nafkah?”
Farel memejamkan mata erat, mencoba menghalau rasa malu yang tiba-tiba muncul. “Aku hanya bisa berreaksi denganmu.”
“Apa maksudmu? Jangan berbicara omong kosong!”
“Tidak, aku berani bersumpah kalau aku berkata jujur. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa seperti itu. Semua terjadi tanpa bisa aku kendalikan.”
“Oh, jadi itu alasanmu menjadikanku wanita simpananmu?”
“Maafkan aku, memang awalnya seperti itu. Namun, semua berubah setelah aku mencintaimu. Aku ingin menjadikanmu satu-satunya Istriku.”
Raisya memejamkan matanya, mencoba melupakan pembahasan yang menurutnya sangat aneh ini. Bagaiamana bisa Impotant bisa sembuh hanya dengan orang tertentu? Ah, mungkin lebih tepatnya trauma. Mengingat kembali penjelasan Jesika tentang kondisi Farel. Jika seperti itu, bukankah trauma hanya bisa disembuhkan melalui orang yang terkait, atau pun orang yang berhubungan dengan timbulnya trauma itu sendiri.
__ADS_1
“Ok, jadi kau menemui Istrimu yang keguguran. Baik, aku menerma alasanmu.”
“Bukan, aku meninggalkanmu bukan karena ingin menemui Salsha, tapi aku meninggalkanmu karena ancaman Nenekku.”
Raisya mengangkat alisnya. Matanya memberikan kode Farel untuk melanjutkan ceritanya.
“Nenekku memaksaku untuk datang. Bahkan megancam tidak akan menganggapku lagi jika aku telat atau bahkan tidak datang menemui Salsha. Kau tahu, selama ini aku hanya memilki seorang Nenek.” Fael menatp Raisya sendu.
Menghela nafas sebentar, kemudian melanjutkan perkataannya. “Selama ini aku selalu di anggap anak pembawa sial. Aku terlahir karena sebuah kesalahan. Kedua orang tuaku menikah karena ada aku di antara mereka berdua. Bahkan aku terlahir tepat saat perusahaan keluargaku hancur.” Farel menjeda kalimatnya sebentar. Tersenyum getir dan menerawang jauh di sana.
“Cacian, hinaan, bahkan pukulan selalu aku terima. Semua seakan menyalahkanku. Bahkan para pelayan juga ikut menindasku. Aku yang masih kecil dan tidak paham apa pun. Dunia terlihat kejam untukku. Namun, semua berubah saat adikku lahir. Dia lahir dan membawa aura positif. Perusahaan yang terancam gulung tikar dengan cepat bengkit. Orang tuaku, semua orang menyanjungnya dan memanjakannya.” Farel tersenyum miris. Namun, di matanya terlihat binar kebahagian.
“Jika kau bertanya apa aku membenci adikku? Jawabannya tidak. Aku tidak pernah sekali pun membenci adikku. Karena Adikku lahir, aku jarang mendapatkan perlakuan buruk, meskipun tetap saja tidak bisa dikatakan baik, setidaknya aku bisa memakan nasi satu kali sehari, dan nasi itu masih layak di makan. Mereka semua terlalu fokus menyenangkan adikku sehingga lupa untuk menyiksaku.” Farel menutup matanya erat. Menghalau ingatan ketika mereka memaksanya untuk menelan kecoak mentah-mentah.
“Semua terasa indah, bahkan tanpa sepengetahuan mereka semua, adikku sering menemuiku, bahkan membagikan cemilan yang di miliki. Dia malaikat kecilku, malaikat yang memberikan sinar di dalam kesuraman hidupku. Dia memberiku cahaya di tengah kegelapan yang melanda.” Farel terdiam. Sejenak laki-laki itu memejamkan mata kuat, menggertakkan giginya, bahkan terliat sudut matanya basah.
“Namun, malaikat kecilku tidak bisa bertahan lama, dia harus pergi karena kesalahanku. Seharusnya aku saja yang di culik, mengapa adikku juga. Mereka menyiksa adik kecilku, malaikatku, bahkan mereka dengan sadis melecehkannya. Aku tidak bisa melihat perilaku kejam mereka, tapi aku mendengar dan melihat hasil dari kekejaman mereka. Aku hampir gila mendengar jeritan keskitan adikku. Namun, ada gadis kecil baik hati yang menutup kedua kupingku dan membisiskan kata-kata yang menenagkan.” Farel tersenyum tipis. Ingatanya kembali pada gadis kecil yang ia lupakan bagaiaman bentuk wajahnya. Sedetik kemudain senyum tipis itu berubah menjadi geraman marah.
“Seharusnya aku yang mati. Seharusnya adikku tidak menyerahkan diri, seharusnya aku yang dilecehkan, seharusnya aku yang dilempar ketengah jalan. Tubuh adikku hancur, bahkan aku tidak bisa mengingat kembali bagaiamana wajah tampan adikku itu.” Farel menangis dalam diam. Air matanya turun di setiap kata yang ia lontarkan.
“semaunya membenciku, semuanya mencaciku. Perilaku yang mereka berikan lebih kejam lagi. Bahkan mereka memaksaku untuk melihat reka adegan, adegan menjijikan yang seharusnya tak pernah aku lihat. Namun, mereka selalu mengatakan, aku harus mengingat sampai mati, bagaiamana detik-detik terakhir kematian adikku.” Farel mengepalkan tangan kuat. Sedangkan Raisya yang sedari awal terdiam tidak bisa menghentikan laju air matanya.
“Nenek datang, nenek menyelamatkanku. Nenek memberikanku sebuah kebahagian yang tak peranh aku rasakan. Nenek juga selalu memberiku makanan yang tak pernah aku rasakan. Nenek segalanya, Nenek segalanya untukku. Karena Nenek, aku masih bisa bertahan hidup. Karena Nenek aku bisa menjadi sosok yang kaut seperti ini. Maafkan aku yang tak bisa memilihmu saat Nenek mengancamku.” Farel menundukkan kepala.
“Namun, aku berjanji, akan memilihmu apa pun yang terjadi. Akan ku buat Nenek paham tentang situasi sekarang.” Fare menatap Raisya dengan wajah serius. Netra coklat itu terlihat memerah, dan tak lupa wajah yang sudah basah air mata, begitupula Raisya.
________
Terimakasih sudah membaca,, jangan lupa vote, like, komen, dan follow ya
seneng banget baca komentar dari kalian,, maaf ya belum bisa bales satu persatu
__ADS_1