
Farel menatap sendu Raisya yang sudah terlelap. Tanganya mengelus lembut surai coklat itu. Ia merasa janggal dengan keadaan wanitanya saat ini. Sebenarnya apa yang terjadi?
Tangan kekarnya meraih gawai yang ia letakkan di atas nakas. Ia memanggil Dwi untuk meminta penjelasan mengenai kondisi Raisya saat ini.
“Aku tinggal sebentar ya.” Farel mencium kening Raisya lama.
kakinya melangkah menuju ruangan Dwi. Langkah tegas menggema di seluruh lorong yang ia lewati. Beberapa pria dengan pakaian hitam menunduk melihat atasanya berjalan.
Farel menempatkan beberapa bawahanya di sekitar lorong. Hal ini ia lakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak ia inginkan. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu coklat, tanpa ragu ia membuka pintunya.
“Selamat malam Tuan.” Dwi menyambut kedatangan tuanya itu.
Farel mengangguk, tanpa dipersilahkan ia mendudukkan dirinya di kursi kosong.
“Jelaskan.” Farel berucap dengan tegas.
Dwi mendudukan dirinya tepat di sebrang Farel. Ia menelan ludah gugup, takut membuat memancing emosi Farel.
“Untuk saat ini keadaan Nona_ ekhm.” Dwi berdahem canggung melihat tatapan itu. “Maksud saya, Nyonya Raisya sudah lumayan stabil. Hanya saja, tidak dengan mentalnya.”
Farel mengernyit mendengar penuturan Dwi. Apa maksud ucapan itu. Dwi yang melihat wajah bingung Farel berdahem, berusaha menjelaskan tentang mental Raisya.
“Secara fisik Nyonya sudah bisa dikategorikan sehat. Sedangkan secara bathin atau mental, Nyonya sangat tidak baik-baik saja, bisa dibilang Nyonya dalam fase kritis saat ini.”
Farel menegang mendengar penjelasan Dwi. Jantungnya terasa diremas. Ia memajamkan matanya dan mengepalkan tanganya erat.
“Maaf Tuan, apakah sebelumnya Nyonya pernah mengalami sesuatu yang buruk. Seperti pelecehan?” Dwi bertanya pura-pura tidak tahu.
Mendengar kalimat pelecehan ingatan Farel kembali pada kejadian ia menangkap Raisya dan menetubuhinya dengan kasar.
Dwi yang melihat tatapan bersalah dari Farel menghela nafas. Ia sudah tahu kebenaranya dari awal. Ia hanya ingin membuat Farel sadar jika perbuatanya sangat tidak pantas.
“Saya hanya bisa memberi saran. Peralakukan Nyonya dengan lembut, beri perhatian kepadanya, dan selalu suport. Saat ini, Nyonya merasa hidupnya sudah tidak ada artinya lagi, ia merasa putus asa.”
__ADS_1
Farel menunduk, melihat tanganya yang mengepal kuat. Andaikan ia bisa mengulang waktu, ia tidak akan melakukan hal bejat itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, tidak ada gunanya ia menyesali perilakunya dulu. Yang harus ia lakukan saat ini adalah mencoba memperbaiki dan menyembuhkan Raisya.
“Satu lagi Tuan. Saya harap anda sedikit memberikan kebebasan untuk Nyonya. Jangan mengengkangnya, karena semua itu pasti akan semakin memperburuk keadaanya.”
Mendengar kata kebebasan membuat farel ketakutan. Ia takut jika Raisya ia beri kebebasan, maka Raisya akan pergi meninggalkanya lagi.
“Apa kebebasan itu penting?”
Dwi tersenyum mendengar pertanyaan tolol Farel.
“Tuan, Jika kau memasukkan burung liar ke dalam sangkar emas, apakah burung itu akan bertahan hidup? Jawabanya tidak. Dia terbiasa hidup bebas, tanpa tekanan dan aturan ketat. Kita tidak bisa memaksanya untuk tinggal di dalam sangkar itu. Jika Tuan menginginkn kehidupan untuk burung liar itu, maka tuan harus menciptakan tempat yang sama dengan kehidupan burung itu. Begitupula Nyonya. Ia manusia biasa yang membutuhkan kebebasan dan intraksi dunia luar. Jika anda berat untuk memberikan kebebasan, setidaknya buatlah lingkungan yang bisa menumbuhkan semangat hidup Nyonya kembali, dan yang terpenting bisa membuat Nyonya nyaman.”
Farel mencerna ucapan Dwi baik-baik. Menciptakan lingkungan yang membuat Raisya nyaman? Bagaiman caranya? Ia memejamkan matanya merasa frustasi.
“Buat Nyonya merasa terlindungi.”
*****
Farel menatap Raisya sendu. Kini ia sadar, selama ini ia belum bisa membuat Raisya nyaman. Bahkan ia selalu menjadi alasan Raisya merasa terancam.
“Maafkan semua kebodohanku. Aku akan melindungimu.”
“Selamat tidur sayang, semoga kau mimpi indah.” Farel memejamkan mata. Mencoba mencari ketenangan di dalam tidurnya.
Raisya membuka matanya tiba-tiba. Air mata terjatuh dari pojok matanya, membuat ia terlihat menyedihkan. Bibirnya bergerak pelan, menggumamkan nama seseorang yang sangat ia rindukan. “Jhonatan.”
Hening.Fare yang mendengar gumaman tidak jelas bangkit. Ia tatap Raisya yang bangun dengan mata yang basah. Rasa khawatir merayap di hatinya.
“Hay, apa ada yang sakit.” Farel mengusap lembut pojok mata Raisya.
Raisya memandang kosong wajah Farel. Ia hanya bisa mentap wajah tampan itu, bahkan ia menatapnya dengan pandagan semakin rumit.
“Bilang sama aku. Mana yang sakit.” Farel bergumam dengan wajah khawatir.
Farel menatap Raisya yang hanya terdiam dengan mata yang tetap mengelurakan air mata. Ia bingung bagaiaman harus bersikap. Bahkan Raisya tidak berkedip sama sekali menatapnya, membuat ia semakin resah.
__ADS_1
Farel meras frustasi. “Sayang, jangan seperti ini.” Farel menempelkan kening mereka. membuat air matanya ikut membasahi wajah Raisya yang sudah basah.
Mereka berdua sama-sama menangis. Farel yang manangisi keadaan Raisya, dan Raisya yang menangisi kemalangan yang menimpa hidupnya.
“Maafkan aku. Aku mohon, jangan seperti ini. Ini sungguh lebih menyakitkan dibanding saat kau pergi meninggalkanku.” Farel berucap dengan kening yang masih menempel.
Mereka terhanyut dengan tangisan. Bahkan Farel tanpa sadar sudah menaiki brangkar itu, merengkuh Raisya yang semakin banyak mengelurakan air mata. Membenamkan wajah puccat itu di dalam dada tegapnya.
Farel mencium beberapa kali pucuk kepala Raisya, menyalurkan segala rasa yang ada. Sedangkan Raisya hanya bisa terdiam di dalam dekapan itu. Ia terhanyut menikmati dada nyaman itu, hingga matanya ikut terpejam. Bahkan ia lupa jika pemilik dada itu adalah sumber rasa sakitnya.
Farel yang merasa nafas teratur Raisya, mencoba menatap wajah wanitanya. Wajah pucat itu terlihat damai dan cantik, meskipun ada jejak kesedihan di sana.
“aku berjanji akan membahagiakanmu. Jangan seperti ini, dan jangan tinggalkan aku.” Farel mengeratkan pelukanya. Mencoba memasuki dunia mimpi bersama wanitanya.
****
Salsha meras gelisah, ia terbangun dengan nafas yang tidak beraturan. Ingatanya kembali pada bayang-bayang mimpi yang menghampirinya.
Di dalam tidurnya ia melihat Farel yang tertawa dengan wanita lain, bahkan diantara mereka terdapat satu bocah laki-laki berumur satu tahun yang menggandeng kedua tangan itu. Mereka persis seperti keluarga bahagia.
Sedangkan ia melihat bayanganya sendiri yang terlihat menyedihkan. Menangis di ruang yang gelap tanpa satu pun cahaya yang menyinari. Bahkan ia lebih tercekat melihat bayangan mereka semua yang menyanyangiya pergi meninggalkan.
Pertama Max, berlanjut Farel, berlanjut Maria, dan terakhir kedua orang tuanya. Belum lagi cemoohan semua orang yang menyebutnya pembunuh. Bahkan ia bisa meraskan tatapan frustasi dan putus asa di dalam sana.
Salsha mengusap wajah kasar, mencoba menenangkan dirinya. Ia bergumam berkali-kali bahwa semua itu hanya mimpi.
“kau harus tenang, itu semua hanya mimpi. Mereka tidak aka pernah meninggalkanmu. Kau kebanggan mereka.”
_______
Hallo, Author balik lagi ini. Gimana part kali ini? seru gak?
Untuk dua part selanjutnya. bakal Author Up nanti sore,,, ditunggu up_nya ya. Jangan lupa kasih semangat buat Author, biar ide dan semangat Author makin gede 😍😍😘
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca 😘