
Farel menuntun Raisya memasuki rumah baru. Ia ingin membuat Raisya nyaman. Rumah dengan desain eropa yang mirip dengan rumah Raisya dulu. Ia harap dengan usahanya kali ini ada sedikit kemajuan.
“Kau suka rumah kita?” Farel menatap lembut Raisya.
Raisya hanya terdiam menatap rumah yang tidak asing baginya. Senyum kecil ia sunggingkan mengingat kenangan indahnya dulu.
Farel yang melihat Raisya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanya merasa puas. Ya, hanya dengan senyuman ia sudah merasa bahagia. Ia akan berusaha lebih keras lagi agar Raisya bisa kembali seperti semula, dengan perasaan yang lebih baik lagi. Terutama cinta untuknya.
“ayo kita masuk kedalam.” Farel menggiring Raisya untuk memasuki mansion besar itu dengan menggandeng tanganya lembut.
Raisya hanya terdiam melihat sikap lembut Farel. Bahkan matanya menatap datar tautan tangan itu.
“Lihat ini, ini ruang makan. Kita akan makan bersama setiap hari.” Farel menunjuk ruang makan yang terlihat elegant. Tidak terlalu besar atau pun kecil. Ruangan itu terlihat hangat.
Farel menatap Raisya yang terdiam. Tidak ada senyum di sana, membuat Farel menggigit pipi dalamnya.
“kau tidak suka?” Farel bertanya dengan lembut. Tanganya mengelus pelan surai coklat itu.
Raisya hanya berkedip dua kali, merespon pertanyaan Farel. Farel yang melihat kedipan Raisya tersenyum.
“Ayo, kita lihat kamar utama kita.” Farel menuntun Raisya menaiki tangga. Melihat Raisya yang meras kesulitan karena luka di kekainya yang belum sembuh total Farel tersenyum.
Dengan sekali hentakkan ia mengankat tubuh Raisya, menggendongnya seperti putri kerajaan. Raisya hanya merespon tindakan tiba-tiba itu dengan berkedip beberapa kali. Tanpa sadar tanganya mengalung indah di leher Farel.
Farel tersenyum melihat Raisya yang perlahan menerimanya. Dengan pelan ia menaiki tangga. Matanya menata wajah Raisya dengan lembut, sesekali melihat tangga agar tidak terjatuh.
“Apa kau senang?” farel bertanya di tengah-tengah ia menaiki tangga.
Raisya hanya terdiam. Dari wajahnya terlihat jika ia tidak ingin menjawab pertanyaan Farel sama sekali. Farel yang mengerti pun tersenyum maklum.
“Kau tahu, aku sangat senang. Akhirnya kau bisa keluar dari rumah sakit itu. Ayo kita buat kenangan indah bersama?”
Hening, tidak ada suara yang dikeluarkan Raisya sebagai respon. Farel tetap melanjutkan perkataanya, karena ini merupakan salah satu cara agar Raisya bisa cepat pulih dan ia bisa segera memiliki hati Raisya.
“kita akan memabangun keluarga kecil kita di sini. Nanti kiat akan memiliki banyak anak, mereka akan berlarian ke sana-sini, dan kau akan merasa kesal dengan kelakuan nakal mereka. Sedangkan aku hanya bisa tertawa geli melihat raut kesalmu nanti.” Farel berucap dengan enteng. Melupakan statusnya saat ini.
Raisya terdiam, namun ia merasa sakit mendengar perkataan Farel. Ingatanya kembali pada sosok yang entah bagaimana kabarnya saat ini.
Farel tersenyum membayangkan keluarga kecil meraka. Pandangannya yang semula lurus kedepan kini ia alihkan, untuk menatap wajah cantik wanitanya. Ia tertegun melihat Raisya yang menangis tanpa suara.
__ADS_1
“Hay, kau tidak suka dengan ucapanku?”
Farel bertanya dengan dada yang nyeri. Ia sangat menginginkan keluarga seperti itu. Dan bayangan keluarga itu hanya muncul saat bersama Raisya.
“Maafkan aku. Mungkin ini terlalu cepat. Aku akan sabar menunggumu membuka hati untukku.” Farel mencoba tersenyum menutupi luka di dadanya.
Tinggal tangga terakhir, setelah itu ia hanya perlu berjalan beberapa langkah untuk sampai pada kamar utama.
Matanya menatap kamar dengan pintu putih tulang itu. Dengan pelan, tanganya meraih handle pintu dan membukanya pelan. Kamar dengan nuansa asri itu membuat mata siapa pun yang melihatnya terpesona.
Warna hijau di beberapa sisi menambah kesan segar di sana. Jangan lupakan beberapa tanaman yang berada di pojok ruangan. Bahkan tanaman langka terlihat berjajar rapi di balkon besar itu.
Farel meletakkan tubuh Raisya dengan lembut di sana. Terlihat binar di dalam netra hijau itu. Farel tersenyum melihatnya. Tanganya meraih jemari rmping Raisya, membawanya ke balkon dengan gorden yang berterbangan karena angin.
“Lihat, kau akan melihat air terjun dari sini.” Farel menunjukan air terjun buatan yang sengaja ia buat itu.
Ia ingin Raisya merasa nyaman dan betah bersamanya. Ia tidak bisa membuat Raisya terbebas, jadi ia harus membuat Raisya merasa bebas tanpa harus memberikanya kebebasan yang nyata. Meskipun semua hanya ilusi buatanya, tapi ia berjanji kebahagian yang ia janjikan bukan ilusi semata.
“Kau suka dengan alam kan?”
“Kita nanti akan berenang di sana.” Farel menunjuk air terjun buatanya itu.
Tempat yang ia pilih termasuk tempat yang jauh dari pemukiman warga. Ada beberapa penduduk yang tinggal di sektirnya, tapi penduduk itu semuanya adalah bawahanya. Ia tidak ingin mengambil resiko.
“Tidurlah. Atau kau ingin ke kamar mandi.” Farel bertanya karena melihat wajah Raisya yang tidak nyaman.
Raisya mengedipkan mata dua kali. Farel yang paham segera meraih tangan Raisya lembut dan membawanya ke kamar mandi.
“aku tunggu di sini. Aku tidak akan mengintipmu.” Farel membalikkan badanya. Ia memilih balik badan bukan hanya karena mengharga privasi Raisya. Tapi ia lebih menjaga nafsunya yang akan bergejolak ketika melihat aset Raisya nanti.
Raisya tidak menghiraukan keberadaan Farel saat ini. Dengan wajah datranya ia mengangkat dres selututnya dan membuka \*\*\*\*\*\* \*\*\*\*\*. Ia menuntaskan segala yang ia tahan. Merasa lega ia bangkit, memakai \*\*\*\*\*\*\*\*\*\* kembali.
Farel yang meras Raisya selesai segera membalikkan tubuhnya. Ia melihat Raisya yang berdiri di depan washtafel. Terlihat air yang sudah membasahi wajah cantik itu. Farel tersenyum mendekat ke arahnya. Tanganya merangkul erat tubuh Raisya dari belakang.
Raisya menegang mendapat sentuhan tiba-tiba itu. Bayangan pelecehan itu tiba-tiba menghampirinya membuat tubuhnya menggigil kembali.
Farel yang meras tubuh wanita dalam pelukanya gemetar mengerjap kaget. Segera ia balikkan tubuh Raisya. Matanya menatap Raisya yang masih menunduk. Tapi ia paham betul Raisya sedang menutupi ketakutan dan tangisanya.
__ADS_1
Melihat pemandangan itu membuat hati Farel lagi-lagi terasa seperti di remat.
“Hay, tenanglah. Aku tidak akan macam-macam. Aku berjanji.” Farel menarik Raisya dalam dekapanya.
Bukanya mereda, tangis Raisya semakin kuat. Farel memejamkan mata mencoba membrikan ketenangan untuk Raisya.
“Maafkan aku sayang. Tenanglah.” Farel mencoba menenangkan Risya dengan kata-katanya dan elusan lembut di punggungnya.
Tubuh Raisya tersa lemas, bahkan kakinya terasa seperti jeli. Matanya berkunang-kunang. Tanpa menunggu waktu lebih lam lagi, tubuhnya meluruh dalam dekapan Farel. Membuat Farel berteriak panik.
Farel mengangkat tubuh Raisya dan membaringkannya di atas ranjang. Dengan cepat kakinya melangkah keluar kamar, berteriak memanggil dokter yang telah ia bayar.
Jesika yang mendapatkan tugas dari Dwi untuk memantau kesahatan Raisya berkari ke atas. Mencoba melihat apa yang terjadi. Ia menganga lebar melihat keadaan tuanya yang terlihat menyedihkan.
“Kau, cepat periksa wanitaku.” Teriak Farel.
Jesika tanpa menunggu perintah dua kali segera memasuki kamar megah itu. Tatapanya tertuju ada wajah pucat wanita cantik itu. Ia meringis melihatnya.
Farel mondar-mandir di depan kamarnya. Ia merasa gusar, decakan kasar ia keluarkan.
“ck, kenapa Dokter itu lama sekali!”
Ceklek!
Mendengar suara pintu yang terbuka membuat Farel tanpa bisa dicegah mengeluarkan pertanyaan beruntut. Jesika hanya bisa mengerjap mendengarnya namun, tak ayal tetap menjawab.
“Nyonya, baik-baik saja Tuan. ia hanya kelelahan. Anda jangan khawatir.”
Mendengar perkataan itu membuat Farel mendesah lega. Segera ia menerobos ke kamar dan menutup pintu kasar. Jesika hanya bisa mengelus dadanya.
Farel segera besimpuh di kaki Raisya. Menciumnya beberapa kali, seakan meminta pengampunan.
“Maafkan aku sayang. Aku memang bajingan!”
________
Terimakasih sudah membaca 😘😘😘
__ADS_1
kasih semangat dong, dengan kasih Vote dan komen 😍😍😍