
Raisya mondar-mandir di dalam kamar. Jesika yang melihat raut gusar itu tersenyum. Tangan Rampingnya memegang bahu Raisya, mencoba mengalihkan rasa gusar itu.
“Nyonya, anda harus tenang. Semua butuh pengorbanan. Jika nanti terjadi sesuatu yang tidak anda inginka, saya harap anda tetap bisa mengontrol diri.” Jeasika tersenyum lembut.
Raisya menatap Jesika dengan alis menyatu. Bagaimana bisa dengan mudahnya Jesika bilang seperti itu.
“Bagaiman jika ia menyentuhku nanti?” Raisya bertanya dengan serius.
Jesika tersenyum. “Itu tidak mungkin Nyonya. Tuan adalah seseorang yang menjunjung tinggi sopan santun. Jadi bercinta di tempat terbuka, saya rasa itu bukan karakter Tuan. Jadi anda harus tetap tenang.”
Raisya mencoba menenangkan rasa takutnya. Tapi bayangan berduan dengan Farel dengan pakaian yang sangat terbuka mengusiknya. Ia paling tahu bagaimana tingkat nafsu Farel.
“Jika hal itu terjadi apa yang harus aku lakukan.” Raisya bertanya dengan eksppresi takut.
Jesika yang melihat ekspresi itu mencoba berpikir logis. Mekipun kemungkinanya kecil, tapi tidak menutup kemungkinan hal seperti itu akan terjadi.
“Jika iya, saya harap anda tetap bersedia. Atau menolak dengan cara halus. Bilang saja jika anda belum siap.” Jesika tersenyum menenangkan.
Raisya menghebuskan nafas gusar. Ya, ia hanya perlu mengatakan jika ia belum siap.
Tok.... tok...
Mendengar suara ketukan itu membuat mereka berdua terperanjat kaget. Rasa takut jika orang yang mengetuk itu mendengar percakapan mereka menjalar ke seluruh saraf.
Raisy dengan cepat bangkit, mencoba terlihat tenang dan berjalan untuk membuka pintu.
Farel tersenyum melihat Raisya ketika pintu terbuka. Alisnya mengkerut melihat Raisya yang masih memakai baju tertutup.
“kenapa kau masih berpakaian seperti itu?”
“Apa kau ingin aku memakai bikini di sini, dan membiarkan semua orang melihat tubuhku?” Raisya bertanya dengan alis terangkat.
Farel yang mendengar jawaban Raisya segera menggelengkan kepanya. Bahkan wajahnya terlihat memerah menahan amarah, bayangan tubuh Raisya yang di pandang semua orang mengusik ketenannganya.
“Tidak. Jangan pernah berpakaian seperti itu di depan orang lain. Kau hanya boleh berpakaian seperti itu di depanku.”
Farel menatap kedalam kamar, mencoba mencari dokter pribadi sekaligus asisten wanitanya itu.
“Kemana dia?”
Raisya mengernyit mendengar pertanyaan itu. Dia? Ahh Jesika.
“Oh, dia berdiri di sana.” Tubuh Raisya bergeser memperlihatkan jesika yang berdiri di depan pintu pakaian dengan kepala menunduk.
Farel menganggukkan kepalanya, kemudian menatap Raisya lembut. “Apakah kau sudah siap”
Raisya menatap kebelakang mencoba melihat Jesik yang terdiam di pojok ruangan. Dengan tegas ia menganggukkan kepalamya.
Farel tersenyum melihat anggukan Raisya. Dengan tegas ia berucap dan menatap Jesika datar. “kau, silahkan tinggalkan kamar kami.”
__ADS_1
Jesika yang paham segera meninggalkan kamar atasannya itu. sebelum ia benar-bnar keluar, ia membungkukkan tubuhnya sebagai penghormatan. Farel dan Raisya hanya membalasnya dengan anggukan dan sedikit bergeser untuk memeprsilahkanya keluar.
“Kalau begitu, ayo kita berangkat.” Farel tersenyum menggandengan tangan Raisya.
******
Raisya tersenyum melihat pemandangan yang luar biasa itu. Meskipun air terjun itu buatan sendiri, tapi bagi orang awam, mereka akan langsung menanggap jika air terjun itu adalah sungguhan. Keindahan itu sanggup menipu semua mata yang menatapnya.
Kakinya berjalan dengn sendirinya, menyisir seluruh tempat tanpa mau terlewat satu pun. Farel dengan tenang berjalan di belakang Raisya. Berjaga-jaga jika sang wanita merasa kesulitan untuk melangkah di tengah aliran air itu.
Bebatuan besar yang terletak di tengah-tengah Danau, pohon-pohon besar yang menjulang tinggi, dan jangan lupakan beberapa tumbuhan yang hanya terdapat di hutan yang tumbuh dengan apik di sekitarnya. Raisya tersenyum lebar melihat keindahan itu.
“Apa kau menyukaianya?” Farel bertanya saat Raisya berhenti tepat di depan batu besar yang berada di tengah Danau buatan itu.
Masih dengan senyum lebar di bibirnya Raisya mengangguk. Bahkan matanya tanpa mau repot memandang lawan bicaranya.
Farel yang melihat itu hanya bisa tersenyum. Alih-alih tersinggung karena sikap kurang sopan Raisya, ia malah merasa ikut senang dengan rona bahagia yang terpancar di wajah cantik itu.
Kaki kekarnya melangkah lebih dekat, tepat di belakang sang wanita. Tangan besarnya merengkuh tubuh ramping itu di dalam dekapanya. Ia menaruh dagunya tepat di atas kepala sang wanita, ikut memandang keindahan yang membuat sang wanita melupakan keberadaanya.
“Jangan lupakan keberadanku. Aku cemburu.” Farel mengeratkan pelukanya.
“Maafkan aku.”
Farel tersenyum mendengar jawaban Raisya. Dengan cepat ia mencuri satu kecupan di pipi kanan itu. Tanganya dengan terampil mengangkat tubuh ramping itu tanpa kesulitan sama sekali.
Raisya berteriak kaget mendapat serangan tiba-tiba. Tanganya dengan cepat memegang erat kerah baju Farel, membuat Farel merasa tercekik.
“Raisya, seharaunya kau taruh kedua tanganmu di leherku, bukan malah menarik kerah bajuku. Aku tercekik.” Farel berucap dengan wajah yang sedikit memerah karena kesulitan bernafas.
Raisya yang menyadari kesalahanya segera mengalungkan kedua tanganya di leher kekar itu. Bahkan ia dapat merasakan urat-urat yang menonjol di sana. Ia meneguk kasar ludahnya memandang wajah tampan itu dari dekat.
Dahinya mengernyit ketika Farel membawanya menerobos aliran air yang terjatuh dari tebing itu. Tubuhnya sempurna basah, tapi ia hanya bisa terdiam.
Netra hijau itu tercengang ketika Farel membawanya masuk kedalam gua yang terlihat menyeramkan itu. Tanpa sadar tanganya semakin mengerat di sekitar leher Farel.
Farel yang menyadari ketakutan Raisya hanya bisa tersenyum Ia sudah menyediakan tempat spesial di dalam gua. ia yakin Raisya tidak akan berpikir jika di dalam gua itu terdapat keindahana yanga sanggup membuat semua orang kehilangan akalnya.
__ADS_1
“Farel, kau mau membawa ku kemana?” Raisya bertanya dengan gugup.
“Kau lihat saja nanti.” Farel tersenyum misterius.
Raisya hanya bisa menutup mata takut. Ia takut jika Farel akan mengurungnya di tempat menyeramkan. Jika benar seperti itu, maka sia-sia saja ia melakukan sandiwara.
Farel terkekeh melihat Raisya yang menutup matanya. Tangan kananya menyentuh tombol transparan yang terletak di ujung gua itu.
Ctak!
Raisya menegang mendengar suara seperti saklar yang menyala. Matanya semakin erat terpejam membuat Farel dengan cepat mendaratkan satu kecupan di bibir ranum itu.
“Kau, bukalah matamu.”
Raisya dengan cepat mengikuti perintah Farel. Matanya mengerjap, merasa silau dengan cahaya yang memasuki retinanya tiba-tiba.
“Fa___ Oh My, bagaimana bisa ada tempat seperti ini.” Raisya dengan pelan melepaskan tanganya yang mengalung di leher Farel.
Farel yang memahami maksud Raisya segera menurunkan tubuh ramping itu. seulas senyum terlihat d wajahnya.
Raisya berjalan cepat, menyentuh setiap bunga-bunga indah yang menyebar apik di sekitarnya. Bahkan terdapat banyak kupu-kupu dan kunang-kunang yang mengerubunginya.
Ia seeprti dalam dunia fantasi. Bunga-bunga itu bersinar, membuat gua yang awalnya terlihat menyeramkan berubah menjadi seperti sebuah taman istana. Mirip seperti film Disney yang ia tonton dulu.
Matanya terpaku melihat bunga yang sama persis dengan bunga kehidupan dalam film Afatar. Bagaimana bisa Farel membuat semua ini. Apakah ini semua asli?
“Farel, apa semua ini asli?” Raisya bertanya dengan menatap Farel antusies.
Farel tersenyum, tanganya dengan lembut menyentuh pelan rambut Raisya yang berterbangan.
“Setengah asli, setengah palsu.”
Raisya mengernyit mendengar pernyataan Farel. Apa maksudnya.
“semua bunga dan hewan di sini itu asli. Tapi kita juga memodifikasi mereka semua agar terlihat indah dengan campuran teknologi.”
Raisya menutup mulutnya tercengang. Bagaimana bisa?
“Kenapa kau melakukan semua ini?” Raisya menatap lembut Farel.
“Karena aku ingin menebus semua kesalahanku, dan membuatmu nyaman di sisiku.” Farel menjawab dengan tenang tapi penuh kejujurn di dalam mata gelapnya.
_____
Hallo, Author balik lagi 😍
__ADS_1
maaf kalo part ini feelnya kurang,, Author lagi gk enak badan jadi gk bisa konsen nulis, doakan ya Author sehat biar bisa fokus dan bisa nulis cerita yg memuaskan.
Terimakasih sudah membaca 😍😘