
Maria menatap garang tuan Dawal yang terlihat semakin menunduk. Ingatan tentang kelakukan anak perempuannya dan keserakahan keluarganya membuat wanita tua itu benra-benar muak. Sedangkan Farel terlihat merepatkan kedua bibirnya untuk menahan tawa yang ingin meluncur keluar.
“Maafkan saya, Nyonya.”
Raisya mengeluarkan nafas dari mulut, bahkan mulut wanita itu berbentuk huruf O.
“Maaf, Tuan. Sebenarnya anda ingin Suami saya menemui Salsha dalam rangka apa ya?” Raisya terlihat tenang, meskipun wanita itu tak menampik ada rasa takut di dalam hati kecilnya.
Bair bagaiaman pun, mereka pernah menjalin hubungan, bahkan menikah. Tak mungkin jika tidak ada perasaan sama sekali di hati mereka berdua.
Farel menatap Raisya was-was. Ia takut jika Istrinya akan berpikir macam-macam. Jangan sampai ada mood wanita hamil itu berubah, kemudian berimbas padanya nanti.
“Sayang_”
“Diam Farel, aku bertananya dengan mantan mertuamu.” Raidya menatap Farel penuh perngatan.
Seperti kerbau yang di cocok, Farel hanya bisa diam dan menuruti kemauan sang Istri. Tuan Dawal melihat intraksi mereka berdua yang terlihat harmonis. Entah mengapa ia jadi kesal sendiri.
“Ekhm, Salsha sedang kritis di rumah sakit, saya mohon datanglah, mungkin dengan kedatanganmu bia membuat Salsha bangkit, bahkan cepat pulih.” Pria paruh baya itu menatap Farel penuh keseriuasan, bahkan pria itu seakan mengabaiakan posisi Raisya sebagai Istri sah dari mantan menantunya itu.
Raisya ang mendengar itu mengangkat sebalah alisnya. Kenap alasan yang diberikan pria tua itu sangat konyol?
“Bukankah jika dia sakit yang dibutuhkan seorang Dokter?” Farel menjawab dengan santai, bahkan tangan laki-laki itu mengelus pelan perut buncit istrinya itu.
“Tapi_”
“Sudah. Maaf Tuan Dawal. Jika kedatanagan anda hanya ingin membuat rumah tanggaku hancur, lebih baik anda keluar dari sini.” Farel menatap pria tua itu dengan tajam.
Sungguh Fael muak. Kenapa ia masih dikaitkan dengan wanita ular itu. Ia bukan laki-laki biak yang akan dengan mudahnya memaafkan seseoarng, dan ia juga bukan laki-laki bodoh yang ingin terlihat baik dengan mengorbankan masa depannya.
Tuan Dawal terlihat tidak terma, dengan wajah yang memarha laki-laki itu berdiri dan mencemooh mantan menantunya itu. “Farel, kau harus ingat! biar bagaiaman pun, Salsha lah yang menemani hari-harimu dulu, sebelum pelakor _”
“Diam! Berani sekali mulut busukmu menghina Istriku!” Farel menatap nyalang mantan mertuanya itu, bahkan laki-laki itu juga ikut berdiri.
Maria yang melihat keadaan yang sudah tidak memungkinkan lagi, memberi kode beberapa pengawal untuk segera membawa perusuh itu pergi.
__ADS_1
Dua pengawal yang mengerti maksud kode itu dengan segera menyeret tuan Dawl, membawa lpra paruh baya itu keluar.
“Hay, apa-apa an kalian. Lepaskan aku! Farel! Kau benar-benar laki-laki breng*ek!”
Farel hanya menatap datar sosok perusuh itu yang kian lama suaranya ian menghilang beserta tubuhnya yang mulai lenyap.
Raisya yang melihat kejadian itu tetap diam. Meskipun ada rasa sakit saat mendengar sebutan pelakor, tapi ia mencoba tabah. Bagaimana pun pembelaanya ia tidak bisa menghindari julukan itu.
Maria menatap wajah sendu Raisya, dengan cepat wanita paruh baya itu mendekat, kemudian mengelus lembut pundak wanita itu.
“Jangan dengrakan. Ibu hamil tidak boleh setres.” Maria tersenyum lembut, yang di balasa senyum tipis oleh Raisya.
Farel yang masih di rundung amarah segera mengalihkan pandangannya, matanya menatap sang istri yang terlihat sendu. Dengan menahan umpatan untuk mantan mertuanya itu, Farel segera mendekat, kemudian merengkuh tubuh sang wanita, dan mengabaiakan sang nenek yang masih di sana.
Maria menghela nafas panjang. Inilah yang paling tidak di sukai wanita tua itu. Bagaiaman pun ceritanya, seoarng wanita yang berhubungan dengan laki-laki yang masih berstatus suami orang akan terus di cap pelakor, meskipun kesalahan ada di diri laki-laki.
***
Tuan Dawal berjalan dengan lemah. Pria tua itu merasa semua hancur. Istrinya yang terlihat depresi, putrinya yang terbaring koma, dan sekarang perusahann yang ia banggakan gulung tikar.
“Arghhhhhh.” Laki-laki itu berteriak dengan keras. Sungguh ia merasa bingung. Jika seperti ini, ia bisa apa?
Meskipun rasa kesal akibat kelakuan sang putri masih membekas di hati, tapi ia tidak bisa mengelak, perasaanya sebagai seorang ayah juga ikut sakit saat melihat putrinya terbaring tidak berdaya.
“Pa ..... lihat ini, Mama tadi beli kalung ini, cantikkan?”
Tuan Dawal mengerjap, matanya menatap sang Istri yang terlihat berbinar menatap pengikat korden yang kalungkan di leher sang istri.
“Ma ....”
“Pa, lihat, lihat, Mama kelihatan cantik.” Wanita paruh baya itu tersenyum lebar, kemudian tubuhnya berputar-putar seperti seorang putri.
__ADS_1
“Tuhan! Kenapa keluargaku hancur?” Tuan Dawal meraup wajahnya frustasi, kemudian beranjak mendekat ke arah sang Istri, membawanya ke dalam rengkuhan.
***
Tamra Lawson menatap penuh haru sang suami yang kini bisa ia lihat secara langsung. Meskipun dalam kondisi tidak baik wanita itu cukup bersyukur. Setidaknya ia bisa melihat dan merawat sang suami langsung.
“Sayang, cepat bangun. Jangan biarkan aku sendiri. Kau tahu, Putra kita, Farel, dia sudah besar, bahkan kita akan segera mendapatkan seoarng cucu.” Tamara menyentuh lembut tangan yang terlihat sangat kurus itu.
Buliran bening mulai terjatuh, membasahi pipi dan tangan sang suami. Wanita yang menjabat sebagai ibu kandung Farel itu benar-benar merasa tertekan. Keadaan suaminya yang tidak pernah ada kemajuan, ditambah sang anak yang terlihat tidak ingin memaafkannya, meskipun sudah tahu fakta di balik sikapnya itu membuat ia benar-benar lelah.
“Apa aku harus menyerah?” Tamra menatap wajah sang suami dengan sendu, bahkan tubuh wanita tua itu juga terlihat gemetar.
***
“Bagaiamana dengan keadan Kakakmu?”
Zakiel menoleh, matanya menatap Jordan yang terlihat sangat sendu. Membuang muka sejenak, laki-aki itu merasa bingung untuk menjelaskan keadaan sang Kakak.
“Sudah tidak ada lagi.”
“Apa maksudmu?”
“Kak Jhontana benar-benar sudah tidak bisa tertolong.”
Tepat setelah mengatakan itu, tubuh Jordi ambruk. Putra yang sudah lama tidak ia ketahui kini sudah berada di dekatnya. Namun, takdir benar-benar kejam. Belum puas ia menghabiskan masa tuanya bersama ketiga putranya itu, Tuhan dengan cepat mengambi sang putra.
Zakiel dengan cepat mendekat ke arah sang ayah. Laki-laki itu juga merasa hancur. Meskipun ia beru mengenal sosok Jhonatan, tapi ia tidak bisa mengelak rasa sayang untuk sang Kakak.
“Papa gagal. Lagi-lagi Papa gagal mempertahankan nyawa orang yang Papa sayangi.” Jorda meraung, mengeluarkan kepedihan yang dirasanya.
Zakiel semakin mengeratkan pelukannya. “Tidak, jangan pernah berkata seperti itu. Papa adalah ayah yang hebat, semua ini takdir, Pa.” Zakiel menepuk pundak Jordan, berharap sang ayah bisa mengikhlaskan semuanya.
Mata Zakiel mengerjap, ingatannya tentang pesan Jhontan tentang Raisya membuat ia bingung. Jika seperti ini, ia harus bagaiamana. Matanya menatap map hitam yang tergeletak di atas meja, isi map yang membuatnya bingung harus bertindak apa nanti.
__ADS_1