
Getaran Jembatan ini terasa sangat kuat membuat Xavier harus meringankan masa tubuhnya. Netra tajam abu itu menatap kepergian Mobil Tofer yang sudah membawa Stella pergi dari sini.
Karna tak ada alasan lagi untuk menahan semua ini, akhirnya Xavier melepaskan kekuatannya yang tadi menahan getaran dan deru gelombang yang seketika langsung naik saling berhantaman seperti air yang di guncang di dalam plastik.
Dengan lihai Xavier meloncat naik ke atas Pagar jembatan seakan tubuhnya tak punya massa apapun. Pandangan netra abu beralih pada langit Kota yang terlihat begitu gelap bahkan seperti akan muncul Badai angin.
"Pergerakannya sangat cepat." gumam Xavier mengadakan tangannya ke langit. Mata Xavier terpejam dan sesaat kemudian ia langsung membuka Portal Dimensinya agar aura kegelapan ini tak masuk ke Dimensi manusia.
Tubuh Xavier perlahan menghilang seperti deru asap hitam yang ntah kemana perginya siapapun tak akan tahu.
........
Didalam sebuah ruangan gelap yang hanya diterangi beberapa bunga lilin itu tampak terus menahan deru angin yang datang dari arah luar.
Suasana yang tadi cerah seketika berubah gelap bahkan langit diatas sana sudah seperti tengah malam. Ruangan luas dengan langit-langit tinggi besar ini tengah menahan hawa intimidasi dari seorang pria tua dengan tubuh kekar yang sudah berdiri di tengah-tengah Lantai Ruangan misterius miliknya.
Satu Mahluk berkuping runcing dan berkepala botak terbungkuk itu tengah mengelilingi Tuannya dengan membaca beberapa kalimat yang keluar seperti Asap kental.
"Sembah ku untuk kau yang agung! Tanah, langit dan Bulan menjadi saksi Sumpah mati Elbrano. Reinkarnasi kematian mutlak bagi Penghianatan. Titahmu kami patuhi menarik dagu ke bawah lantai."
"Dengan ini aku memanggilmu!!" desis Yang Mulia Lucius mengangkat telapak tangannya ke atas langit-langit tinggi Ruangan ini hingga jendela yang tadi tertutup rapat langsung di terobos oleh angin yang menderu sangat gila.
Langit di atas sana menggulung membuat Badai angin kembali melanda. Jelas hal ini membuat Keluarga Elbrano yang ada di luar ruangan langsung menunduk menguatkan pertahanan mereka.
"Ini semua karna Bocah sialan itu."
"Semuanya sudah terjadi. Yang Mulai marah besar karna Xavier berani merusak nama Elbrano."gumam Nyonya Margretta sudah tak tahan akan hawa intimidasi dari Kakek Lucius dari dalam sana.
Sementara Linnea yang sudah di jerat dengan rantai besi itu hanya bisa mengigil takut karna sebelumnya Kakek Lucius begitu murka kala tahu jika Linnea mengendap masuk ke Ruangan khusus Keluarga ini dan dengan terpaksa menjawab tentang permintaan Xavier padanya.
Akibat dari hal itu, Linnea dijerat oleh Rantai Keputusasaan Kakek Lucius dimana Rantai ini akan menyerap perlahan-lahan Jiwa manusianya.
__ADS_1
"M..Mommy!!!" geraman Linnea berusaha lepas tapi tak bisa. Ada dua penjaga di samping kiri kanannya memakai Jubah hitam dengan mata merah menyala tanpa ada wajah sama sekali.
Melihat itu Nyonya Margaretta langsung mendekati Linnea yang tampak sudah terlihat lemah karna energinya terserap oleh Rantai hitam ini. Tubuhnya tak lagi bisa memberontak sekuat tadi.
"M..Mom!"
"Cih. Siapa yang sudi menjadi Ibu mertua dari wanita yang bahkan mencoba untuk membunuhku!!" desis Nyonya Margaretta membuat Linnea terdiam dengan tatapan tak berdayanya.
Rantai yang membelenggu tubuhnya semakin lama begitu merekat sampai ingin meremukkan tulang-tulangnya.
"Lihat dari ulah kebodohanmu itu!! Kami jadi kena imbasnya!! Kau dan Mommy mu sama sekali tak bisa diandalkan."
"B..Bukan salahku." ringis Linnea sampai hidungnya terus berdarah. Luka saat terkena amarah Xavier tadi pagi sudah membuatnya kualawan apalagi ini.
"Kalau bukan karna otak pendek mu itu maka sekarang Yang Mulia Lucius tak akan marah besar karna Nama Baik Keluarga Elbrano tercoreng hebat kala melihat siaran pertengkaran itu. Bahkan, kau dengan lantang mengatakan jika Keluarga ini ADALAH IBLIS BERDARAH DINGIIN!!"
Bentak Nyonya Margaretta beriring dengan tubuh Linnea yang seketika tertarik ke arah pintu Ruangan yang tadi terbuka langsung menelan lenyap Linnea salam kegelapan didalam sana.
"Suamiku! Apa yang harus kita lakukan? Ini tak lagi baik-baik saja.".
"Xavier memang sudah hilang akal." umpat Tuan Attacus sangat panik tapi berusaha untuk tenang.
Namun. Setelah beberapa saat kemudian keduanya tersigap kala ada yang melangkah kesini dengan hawa yang terasa sangat Familiar dan begitu melawan Aura Intimidasi Kakek Lucius.
Mata Tuan Attacus menatap benci pada sesosok pria gagah berwajah dingin yang tengah berjalan dengan sangat tenang ke arah ruangan ini.
"KAU PUAS SEKARAANG??" raungan hebat Tuan Attacus membuat lampu utama di lantai ini sampai padam tapi kembali menyala redup menambah kesan gelap dan magis yang Sosok ini bawa.
"KARNA KEBODOHANMU!! KITA SEMUA AKAN BERAKHIR. SEMUANYA AKAN HANCUR. XAVIEER!!!"
"Berisik!" desis Xavier menekan kakinya ke lantai ini hingga Tuan Attacus langsung ditekan oleh hawa membunuh Xavier.
__ADS_1
Tatapan tajam tak berperasaan ini sangat hafal oleh Nyonya Margaretta yang tak mau mendapat hal buruk dari Xavier. Nyalinya tak sebesar saat Pria ini tak ada tadi.
"K..kau.."
"Bunuh dia sebelum Yang Mulia membunuh kita." tekan Tuan Attacus menghempaskan tangannya ke arah Xavier hingga ada kilatan api yang menyambar bak singa melahap ke arah Xavier yang tak merubah posisi sama sekali.
Walau dadanya sakit tapi Xavier mudah menepis serangan Tuan Attacus karna kekuatan mereka beda jauh. Saat melihat serangannya di patahkan dengan mudah, tentu amarah Tuan Attacus semakin meluap-luap.
"Mundurlah selagi ada waktu!! Kakek mu akan meratakan Dunia yang kau ciptakan untuk wanita itu bahkan akan MELENYAPKANNYAA!!!"
Mendengar hal itu Xavier tak merespon lebih. Ia melangkah dengan tegas ke arah pintu ruangan ini tetapi Tubuh Tuan Attacus dan Nyonya Margaretta tak bisa di gerakan sama sekali.
Lirikan mata tajam Xavier menangkap kilatan bayangan di sekitar sudut tempat ini. Jelas ia tahu jika Pasukan Athress sekarang tengah dikerahkan ke Villa dan Bangsa lain tengah mengepungnya diluar.
"Cara yang sama?!" desis Xavier sudah tahu jika Kakek Lucius akan mendesaknya untuk mengaku kalah. Dalam kondisi ini jelas tak ada peluang bagi Xavier untuk maju.
"L..Lepaskan wanita itu dan kau akan mendapatkan Tahtamu. Nak!" lirih Nyonya Margaretta mengiba.
Tanpa memperdulikan itu dengan angkuh Xavier melangkah masuk ke dalam Pintu ruangan yang sudah terbuka. Belum sampai kaki Xavier ingin masuk kedalam tiba-tiba saja hembusan angin dari dalam menerjang Xavier yang memperkuat Momentum kakinya ke lantai ini.
Ia memusatkan tenaganya di bagian kaki karna aura intimidasi Kakek Lucius ingin menjatuhkan lututnya.
"Shiit"
Umpat Xavier kala dadanya semakin terasa di cabik-cabik. Bahkan, Jantungnya mulai berpacu cepat dengan sendirinya karna ini adalah hal yang memang harus terjadi.
"Selamat datang. PENGKHIANAT!".
.....
Vote and Like Sayang...
__ADS_1