YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Mencari pengganti!


__ADS_3

Suasana Perusahaan yang berbentuk 3 Pilar yang berdiri seperti segitiga sama kaki itu tampak terlihat megah dan begitu mewah. Banyak Mobil-Mobil yang keluar masuk dari Gerbang besar utama dan keadaan lingkungan yang luas dengan berbagai tempat di sediakan disini.


Tentu Mobil milik Xavier sudah diingat semua orang termasuk para penjaga di Gerbang yang segera membungkuk mempersilahkan untuk memasuki Wilayah Elite Perusahaan.


Kaca Mobil sudah tertutup hingga mereka tak bisa melihat apa yang tengah terjadi di dalam Baja mewah itu.


Kiranya Zion adalah pria yang paling peka. Ia menghentikan Mobil tak jauh di belakang Gerbang tadi membuat Xavier yang menyadari itu tampak mulai melepas pangutannya dengan Stella yang sudah memerah tomat.


"Master!"


Gumam Zion tak mau melanjutkan ke arah Lobby dimana khusus Xavier karna ia yakin Nona Linnea sudah menunggu disana.


Stella yang merasa canggung dan gugup-pun segera kembali ke tempatnya seraya mengusap bibirnya yang kebas dan basah. Ia memperbaiki tatanan rambut dan roknya yang sempat disibak oleh tangan nakal Xavier.


"Master!"


"Aku mengerti." jawab Xavier melirik kecil ke arah Stella yang tampak sangat canggung. Ia menghela nafas dalam tak menduga jika Linnea akan kesini.


Ia pikir dengan membawa Stella kesini akan membuat Stella teralihkan dari sosok Dokter Ryker yang Xavier sangat tahu jika pria itu masih memiliki Kekuatan di bawahnya dan akan mudah terpengaruh dengan aroma darah Murni Stella.


"Kau ingin jalan-jalan?"


"A.. Apa?" tanya Stella terasa bermimpi kala Xavier mengatakan hal itu. Ia menoleh untuk sekedar memastikan pendengarannya.


Namun. Lagi-lagi Xavier tampak menghela nafas tenang ikut menatap Stella dengan sorot mata cukup lembut.


"Keluar tapi harus KEMBALI."


"Maksudmu aku bisa pergi." spontan Stella bertanya dengan penuh kegirangan. Raut wajah Xavier berubah membeku hingga ia sadar jika ini hanya kebebasan untuk melihat-lihat Kota.


Tapi. Stella berharap jika Xavier membiarkannya pulang sebentar saja. Hanya untuk melihat kondisi Mommynya.


"Vee!"


"Kau tak mau?" tanya Xavier dengan intonasi suara yang tak mengenakan. Stella masih berusaha berfikir positif.


"M..maksudku bagaimana dengan perjanjian itu?"


"Perjanjian." gumam Xavier dengan senyuman sulit Stella artikan. Ia berharap Xavier masih mengingat soal itu.


"Iya. Perjanjian yang kemaren."

__ADS_1


"Apa kau pikir. Kau sudah begitu bekerja keras?"


Stella terdiam. Tiba-tiba saja tak ada kalimat yang keluar dari bibirnya kecuali sebuah kebisuan.


"Kau sangat percaya diri."


"Lalu..lalu aku harus apa? Aku sudah melayanimu, aku sudah melakukan apapun yang kau mau. Lalu.."


"Pergilah carikan penggantimu!" titah Xavier membuat Stella terdiam cukup lama. Tatapan berubah sendu dan terlihat tak percaya.


"Pengganti? Kau...kau mau apa? Pengganti apa?"


"Jika kau ku lepaskan. Siapa yang akan melayaniku?" tanya Xavier dengan tatapan begitu licik. Tentu Stella tak akan menemukan satu spesies wanita-pun yang bisa menggantikan posisinya sekarang dan itu adalah rencana Xavier untuk menahan wanita ini tetap bersamanya.


"Itu.. Itu tak mungkin. Aku membawa wanita lain kesini dan menipu mereka."


"Kau tak sanggup?" tanya Xavier dengan begitu santai. Stella benar-benar kebingungan akan jawaban yang akan terlontar berikutnya.


"Itu tak mungkin. Aku .. Aku tak bisa melakukannya!!"


"Tetaplah melayaniku." jawab Xavier melempar senyum tipis yang bisa membuat Stella tercekat kuat.


Kalimat Stella tercekat kala tatapan Xavier mulai menyorot nyawanya. Mata abu itu berkilat merah pertanda Xavier tak menyukai itu.


"Jangan banyak MENAWAR denganku!" tekan Xavier lalu turun dari Mobilnya. Ia menjadi pusat perhatian banyak orang karna baru kali ini setelah beberapa lama Xavier melewati pintu utama Perusahaan.


Bahkan, Staf-staf yang ada di depan sampai saling pandang pucat tapi mereka segera menunduk tak mau membuat nyawa hilang tiba-tiba.


Sementara di dalam Mobil sana. Stella diam tampak terkurung akan ucapan Xavier barusan.


"Sebaiknya kau berfikir. Master bukan orang yang bisa kau tundukan dengan mudah."


"Apa hanya karna darah?" tanya Stella membuat Zion yang duduk di kursi kemudi sana terdiam.


"A..atau .atau dia mau aku menjadi Budak Nafsunya?" imbuh Stella dengan rasa nyeri tiba-tiba melanda.


"Aku tak tahu! Tapi yang perlu kau ingat.."


Zion menjeda kalimatnya lalu menoleh kebelakang dimana Stella tampak sangat kusut.


"Master sangat bisa bermain-main dengan siapapun. Dia tak punya perasaan atau hati, bahkan ada wanita yang lebih baik darimu yang tengah dipermainkan olehnya."

__ADS_1


Kalimat Zion membuat Stella membayang pada kejadian waktu itu. Apa yang menelfon Xavier saat itu adalah wanita yang di maksud Zion? Atau wanita itu-lah yang sekarang menjadi Mainan kanan Xavier.


"Aku tak tahu kau manusia atau tidak. Tapi yang jelas, aku akan selalu melindungi Master dari wanita-wanita sepertimu."


"Kau membenciku?" tanya Stella merasa Zion tak pernah menyukainya. Aura pria ini selalu memaksa Stella untuk jauh dan menghilang.


"Tidak! Tapi aku tak menyukai wanita penghibur sepertimu."


Degg...


Stella spontan terdiam dengan bibir merapat. Tanpa banyak bicara lagi Stella turun dari Mobil lewat pintu samping yang tak menghadap langsung ke Perusahaan.


Zion hanya melirik dari kaca spion. Ia juga merasa Stella wanita yang baik tapi ia tak yakin karna Stella memiliki aura yang begitu kuat tak seperti manusia biasa.


"Aku yakin kau hanya mata-mata musuh." geram Zion tak ingin terkecoh. Walau ia tak tahu apa yang dipikirkan Xavier tetapi ia akan bertindak ketat karna ini memang masalah besar.


Sementara Stella. Ia tak tahu Kota ini dimana dan apa ia bisa pulang atau tidak.


Yang Stella mau sekarang hanya tenang dan tak mau memikirkan hal apapun yang di katakan Zion padanya.


"T..tidak. dia tak mungkin mempermainkanku, dia..dia benar. Jika aku pergi siapa yang akan melayaninnya?!" gumam Stella meyakinkan dirinya untuk terus berusaha.


Ia harus pulang dan bertemu dengan Mommynya dan itu harus secepat mungkin.


Tapi, di tengah jalanan yang cukup ramai Stella tak tahu harus mencari wanita yang seperti apa?


"Dimana aku mencari wanita yang dia inginkan?!" gumam Stella melihat-lihat tenpat ini. Semuanya seperti Kota maju pada umumnya dimana banyak orang yang sibuk dengan urusannya sendiri.


Saat terkurung dalam dunianya. Stella terpikir jika Xavier ini apa termasuk Tamu spesial yang malam itu Madam Jen persiapkan?


"A .apa jangan-jangan Xavier?" gumam Stella menerka-nerka. Jika begitu berarti Xavier menginginkan gadis yang masih suci seperti yang ia dengar sayup-sayup dari dalam kamar dulu.


"Yah. Aku bisa mencari gadis-gadis itu, mungkin saja Xavier hanya meminum darah mereka tetapi masih bisa hidup seperti aku."


Stella mengambil kesimpulan seperti itu. Ia akhirnya bertolak pergi untuk mencari gadis-gadis yang ada di pikirannya.


Stella berharap Xavier bisa melepasnya karna Stella merasa takut Xavier akan mempermainkan perasaanya.


.......


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2